Karena Istriku, Kucium Kaki Ibu

Dinar Manaf


“pa, kita jadi pindah rumah ? “tanya Vera

”kenapa nggak ?”jawab Herman ketus. Vera tersenyum deru. Kemudian perlahan-lahan ia menghampiri suaminya sambil membawakan secangkir teh celup yang hangat.

“pa, ntar tolong anterin mama ke tempat bu Setya mau ? “bujuknya penuh harap

“siapa bu Setya ?”

“teman mama kuliah dulu “Vera menjawab dengan bahasanya yang santun dan kalem

“boleh, tapi nggak bisa lama-lama, Soalnya kita harus beresin semua barang-barang kita ini “ Herman membalas dengan nadanya yang masih meninggi

“siap bos!!!”sahut Vera penuh semangat. Ia tak sanggup lagi menyembunyikan kegembiraannya itu di hadapan suaminya. Sambil berusaha menunjukkan sikap simpatiknya kepada suami, ia mencoba mereda kemarahan sang pujaan hati. Mereda kekesalan yang didapatkan suami akibat adanya misskomunikasi semalam.

Herman mengalami pertengkaran yang sangat hebat dengan ibundanya. Hingga dia merasa kurang cocok lagi dengan perempuan tua itu dan memutuskan untuk segera pindah rumah. Herman ingin menjauh dari kehidupan bunda. Dia merasa tindakannya itu perlu dan harus, karena kenyamanannya di rumah tua itu, menurutnya sudah tak dapat dirasakannya lagi.

Walau hati kecilnya tau, sikap itu bukanlah yang terbaik untuknya dan itu hanyalah luapan dari rasa egonya saja. Walau ibunda terus menitikkan air mata yang sudah lama tertahan dan tersembunyi di antara kekeringan kelopak matanya yang sayu. Walau bunda sudah melarang dan mencoba menahan kepergian putra satu-satunya itu. Tapi tetap saja Herman ngotot ! Ia ingin segera lari dan angkat kaki dari rumah lamanya.

Sejak saat itu, hati bunda bagai teriris-iris meski tak satu pisaupun menyentuhnya. Hati bunda terasa hancur meski tak satu palupun menggetok dadanya. Benteng pertahanan bunda remuk, terhantam gempuran mulut Herman

*****

Jam 9 pagi Herman berangkat ke tempat bu Setya mendampingi Vera. Di sepanjang perjalanan itu, Vera mencoba menghemat suara dan tidak memberitahu tepatnya lokasi rumah bu Setya.Dia hanya menunjukkan arah jalanan yang harus mereka lalui saja. Namun begitu, Vera tetap tidak menunjukkan jalur cepat yang mungkin bisa mereka telusuri. Vera sengaja memilih jalur yang menghubungkan mereka ke tempat pemukiman-pemukiman kumuh di sekitar area ibukota dan tempat-tempat orang jalanan biasa nongkrong memperjuangkan kelayakan hidupnya. Seperti yang diharapkan Vera, ternyata pemandangan itu, perlahan-lahan mulai mengikis kekolotan hati suaminya. Herman mulai menyadari, bahwa hidupnya selama ini jauh dari kekurangan, baik materi maupun yang berupa rohani seperti kaum jalanan itu.

Kini pikirannya semakin menerawang ke masa lalu di saat dia masih menjadi bocah. Kehidupan yang sungguh membuatnya menjadi anak yang bahagia dan merasakan kehidupan layaknya anak kecil pada umumnya. Bermain, belajar dan tidak terbebani oleh ekonomi yang harus ditanggungnya sendiri seperti anak-anak jalanan yang dilihatnya itu. Dia melihat bagaimana kesusahan anak-anak semata wayang itu, berjuang bertahan hidup tanpa adanya orang tua di sampingnya. Panas, hujan, asap knalpot, makian orang-orang  yang tak dikenalnya, bajunya yang lusuh, keringatnya yang menembus sela-sela baju dan membentuk satu kesatuan pulau seperti Negaranya ini berdiri. Sungguh dilihatnya wajah-wajah mereka itu benar-benar seperti bocah yang masih innocent.

