Abad Bapak Saya

Handoko Widagdo – Solo


Geert Mak: Menulis sejarah berdasarkan kisah keluarga


Judul: Abad Bapak Saya

Judul Asli (dalam Bahasa Belanda): De eeuw van minj vader

Penulis: Geert Mak

Penerbit: Suara Harapan Bangsa

Tahun terbit: 2009 (dilaunching Bulan Januari 2010)

Halaman: vii + 752

Menulis sejarah bangsa berdasarkan kisah keluarga? Apa bisa? Bukankan biasanya sejarah bangsa ditulis berdasarkan arsip-arsip penting, monumen-monumen, atau kisah-kisah  para tokoh? Apakah kisah keluarga, yang bukan pelaku utama sejarah, layak dipakai sebagai acuan dalam menulis sejarah bangsa? Geert Mak melakukannya. Mak menyampaikan bahwa: ”saya menulis sebagai orang biasa, bukan sebagai presiden atau sebagai raja”.

Perjumpaanku dengan Gert Mak tidaklah disengaja. Kejadiannya adalah pada sore hari, tanggal 14 Januari 2010. Ada undangan pertemuan dari teman, yang telah lama tidak bertemu, di kantin Erasmus Huis. Saat menunggu itulah saya lihat ada acara launching buku “Abad Bapak Saya”, tulisan Geert Mak. Mulanya saya tidak memperhatikan. Kebetulan yang kedua adalah ternyata kantin sudah tutup. Sehingga saya dan teman saya harus cari tempat untuk mengobrol. Ternyata ada tempat di lantai dua.

Kami tidak tahu bahwa tempat tersebut adalah tempat snack untuk menunggu launching bukunya Mak. Kebetulan yang ketiga adalah diskusi saya selesai tepat saat launching dimulai. Jadilah aku membeli bukunya, mengikuti pembahasan buku ini oleh Pak Lapian, Pak Taufiq Abdullah, yang dimoderatori oleh Pak Toenggoel Siagian, sekaligus sebagai editor dan angota tim penerjemah. Dua anggota penterjemah yang lainnya adalah Pericles Katoppo dan Theresia Slamet.

Buku yang aslinya berjudul De Eeuw  van Mijn Vader (terbit 1999) bercerita tentang Negeri Belanda pada periode bapaknya. Diawali dengan kehidupan kakek neneknya sebagai latar belakang kelahiran bapaknya (Catrinus Mak; lahir tahun 1900), dan diakhiri dengan kematian Bapaknya (1983) dan Ibunya (1987). Buku ini juga membahas panjang lebar kehidupan di Hinda Belanda pada era tersebut, hubungan Hindia Belanda dengan Negeri Belanda, serta jaman Jepang di Hindia Belanda.

Penulis yang lahir pada tahun 1946 ini menggunakan bahan-bahan dari keluarganya untuk menyusun alur sejarah. Koleksi kartu pos ibunya, koleksi surat-menyurat keluarganya saat berada di Hindia Belanda dengan kakek dari jalur ibunya, cerita-cerita dari Ann, kakaknya dan cerita panjang dari Maart tantenya. Mak juga menggunakan data-data yang diambil dari terbitan surat khabar pada hari-hari penting yang terjadi di keluarganya.

Buku ini sangat menarik karena menggambarkan bagaimana pengaruh kejadian di tingkat Eropa mmpengaruhi Negeri Belanda, bagaimana kejadian di Negeri Belanda mempengaruhi Hindia Belanda, dan bagaimana kondisi sosial saat itu berpengaruh langsung kepada cara hidup dan cara berpikir keluarga-keluarga. Dalam hal ini diwakili oleh keluarga Mak sendiri. Sebagai keluarga pendeta, tentu saja buku ini juga membahas sangat mendalam perkembangan Gereja Gereformed yang banyak dianut oleh aliran Protestan di Indonesia.

Saya tak hendak mengkaji sisi ilmiah dari buku ini, sebab saya bukanlah orang yang berkompeten dalam bidang sejarah. Saya tertarik dengan cara Mak bercerita. Cara Mak menggambarkan keadaan Eropa dan Belanda abad 20, cara Mak menggambarkan detail perkembangan teknologi dan pengaruh, pandangan-pandangan, perang dan hubungan Belanda dengan Hindia belanda. Mak menggambarkan semuanya itu dengan detail kehidupan keluarganya.

Penggambaran keadaan Eropa dan Belanda dengan detail kehidupan keluarga

Penggambaran keluarga pengusaha pembuat layar di Belanda (yang adalah keluarga kakek Mak) dengan detail-detailnya membuat kita membayangkan bagaimana Eropa dan Belanda pada masa tahun 1900. Mak menunjukkan kepiawaiannya mengekspoitasi semua indera untuk mengajak pembaca menikmati masa dimana bapaknya dilahirkan. Bau, bunyi, rasa dan semua indera diajak untuk kembali ke masa tersebut.


Perkembangan teknologi

Mak juga secara detail mencatat perubahan teknologi dan implikasinya bagi keluarganya. Misalnya dengan digunakannya kapal cepat, maka surat yang biasanya datang dua bulan sekali menjadi dua minggu sekali. Ketika tilpon ditemukan dan mulai dipakai, surat-menyurat jadi surut. Mak juga menyinggung tentang dipakainya kapal terbang sebagai sarana transportasi yang berakibat pada meningkatnya kunjungan orang Belanda yang punya saudara di Hindia Belanda dan sebaliknya. Mak secara jitu mencatat reaksi gereja ketika bioskop mulai diperkenalkan.


Pandangan-pandangan

Mak menjelaskan berbagai pandangan politik tidak dengan definisi-definisi, melainkan dengan penggambaran bagaimana pandangan politik tersebut dipakai oleh orang awam, seperti ibunya. Orientalisme dijelaskan dengan hubungan ibunya dengan pembantu. Meski ibunya adalah seorang Kristen yang taat, namun pandangan orientalisme membuat ibunya melakukan pembedaan status dengan pembantu. Disini terjadi pertentangan antara iman kristen dengan orientalisme. Demikianlah Mak menjelaskan perubahan-perubahan pandangan politik orang Belanda dengan cara mengisahkannya melalui pengalaman di keluarganya, termasuk perubahan pandangan generasi setelah perang yang digambarkan oleh Mak dengan pernikahan Mak yang tanpa gaun.


Hubungan orang Belanda dengan pribumi

Salah satu bagian yang paling menarik bagi saya dari buku ini adalah tentang hubungan orang Belanda dengan pribumi di Hindia Belanda. Kebanyakan informasi yang dimuat dalam buku ini memang tentang Hindia Belanda (Indonesia) dimana sebagian besar keluarga Mak menjalani hidup. Ia menggambarkan pergerakan mahasiswa di Belanda yang semakin kuat dan bisa mengatasi persoalan suku dan agama. Para mahasiswa ini menerbitkan majalah “Indonesia Merdeka” dimana anggota terpentinya adalah Mohammad Hatta. Sementara di Hindia Belanda tokoh Soekarno mulai berkibar.

Mak menggambarkan situasi perubahan-perubahan politik di Hindia Belanda dengan kejadian-kejadian di keluarganya. Bapaknya yang harus jadi tawanan Jepang dan dibuang ke Birma, keluarganya yang kehilangan rumah dinas dan gaji sebagai pendeta. Semua cerita itu disusun dengan sangat detail sehingga kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana implikasi perubahan situasi politik bagi keluarga-keluarga biasa yang kebetulan berbeda etnis/bangsa atau agama.

Selanjutnya, selamat membaca.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *