Mengulum Lidah di Jepang

Junanto Herdiawan


Lidah adalah salah satu bagian yang seksi dari kebertubuhan makhluk. Begitu pula dengan Lidah Sapi. Dari seluruh bagian tubuhnya, lidah sapi memiliki keunikan tersendiri, karena kelembutan tekstur dan kegurihan rasanya.

Anda pernah mencicipi lidah sapi? Hmmm, bagi beberapa orang, hal ini membutuhkan acquired taste, atau pembiasaan yang kadang tidak mudah. Kebanyakan tidak berani mencoba karena geli membayangkan bentuk dan tekstur lendirnya.

Tapi bagi pecinta lidah, mencicipi lidah sapi adalah sebuah pengalaman penuh kenikmatan. Di negeri kita, lidah sapi kerap dibuat sate padang, semur lidah, ataupun steak lidah. Tapi di Jepang, lidah sapi adalah salah satu makanan lokal yang terkenal dari daerah Sendai, di wilayah Miyagi Perfektur, Jepang. Lidah sapi bahkan menjadi bagian penting dalam gagrak kulinerisme Jepang. Mereka menyebutnya dengan nama Gyutan (牛タン). Gyu artinya Sapi, dan Tan adalah serapan dari kata Tongue, yang berarti lidah.

Saat pak Eddy dan pak Apri pergi ke Sendai beberapa waktu lalu, saya dibawakan oleh-oleh satu kotak lidah sapi Sendai siap panggang. Lidah sapinya sudah dibumbui dan tinggal dipanggang di atas api. Saya coba untuk makan malam. Hmm .. rasanya lembut, gurih, dan sungguh khas.

Di Tokyo, ada banyak warung yang menjual lidah sapi atau Gyutan. Warung favorit saya ada dua. Pertama yang ada di dalam stasiun kereta api Tokyo, dan kedua, di basement Gedung Mitsubishi, daerah Marunouchi. Keduanya memiliki kekhasan rasa dan sentuhan kelembutan lidah tersendiri.

Cara memasak Gyutan di restoran itu menggunakan metode yang sama dengan yang dilakukan di Sendai sejak tahun 1948, saat pertama kali Gyutan dipopulerkan. Lidah sapi diiris tipis-tipis, kemudian dipanggang di atas api. Keahlian dalam mengolah lidah ini sangat diperlukan. Kita tahu, berat lidah sapi ini bisa mencapai 6 kg. Bentuknya juga kenyal berlendir, serta mengandung tulang-tulang lunak. Cara mengolah dan mengiris yang tidak tepat, akan menyebabkan lidah menjadi keras dan sulit dikunyah.

Di warung Gyutan, lidah dipotong satu persatu menggunakan tangan (bukan mesin), sehingga pemilahan seratnya sempurna. Hal ini menghasilkan tekstur lidah yang lembut dan succulent saat dipanggang. Bumbu dari Gyutan ini juga minimalis. Cukup hanya cuka dan garam. Sementara sausnya hanya kecap atau miso. Gyutan disajikan bersama soup lidah (yang juga lembut), serta satu cawan nasi yang dicampur gandum. Rasa nasinya unik, kuah supnya gurih, dan lidahnya lembut juicy. Kalau anda sempat mampir ke Jepang, jangan lupa mencicipi Lidah Sapi Sendai.

Selamat berbuka puasa. Selamat mencicipi lidah, bagi yang suka.

(Catatan: harap tulisan ini dibaca setelah berbuka puasa. Penulis tidak bertanggungjawab atas efek samping tulisan ini)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.