Agama yang Hiruk Pikuk

Junanto Herdiawan


Jarak antara manusia dan Tuhan penuh dengan tanya. Kadang dekat, tapi kadang kelam. Hari-hari ini, kita melihat agama terkungkung dalam struktur. Media massa diwarnai oleh berita saling curiga dan benci antar umat beragama.

Di Amerika Serikat, demonstrasi dilakukan di banyak tempat menentang pendirian masjid di ground zero, bekas menara WTC. Masyarakat Amerika terbelah, antara yang mendukung dan mencurigai masjid sebagai sarang teroris. Di Indonesia, kebencian juga meruyak. Ada massa yang menyerang gereja dan mencurigai kegiatan agama lain. Ada juga berita mengenai aksi FPI yang melakukan sweeping dan menebar ketakutan.

Agama, yang dulu dimulai dalam hening dan takzim, kini telah berubah menjadi hiruk pikuk, dan kadang penuh benci. Rasa takzim dan sunyi telah diambil alih oleh horror dan curiga. Seorang kawan warga Jepang bertanya, mengapa agama ada kalau hanya menebarkan saling benci dan saling curiga. Bukankah agama ada untuk menebar kasih sayang dan kehidupan yang lebih baik? Agama-agama langit memang cenderung “angkuh”, hingga kadang lupa pada esensi keberadaannya.

Mungkin contoh yang diambilnya salah. Mungkin pemahamannya hanya sepotong. Tapi agama, yang dimulai dari rasa gemetar akan sesuatu yang besar, harusnya bisa memberi jawaban. Agama mengajarkan kita untuk menemukan diri. Mengajarkan kita untuk siap menerima orang lain sebagai subyek yang otonom. Muhammad, Isa, Musa, memiliki misi yang sama untuk membawa umat manusia pada dirinya sendiri, menemukan makna pada dirinya dan menebar kasih bagi yang lain.

Aksi demo menentang masjid di New York, aksi sweeping FPI di bulan Ramadhan, menjadi gambaran agama yang telah diambil alih oleh struktur dan hiruk pikuk. Sebuah sikap “prejudice” yang menjadikan agama sebagai imperium dan merasa paling benar.

Hari ini, Ramadhan datang untuk mengingatkan kita tentang perlunya kembali pada yang hening dan takzim. Malam-malam Ramadhan adalah pengingat bahwa agama adalah juga keheningnan. Pesan perennial dari Sura Al Takwir [81]: 26, adalah Fa aina tadzhabun. “Lalu, akan ke mana kamu pergi?” Sebuah pertanyaan yang hanya bisa direnungkan dalam hening, bukan dalam hiruk pikuk gejala.

Tepat apa yang dikatakan Paus Benediktus XVI, bahwa tanpa pengetahuan hendak ke mana kita akan pergi, manusia hanya akan menjadi atom yang hilang dalam semesta yang random. Tepat juga pahatan Shinto tentang 3 monyet di Kuil Toshogu, Nikko, yang saya abadikan pekan lalu. Pesan bijak yang mengingatkan kita tentang pentingnya hening, menutup mata, telinga, dan mulut (hear no evil, see no evil, say no evil).


Tanpa hening, agama hanya melahirkan kecurigaan dan kebencian. Aksi demo, curiga, sweeping, dan kekerasan, atas nama Tuhan.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Selamat berhening ria. Mohon maaf lahir bathin. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.