Vera merasakan bahwa buahnya kini terus menuai hasil. Dia mulai meluluhkan hati suaminya. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tanpa memberikan banyak alasan, dia meminta mengganti suaminya menyetir. Hermanpun menuruti permintaan istrinya itu. Kemudian Vera melanjutkan perjalanannya ke tempat-tempat yang lebih kumuh lagi dari pada tempat sebelumnya. Di sana Herman melihat anak-anak kecil bermain dengan air got, bermain di atas tumpukan dan di antara kebusukan sampah. Mencari sisa-sisa makanan dari kotak-kotak nasi bekas orang-orang kaya yang berhenti dan beristirahat di pinggir jalan. Diam-diam Vera memperhatikan ekspresi wajah Herman. Vera hanya sesekali meliriknya dan tetap dengan kepura-puraannya yang tidak mau tau tentang perasaan suaminya.

Kini Vera melihat air mata itu mulai menggenang. Bukan cara Vera jika ia langsung menegur, menasehati dan menyalahkan Herman bilamana suaminya itu melakukan kekhilafan. Dia hanya perlu menunjukkan nasib mereka, orang-orang kaum bawah itu yang tidak seperti dirinya di waktu kecil ataupun di masa sekarang. Vera tidak perlu berbicara ngos-ngosan dan beradu argument yang tidak jelas dan mungkin itu malah membuat rumah tangganya menjadi runyam. Karena dia tau, sikap suaminya jika sudah membatu. Vera hanya perlu diam dan duduk di samping Herman berjaga-jaga jika suaminya membutuhkan tempat bernaung atas penyesalan yang dilakukannya.

Walau Vera selalu berusaha menjadi pribadi pendiam dan penurut, namun di hati kecilnya ia menahan isak tangis yang terus menggerogoti perasaannya. Tangisan batin yang muncul akibat Herman mulai acuh dengan sikap orang-orang yang berada di sekitarnya. Orang-orang yang akan terus mencintai dan menyayanginya.

Vera sengaja memilih tempat-tempat pelosok dan terabaikan dari sisi kenyamanan kehidupan mereka untuk meluluhkan kekolotan suaminya. Tanpa disadari Herman, ternyata perjalanan mereka itu sudah direncanakan istrinya sejak keputusan kepindahan rumahnya yang mengagetkan Vera. Di antara pepohonan  jalanan menuju kota Sukabumi, Herman melihat bagaimana orang desa yang sudah tua renta itu memanggul kayu bakar. Menyokong dengan tubuhnya yang sudah terlihat lekuk tulang belulangnya.

Matanya yang sayu dan berair. Kakek-kakek dengan sebotol air minumnya yang ia letakkan di antara kayu-kayu bakar yang dipikulnya. Sesekali batuk terkikik-kikik dengan badannya yang semakin terbungkuk dan gemeteran. Tiba-tiba saja Herman membayangkan dirinya kelak jika ia sudah tua dan tubuhnya seperti kakek itu. Mencoba berdiri di atas urat-urat kakinya yang mulai tak berfungsi dengan baik atau bahkan menyokong tubuhnya dengan tongkat kayu seperti ibunda. Tangan Herman mulai menggerayangi saku celana dan bajunya. Mencari beberapa lembar uang kertas yang ingin ia berikan kepada kakek tua itu. Tapi apalah guna, Herman tak kunjung juga mendapatkan lembaran uang yang dicarinya.

“mama, maaf ada recehan nggak ? buat kakek itu “tanyanya terbata-bata

“kenapa harus receh ?”Herman tertunduk dan terdiam. Mendadak dia menginjak rem mobilnya dan berhenti di bawah pohon mahoni di pinggir jalan. Dia ingin menyapa kakek itu. Vera memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan yang ia punya. Herman memeluk istrinya dan segera menghampiri kakek renta tadi dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.

“permisi kek !”Herman menyapa

“iya nak, bisa saya bantu ?”tanyanya dengan suara yang tersendat-sendat karena nafasnya yang tersengal-sengal akibat kelelahan. Lalu kakek itu menurunkan kayu bakarnya.

“kakek, terima kasih atas pelajaran yang kakek berikan untuk saya yang tak tau malu ini” Herman menangis dan memeluk kakek yang tak ia kenal itu dan diam-diam menaruh uang yang digenggamnya ke saku kakek. Kakek tadi merasa kebingungan karena ia tak mengerti maksud ucapan Herman. Lalu Herman mengalihkan pembicaraan mereka dan bertanya arah ke kota walau dia tau, istrinya hafal betul arah jalanan itu. Setelah mendapatkan jawaban dari kakek, dia berpamitan dan memeluk kakek itu sekali lagi dengan perasaanya yang penuh haru.

Herman meninggalkan kakek itu dengan matanya yang masih menangis. Pintu mobil terbuka. Vera berdiri di depan bumper mobil menunggu suaminya mendekat. Tanpa rasa kikuk lagi Herman langsung memeluk Vera. Vera tersenyum sambil mengusap rambut suaminya. Vera memandangi mata suaminya dengan penuh rasa cinta. Kemudian meyakinkan suaminya dengan sesekali anggukan bahwa kekasihnya itu sudah siap melanjutkan perjalanannya lagi. Vera merasa cukup lega.

Kali ini, tanpa ragu lagi dia langsung memilih jalur utama yang menghubungkan mereka ke tempat tujuan semula. 10 menit kemudian mereka sampai ke tempat bu Setya. Teman Vera yang memilih karier hidupnya sebagai seorang perawat. Perlahan-lahan mobil mereka melewati pintu gerbang bangunan tua yang dipenuhi dengan pohon cemara dan kayu sono keling serta beberapa kayu mahoni di halamannya.

“ma, ini tempat apaan ?”tanya Herman penasaran. Vera hanya tersenyum

mau tau ? penasaran ya ? “Vera menggoda

Nafas Herman tersengal-sengal. Air hangat itu semakin tak tertahan dan terus menetes dari sudut matanya. Hatinya luluh lantak. Dia merasa seperti orang yang terjungkal oleh kenaifan otaknya sendiri. Betapa dia telah mempecundangi dirinya sendiri dengan mengabaikan semua tangisan ibunya. Di sini. Di rumah tua itu. Di panti wreda itu. Dia melihat puluhan orang tua yang diasingkan anaknya dengan berbagai macam alasan.

“oke, sayang ! di sini kamu harus bisa menahan air mata itu. Kamu harus menunjukkan kepedulianmu dengan tersenyum kepada mereka semua. Jika kamu sedih mereka akan semakin teringat dengan anak-anak mereka yang meninggalkannya. Sekarang tugas kita adalah menyantuninya. Jika kamu ingin menangis, menangislah tidak di depan mereka. Oke, anda adalah orang yang tegar. Sekarang tunjukkanlah senyuman itu kepada mereka” Vera mencoba menguatkan hati Herman dengan memegang bahu suaminya. Herman mengangguk dan menuruti semua omongan istrinya.

Di sana Herman ditunjukkan keadaan orang-orang yang tidak lagi bisa berbicara. Orang-orang yang mulai rabun. Orang-orang yang mulai tuli. Orang-orang yang hanya bisa rebahan di atas ranjangnya. Makan, minum dan berak sekalipun. Rambut-rambut mereka mulai rontok bahkan ada juga yang sudah gundul. Kulitnya keriput. Tulang tengkoraknya menjadi pemandangan yang sudah tak aneh lagi. Hanya sedikit orang-orang yang masih mempunyai gigi lengkap. Bahkan ada juga yang tak dapat menggerakkan tangannya sedikitpun akibat terkena penyakit stroke. Fenomena tentang orang-orang yang sering kejang ataupun penyakit ganas lainnya menjadi suguhan yang sudah tak asing lagi.

Vera menghampiri ibu Setya. Salah satu perawat di panti Jompo itu. Kemudian dia memperkenalkan suaminya. Herman melihat kegigihan dan kesabaran ibu Setya melayani orang-orang tua itu. Tanpa rasa jijik, takut ataupun rasa kesal. Dia melihat uang bukan lagi menjadi prioritas utama bagi bu Setya. Ibu Setya yang tulus membantu mereka. Begitu juga perawat-perawat yang lain yang berada di rumah tua itu.

Ingin rasanya Herman menahan tangis, tapi tetap saja dia tak mampu melakukannya. Dia membayangkan bagaimana kasih seorang ibu terhadap anaknya. Melayani bayi di sepanjang hari. Walau lelah, walau bertumpah kotoran dan tai di lengannya yang akhirnya harus mencebokinya. Walau bajunya basah terkena air liur ataupun makanan yang terpaksa keluar dari mulut bayinya bahkan basah terkena air kencing sang bayi. Walau tangisan terus menggema di tengah malam. Di tengah-tengah kenyenyakan tidur mereka. Ibu akan selalu bangun dan menyapa bayinya dengan satu senyuman yang tulus.

Kini dia merasa sangat bersalah kepada ibunda. Herman menyesal atas perilaku yang dibuatnya selama ini. Melihat semua ketulusan perawat itu, Herman ingin segera cepat pulang. Memeluk dan mencium kaki ibunda sambil meminta maaf. Kini dia merasa bahwa dirinya mungkin harus membatalkan kepindahannya dari rumah ibunda. Dia tidak ingin membohongi perasaannya yang sebenarnya enggan dan tak sanggup meninggalkan ibunda sendirian.

*****

Setelah lama berkeliling di panti Wreda, Vera dan Herman berpamitan kepada bu Setya. Mereka tidak lupa mengucapkan terimakasihnya atas semua kerelaan orang-orang seperti bu Setya yang setia melayani semua penghuni panti itu. Di akhir kunjungan mereka, Herman melihat orang-orang yang hanya berdiam diri di atas kursi roda dan selalu memandangi pintu gerbang, menunggu seseorang yang mungkin masih ingin menjenguknya. Sejenak dia memandangi orang-orang itu dengan penuh kerinduan terhadap ibundanya.

“nama perawat tadi siapa ma ?” tanyanya kelu

“ibu Setya, hebatkan orangnya “Vera mencoba meyakinkan pendapatnya mengenai bu Setya teman seperjuangannya dulu di universitas.

“seperti namanya “Herman menarik nafas panjang lalu perlahan-lahan menghenduskannya kembali “setya” lanjutnya sambil memasuki mobil mereka. Vera tersenyum lega. Dia tau kini suaminya sudah menyadari kesalahan yang dibuatnya semalam. Lalu Herman mencium kening Vera dan memeluknya sambil memegang setir mobil yang sudah berjalan meninggalkan panti itu

“terimakasih ya, ma !!!”ucapnya tulus. Vera memandangi wajah pendamping hidupnya itu dengan penuh cinta dan senyuman indah. Begitu juga Herman

“aku tau, mama sengaja kan, melakukan semua ini ?” tanyanya penasaran

“sok tau lu ?” vera tersipu malu

“tapi benar kan ? “ Herman tak mau meragukan pendapatnya. Lalu mereka berdua tersenyum ringan penuh kemesraan.

Sesampainya di rumah Herman langsung mencium kaki ibundanya dan memeluk erat-erat tubuh gendut ibunda dengan tangisan yang penuh haru. Di sana ! Di depan pintu itu, Vera menangis bahagia melihat mertua dan suaminya yang saling memaafkan dan saling melepas rindu. Bunda memanggil Vera dan memeluk menantunya itu dengan penuh kehangatan.


Ilustrasi: missbuffalo blogspot

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.