[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Liem Koen Hian & Abdurrahman Baswedan

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


LIEM KOEN HIAN – ABDURRAHMAN BASWEDAN

Proklamasimu, proklamasiku

SETELAH terjadi penghancuran menara kembar di New York pada 2001, banyak warga Amerika Serikat keturunan Arab mengalami penghinaan sosial dan kebencian sistematik dari masyarakat. Apalagi bagi pemeluk agama Islam keturunan Arab, penderitaan itu menjadi berlipat pedih. Hanya karena tersangka pelaku semuanya dari etnis Arab, maka masyarakat Amerika mengalami generalisasi mewabah, bahwa semua keturuan Arab, juga kaum muslim, harus dibenci karena penghancuran menara kembar itu.

Sikap masyarakat Amerika terhadap golongan Arab, mungkin sama seperti sikap sebagian masyarakat Indonesia terhadap keturunan Cina dan juga Arab. Padahal tanpa disadari, Amerika banyak ditopang dengan pengabdian keturunan Arab. Mulai dari tukang cuci piring, penyanyi, politikus, cendiakiawan hingga olahragawan.

Penyanyi Waka Waka E E, Shakira, juga Paula Abdul, Paul Anka, Tiffany, Frank Zappa, aktris Salma Hayek, host terkenal Casey Casim, broadcaster pencipta “Larry King Live” Tammy Hadad, pollster John Zogby, juara catur dunia asal Seattle Yasser Seirawan, calon presiden dari Partai Hijau Ralph Nader, politikus kawakan Philip Habib, mantan senator, gubernur New Hampshire dan kepala staf Gedung Putih semasa Presiden Reagan, John Sununu, lalu pendiri Haggart Clothing, J.M. Haggart, pionir operasi jantung Michael DeBakey, supermodel Yamila Diaz-Rahi, astronot Christa McAuliffe, atau menteri terlama AS keturunan Arab, Donna Shalala, adalah beberapa nama terkenal untuk sekedar contoh.

Mereka semua keturunan Arab yang sudah melekat dan menyatu sebagai penganut nilai-nilai Amerika dan menjadi Amerika tulen. Lalu bagaimana jasa mereka bila dibenturkan dengan stereotype negatif setelah peristiwa 9/11 itu? Sungguh menyakitkan bila memojokkan etnis mereka, hanya karena pelaku penghancuran itu diduga adalah etnis yang sama dengan mereka.

Hal yang sama pun dialami para keturunan Cina dan Arab di bumi Indonesia. Selama beberapa dasawarsa, terutama sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, banyak keraguan yang akhirnya membatu menjadi sebuah pandangan resmi tentang ketidakpedulian dan kehampaan peran keturunan Cina dan Arab terhadap proklamasi. “Memang ada orang keturunan Cina yang berjasa terhadap proklamasi kemerdekaan?”, tanya sebagian orang. “Agak susah mencari andil keturunan Arab yang memihak kelahiran Indonesia?”

Kalau ingin dicari-cari dan sengaja dipaksa-paksakan ditampilkan tentang peran keturunan Cina dan Arab dalam proklamasi, tentu pasti ada. Namun dalam tulisan ini bukan itu dasar menampilkan peran mereka. Keturunan Cina dan Arab memang memiliki peran besar dalam Proklamasi 17 Agustus 1945 dan mereka membuktikan kelak, bahwa mereka pantas berdiri di barisan terdepan membela dan mengisi negara yang lahir 17 Agustus 1945.

Ketika Republik Indonesia belum lahir, keturunan Cina dan Arab masih ada yang menganggap kesetiaan pada tanah leluhur sebagai sebuah sikap yang harus diambil oleh mereka. Meskipun pada kenyataannya, kesetiaan keturunan Arab pada tanah leluhurnya tidak terlalu menggelora dibanding keturunan Cina.

Lalu apa jasa dan peran Liem Koen Hian dan Abdurrahman Baswedan dalam proklamasi? Sebenarnya mereka tidak terlibat secara langsung dengan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Namun ketokohan mereka di antara kaumnya, menjadi panutan dan tangga untuk dinaiki oleh banyak keturunan Arab dan Cina, untuk memilih sebuah pilihan hidup, yaitu menganggap Republik Indonesia adalah negara dan tanah air mereka. Bukan di tanah Arab sana atau daratan Cina di utara sana.

Sebelum negeri ini lahir, banyak keturunan Arab dan Cina yang sudah menetap lama beberapa keturunan atau generasi, dihadapkan sebuah pilihan hidup, setia kepada tanah leluhur atau menjadi bagian negeri yang mereka tempati. Tidak sedikit yang menolak atau ragu untuk berkiblat ke tanah leluhur, meski intensitas sikap itu agak berbeda antara keturunan Arab dan Cina.

Baswedan dan Liem Koen Hian mempunyai pemikiran di antara kaumnya, bahwa Indonesia adalah negara mereka, apapun yang terjadi dan sikap itu harus dibayar mahal. Baswedan (lahir 1908) dan Liem Koen Hian (lahir 1897) adalah dua tokoh yang saling kenal, bersahabat baik dan memiliki pandangan yang sama: INDONESIA ADALAH NEGARA SAYA.

Baswedan dengan organisasinya bernama Persatuan Arab Indonesia (PAI) sudah sejak sebelum Indonesia merdeka, sering berbenturan pendapat dengan kaumnya tentang nasionalisme keturunan Arab terhadap Indonesia. Dia menentang sikap tertutup kaum keturunan Arab dan membuka pintu selebar-lebarnya untuk pembauran dengan pribumi.

Hal sama juga juga dilakukan oleh Liem Koen Hian dengan Partai Tiongkok Indonesia (PTI) bersama Ko Kwat Tiong, yang sejak 1932 sudah mengambil sikap agar keturunan Cina harus membaur dan menganggap Indonesia adalah negara mereka.

Sikap dan pendirian Baswedan dan Liem Koen Hian, sebagai tokoh panutan di antara kaumnya saat negara RI lahir 17 Agustus 1945, telah membuka sebuah jalan lebar yang memperkaya dan memperkuat sikap keturunan Arab dan Cina untuk sepenuh hati menganggap Indonesia adalah tanah tumpah mereka.

Kalau Indonesia punya istilah The Founding Fathers atau bapak pendiri bangsa Indonesia (meniru dari revolusi AS tahun 1776), maka ada 5 orang keturunan Cina di antaranya dan seorang keturunan Arab di dalamnya. Lihatlah dari 62 anggota BPUPKI (badan buatan Jepang untuk persiapan kemerdekaan Indonesia) ada 4 orang keturunan Cina, yaitu Liem Koen Hian, Oei Tiang Tjoei, Oei Tjong Hauw dan Tan Eng Hoa.

Setelah BPUKI dibubarkan maka dibentuklah PPKI (sebuah panitia untuk mempersiapkan kemerdekaan RI), yang beranggotakan 29 orang, satu di antara Yap Tjwan Bing (kelak namanya diabadikan menjadi nama sebuah jalan di Surakarta tahun 2008). PPKI ini yang mensahkan pengangkatan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakilnya, serta mensahkan UUD 1945 sebagai konstitusi baru Indonesia.

Baswedan dan Liem Koen Hian adalah dua orang yang berkarir dalam jurnalisme. Mereka akrab dan saling kenal. Baswedan malah lebih sering bekerja di harian yang dimiliki oleh orang keturunan Cina. Pernah pada 1932 Baswedan bekerja sebagai wartawan di surat kabar di Surabaya, namanya “Sit Tit Po” yang dimiliki Liem Koen Hian.

Pernah ketika semasa pendudukan Jepang, Liem Koen Hian dan keluarganya numpang dan bersembunyi di rumah Baswedan, karena ketakutan akan tentara Jepang yang menganggap surat kabar milik Liem Koen Hian selalu menjelek-jelekkan Jepang. Liem tak sudi bersembunyi di rumah-rumah keturunan Cina yang banyak tak bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Padahal menyembunyikan Liem Koen Hian, Baswedan akan menghadapi resiko berat.

Ketika Republik Indonesia masih tertatih dan akhirnya berhasil bangkit, banyak keturunan Arab dan Cina berkarya dan mengharumkan Indonesia. Lambang negara Garuda Pancasila adalah buatan seorang keturunan Arab, Sultan Hamid Alkadri.

Siapa yang merintis pengakuan diplomatik bagi Indonesia dari negara-negara Arab, ketika tak satupun negara barat mau mengakui? Ya Baswedan bersama Agus Salim…

Siapa atlit Indonesia pertama kali tampil di olimpiade? Thio Ging Wie bersama Soeharko dan Soedarmodjo.

Siapa orang Indonesia pertama kali menjuara event olah raga di internasional? Tan Joe Hok ketika menjadi juara bulutangkis All England 1959!

Siapa yang mengharumkan nama Indonesia di dunia olah raga? Nio Hap Liang atau Rudi Hartono yang menjuarai 10% selama seabad All England!

Siapa yang pertama kali mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di olimpiade? Wang Lian Xiang atau Susi Susanti.

Siapa orang ujung tombak yang paling lama membela sekecil apapun kepentingan Indonesia di dunia internasional? Ya keturunan Arab, Ali Alatas.

Wuah…tak akan cukup menuliskan sumbangsih mereka untuk Indonesia. Tapi banyak juga yang menjelek-jelekan Indonesia? Oh tentu, itu manusiawi dan bukan milik Indonesia saja. Memangnya tak ada orang Indonesia asli yang menghancurkan Indonesia? Wuaaah…sampai mati saya tak akan selesai menuliskan nama-nama mereka.

Pilihan Baswedan dan Liem Koen Hian yang menjadi teladan kaumnya, untuk menganggap Indonesia adalah tanah air mereka, adalah sebuah pilihan hidup dengan segala resiko. Tidak ada kata penyesalan! Pernah tokoh Israel bermata satu, Moshe Dayan, ditanya bila reinkarnasi akan menjadi apa? Jawabnya, jadi Moshe Dayan. Tidak ada kata penyesalan.

Abdurrahman Baswedan dan Liem Koen Hian adalah pelopor warga keturunan yang menganggap proklamasi 17 Agustus 1945 adalah proklamasi negara mereka, tanah air mereka, tempat mereka lahir, menangis, tertawa, sedih, hidup, susah, senang dan kemudian mati.

Menachem Begin, bekas perdana menteri Israel yang dianggap teroris oleh bangsa Arab, pernah ditanya orang. Hari apakah yang paling berbahagia bagi hidup Anda? Begin tak menjawab hari kelahirannya, hari perkawinannya, hari ketika dia punya anak atau hari saat dia menjadi perdana menteri. “Bagi saya, hari paling indah adalah 14 Mei 1948, ketika Israel berdiri”, katanya. Yasser Arafat, musuh bebuyutan Menachem Begin, juga pernah ditanya wartawati terkenal AS Barbara Walters, mengapa sudah bangkotan Arafat tidak menikah? Jawabnya simpel. “Istri saya Palestina”. Apa ada ucapan seperti Begin dan Arafat keluar dari mulut orang Indonesia? Termasuk saya? (*)

47 Comments to "[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Liem Koen Hian & Abdurrahman Baswedan"

  1. Lani  3 January, 2011 at 15:49

    HENNIE, DA : Kok ya passss………komen kalian no 3 dan 4……..spt slaam ant Hennie dan ISK3-4……tp nek salam 69 cukup buat DA dewean………pek-en kabeh wesssssss……..ora ngoman2-i wong liyan

  2. tenang semua  3 January, 2011 at 15:16

    tenang semua hehehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *