Jogjakarta Yang Klasik dan Eksotik (Part 3 – selesai)

Anastasia Yuliantari & Dewi Aichi


Jalan KHA Dahlan biasa disebut sebagai daerah Kauman. Letaknya di sebelah barat Masjid Agung. Berdasarkan namanya bisa ditengarai di wilayah itu tinggal para Kaum, yaitu alim ulama atau cerdik cendikia dalam pengetahuan agama. Kauman sekarang merupakan sentra bisnis yang memberikan kontribusi pada pendapatan Jogja. Berbagai toko cinderamata berjejer di sepanjang jalannya. Komoditi yang dipajang adalah garment dan kerajinan tangan seperti batik dan kaos oblong bertulisan lucu khas Jogja.

Nama Wijilan identik dengan makanan khas Jogja, apalagi kalau bukan gudeg. Setiap menyebut gudeg Wijilan orang tak akan meragukan kelezatannya. Sebelum memasuki Wijilan kita harus melalui plengkung, semacam terowongan sepanjang enam meteran. Plengkung (mungkin karena bentuknya yang melengkung) merupakan jalan masuk bagi orang yang tinggal di dalam beteng Keraton Jogjakarta.

Ada masanya ketika plengkung ini menjadi arena corat-coret orang tak bertanggungjawab yang merusak keindahannya, namun saat ini semua telah berubah. Kita dapat dengan nyaman melewatinya tanpa mata harus tercocok coretan-coretan cat.

Yang menarik dari masyarakat Jogja adalah kebiasaan mereka menyebut lampu lalulintas dengan sebutan bangjo alias abang dan ijo. Maksudnya sih, lampunya merah dan hijau. Sampai sekarang pun banyak yang tetap mengatakan demikian setiap memberi tahukan arah pada seseorang, “Itu, lho Mbak, perempatan bangjo terus ke kanan….” Wah, kalau bukan orang Jogja bisa dibayangkan kebingungannya mencari perempatan yang bernama bangjo. Apalagi hampir setiap perempatan, kan ada traffic lightnya.

Nama lain dari bangjo adalah stopan gantung. Kali ini karena lampu lalu lintasnya digantung. Nah, kalau stopan gantung jaman dahulu memang agak jarang, tapi jaman sekarang kayaknya setiap lampu lalu lintas selalu digantung.

Di depan Pagelaran Keraton Jogja terdapat Alun-alun Utara. Disebut demikian karena ada juga alun-alun di bagian selatannya. Alun-alun utara merupakan halaman depan Keraton. Sementara Alun-alun Selatan merupakan backyardnya.

Di bilangan kampus UGM yang terkenal terdapat rumah sakit mata yang telah tua usianya. RS mata dr. Yap tetap beroperasi sampai sekarang. Walau berdekatan dengan beberapa RS yang terkenal jaman sekarang, seperti Panti Rapih, Bethesda, dan RSU dr. Sarjito, rumah sakit mata ini tetap menunjukkan eksistensinya.

Peninggalan Belanda yang juga merupakan daya tarik kota Jogja adalah Gereja Kotabaru. Letaknya yang mencolok di salah-satu jalan tersibuk kota Jogja tak dapat dilewati tanpa membuat kepala menengok. Gereja ini telah berulangkali mengalami renovasi tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Namun yang paling menarik bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Gudeg adalah perpustakaan Kolese Ignasius yang ada di belakang gereja tersebut. Sebagai perpustakaan dengan buku yang konon katanya terbanyak di Asia Tenggara, Kolese Ignasius menjadi tempat yang ideal untuk mencari segala informasi, dan tentu saja, memudahkan para mahasiswa mengerjakan tugas-tugas yang selalu memusingkan kepala.

Seiring berjalannya waktu, di antara keabadian beberapa situs bersejarah, terdapat pula perubahan yang tak terelakkan. Perubahan itu bisa kita lihat di bagian-bagian kota Jogja berikut ini: Rumah sakit Pugeran yang terletak di Pojok Beteng Kulon, sekarang menjadi bangunan sebuah sekolah SMU. Sedangkan yang sekarang ini dijadikan mall Malioboro dan Hotel Ibis, dulunya adalah rumah sakit paru-paru. Bank BDN, sekarang sudah menjadi mall Galeria. Pasar Kembang, sudah menjadi taman parkit Abu Bakar Ali.

Dulu ada tempat yang terkenal dengan THR, sekarang menjadi Purawisata. Lokasi yang sekarang dijadikan Taman Pintar, dulunya adalah shopping center. Pabrik panci Wallsons, sekarang sudah menjadi hotel Melia Purosani.

Agak ke utara sedikit, Studio radio Rakosa di jalan Gajah Mada, sudah di bongkar, sepertinya masih ditutup pagar seng. Kemudian, kios Koran di bunderan UGM sudah dijadikan pos Polisi. Kantor harian Bernas di jalan Jenderal Sudirman, sekarang sudah dijadikan tempat kursus bahasa Inggris. Dan bioskop Ratih, yang memutar film-film Mandarin di Jalan Mangkubumi, sekarang sudah menjadi dealer motor.

Nasib bangunan hotel Ambarukma sekarang sangat memprihatinkan, bangunan megah dan bagus itu tampak kumuh dan kotor, padahal sekitar bangunan hotel adalah pusat kota yang strategis, dan pusat bisnisnya di Jogja.

Dari Ambaruka ke arah utara, dan menemukan perempatan jalan, sebelum airport dan kantor imigrasi Jogja, belok ke kiri, masuk ringroad utara, disebelah kanan terdapat kantor POLDA. Dulunya kantor ini di sebut Markas Polisi Wilayah (mapolwil) DIY, yang sekarang menjadi mall Malioboro.

Gambar-gambar dan sebagian keterangan diambil dari http://www.sahabatjogja.com/jogja-jaman-dahulu/

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

88 Comments to "Jogjakarta Yang Klasik dan Eksotik (Part 3 – selesai)"

  1. Daftar Hotel di Indonesia  15 February, 2011 at 20:41

    wahh ga terbayangkan yah bangunan2 bersejarah/kuno itu di jaman sekarang..pasti udah jauh berbeda
    semoga bangunan2 bersejarah masih bisa dipertahankan keasliannya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *