Jogjakarta Yang Klasik dan Eksotik (Part 2)

Anastasia Yuliantari & Dewi Aichi


Berdekatan dengan Malioboro, terletak gedung jaman kolonial lainnya yang sampai saat ini dipergunakan sebagai Gedung Bank Indonesia. Tentu saja telah dilakukan beberapa renovasi sehingga tampak lebih modern dan sesuai dengan napas jamannya.

Tak jauh dari gedung bank ini terdapat pasar Beringharjo, atau menurut lafal orang Jogja biasa disebut Mbringharjo atau bahkan Mbering. Pasar ini merupakan salah satu pasar tua di kota Jogja dan merupakan tempat yang menjadi urat nadi perekonomian warga Jogja. Di pasar ini segala macam barang dapat dijumpai, dari batik aneka ragam sampai jamu godhog (jamu rebus) dengan segala pernik empon-emponnya yang merupakan kekayaan herbal nusantara.

Pasar Beringharjo juga menyaksikan perjalanan sejarah bangsa ini karena kebetulan berdekatan dengan situs sejarah yang lain, yaitu Istana Negara dan Benteng Vredeburg yang telah dipergunakan Belanda sebagai markas besar dan tempat tinggal para pejabat tingginya.

Pasar lain yang termasuk pasar tua di Jogja adalah Ngasem. Letak pasar ini di sebelah barat Keraton Jogjakarta dan berdekatan dengan situs Taman Sari. Pasar Ngasem terkenal sebagai pasar burung, karena sebagian besar dagangan yang dijual di tempat itu adalah burung. Bermacam burung dapat dijumpai di sana, namun salah satu yang menjadi favorit orang Jawa adalah perkutut, atau biasa disebut kutut saja. Burung ini mewakili kegemaran orang Jawa akan kukilo alias burung. Kukilo merupakan kebanggaan karena suara merdunya bisa mendatangkan kekaguman bagi orang lain dan tentu saja bisa mendatangkan uang tak sedikit bagi pemiliknya.

Di Pasar Ngasem dijual berbagai pernik kebutuhan burung, dari makanan, vitamin, sampai sangkarnya. Makanan ini tak hanya biji-bijian, tetapi juga kroto, yaitu semut merah beserta telurnya yang dianggap dapat menyebabkan kicau burung semakin nyaring dan merdu.

Situs bersejarah lainnya adalah Kantor Pos Jogja. Kantor Pos ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang terletak di salah satu sisi perempatan yang membelah jantung kota. Dari Kantor Pos para pejalan kaki bisa menyaksikan ujung Jalan Malioboro di bagian utara dan Pagelaran Keraton Jogjakarta di sebelah lainnya. Kantor Pos ini tetap berfungsi dengan baik walau pun sekarang tak lagi terlalu banyak orang harus menggunakan jasanya akibat penggunaan surat elektronik. Namun di suatu masa, Pak pos beserta kantornya pernah menjadi idola yang banyak ditunggu-tunggu. Terutama oleh pasangan yang sedang jatuh cinta dan merindukan datangnya sepucuk surat dari belahan hatinya.

Di perempatan kantor pos besar, dulu terdapat air mancur, dan orang-orang pada saat ini masih tetap menyebut tempat tersebut dengan AIR MANCUR, meski sekarang sudah tidak ada lagi.

Di sebelah barat Keraton Jogja terletak Masjid Kauman, yang disebut Masjid Agung. Masjid ini menempati bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan Keraton Jogja. Hal ini menunjukkan keterikatan yang erat antara Keraton dan Islam yang dianutnya. Selain sebagai tempat beribadah para pembesar Keraton dan masyarakat, masjid ini juga menjadi tempat penting dalam upacara Grebeg di Jogja. Grebeg dilaksanakan pada saat memperingati Maulid Nabi Muhammad S.A.W, sehingga disebut Grebeg Mulud menurut lafal Jogja.

to be continued


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *