[Lomba Menulis] Cinta Negeri dari Sekolah

Probo Harjanti – Sleman


SUATU hari ada seorang kepala sekolah yang makan di warung menantang pengamen yang sedang ngamen untuk menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Kalau bisa menyanyikan/ hafal lagu tersebut akan diberi 10 ribu rupiah. Akhirnya uang tak jadi berpindah tangan ke pengamen, tentu alasannya bisa ditebak, si pengamen tidak hafal lagu tersebut. Bahkan ada yang lebih menggelikan, ketika ada unjukrasa yang dilakukan mahasiswa maunya menyanyikan lagu Bagimu Negeri ternyata juga tidak hafal. Sangat menyedihkan!

Belakangan ini, kian banyak anak-anak sekolah yang tidak lagi mengenal lagu-lagu wajib nasional. Hal ini amat terasa, saat upacara bendera tiap hari Senin. Saat diminta menyanyikan lagu wajib sebelum upacara berakhir, banyak siswa tidak hafal syairnya. Yang hafal syairnya, nada lagunya terdengar aneh. Ini amat memprihatinkan, ketika banyak siswa tak lagi mengenal lagu-lagu nasional (dan lagu ‘sekolahan’ lainnya).

Bukan salah mereka kalau mereka tidak bisa, atau tidak hafal. Yang salah adalah kita, orang-orang dewasa di sekitar anak-anak tersebut, artinya: keluarga, masyarakat, dan sekolah. Belakangan ini di jenjang pendidikan dasar penggal pertama (SD), jarang sekali terdengar lagu-lagu wajib nasional. Kalau lagu nasional saja makin jarang terdengar gaungnya, apalagi lagu-lagu daerah. Sekarang ini jarang lagi diadakan lomba paduan suara lagu-lagu perjuangan, lagu wajib, atau lagu sekolahan lainnya, lomba folk song pun hampir tak ada. Jadi tidak perlu heran kalau ada siswa bahkan mahasiswa tidak hafal lagu Bagimu Negeri.

Masyarakat sendiri nampaknya menganggap bisaa hal di atas, mereka lebih menganggap anak ‘pinter’ ketika si anak menyanyikan lagu pop, dangdut, atau campursari yang notabene syairnya untuk orang dewasa. Saat bocah-bocah belia itu menyanyikan lagu sambil ‘megal-megol’ orangtuanya bangga. Di lain sisi masihkah ada orangtua yang bangga anaknya bisa menyanyikan lagu Garuda Panca Sila, Indonesia Raya. Masih adakah yang bangga anaknya menyanyikan lagu Serumpun Padi, Lenggang Padi dan lagu sekolahan lainnya?

Mestinya hal ini harus disikapi dengan sungguh-sungguh, mengembalikan lagu-lagu tersebut ke sekolah. Berbagai pihak yang peduli sebaiknya segera mengambil tindakan, mengembalikan anak-anak ke pangkuan pertiwi. Perdengarkan lagi lagu-lagu tersebut, melalui radio dan televisi, semua harus merelay lagu tersebut secara bersamaan (pada jam yang sama), dan diputar pada jam prime time.

Sekolah-sekolah harus kembali mengakrabi lagu nasional dan lagu daerah. Lagu-lagu tersebut akan kembali mendekatkan mereka ke tanah airnya, tumpah darahnya, ke sejarah negerinya. Sebelum mengajarkan lagu tersebut, ceritakan isi lagu atau latar belakang lahirnya lagu itu. Dengan sering menyanyikan lagu-lagu ‘sekolahan’ dan lagu wajib, mereka akan kembali akrab dengan negerinya tempat berpijak. Agar tidak terjadi salah nada, tentunya guru-guru SD perlu pembekalan secara bertahap.

Setelah akrab lagi dengan lagu-lagu tersebut, adakan pula lomba kecil-kecilan dengan hadiah kecil bagi yang menyanyikan lagu dengan benar. Itu, bisa dilakuan di sekolah atau pun di tingkat RT. Diharapkan rasa cinta negeri dan patriotisme akan tumbuh memenuhi relung hati mereka, atau kembali memenuhi sanubari mereka yang mulai menipis rasa cinta negerinya. Artinya, lomba Agustusan untuk anak-anak yang selama ini hanya berkisar dari makan kerupuk, bawa kelereng dalam sendok, kipas balon, memasukkan pensil dalam botol, panjat pinang dan karaokean harus mulai disisipi dengan lagu-lagu perjuangan, atau lagu wajib. Nanti di masa mendatang ditambah dengan lagu-lagu daerah. Nah, siapa yang akan memulai?

 

Penulis guru SMPN 3 Gamping, Sleman

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Ibu Guru Probo. Kami senang mendapati Anda mau bergabung dan berbagi bersama kami. Make yourself at home. Dan semoga sharing ini tidak hanya sekali ini saja. Baltyra.com dengan senang hati menerima artikel-artikel semacam ini sehingga makin memupuk kecintaan kita terhadap negeri. Dan mas Sumonggo tentunya senang juga, ada satu lagi dari Sleman…hehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.