[Lomba Menulis] Menjadi Indonesia

Osa Kurniawan Ilham


Merunut pada sejarah pada mulanya tidak ada yang namanya orang Indonesia. Seandainya hipotesis Prof. Sangkot Marzuki mengenai silsilah manusia Indonesia menurut uji DNA benar dan terbukti valid, maka Indonesia (atau Nusantara) masa silam adalah sekedar terminal bagi bermigrasinya nenek moyang kita yang berasal Afrika sebelum akhirnya beberapa dari mereka melanjutkan perjalanan migrasi ke Asia bagian utara. Homo Sapiens dari Afrika itu selama di Nusantara berkembang menjadi ras Australomenasid, ras Nias dan ras Mongoloid.

Ras Australomenasid kemudian mengembara ke bagian timur, yaitu Paparan Sahul sehingga kelak menurunkan suku-suku bangsa di Papua, Aborigin, Maori dan Polinesia. Ras Nias tetap di wilayah aslinya sampai sekarang sementara ras Mongolid berkembang di Paparan Sunda. Saat permukaan air laut naik dan mulai menggenangi sebagian wilayah Paparan Sunda terjadilah penyebaran ras Mongoloid ke wilayah-wilayah yang belum tertutup air laut. Ada yang tetap bermukim di Nusantara, tapi ada juga yang kemudian mengembara ke bagian utara sehingga kelak menjadi nenek moyang bangsa-bangsa di Asia timur dan utara.

Wah, maafkan saya kalau tanpa permisi sudah mengawali tulisan ini dengan kalimat-kalimat yang berbau sok ilmiah dan sok serius he..he…Saya hanya ingin berbagi dengan Anda bahwa awalnya memang tidak ada orang Indonesia. Yang ada adalah orang Nias, orang Papua, orang Jawa, orang Bugis, orang Batak, orang Melayu, orang Dayak, orang Maluku, orang Timor, orang Tionghoa, orang India dan bermacam-macam ras atau suku bangsa yang sama-sama bermukim di Nusantara. Itulah kita.

Dan tampaknya bapak ibu pendiri bangsa tahu betul mengenai hal itu. Dengan segala upaya ditanamkanlah sebuah kesadaran baru di atas kesadaran lama bahwa selain kita bersuku tertentu kita juga adalah orang Indonesia. Memang tidak mudah, karena menjadi orang Indonesia adalah sebuah proses, yang bahkan terus akan menjadi proses selepas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Entah menjadi Indonesia dalam bentuknya sebagai gado-gado atau sebagai jus, demikianlah proses itu harus dijalani.

Saya lahir dan dibesarkan dalam lingkungan budaya suku Jawa yang masih kental. Seingat saya tidak ada suku-suku lain di desa saya selain Suku Jawa, kecuali beberapa keluarga dari Suku Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang dan guru. Semakin besar, ketika mulai bersekolah di kota interaksi saya dengan teman-teman dari Suku Tionghoa semakin meningkat karena beberapa dari mereka adalah teman sekaligus pesaing dalam kompetisi akademis di sekolah. Bahkan saat di SMA, pergaulan saya dengan teman-teman cewek maupun cowok dari suku Tionghoa semakin dekat dan akrab.

Orang tua saya semakin khawatir melihat perkembangan seperti itu, mereka takut jangan-jangan saya akan kecantol dengan salah satu cewek Tionghoa tersebut yang memang manis dan cantik dilihat itu he..he…Bayangkan, selalu ada proses pergumulan antara menjadi orang Jawa, orang Tionghoa dan orang Indonesia dalam kondisi seperti ini. Padahal sekedar info, orang tua saya sebenarnya cukup dekat pergaulannya dengan beberapa orang Tionghoa di gerejanya juga dengan orang-orang Tionghoa keluarga pemilik Gudang Garam. Tapi entak kenapa untuk urusan cinta anaknya, kedekatan itu tidak berlaku di sini.

Cinta puber pertama lewatlah dan sekarang mulailah masa cinta yang lebih serius. Saat kuliah saya sempat bertukar janji dengan seorang teman Tionghoa. Kami berdiskusi mengenai kondisi hubungan antara “pribumi dan non pribumi” yang saat itu sedang menghangat di masa Orde Baru dan akhirnya keluarlah “kesepakatan” ini. Sebagai langkah nyata pembauran, saya akan berusaha mendapatkan cewek Tionghoa dan dia akan berusaha mendekati cewek Jawa. Anda boleh tertawa tapi beginilah kenyataannya he..he…

Teman saya tersebut akhirnya tidak bisa memenuhi kesepakatan aneh kami tersebut. Pada akhirnya dia tetap menikah dengan seorang cewek Tionghoa. Tidak ada masalah, terkadang urusan cinta memang tidak bisa dicampuradukkan dengan urusan kebangsaan he..he…Sementara saya akhirnya bisa mencapai cita-cita tersebut.

Dan inilah cara saya untuk menjadi Indonesia tersebut. Saya akhirnya berhasil menikahi seorang cewek Tionghoa. Begini ceritanya. Pada masa-masa itu diputarlah di SCTV serial film mandarin “White Snake Legend” dan Anda pasti tahu bahwa pemeran ular putihnya begitu cantik dan lembut membuat saya terobsesi mendapatkan isteri seorang Tionghoa. Pada saat itu saya juga ngefans banget sama Susi Susanti, itu lho pemain bulutangkis yang selalu menjadi juara pada masanya. Nah, suatu ketika saya melihat ada seorang adik kelas di kampus yang wajahnya mirip sekali dengan Susi Susanti. Teman-teman sekampusnya menjulukinya satu-satunya artis mandarin di kampus politeknik he..he..Saya yang mendapat peluang untuk berkenalan dengannya, akhirnya tidak perlu lama-lama untuk memanfaatkan kesempatan itu. Setahun setelah saya lulus dan bekerja akhirnya resmilah kami berpacaran.

Latar belakang cewek saya ini sangat menarik. Kakek neneknya adalah seorang Tionghoa perantauan yang tinggal di dalam tembok Pecinan Kota Bangkalan Madura. Konon pada jaman Belanda, keluarga kakek neneknya termasuk keluarga yang sangat kaya. Kakeknya mengikuti pendidikan ala Belanda sehingga bisa berbahasa Belanda dan memiliki gaya hidup yang lebih kebarat-baratan ketimbang seorang Tionghoa. Mereka dan seluruh anak-anaknya tidak ada satu pun yang bisa berbahasa Mandarin, malah sehari-harinya menggunakan Bahasa Madura. Pernah saya mengikuti acara rapat keluarga, saya pikir mereka menggunakan Bahasa Mandarin, tapi setelah saya dengarkan lebih teliti ternyata mereka menggunakan Bahasa Madura.

Keadaan berubah ketika jaman Jepang, mereka menjadi keluarga yang biasa-biasa saja (istilah halus dari miskin, sebenarnya). Kakeknya memiliki 5 anak, 1 perempuan dan 4 laki-laki. Dan ini yang menarik. Dari kelima anak tersebut hanya laki-laki pertama dan yang kedua saja yang menikah dengan sesama Tionghoa, sisanya menikah dengan orang Jawa dan Lampung. Bahkan salah seorang dari anaknya tersebut, sampai sekarang bekerja sebagai anggota reserse Polri. Pacar saya adalah anak dari satu-satunya perempuan di keluarga tersebut. Maminya menikah dengan seorang pria Jawa yang akhirnya meninggal dunia dengan status sebagai pensiunan anggota Brimob dan veteran perang Operasi Seroja di Timor Timur.

Kata almarhum ibu saya, ayah saya pernah berkata, kalau bisa dia nanti tidak besanan dengan keluarga polisi atau keluarga Tionghoa. Tapi takdir berkata lain, saya akhirnya menikah dengan cewek itu, anak seorang anggota Brimob dan ada darah Tionghoa di dalam dirinya. Ce’st la vie he..he..

Banyak hal lucu ketika dalam proses menuju pernikahan itu. Budaya yang berbeda terkadang bisa menimbulkan kelucuan atau malah kesalahpahaman. Contohnya dalam budaya Jawa pihak keluarga wanitalah yang berwenang memilih hari pernikahan dan pestanya, keluarga pria menurut saja. Sementara dalam budaya Tionghoa sebaliknya. Karena itu tidak pernah ada keputusan dalam urusan menentukan hari pernikahan wong masing-masing keluarga terus-menerus saling mempersilakan he..he..Urusan baju seragam juga begitu, ibu mertua saya yang berkulit kuning tidak setuju dengan pilihan warna baju yang dipilih oleh ibu saya yang berkulit sawo matang. Jadi jangan heran kalau dalam resepsi pernikahan akhirnya mereka tidak mengenakan gaun yang seragam.

Tapi syukurlah, semua berjalan dengan baik tentu saja pernikahannya ala Indonesia, bukan Jawa, bukan Tionghoa. Dan sekarang kami memiliki 2 anak lelaki, dengan nama khas Indonesia pula, bukan Jawa atau Tionghoa. Kami memilih nama Indonesia untuk mereka, Laksmana Kinasih Providentia Dei untuk anak pertama, lalu Lentera Kahanan Swarga untuk anak yang kedua. Karena sudah bersekolah, anak-anak kami sering bertanya kepada ayah bundanya, mereka itu sukunya apa. Dan tentu saja kami bingung, lalu menyarankan supaya mereka menjawabnya dengan suku Indonesia karena darah mereka sudah campur baur bagaikan segelas jus begitu he..he…

Cerita menjadi Indonesia ini ternyata belum berakhir dalam keluarga saya dan isteri saya. Adik ketiga saya yang perempuan ternyata lebih memilih pria Tionghoa dari Semarang sebagai suaminya. Sementara kakak sulung isteri saya yang bekerja di Batam, ia memilih seorang perempuan Batak sebagai isterinya.

Sampai di sini, untuk sementara lengkap sudah cerita tentang menjadi Indonesia dalam pengalaman hidup saya. Entah, bagaimana nanti kedua anak lelaki kami melanjutkan cerita ini.

(Balikpapan, Agustus 2010)


Photo by : bluebag.deviantart.com

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.