65 Tahun Indonesia Punya Presiden dan Konstitusi

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


Republik Indonesia, Republik Tukang Sate

“SATE..! Sate..!”, teriak Presiden Amerika Serikat Barack Obama sambil tertawa lepas bahagia, mengenang masa kecilnya di Jakarta 40 tahun silam. Obama meneriakkan panggilan tukang sate itu, untuk menjawab pertanyaan seorang wartawan Indonesia dalam sebuah wawancara eksklusif di Gedung Putih beberapa bulan lalu.

Teriakan Presiden Obama itu juga pernah diteriakkan oleh Presiden Soekarno, 65 tahun silam, ketika dia baru saja beberapa jam dipilih menjadi presiden pertama Republik Indonesia, bersama Mohammad Hatta yang dipilih sebagai wakilnya.

Pada hari Sabtu siang, 18 Agustus 1945, sebuah badan yang bertugas menjalankan fungsi-fungsi kenegaraan yang dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang, yaitu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, bersidang pertama kalinya. Anggotanya ada 21 orang, termasuk ketuanya Soekarno dan wakilnya Hatta. Namun Soekarno menambahkan 6 orang lagi secara diam-diam sehingga menjadi 27 orang.

Mungkin karena sedang bulan puasa, sidang siang hari memang bikin mulut asem dan perut bernyanyi, sehingga sidang pun molor menjadi dibuka pada 11.30 siang, saat matahari tidak bersahabat bagi orang yang berpuasa.

Setelah berdebat panjang dengan argumentasi, beberapa masalah krusial kenegaraan dibicarakan sebagai fondasi kuat untuk masa datang. Hari semakin sore, sehingga sidang ditutup pukul 1.30 siang.

Jelang sore pada pukul 3 siang lewat 15 menit, sidang dibuka dan mereka mulai membicarakan pemilihan presiden dan wakilnya, untuk sebuah negara baru yang baru berumur 24 jam itu.

“Berhubung dengan keadaan waktu, saya harap supaya pemilihan presiden ini diselenggarakan dengan aklamasi dan saya majukan sebagai calon, yaitu Bung Karno!”, kata Otto Iskandardinata, yang jenasahnya entah kemana hilang.

Hadirin yang ada di dalam ruangan bertepuk tangan. Hari itu, sekitar pukul 15:17 Sabtu sore waktu Jawa, tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai pertama Republik Indonesia dan presiden termuda di dunia saat itu.

“Tuan-tuan, banyak terima kasih atas kepercayaan tuan-tuan dan dengan ini saya dipilih oleh tuan-tuan sekalian dengan suara bulat menjadi Presiden Republik Indonesia”, kata Soekarno dalam pidato pertamanya sebagai presiden, sekaligus pidato resmi pertama untuk negara baru yang bernama Republik Indonesia.

Mereka yang hadir setelah mengangkat Soekarno sebagai bos nomor satu di negeri ini, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu berteriak “Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno! Hidup Bung Karno!”

Hatta pun dipilih dengan cara yang sama, atas usul Otto Iskandardinata. Mereka bertepuk tangan, menyanyikan lagu kebangsaan, lalu meneriakan yel-yel Hidup Bung Hatta! sebanyak 3 kali. Tapi Hatta tidak ada pidato atau sepatah katapun yang keluar setelah dia dipilih sebagai wakil presiden pertama.

Ketika Soekarno sedang berdebat dengan Sam Ratulangie soal masala penetapan UUD 1945 sebagai konstitusi, tiba-tiba sidang diberhentikan.

“Sekarang kita berhenti sebentar”, kata Presiden Soekarno. Beberapa saat sidang dilanjutkan kembali. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.10 sore. Setelah Soekarno berpidato sebentar, rapat ditutup pukul 16.12 waktu Jawa. Peserta sidang perlahan berhambur pulang, jelang malam hari. Sedang beberapa orang masih tetap di ruang sidang, karea suatu keperluan untui sidang esok hari.

Dalam sidang itu, diputuskan juga UUD 1945 sebagai konstitusi baru dan membentuk parlemen sementara, yaitu Komite Nasional.

Hari pun makin sore jelang gelap. Dan Soekarno pun pulang. Dia pulang bukan sebagai warga negara biasa lagi, seperti lima jam yang lalu saat datang ke sidang. Dia bersama Hatta sudah menjadi presiden dan wakil presiden RI.

Pulang dari sidang, perut Soekarno lapar. Maklum sedang berpuasa atau sidang PPKI memang tidak menyediakan makanan tajil? Terlalu… orang sudah berpikir keras masak nggak dimasakin hidang buka puasa ala kadarnya? Makanya sidang dibubarkan sebelum waktu berbuka puasa.

Di tengah jalan, Soekarno melihat tukang sate yang nyeker (tak beralas kaki) dan “berjaket kulit asli” alias tidak berbaju.

“Sate ayam lima puluh tusuk!”, kata Presiden Soekarno, yang belum sejam diangkat sebagai presiden. Panggilan itu adalah perintah pertama presiden Soekarno kepada rakyatnya secara langsung.

“Aku jongkok di sana dekat selokan dan kotoran”, kenang Soekarno mengingat hari pertamanya sebagai presiden. Kasihan, dia cuma makan sate di pinggir jalan (bayar sendiri atau dibayarin staf atau supir?), bukan mengangkat toast atas keberhasilannya, seperti lazimnya pemimpin yang benar dan taat aturan.

Kemungkinan besar Soekarno berbuka puasa saat memanggil tukang sate. Kalau tidak, artinya dia tak berpuasa dan kecil kemungkinan ini terjadi. Kalau malam hari, atau makan malam, sulit dibayangkan seorang tukang sate buka baju. Sekarang saja dengan global warming, pasti dingin untuk Jakarta. Apalagi saat itu, Jakarta masih sangat asri dan sejuk dengan hutan pepohonan.

Soekarno pulang rapat pertama PPKI di Gedung Pejambon (sekarang Gedung Departemen Luar Negeri), di pinggir kali Ciliwung menuju rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur. Jadi rute yang diambil oleh supir Sukarno, adalah melalui rute yang mungkin dan masuk akal, yaitu jalan terdekat ke rumahnya. Mulai dari melintas Jalan Pejambon, belok kiri ke Jalan Merdeka Timur (hoek Gereja Immanuel depan stasiun Gambir), lalu ke Jalan Prapatan (belum ada patung Pak Tani waktu itu), terus ke Jalan Menteng Raya (tempat sekolah Kanisius), lalu terus ke Jalan Cikini (belum ada Taman Ismail Marzuki), dan terus lagi ke Jalan Pegangsaan Timur, rumahnya.

Nah, waktu itu belum ada sistem satu arah seperti sekarang dan tidak macet. Orang yang mengemudikan mobil adalah Pak Arief. Dia bekas supir taksi yang suka mengantar dia dari Gambir ke rumah MH Thamrin di Sawah Besar semasa perjuangan tahun 1920an. Konon, mobil kepresidenan RI bernomor polisi RIP-1 diciptakan Soekarno sendiri yang diambil dari nama supir kesayangannya, yaitu Arief, diucapkan Arip. Rip. Mungkin saja! RIP itu terdiri dari R, I dan P. R dan I pasti Republik Indonesia. Masak P kepanjangan presiden? Terbalik kaidah bahasanya.

Di mana kira-kira Soekarno memanggil tukang sate itu? Mungkin saja antara sepanjang Jalan Menteng, karena ada pusat keramaian, yaitu di stasiun Gambir. Saat itu sistem pembuangan air atau selokan tidak sebagus di Jalan Medan Merdeka Timur. Soalnya menurut Soekarno dia makan dekat selokan.

Siapa tukang sate itu, tidak ada yang tahu dan tidak perlu diketahui lagi. Namun dia sudah membuat simbol, bahwa sebagai rakyat dia sudah memberikan dagangannya berupa darah dan daging berbentuk tusukan sate untuk dipersembahkan kepada negara baru, yang dipimpin oleh pembelinya. (*)

233 Comments to "65 Tahun Indonesia Punya Presiden dan Konstitusi"

  1. Lani  18 August, 2013 at 11:52

    ISK : aneh bin ajaib……….aku bs kelewatan kg baca, apalagi komentar di artikelmu yg ini????? talela……..mmgnya aku lagi ngumpet kemana ya ngepasin HUT RI ke 65??????

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  18 August, 2013 at 10:54

    Opa Wal, putri Syamsuddin Mangan berpacaran dengan pemuda depan rumah saya. Tapi tak langgeng. Namanya Nina Mangan. Kakaknya Nina, menikah dengan Ali Sadikin. Kakak Ali, Usman Sadikin itu sahabatnya Opa Wal.

  3. Wal Suparmo  18 August, 2013 at 09:58

    Sebelim menjadi TIM sudah ada Taman Raden Saleh dengan KEBUN BINATANG yg dipimpin oleh seorang Armenia ( namanya sedang lupa), Garden HALL dan satu biokop lagi. DJAKARTA FAIR yg PERTAMA diselenggarakan disini.Oleh Syamsudin Mangan, Walandouw, Kapt Djoko Prasetijo dsb.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.