[Lomba Menulis] Swarga Nunut Neraka Katut

Alexa – Jakarta


Di dereten belakang ruang tunggu laboratorium RSPP itu saya duduk menunggu giliran check up darah – sekedar gambaran ruang tunggu itu menghadap ke loket laboratorium dalam enam baris…dan di deret muka semua bangku terisi penuh. Dengan sabar saya menunggu giliran sembari membaca majalah Tempo  edisi 28 Juni – 04 Juli yang mewartakan Rekening Gendut Para Polisi. Akhirnya nama saya disebut dan sebelum masuk ke tempat pemeriksaan, majalah Tempo itu saya masukan ke dalam tas.

Seorang petugas medis wanita muda berjilbab yang cantik, kutilang (kurus tinggi langsing) menyapa dengan ramah. Siku saya diletakkan di bantalan empuk yang ada dan sekitar lengan dibebat dengan karet. Dengan ramah mbak jilbab menyapa” Tadi saya lihat sedang baca majalah Tempo yang dah hilang dari peredaran itu, belinya mahal ya.” Ah enggak kok, beli harga normal, saya menyahut….sembari takjub juga ternyata dia ngintip sampai ke deret belakang.


Akhirnya kami jadi sibuk membicarakan isi majalah itu dan membahas bagaimana mungkin seorang polisi bisa memiliki rekening hingga milyaran padahal gaji polisi sudah dibandrol pada angka jutaan dan tak lebih dari duapuluh juta /bulan…itupun jika polisi bersangkutan sudah memiliki posisi tinggi. Si mbak jilbab kelihatan termasuk well informed juga jadi pembicaraan kami berlangsung lama apalagi aku termasuk giliran akhir jadi sudah tak ada lagi yang menunggu. Pembicaraan makin mengerucut jadi ke masalah keluarga polisi…ternyata kami memiliki orangtua yang berpandangan sama – sejak awal sudah diwanti-wanti enggak boleh pacaran apalagi menikah dengan polisi. Mohon maaf jika ada pembaca yang berpredikat polisi…bagaimana lagi dalam kekuatan besar pada jabatan polisi tersimpan juga godaan yang tak kalah besar.

Kami sepemikiran juga mengenai tanggung jawab seorang isteri yakni memastikan bahwa nafkah yang diberikan oleh suami seharusnya berasal dari jalan yang halal. Seharusnya isteri seorang koruptor sebelum sang suami kebablasan, bisa mengingatkan suami  – bukannya malah mendorong suami supaya berkorupsi. Saya yakin jika sejak awal seorang isteri mengerti lika-liku pekerjaan suaminya maka seharusnya dia juga tahu berapa penghasilan suami, sehingga jika penghasilan tiba-tiba melonjak dia perlu tanya darimana penghasilan suami. Sungguh mengherankan juga isteri Gayus si tersangka kasus makelar kasus pajak bisa diam saja saat terima uang belanja dari suaminya Rp.3 Milyar/ bulan padahal tahu suaminya bekerja di Instansi Pemerintah, sementara dia sendiri juga bekerja di instansi negara.

Bahkan Global Corruption Watch pada tahun 2009 menengarai institusi-institusi di Indonesia yang kental dengan korupsi.

Sejak KPK berdiri tahun 2004 hingga Juni 2007 menyelesaikan 59 kasus korupsi (hanya 2%) dari 6.213 kasus. Ribuan kasus ini hanya 31% dari 19,901 kasus yang dilaporkan masyarakat. KPK pun mengakui bahwa meski semua dijatuhi hukuman tapi masih banyak permainan seperti pemotongan hukuman dan keringanan hukuman.

Ouh-ouh kenapa saya jadi begitu idealis…come on wake up  Alexa…prinsip elo yang cuman bilang kalo tetangga makan sate, kita juga bisa makan sate tuh kuno beeng. Sekarang modelnya adalah kalo tetangga beli Alphard, kita kudu bisa beli Alphard…masa seh naik angkot mulu. En beli Alphard tuh perlu modal tauk….kalo bisa pake jalan pintas kenapa pake jalan yang panjang dan berliku. Begitulah mungkin  bisikan-bisikan kotor itu membahana….sehingga tidak penting seorang isteri  PNS atau Polisi bertanya kepada suaminya,”Bang duitnya darimana beli nih Alphard.” Mungkin pertanyaan yang diajukan bahkan bunyinya,”Bang kapan kita punya Alphard seperti tetangga di mare-mare.”

Makanya enggak heran Uni Linda Jalil  Kompasianer yang mantan wartawan Tempo pernah mewartakan, para menteri yang tak terpilih dalam kabinet baru bisa nangis bombay (asli menangis bin mewek terisak-isak) dan curcol ke Linda….mereka begitu gemetar menghadapi amuk sang isteri,”Papah sih gak kepilih lagi jadi Menteri…mami sekarang kudu ngantri nih mau salaman ama penganten,” “Papah gimana nih sekarang tagihan-tagihan rekening muncul…dulu kan kita tau beres aja”…dasar lelaki enggak becuus!!!

Phuiih…berat…berat beeng kalau dibombardir ucapan-ucapan gini makanya teman saya sangat bersyukur saat isterinya (yang juga teman saya) menolak uang pemberiannya manakala dia menjelaskan kalau uang itu tanda terimakasih dari supplier-supplier. Si isteri menegaskan kalau dia dan anak mereka cuman mau makan dari hasil keringat suaminya dan bukan dari “tanda terimakasih” atawa “uang kadeudeh”….makanya teman saya itu sampai sekarang termehek-mehek sama isterinya yang bergaya preman tapi berhati pertapa…makanya teman saya itu he-eh aja saben isterinya kudu pindah tugas dari Singaraja, Denpasar, Jember trus ke Ambon… Yup teman saya itu engineer yang bekerja di lepas pantai (dengan jadwal 2 minggu di laut, 2 minggu di darat) sementara isterinya bekerja sebagai Branch Manager suatu Bank.

