Repotnya Menjadi Takmir Masjid

Prabu – Jakarta


prabu_baltyra.com Tugas takmir masjid sebetulnya amat simple. Ini menurut pengalamanku ketika seorang ustazd yang hendak berangkat ke Tanah Suci menyerahkan kunci masjid kepadaku sambil berpesan, “Tolong untuk sementara engkau gantiin saya menjadi takmir masjid di sini. Tugasnya gampang saja, tiap menjelang sholat buka pintunya lalu kumandangkan adzan”.

Terus terang aku tak bisa menolaknya. Bukan dikarenakan derajat ketaqwaan beliau ini di atasku, tetapi karena kesibukaanku di siang hari yang tidak memungkinkan menjalani tugas yang diamanahkan tersebut. Namun beliau juga tak kurang akal, sebab untuk jam-jam Dluhur, Ashar bahkan Magrib aku tidak perlu melakukannya, tetapi cukup waktu shalat Isya dan Subuh saja tugasku.

Ok. Kalau begitu. Toh, masjid jaman sekarang bukan seperti masjid di jaman Nabi. Di mana pada masa kenabian dulu, masjid merupakan pusat kegiatan umat, mulai sebagai pusat pemerintahan hingga membicarakan strategi perang. Juga merupakan pusat kajian keagamaan dan berbagai masalah non keagamaan. Pendek kata, segala urusan sosial kemasyarakatan dikendalikan dari masjid. Nah, untuk jaman sekarang segala macam urusan itu, kini telah mempunyai otoritasnya sendiri-sendiri. Jadi kuterima sajalah tawaran pak ustad itu.

Namun dalam prekteknya ternyata tidak gampang.

Aku pulang kerja sekitar jam 18.00. Terus bersihin diri dulu di kamar mandi. Niatnya mau Magrib berjamaah di masjid, eh tidak keburu. Jadilah Magriban sorangan wae. Selesai shalat Magrib, istri dan anak minta makan malam bersama, sambil menemani ngobrol: gimane sekolahnye bla bla bla, hingga bablas waktu Isyak. Udah di niatin mau ngumandangin adzan, eh keduluan orang laen. Ya udah.

Begitu pula waktu Shubuh. Bini dah seting alarm di HP agar bunyi jam 4. tuettt… tuettt… tuettttttttt! Eh, bukannya bangun, aku malah narik selimut… dingin, bo! Biarlah 10 menit dulu badan beraklimatisasi. Eh, ternyata kebablasan tidur lagi, dan ketika bangun tiba-tiba adzan berkumandang. Yo wislah, dah keduluan orang lain lagi.

Lah, kalau kondisinya terus menerus macam itu, aku bukan menjadi takmir masjid, melainkan hanya tukang tutup pintu masjid doang selesai Subuh dan Isya.

“Pak Ustadz, buruan dicepetin ibadah hajinya, yak”.


Ilustrasi: muslimstory wp

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *