Agustus – Satu Tahun Yang Lalu

Dewi Aichi – Brazil


Tidak terasa, sudah satu tahun aku  berada di Brasil. Ingatanku melayang satu tahun yang lalu, ketika akan meninggalkan kota Jogjakarta. Aku meninggalkan kota Jogjakarta tanggal 18 Agustus 2009. Dan singgah sehari di Jakarta, sebelum malamnya terbang menuju Dubai. Tepat saat itu satu hari sebelum puasa.

Kini, aku berada jauh dari kota tempat di mana aku lahir dan besar, melewatkan masa kanak-kanak yang penuh kenangan. Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba aku mendapat email kejutan dari teman masa kanak-kanak , yang sebelumnya tak pernah mengirim email sekalipun. Dengan tujuan menggodaku, Namanya Nanik, menuliskan sederet kalimat berbahasa Jawa yang membuat aku ketawa sambil menangis.

“Wik, sesuk tanggal 8 Agustus jatahmu nggawe teh manis telung ceret lho yo, karo malem minggune kumpul neng nggone bu RT, nggawe arem-arem karo risoles nggo snack acara jalan santai”. (Wik, besok tanggal 8 Agustus bagianmu membuat teh manis 3 ceret lho ya, dan malam minggunya kumpul di rumah bu RT, untuk membuat arem-arem sama risoles untuk snack acara jalan santai).

Begitulah isi sekelumit kalimat dalam email yang dikirim temanku Nanik. Nanik sangat aktif di kampung, selalu menjadi pelopor bagi ibu-ibu rumah tangga untuk rajin melakukan kegiatan , memilah-milah sampah yang bisa didaur ulang maupun tidak. Menjadi instruktur senam di mana-mana. Lincah, ramah dan senang bercanda. Itulah kenapa aku selalu kangen dengan teman-teman masa kanak-kanak. Setiap aku pulang ke Jogja, selalu saja ada waktu untuk kami berkumpul dan banyak kesan.

Agustus setahun yang lalu, 2 minggu sebelum aku meninggalkan Jogja, aku menyempatkan diri untuk ikut kegiatan di kampung, menyambut hari proklamasi 17 Agustus. Sangat mengasikkan, jalan santai, sepeda santai, dan senam massal.  Berbagai lomba untuk anak-anak dan dewasapun ada. Buat aku, yang tidak lagi tinggal di Jogja, acara seperti itu sangat berkesan mendalam, hingga selalu menimbulkan rasa kangen kepada semuanya.

Pagi itu jam 5:30, ibuku membangunkanku yang masih menikmati hangatnya selimut. “Ayo bangun, mau ikut jalan santai ngga?” Akupun bergegas, merapikan tempat tidur, dan langsung mandi. Setelah selesai sholat Subuh, aku segera mengenakan seperangkat baju untuk mengikuti jalan santai.

Di ujung jalan, yang jaraknya kira-kira 20 meter dari rumah , orang-orang sudah berkumpul. Mereka kompak dengan seluruh anggota keluarga. “Assalamu’alaikum! Mereka saling menyapa dan menjawab. Denganku, mereka menanyakan kabarku, dan menanyakan anakku. “Kapan sampai di Jogja?” tanya tetanggaku yang lain RT. Aku menjawab dan menyalami satu per satu mereka dengan rasa suka cita yang mendalam.

Tiba-tiba suara panitia memanggil kami yang sudah berkumpul. Mengingatkan bahwa acara jalan santai segera dimulai.Acara jalan santai, yang diikuti seluruh warga kampung, begitu semangat, jam 6 pagi sudah berkumpul ditempat yang sudah ditentukan, panitia menjelaskan rute yang akan ditempuh. Mulailah kami berbaris dan berjalan perlahan. Menyusuri jalan-jalan yang berada diantara sawah. Pemandangan dan udara segar di pagi hari, suasana desa yang nyaman dan ramah. Berjalan santai dengan teman-teman dan anak-anak, sambil mengobrol dan ketawa.

Jalan santai, dan sesekali diselingi tawa dan canda. Pemuda pemudi, remaja sangat berperan dalam meramaikan acara jalan santai. Ada yang saling olok, ada yang menjodoh-jodohkan. Bikin aku tertawa, dan sangat menikmati suasana saat itu. Hal mana, tidak pernah aku merasakan selama berada di negeri seberang.

Tidak sampai membutuhkan waktu 2 jam, jalan santaipun selesai. Acara masih berlanjut, yaitu bersama-sama menikmati teh manis, dan 2 macam snack yang disediakan oleh panitia. Yah..pagi itu aku bisa menikmati segelas teh manis, sepotong risoles dan arem-arem bikinan ibu-ibu. Setelah semuanya menikmati hidangan ala kadarnya, maka acara senam massalpun dimulai.

Ternyata, semua masyarakat ikut bersenam massal, tidak peduli itu anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, dan bahkan bagi yang berusia lanjutpun mengikutinya. Dari yang senam beneran sampai yang asal gerak badan. Sunggul, waktu itu suasana yang selama ini aku rindukan. Sayang sekali, bahwa aku harus segera meninggalkan Jogjakarta. Sebelum ritual tujuhbelasan sampai pada di penghujung.

Biasanya acara puncak berupa pentas seni yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan biaya di tanggung bersama. Aku sangat menyukai tradisi seperti ini, semua bersama-sama dan bergotong royong. Bahkan dengan waktu yang hanya 3 bulan berada di Jogjakarta, anakku sudah ikut berpartisipasi untuk meramaikan acara pentas seni. Berbagai latihan sudah diikuti, dan persiapan pentas yang sudah gladi resik (tuntas).

Malam pentas itulah hatiku mengharu biru harus meninggalkan kotaku. Teringat akan anakku yang pada siang harinya berada di sekitar pembuatan panggung, yang malamnya ingin pentas dengan teman-teman sebayanya di kampung. Tanggal 18 Agustus, malam hari, penerbangan menuju ke Jakarta. Di tengah perjalananpun aku harus melayani berbagai percakapan kecil dengan anakku, yang membuat air mataku mengalir tiada henti. Teringat perpisahan anakku dengan teman-temannya tadi sore. Teringat dengan semua saudara dan tetangga, yang meluangkan waktunya untuk berkumpul di teras rumah , hanya sekedar mendoakan sebelum aku meninggalkan Jogja.

Sekarang, Agustus 2010, saya hanya akan menunggu teman-teman di kampung, mengirimkan sebuah cerita menarik , yang membuatku tetap mencintai kampung halamanku, tetap memanggilku untuk selalu pulang, tetap membuatku merasa kangen.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010, aku ucapkan selamat! Harapan dari setiap warga Negara Indonesia, untuk negeri tercinta, segera bangkit dari keterpurukan yang selama ini selalu menggantung di langit negeri.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *