[Serial Baltyra] Orang-orang Terlupakan Dalam Proklamasi: Penggagas Acara Pembacaan Proklamasi (SELESAI)

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


PENGGAGAS ACARA PEMBACAAN PROKLAMASI

Proklamasi tergesa untuk sekali sepanjang masa

HANYA satu pertanyaan yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita selama 65 tahun. Siapa sebenarnya yang mengadakan dan mengkoordinasi acara pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia di rumah Soekarno tanggal 17 Agustus 1945?

Dilihat dari hasrat sebuah keinginan yang menggebu, upacara pembacaan proklamasi, sebenarnya sudah direncanakan dan didambakan oleh sebagian orang tinggal di Hindia Belanda selama berabad-abad. Namun apa yang terjadi?

Bila dilihat dan dipahami dengan penuh perhatian, akan timbul sebuah pertanyaan. Bagaimana mungkin sebuah acara maha penting dalam suasana genting, bisa berlangsung secara damai? Tanpa pertumpahan darah, tanpa demontrasi dan unjuk rasa atau pawai di jalan-jalan?

Pada hari 17 Agustus 1945 antara pukul 2 sampai 4 dini hari, belum ada kepastian tentang tempat akan diadakan pembacaan proklamasi kemerdekaan RI. Bisa lapangan Monas atau di sebuah tempat yang layak atau aman? Namun tidak pernah ada yang berpikir, hanya dalam waktu kurang dari 6 jam setelah naskah proklamasi disusun, tiba-tiba telah dirancang sebuah acara sederhana dengan segelintir orang yang hadir di halaman rumah Soekarno yang luas.

Pertanyaannya, dari mana sekian banyak orang didatangkan? Padahal untuk mengundang dan mendatangkan banyak orang, perlu undangan dan pemberitahuan jauh hari sebelumnya. Lebih lagi upacara pembacaan proklamasi itu diadakan pagi hari. Tidak banyak waktu tersedia untuk mendatangkan banyak orang sesuai keinginan kita. Jadi setelah matahari terbit, sekelompok orang kasak-kusuk mendatangkan banyak orang untuk hadir. Siapa saja boleh datang, yang penting hadir.

Dengan keadaan yang genting dan kritis, maka sangat tidak mungkin mendatangkan banyak orang dari tempat yang sangat jauh. Bagaimana kordinasinya dengan alat komunikasi yang terbatas dan minim? Acara itu baru benar-benar jelas diadakan di rumah Soekarno hanya beberapa jam sebelumnya.

Ketergesa-gesaan mengadakan acara pembacaan proklamasi kemerdekaan, bisa dilihat dari cerita Soekarno dalam menggambarkan secara detail acara yang buru-buru.

Dari ceritanya bisa disimpulkan:

1. Pulpen untuk menulis naskah asli proklamasi dan tanda tangan untuk naskah yang sudah diketik.

2. Kertas untuk menulis kertas naskah asli proklamasi disobek dari sebuah buku mirip buku pelajaran sekolah anak-anak, sebuah secarik kertas bergaris biru muda.

3. Pengeras suara dicuri dari stasiun radio Jepang. Tak pernah ada dibicarakan tentang speakernya. Dan hasil rekaman pembacaan proklamasi juga tidak dapat ditemukan, sehingga dibuat ulang oleh Soekarno tahun 1950 atas desakan Jusuf Ronodipuro.

4. Tiang bendera dibuat dari bambu yang tak terlalu tinggi dan dipotong secara kasar serta tergesa-gesa.

5. Bendera dibuat dari kain merah dan putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, beberapa hari sebelum proklamasi (terlihat Soekarno memang sudah merasa kemerdekaan itu akan datang).

Saya pernah menulis fakta proklamasi tentang bendera pusaka ini. Menurut catatan saya yang saya dapat dan saya lupa dari mana, bahwa bendera pusaka itu berasal dari kain seprei untuk warna putih dan kain soto untuk warna merah. Tulisan itu mendapat reaksi keras sepuluh tahun kemudian oleh Dinas Purbakala Propinsi DKI Jakarta, ketika bendera pusaka akan dipindahkan dari Istana ke Monas tahun 2005.

Namun saya tetap punya asumsi bahwa bendera pusaka dibuat dari kain yang memang didapat secara mendadak dan tergesa-gesa. Artinya bukan dibeli atau dipersiapkan dengan baik. Menurut pengakuan Chaerul Basri (kakak kandung sutradara Asrul Sani dan ayah kolomnis Chatib Basri), bendera pusaka dia dapatkan atas bantuan dari seorang pembesar Jepang yang eksentrik, Hitoshi Shizimu, dari sebuah gudang di daerah Pintu Air, Jakarta.

Tak jelas bagaimana cara mendapatkan kain yang sangat susah mendapatkannya saat itu. Baik Shizimu maupun Basri sudah agak lupa dengan kejadian itu. Cara-cara mendapatkan kain ini sangat misteri, entah dari mana tepatnya. Apakah memang dari sebuah gudang, atau dekat-dekat gudang atau dari seseorang yang berada dekat gudang?

Nah, bisa dibayangkan bagaimana sebuah acara besar dan maha penting dan berlangsung hanya sekali saja sepanjang jaman, bisa terlaksana dengan baik. Tentu ada orang-orang genius patriotik berada di belakang ini semua. Sejarah tak mencatat siapa-siapa orang yang berjasa menggelar acara pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI yang kesannya tergesa-gesa itu, tetapi sudah direncanakan ratusan tahun.

“Tidak dengan tiupan terompet yang megah, tidak diiringi dengan paduan merdu dari nyanyian bidadari-bidadari. Tidak ada upacara keagamaan yang khidmat. Tidak ada perwira-perwira berpakaian seragam. Ia tidak diabadikan oleh wartawan juru potret dan pidato-pidato… Kami pun tidak “mengangkat gelas untuk keselamatan”, kenang Soekarno.

Dari pengakuannya, hari proklamasi 17 Agustus 1945 adalah pilihan Soekarno. Secara teknis Indonesia bisa merdeka tanggal 16 Agustus, kalau mau. Tetapi rupanya Soekarno sengaja “mengulur-ulur waktu”, agar terjadi pada hari dan tanggal 17 Agustus 1945. Ketika dipanggil oleh penguasa tertinggi Jepang se Asia tenggara di Dalat (dekat Saigon), Vietnam, Soekarno memang sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dilakukan tanggal 17.

“Mengapa tak sekarang, tanggal 16?!”, tanya Sukarni, pemuda militan yang sudah ngebet untuk merdeka.

“Saya seorang yang percaya pada mistik”, jawab Soekarno singkat. Baginya angka 17 adalah penuh misteri dan penuh kramat. Saat itu jatuh pada hari Jumat Legi (manis) dalam almanak Jawa dan bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Klop. Apalagi dihubung-hubungkan dengan ajaran Islam yang dianut dan budaya lokal yang dia percayai. Tambah klop dengan pilihan angka “sweet seventeen” ini.

Terwujudlah sebuah acara sederhana dengan kordinasi yang cepat dan dadakan, sehingga acara tersebut terselenggara dengan baik dan tanpa pertumpuhan darah. Orang-orang di balik layar yang menyelenggarakan acara pembacaan proklamasi, tidak banyak diingat orang bahkan dilupakan.

Bila dilihat dari orang-orang yang hadir, terdapat beberapa tokoh terkenal kemasyarakatan, seperti Soewirjo, orang paling bertanggung jawab atas jalannya upacara pembacaan proklamasi (kelak menjadi walikota pertama Jakarta). Juga ada beberapa tokoh pergerakan yang datang. Selebihnya kaum muda yang dari kumpulan-kumpulan perjuangan, seperti Barisan Pelopor dan rakyat sekitarnya.

Namun ada perselisihan sejarah, tentang pria bercelana pendek yang mengerek bendera pusaka pada saat proklamasi. Ada yang mengaku pria bercelana pendek itu adalah Achmad Alex dan ada juga yang mengaku pria bercelana pendek itu adalah Ilyas Karim. Entah mana yang benar. Foto bisa berbicara dan belum ada pihak yang serius menguji klaim pria bercelana pendek.

Tidak ada pawai-pawai atau acara pidato panjang setelah upacara pembacaan proklamasi, karena Soekarno sedang sakit malaria dengan suhu 40 derajat. Dan lagi saat itu bulan puasa, jadi sebagian ratusan orang yang berkumpul tidak melakukan aktifitas bersifat mobilisasi yang menguras tenaga dan dahaga, meski dada mereka bergelora.

Barulah menjelang buka puasa di sore hari masih tanggal 17 Agustus 1945, ada acara audiensi antara Soekarno dengan Barisan Pelopor, yang banyak membawa bambu runcing. Kegiatan ini dilakukan saat ngabuburit, suasana jelang buka puasa. Kalau malam hari tidak mungkin dilakukan, sedangkan siang hari bolong juga tidak mungkin, karena hari puasa dan musim panas pula saat bulan itu.

Saya bersyukur dari semua orang yang hadir, hanya Ibu Surastri Karma Trimurti yang pernah saya temui ketika masih kecil sering diajak ke rumahnya di Salemba oleh ibu saya dan ketika saya sudah dewasa, saat Ibu Trimurti sudah sangat sepuh dan tak mengenali saya. Beruntung sekali rekan kita Anoew, yang saat menikah didatangi Ibu Trimurti, orang Indonesia pertama yang memegang kepala presiden RI.

Tanpa para penggagas acara pembacaan proklamasi kemerdekaan RI di rumah Soekarno pada 17 Agustus 1945, tidak terbayangkan bagaimana jadinya. Sebuah acara dadakan yang dilakukan kepepet dan tergesa-gesa, tapi berjalan dengan damai tanpa pertumpuhana darah. Ini menandakan, bahwa bangsa ini lahir dan hidup untuk tumpah darah bagi ratusan juta manusia, bukan untuk menumpahkan darah bagi sebangsa. SELAMAT ULANG TAHUN REPUBLIK INDONESIA. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.