Pesta 17 Agustus Buat Mereka

Meazza – China


Note: Maksud hati ingin ikut lomba penulisan artikel, namun apa daya sekian hari tak pulang ke rumah Baltyra karena suatu “urusan”, baru tahu kalau Oom Redaksi bilang penyerahan artikel paling lambat 14 Agustus. Well, lanjut sajalah, meski tak bisa ikut lomba, hehe…

Bagi Anda yang berpendidikan, atau Anda yang punya rasa nasionalisme, 17 Agustus adalah hari yang patut disambut dengan mengheningkan cipta untuk mengenang pahlawan bangsa yang mengacungkan bambu runcing, mensyukuri betapa indahnya menjadi bangsa yang merdeka, atau bisa juga bersorak-sorai melambaikan bendera bersama iring-iringan kendaraan di jalan raya.

Tapi bagi sebagian saudara kita yang jauh di pelosok sana, mereka sedikit berbeda dari Anda semua. Mereka mungkin tak kenal pahlawan kemerdekaan kecuali Soekarno dan Hatta karena mereka tak mengenal sejarah bangsa. Mereka juga tak tahu kalau menundukkan kepala sejenak untuk mengheningkan cipta demi para pahlawan adalah salah satu sikap respek terhadap pejuang bangsa. Mereka juga tidak tahu betapa bangganya bisa dengan bebas mengibarkan Sang Merah Putih di jalan raya. Yang mereka tahu cuma satu, bahwa 17 Agustus adalah hiburan.

Bagi masyarakat yang hidup di kota kecil di pedalaman, dengan ekonomi pas-pasan dan fasilitas seadanya, hiburan tentu sesuatu yang dinanti-nantikan. Mereka tak punya mall yang bisa dikunjungi, dan juga tak kenal internet untuk digauli. Mereka ingin melepaskan sejenak beban hidup yang menghimpit, namun tak punya banyak pilihan seperti masyarakat kota. Maka jangan heran kalau di tempat seperti ini layar tancap akan ramai dikunjungi, pentas dangdut akan dijejali.

Dan 17 Agustus adalah hari yang mereka tunggu. Karena untuk menyambut HUT RI, Pemda setempat pasti mengadakan pesta hiburan, mulai dari layar tancap, pentas dangdut, komidi putar, dan pastinya rangkaian acara wajib untuk memeriahkan hari kemerdekaan seperti lomba gerak jalan, sepeda hias, panjat pinang, dan pastinya karnaval.

Tahun lalu saat pulang kampung, aku beruntung karena bisa menyaksikan kemeriahan HUT RI di salah satu kota kecil di Kalimantan Barat. Kalau dari TV aku bisa menyaksikan bagaimana meriahnya Jakarta, dengan pentas musik dan acara live show serta road show di mana-mana, dengan disponsori macam-macam produk, dan bertaburan artis ibu kota sebagai pengisi acara.

Perlombaan karnaval meriah dengan kostum-kostum cantik, dan pohon pinang dengan gantungan hadiah menarik siap dipanjat. Namun di kota kecil ini sangat berbeda. Pesta rakyat digelar secara sederhana. Layar tancap memutar film Rhoma Irama, pentas dangdut dengan panggung dari kayu seadanya, karnaval dengan baju-baju sederhana, panjat pinang dengan hadiah sekenanya, sepeda hias dengan hiasan yang tak seberapa. Semua dana untuk kegiatan itu adalah hasil dari sumbangan sukarela masyarakat di sana, ditambah sedikit dari pemerintah setempat sebagai panitia penyelenggara.

Menghadapi realita bahwa tak ada dana dari sponsor, tak membuat pesta tujuh belasan di sini menjadi lengang dan basi. Aku kagum melihat kreatifitas orang-orang di sini. Lihat saja bagaimana memanfaatkan dedaunan untuk disulap menjadi kostum karnaval yang lucu, lalu dengan gagah berjalan di aspal tanpa sandal padahal saat itu jam 2 siang. Kulihat juga anak-anak kecil yang hanya mengenakan celana dalam dan melumuri seluruh badannya dengan oli yang kabarnya didapat dari bengkel sepeda. Lalu ada juga yang mengganti kertas krep dengan ilalang untuk lomba sepeda hias, lalu ber-onthel ria. Penonton tersenyum melihat ulah mereka di jalan raya.

Ada sesuatu di benakku yang sulit untuk diungkapkan. Antara kesenangan dan kepedihan. Senang, bisa ikut berpesta menyambut HUT RI meski dengan kesederhanaan. Namun juga merasa sedih, medapati bahwa kemerdekaan hanya dimaknai dengan adanya hiburan rakyat. Karena bagi mereka merdeka atau tidak itu sama saja. Kalau katanya di masa penjajahan bangsa ini harus tunduk di bawah kekuasaan kolonial, maka setelah merdeka mereka harus tunduk pada penguasa ekonomi.

Kemiskinan membuat mereka tak berani sekedar untuk bermimpi. Bagi mereka sekolah tinggi itu tak ada gunanya, karena tak ada tempat bagi orang miskin di pemerintahan. Untuk menjadi pegawai negeri atau polisi dan tentara, mereka harus memilih antara menjual kebun atau menggadai sertifikatnya di bank. Karena kemampuan otak dan fisik saja tak cukup untuk membuat seseorang menjadi pegawai negeri. Padahal itulah kesempatan yang paling baik, karena kesempatan untuk berkarir di perusahaan swasta sangat kecil. Jadi jika gagal mengikuti tes pegawai, mereka hanya bisa mengangkat pacul untuk berladang, mengasah pisau untuk menoreh karet, memilih bekerja di counter HP, atau mengurus paspor untuk berangkat menjadi TKI di Malaysia.

Belum lagi kekecewaan terhadap pembangunan yang jalan di tempat, biaya pendidikan yang melambung tinggi sementara kualitas guru masih rendah, membuat mereka harus menelan kepedihan demi kepedihan, dan jiwa nasionalisme mereka makin menipis, merasa menjadi orang Indonesia hanya karena telah terdaftar di sensus penduduk setempat.

Namun semua kemarahan yang entah harus diluapkan pada siapa itu, sejenak berubah menjadi kegembiraan di saat pesta 17 Agustus tiba. Mereka ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Kulihat mereka berbondong-bondong menyaksikan upacara pengibaran bendera yang digelar di lapangan bola kecamatan. Alasannya adalah untuk menyaksikan barisan Paskibra beraksi. Saat Indonesia Raya berkumandang, suasana menjadi riuh, mereka ikut bernyanyi meski liriknya salah di sana-sini. Aku hampir saja menangis menahan haru yang membahana di kalbu. Bukan karena bangsa ini telah merdeka puluhan tahun lamanya, namun karena aku justru bisa lebih merasakan menjadi bagian bangsa ini di antara kerumunan orang-orang yang bersemangat menyanyikan Indonesia Raya dengan lirik yang asal saja.

Tak peduli apa makna kemerdekaan bagi mereka, tapi semangat yang mereka punya dalam menyambut kemeriahan HUT RI membuatku juga ikut bersemangat. Aku tak ikut gerak jalan, karnaval, apa lagi panjat pinang. Tapi aku rela berpanas ria berjejal di pinggir jalan demi memotret. Nikmat sekali ikut berpesta tujuh belasan di kampung begini. Sayang tahun ini aku tak pulang.


Selamat berulang tahun, Indonesiaku!


Menjelajahi cakrawala, Jinan, Agustus 2010

Meazza


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.