[Lomba Menulis] Lusuhnya Bendera Kita

Tantripranash


Seberapa lusuh warna bendera merah putih yang kita punya? Apakah masih cemerlang ataukah sudah tak jelas warnanya. Masih bisa disebut merah putih yang artinya memang benar merah – putih dan bukannya merah – putih kusam atau malah merah – broken white, seperti yang pernah saya lihat di  tiang salah satu rumah di bilangan jalan protokolnya komplek perumahan mewah Pondok Indah. Pemandangan yang membuat saya tiba-tiba berpikir tentang nasioalisme.

Rumah yang begitu menjulang masa iya bendera merah putihnya punya warna yang tak jelas begitu. Warna kain lap mobil mewahnya pun mungkin masih lebih bagus daripada warna benderanya. Sayang saya tak sempat ambil fotonya, maklum melihatnya pun hanya dari jendela metromini yang penuh sesak.. Setelah berhari-hari saya terganggu dengan pemandangan yang mengenaskan itu akhirnya suatu pagi jreeengg… bendera itu sudah tergantikan dengan bendera gres baru dengan warna cemerlang. Mungkin sang nyonya tersindir teman arisannya atau sang nyonya baru saja pulang keliling eropa dan mendapati ketololan bedindenya, entahlah.

Suatu kealpaan yang bisa membuat menangis pejuang kemerdekaan yang tak ragu angkat senjata untuk satu kata sakral yang tak mudah diraih, MERDEKA. Mungkin juga membuat seorang bapak tua di sudut Jakarta sana naik pitam. Agustusan tahun lalu hanya gara-gara benderanya kehujanan di atas tiang, pembantunya kena tampar.

“Kejam sekali.” kata tetangganya.

“Ohhhh begitu ya…,” katanya kemudian setelah tahu bapak itu pejuang veteran.

Pantas saja, karena dia saksi hidup perjuangan dengan darah dan airmata yang mengalami bagaimana merah putih akhirnya bisa berkibar dengan bebasnya. Bisa dipahami kalau dia membuat pembantunya nangis darah gara-gara insiden itu.

Dulu jaman masih jadi anggota pramuka bendera merah putih tak boleh menyentuh tanah dan harus diturunkan dari tiang menjelang sore. Paling heboh kalau hujan tiba-tiba turun saat bendera merah putih berkibar. Kalau sampai bendera basah kuyup kehujanan dapat dipastikan kami  mendapat hukuman fisik ala pramuka karena dinilai lalai.

Anak-anak lain yang bukan anggota pramuka terkekeh senang karena disuguhi hiburan gratis. Rasanya sebal luar biasa tapi mungkin memang begitu caranya pramuka mendidik kami soal nasionalisme. Paling tidak sampai sekarang masih bersisa rasa miris ketika melihat bendera-bendera tetangga layu basah kuyup kehujanan di atas tiang atau berkibar kelelahan sampai larut malam. Padahal pemandangan seperti itu sekarang sudah lumrah. Pak RT meminta bendera terkibar berhari-hari di bulan Agustus, kalau tiap hujan dilepas pasti repot sekali.

Sekarang karena bukan lagi anggota pramuka dan tidak punya kewajiban mengikuti upacara hari senin maka teringat bendera merah putih menjelang hari kemerdekaan saja. Hari-hari yang lain kita biarkan ia teronggok sepi di sudut almari. Saat itulah kita beli yang baru jika bendera sudah mulai lusuh dan usang, hitung-hitung menambah rejeki si penjual bendera yang untungnya cuma datang sekali dalam setahun. Tapi bagaimana dengan kibaran bendera yang ada dalam dada.

Sudahkah kita periksa kembali kecemerlangan warnanya? Banyak hal yang bisa membuat warnanya berubah.. Mungkin warna merahnya memudar gara-gara kita tak mampu menolak pihak asing menyedot habis sumber daya tanah ini. Mungkin saja putihnya menjadi buram karena kita ikut serta dalam lingkaran sogok menyogok pejabat di instansi. Habis mau bagaimana lagi, tanpa sogokan proyek jadi tak lancar.

Itulah salah satu gunanya ada 17 Agustus tiap tahun supaya kita bisa periksa kembali kibaran bendera di dalam dada dan perbarui kembali kecemerlangan warnanya.


Dirgahayu Indonesia … !!!


Merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
di ujung tiang tertinggi di indonesiaku ini
merah putih teruslah kau berkibar
ku akan selalu menjagamu…

(Bendera – by Cokelat)


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Mbak Tantri! Semoga kerasan ya…make yourself at home…

36 Comments to "[Lomba Menulis] Lusuhnya Bendera Kita"

  1. ira  16 September, 2010 at 12:42

    Tantri , selamat !
    Berkibarlah selalu !

  2. tantripranash  8 September, 2010 at 14:13

    @Agatha, Aimee, Deasy : ma kasih yaa apresiasinya
    @Iwan Kamah : ma kasih pak Iwan … sejujurnya saya ndak gitu mudheng buat apa itu … maklum gaptek

  3. Deasy  8 September, 2010 at 08:56

    Selamat ya Mbak… ikut bahagia

  4. Aimee  7 September, 2010 at 12:41

    wah ternyata artikel pertama ya…menang pulak. congrats ya

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  7 September, 2010 at 12:30

    Hebat mBak Tantri… Saya harus lihat sendiri tuh hadiah kayak apa, agar tidak mengecawakan nanti…

  6. Agatha  7 September, 2010 at 10:40

    Selamat yaaaa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)