[Lomba Menulis] Namaku Sumedi

Elnino


Namaku Sumedi. Ya, nama yang singkat dan sederhana. Sesederhana jalan hidupku yang akan kuceritakan ini. Aku lahir tahun 1941 di Banjarnegara, Jawa Tengah. Istriku bernama Sawiti asli Kuningan, Jawa Barat. Dari pernikahanku aku dikaruniai 5 orang anak, dan 4 cucu dari 2 anakku yang sudah menikah.

Dulu, setelah menamatkan Sekolah Rakyat dan Sekolah Teknik di Purwokerto, aku merantau ke Jakarta pada tahun 1960. Pekerjaan pertamaku di dok Pelabuhan Tanjung Priok bagian gudang. Aku mendapatkan penghasilan yang lumayan dari pekerjaanku ini. Selain gaji sebesar Rp 2.500,-/bulan aku juga mendapat uang transport, jatah beras dan gula untuk keperluan sehari-hari.. Kurasakan inilah periode kehidupanku yang cukup menggembirakan.

Selain kerja tetap di dok, aku juga menyambi sebagai tukang ojek sepeda di sore hari selepas kerja. Pekerjaan sambilan ini memberikan uang tambahan yang cukup lumayan untuk tabunganku karena saat itu belum banyak angkutan di wilayah Priok..

Tahun 1969, aku berhenti dari pekerjaan di dok dan mendapat pesangon yang cukup lumayan. Kemudian seseorang menawariku menjadi penjaga malam di rumah orang asing di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Selama menjadi penjaga malam ini, siang harinya aku bekerja sebagai tukang bangunan. Genap 7 tahun aku bekerja, majikanku kembali ke negaranya. Kemudian aku beralih menjadi penjaga malam di rumah orang asing di Hang Lekir, Kebayoran Baru. Baru setahun bekerja, majikanku ini juga harus pulang ke negaranya.

Setelah tidak lagi menjadi penjaga malam, aku menjalani pekerjaan sebagai tukang ojek di kawasan jalan Sudirman, tepatnya di Dukuh Atas, mulai tahun 1978. Waktu itu, teman seprofesiku ada sekitar 20 orang. Daerah Sudirman waktu ini masih sepi. Gedung-gedung bertingkat masih dapat dihitung dengan jari. Semakin hari, seiring pembangunan yang terus dilakukan, Sudirman mulai ramai. Demikian pula dengan segala macam angkutan yang berlalu lalang di jalan utama ibukota ini. Selain mobil dan motor pribadi, jalanan kini disesaki oleh Metromini, Kopaja, Mayasari Bakti, Bianglala sampai ke bus Transjakarta. Mau tidak mau aku harus berbagi rejeki dengan mereka semua.

Setiap hari aku mangkal di halte Dukuh Atas mulai jam 5 pagi sampai sekitar jam 1 siang. Saat ini aku hanya sanggup mengumpulkan 20-30 ribu rupiah per harinya. Semakin sedikit orang yang memerlukan jasa ojekku. Namun aku tak pernah mengeluh. Semua rejeki yang kuterima, rupiah demi rupiah, selalu kusyukuri dengan hati gembira. Inilah yang mampu kukerjakan untuk memberi nafkah keluarga. Setidaknya aku tidak sampai meminta-minta seperti yang dilakukan oleh banyak orang, bahkan yang jauh lebih muda dan lebih kuat dariku. Sudah menjadi prinsipku untuk tidak menadahkan tangan pada orang lain.

Demi menghemat ongkos hidup, aku memilih tinggal di kolong jembatan layang Karet, Pejompongan bersama-sama dengan kumpulan para pemulung. Hanya beratap beton jalan layang, tanpa selembar dinding yang akan melindungiku dari hujan maupun tiupan dingin angin malam. Sedangkan barang-barang milikku, pakaian dan sedikit barang lain, aku titipkan di sebuah warung di dekat situ. Ini terpaksa kulakukan karena aku tak mampu membayar kontrakan yang sewanya 250 ribu rupiah setiap bulan. Sayang uangnya. Jumlah sebesar itu bisa kubawa ke desa untuk untuk keperluan hidup sehari-hari istri dan anak-anakku. Demi mereka pula aku rela makan seadanya setiap harinya. Mandi-cuci-kakus pun kulakukan di sumur umum.

Setelah terkumpul sedikit rupiah, biasanya setiap sebulan sekali aku selalu menyempatkan diri untuk menengok keluargaku di Kuningan. Untuk alasan penghematan, lagi-lagi aku harus memilih angkutan yang biayanya paling murah. Kereta api ekonomi ”Tegal Arum” jurusan Jakarta-Purwokerto yang berangkat dari stasiun Kota. Karena umurku sudah 60 tahun lebih, aku mendapat potongan harga dan cukup membayar karcis sebesar 10.500 rupiah saja.

Itulah rutinitas yang kujalani selama berpuluh tahun terakhir ini. Hidup bersusah payah, berjauhan dari keluarga demi mencari nafkah dan menyekolahkan anak-anakku. Kelima anakku semuanya lulusan setingkat Sekolah Menengah Atas. Dua anak pertama, keduanya perempuan, lulusan SMEA. Dua adik di bawah mereka lulusan STM dan saat ini menjadi pegawai cleaning service di daerah perkantoran di Kuningan, Jakarta. Sedang yang bungsu, putus sekolah dari SMK.

Pernah anakku berniat mendaftar menjadi polisi. Tapi apa lacur? Aku diminta seorang oknum untuk membayar 15 juta. Dari mana aku mendapat uang sebesar itu? Akhirnya, anakku harus berpuas diri dengan menjadi pegawai kebersihan saja. Setidaknya bebanku menjadi sedikit berkurang. Terlebih lagi, harga barang-barang kebutuhan hidup semakin hari semakin mahal. Rakyat kecil sepertiku ini harus pandai-pandai mengencangkan ikat pinggang untuk bertahan hidup. Aku juga merasa prihatin dengan kebijakan pemerintah mengganti minyak tanah dengan gas yang akhirnya menimbulkan banyak bencana akibat tabung gas yang meledak. Mana kepedulian pemerintah kepada kami? Mengapa hidup rakyat kecil menjadi semakin susah saja? Katanya kita sudah merdeka selama 65 tahun…..

Ah…..kalau ditanyakan apa arti kemerdekaan untukku, jawabanku sederhana saja: anak-anakku mudah mencari pekerjaan yang layak dan harga bahan-bahan kebutuhan hidup yang terjangkau untuk rakyat kecil sepertiku.

Namaku Sumedi. Aku ingin merdeka.


Cibubur, 11 Agustus 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.