56 Etnis Suku di China : The Xibes

Sophie Mou


Suku Xibe ini adalah salah satu dari 7 suku minoritas di China yang mempunyai nenek moyang yang sama (Manchu, Mongolia, Daur, Hezhen, Oroqen, Ewenki ). Ketujuh suku ini masuk dalam kelompok Manchu Tungusic.

Mereka berdomisili di utara timur China, di Liao Ning dan Jilin dan di daerah otonomi Uygur Xinjiang, di ILI. Pada sensus tahun 2000, penduduk Xibes berjumlah 188,000 orang. Di Provinsi Liao Ning, kurang lebih terdapat 50,000 Xibes hidup di Orion Xibe. Mayoritas hidup di kota Yinning, Xinjiang. Populitas terbanyak di daerah Chabucha’er Xibe Otonomi County, sebanyak 30,000 jiwa.

Shenyang – Capital of Liaoning

 

Jilin

Ada yang bertanya, mengapa banyak suku minoritas hidup di dearah XinJiang. Di antara 55 etnis minoritas di Tiongkok, 46 etnis ada di Xinjiang. 13 etnis yaitu etnis Uygur, Kazak, Hui, Kirgiz, Mongol, Xibe, Tajik, Man, Uzbek, Russia, Daur dan Tatar sudah hidup turun temurun di Xinjiang. Xinjiang bukan hanya daerah yang mempunyai banyak etnis, juga adalah daerah yang mempunyai banyak agama. Di Xinjiang terdapat agama Islam, Buddha Tibet, Buddha, Kristen, Katolik, Kristen Ortodoks, Tao, Shamanisme dan lain-lain. Sekarang, 10 etnis minoritas di Xinjiang menganut agama Islam, dengan penganutnya berjumlah 7,6 juta orang, atau menduduki 58% dari total penduduk di Xinjiang. Selain itu, Xinjiang adalah daerah yang mempunyai mesjid terbanyak di Tiongkok, yang tersebar di mana-mana.

Asal Usul

Hampir sama dengan etnis minoritas lainnya, Suku Xibe primitif hidup dengan memancing dan berburu, hidup di lembah sungai Nonni dan Songhua di bagian pusat Manchuria. Mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan orang-orang Xianbei kuno, sebuah suku nomaden yang hidupnya di sepanjang lembah gunung Xiang’an Raya.

Mereka hidup di hutan dan mempercayai animisme dan shamanisme. Suku Xibes tinggal di lahan yang biarkan kosong dalam perang abad ke 9, perang antar suku Han dan Huns. Suku Xibes bertahan hidup dari berburu dan memancing sampai munculnya Dinasti Ching pada awal ke 16.

Sebelum China bersatu, seluruh Suku–suku Manchu Utara dan Timur bergabung di bawah pimpinan Pangeran Nuerhachi, mengabdi pada Dinasti Ching Utara. Semua Suku-suku dari utara timur itu diorganisir menjadi tentara Manchu. Melalui organisasi angkatan darat ini, berpindahlah sebagian suku Xibe dari sungai Nonni dan Songhua ke daerah Shenyang ( Prov Jilin ).

Dengan bergabungnya Suku Xibe dalam pasukan Manchi, kehidupan mereka banyak mengalami perubahan, mereka bukan hanya berimigrasi tetapi pertukaran budaya dengan suku lain membawa pengetahuan dan budaya baru. Sebagian Xibes mengubah cara hidup mereka dari berburu dan memancing menjadi petani. Selain itu Dinasti Ching juga berhasil mengangkat derajat hidup Suku Xibe menjadi warga yang status sosialnya lebih tinggi. Ini menjadikan banyak suku Xibes yang bergabung dalam kerajaan dan mengabdikan hidupnya.

Pada abad berikutnya, di bawah Kaisar Qianlong, Kaisar Ching yang ke 3  ( 1736 AD- 1795 AD ), terjadi peristiwa besar yang merubah jalan hidup Xibes. Selama periode itu pecah perang antara XinJiang dan wilayah barat. Tahun 1759, dipimpin oleh Qianlong sendiri, menaklukkan Gurun Taklamakan dan Sungai Tarin Basin dari kekuasaan regim Suku Islam. Hanya Kashgar yang masih merdeka. Pada 1768 akhirnya Kashgar ditaklukkan dan daerah itu resmi bernama XinJiang.

Pemerintah Ching memindahkan beberapa suku dari Timur laut ke bagian barat XinJiang ini untuk menjaga dan memulihkan situasi pasca peperangan. Untuk tugas penjagaan ini yang nantinya berlangsung hingga 60 tahun, dari Suku Xibes terpilih 1016 tentara dan perwira yang membawa 2000 anggota keluarga mereka. Suku Xibes sekali lagi berjalan jauh meninggalkan tanah air mereka dan masuk dalam kekuatan militer. Inilah cara bagaimana sebagian Xibes hidup di Xinjiang sampai hari ini dengan keturunannya.

Meskipun perbedaan geografis telah menimbulkan perbedaan tertentu antara Xibes di timur laut dan barat laut Cina dalam perjalanan sejarah, mereka semua memberikan kontribusi untuk mengembangkan dan mempertahankan daerah perbatasan China.

Budaya

Orang-orang Xibe di timur laut dan barat laut Cina telah membentuk karakteristik masing-masing mereka sendiri. Bahasa dan cara makan, berpakaian dan kebiasaan hidup dari Xibes di timur laut lebih dekat dengan orang-orang Han orang-orang Manchu.

Bahasa Xibe milik-Tungusic cabang suku Manchu dari Keluarga Bahasa Altai. Legenda mengatakan bahwa kelompok etnis Xibe pernah memiliki script sendiri tetapi telah hilang setelah berdirinya Dinasti Qing (1644-1911) . Bahasa Han dan Manchu lebih banyak digunakan.

Di Xinjiang, beberapa orang Xibe mengenal baik bahasa Uygur dan bahasa Kazak. Pada tahun 1947, suku Xibes melakukan reformasi intelektual dalam bahasa Manchu yang biasa digunakan dengan menambahkan dan menghilangkan beberapa simbol fonetis dan menambahkan kosa kata baru dari bahasa Xibe. Xibe script ini telah digunakan sebagai bahasa resmi oleh organsasi Pemerintah di daerah otonom.

Etnis Xibe di Xinjiang percaya poltyheism sebelum pembebasan nasional China pada tahun 1949. Di samping dewa-dewa serangga, naga, tanah, suku Xibes juga menyembah dewa pelindung rumah dan hewan. Selain itu, beberapa orang Xibe percaya pada Shamanisme dan Buddhisme. Suku Xibes adalah orang orang yang taat dalam menyembah leluhur, mereka melakukan persembahan berupa ikan dan buah melon pada tiap bulan July.

Dalam pakaian, perempuan Xibe di Xinjiang memakai gaun panjang mencapai mata kaki. Mereka memakai atasan katun dengan ujung lengan diikat dengan tali, ujung lengan bawah dan dipangkas dengan tali.

Kaum Pria mengenakan jaket pendek dengan kancing di bagian depan, dengan celana ketat yang diikatkan ke pergelangan kaki.Mereka mengenakan jubah panjang di musim dingin.

Kostum Xibe di Cina timur laut pada dasarnya sama dengan suku Han. Mereka mengenakan Qibao, pakaian nasional suku Han.

Makanan pokok utama mereka adalah beras dan tepung gandum. Xibes di Xinjiang memelihara sapi dan domba menyukai teh dengan susu, mentega, krim, keju dan produk susu lainnya.

Pada musim gugur, mereka makan acar kubis, daun bawang, wortel, seledri dan cabai. Suku Xibes menyukai berburu dan memancing setelah lewat musim panen pertanian . Mereka mengasinkan ikan untuk persediaan makan musim dingin.

Biasanya ada 100-200 rumah tangga di setiap desa Xibe, yang tertutup dengan dinding yang panjangnya mencapai dua atau tiga mil. Tiap rumah Xibe biasanya terdiri dari 3-5 kamar dengan halaman, yang dapat ditanami dengan bunga-bunga dan pohon buah-buahan. Gerbang rumah sebagian besar menghadap ke arah selatan. Kaum perempuan suku Xibe terkenal dengan kerajinan tangan memotong kertas, dan jendela rumah sering dihias dengan potongan kertas yang indah.

Di masa lalu, setiap rumah keluarga Xibe  terdiri dari tiga generasi, kadang-kadang sebanyak empat atau lima generasi, yang masih dipengaruhi oleh sistem feodal. Pernikahan masih diputuskan oleh orang tua. Perempuan mempunyai status yang sangat rendah dan tidak berhak untuk mewarisi harta. Keluarga itu diatur oleh anggota yang paling tua yang memiliki otoritas besar.

Ketika ayah masih hidup, anak-anak tidak diperbolehkan untuk berpisah dengan keluarga dan hidup mandiri. Dalam kehidupan keluarga, tua dan muda masing-masing posisinya mempunyai tanggung jawab sesuai dengan ketentuan, dan mereka sangat memperhatikan sopan santun dan tata krama.  “Hala,” adalah sebuah dewan yang dibentuk oleh kepala marga laki-laki, menangani hal hal utama dalam marga dan menerapkan aturan2 dalam marga.

Ada suatu adat dalam Suku Xibes. Jika di luar halaman rumah digantungkan kain merah, orang asing atau tamu dilarang memasuki rumah. Kain merah mempunyai arti di dalam rumah sedang ada yang sakit atau berduka.

Salah satu olahraga yang terkenal adalah Memanah. Ada beberapa atlet panahan national China dari Suku Xibes.

Artis dari Suku Xibe: Tong Liya

Festival

April 18 pada kalender lunar adalah festival dari suku Xibes, untuk memperingati 18 April 1764 pada jaman Dinasti Qing, saat 3275 suku Xibes terpaksa pindah dari Shenyang di China timur laut ke barat laut Xinjiang untuk bertugas sebagai tentara cadangan di sebuah pos militer. Mereka akan membuat tepung atau kecap pada hari ini untuk menandai keberhasilan nenek moyang mereka pindah ke barat. Dikenal dengan nama Festival Xiqian.

Black Ash Day, dirayakan pada tgl 16 Januari penanggalan kalender lunar.  Pada hari itu, orang-orang menyiapkan kain hitam yang diolesakan abu dari bagian bawah panci dan memakainya pada wajah masing-masing dan berdoa kepada dewa semoga panen berhasil dengan baik.

Kehidupan saat ini

Sejak 1949, serangkaian reformasi sosial telah dilakukan di daerah Xibe. Industri dan produksi pertanian telah berkembang pesat dan standar hidup rakyat meningkat dengan pesat. Lompatan ekonomi dan budaya di Qapqal Otonomi County adalah ukuran keberhasilan besar yang telah dicapai oleh suku Xibe.

Sebagai hasil dari kerja keras mereka, produksi gandum di daerah pada tahun 1981 hampir empat kali dari sebelumnya, dan jumlah ternak sapi naik tiga kali lebih besar. Perusahaan industri kecil termasuk tambang batubara, industri mesin pertanian, bulu dan pabrik pengolahan makanan, yang sebelumnya tidak ada, telah dibangun untuk kepentingan kehidupan masyarakat. Ada 12 sekolah menengah dan 62 sekolah dasar, yang mencukupi pendidikan bagi 91,3 persen dari anak-anak suku Xibes.

Adapun orang Xibe hari ini, meskipun mereka tidak memiliki populasi yang besar, banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan dan posisi yang tinggi dalam pemerintahan maupun perusahaan perorangan. Setiap orang Xibes adalah ahli bahasa yang dapat berkomunikasi dalam banyak bahasa, selain bahasa asli mereka, mereka juga dapat menggunakan bahasa Cina, Uygur dan bahasa Kazak untuk berkomunikasi dengan mudah.

Istana Qing Dynasty di Shenyang

 

 

Referensi:

Photo by Chen Hai Wen

Travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

CRI

sumber-sumber lain etnis minoritas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.