Saya sangat prihatin kenapa  hedonisme sudah begitu merasuki hidup masyarakat kita sehingga akhirnya nurani telah tertutup kabut hingga tak bisa membedakan lagi mana yang hitam dan mana yang putih, semuanya bersedia bermain dalam grey area karena keinginan memiliki benda-benda yang bertebaran di sekitar kita. Seandainya para isteri pejabat  dan pemangku kekuasaan bisa bersikap seperti teman saya maka saya yakin korupsi bisa diminimalisir.

Tidakkah mereka memiliki nurani dan kesadaran bahwa korupsi itu sama dengan mengurangi kesempatan bagi rakyat jelata untuk hidup lebih sejahtera karena dana pembangunan didiskon habis-habisan layaknya night sale di Debenhams – sehingga pengguliran roda perekonomian jelas makin lambat.

Termasuk mungkin saya biarpun saya tak berkorupsi tapi saya menampung hasil korupsi…ya dana-dana  kelolaan saya ternyata didapat nasabah-nasabah saya dengan berkorupsi. Banyak nasabah saya perempuan dan ternyata hartanya bukan dari hasil kerja yang halal dan mereka sadar hal itu. Awalnya saya menghubungi seorang Ibu yang baru saja menjual rumahnya di Kemang…tau sendiri dong harga rumah di sana. Si Ibu setuju untuk taruh uang di perusahaan saya, waktu berjalan terus dan persahabatan terjalin hingga akhirnya si Ibu cerita kalau suaminya bekerja di Bea dan Cukai, dia menangkap sorot mata saya yang terkejut dan dengan ringan beliau bilang,”Yah Lex, kamu tau ndiri gaji Bapak berapa sih…padahal Bapak juga pejuang. Gak ada salahnya kan kita mempersiapkan hari tua yang sejahtera.”

Lain nasabah lain cerita…si Ibu itu bilang ke saya ingin naik Haji tapi belum punya uang, saya tentu heran karena dana dia pada perusahaan kami cukup besar. Pas saya bilang supaya ambil aja dari dananya itu, si Ibu menjelaskan,”Lex, itu uang haram. Itu uang yang saya dapat dari asuransi TKW…kamu tau enggak TKW tuh diasuransikan jiwanya sesuai peraturan tapi coba kalau ada yang meninggal, apa pernah mereka dapatkan asuransi? Lah itulah kerjaan saya. Saya gak berani beribadah pakai uang itu.”

Maka saya terkejut dan mencari pembenaran…paling tidak pada kesempatan pertama saya gak tahu kalau duit-duit itu berasal dari tempat yang haram. Tapi tidak berhenti disitu -saya juga tetap tergiur saat seorang teman menyodorkan nomor telpon seorang yang diduga koruptor tapi hingga sekarang belum tercokok.  Saya tau hasil korupsiannya jauh lebih besar dari “kerja keras” Gayus dan kalkulator di otak saya langsung menghitung…dapat account orang ini maka komisi saya tidak saja bisa untuk membeli apartemen rusunami – penthouse DaVinci yang ada di Jln Sudirman saja pasti kebeli…. Saya sudah menelpon orang itu dan dapet appointment dan dengan bangga saya bilang ke El – seorang sahabat. Dia langsung menegur,”Kamu mau makan dan kasih makan si bocah dari uang haram itu. Trus dari situ kamu juga mau keluarin zakat buat sekolah gratis kelolaanmu dan santunan buat nenek jompo itu? Get real and look in your heart, Alexa.” Arrghhh….

Begitulah di antara kebutuhan-kebutuhan yang tak ada habisnya bak sumur tanpa dasar, sebenarnya ada nurani yang bicara – ada teman yang mengingatkan ….sayang kita kadang tak mau dengar karena sudah silau dengan semua kebendaan itu.

———————————

Senin itu seperti biasa kami ada Monday Meeting di kantor – semua berdiri mengeliling ruangan seluas seperempat gedung perkantoran Plangi. Gubraak, tiba-tiba salah seorang rekan kami bernama Dessy terjatuh dan saat  dia bangkit lagi – parasnya yang lembut sudah berubah kaku dan mengeras. Perlahan namun pasti tanpa canggung dia berjalan menyebrangi ruangan menghampiri Satrya, seorang pimpinan kantor yang baru saja menjadi duda karena isterinya meninggal.

“Pah, mama enggak keberatan Papah nikah lagi tapi jangan dengan Susi (pacar Satrya) dan kalau mau nikah lagi minta izin ama Talita ya (anak sulung mereka),” Dessy bicara dalam suara yang lain dari biasa.

“Pah, tolong sedekah kaum dhuafa ditingkatkan ya. Kubur Mamah sempit sekali Pah,” lanjut Dessy yang kemudian jatuh pingsan. Belakangan kami sadar bahwa Dessy sudah kerasukan arwah isteri Satrya.

Ini peristiwa yang absurd, keyakinan selama ini bahwa segala macam penampakan itu terjadi pada malam hari terbantahkan. Dan yang bikin heran ternyata hubungan suami-isteri berlanjut terus bahkan setelah ajal datang. Kutanyakan pada pakar-pakar agama, mereka juga tergugu mendengar ceritaku.

Satrya bukan koruptor tapi isterinyapun di liang lahat tersiksa karena kurangnya sedekah sang suami, entah apa yang terjadi pada pasangan koruptor.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *