Tuesday, 24 August 2010
Muhammad Faris
Jika kita berbicara tentang Indonesia, salah satu yang terlintas di benak kita pasti adalah “surga bagi mereka yang berwajah indo atau bule untuk mencoba yang peruntungan di dunia hiburan”. Rasanya istilah tersebut tidak berlebihan mengingat beberapa tahun belakangan banyak sekali wajah-wajah indo bertebaran menghiasi berbagai media hiburan di Negeri ini, khususnya dalam bidang akting, presenting, dan iklan.
Banyak sekali film, sinetron, maupun iklan produksi tanah air yang rata-rata menghadirkan pemain yang berwajah indo, malah ada juga beberapa stasiun televisi yang menghadirkan wajah “bule asli” sebagai bintangnya karena mereka dianggap lebih “menjual”.
Hal ini menunjukkan bahwa sepertinya saat ini dunia hiburan tidak lengkap rasanya jika para pelakonnya tidak ada yang berwajah indo, tapi rata-rata mereka hanya mengandalkan penampilan semata, tanpa ditunjang dengan kualitas yang mumpuni, salah satu saja contohnya, bagaimana mungkin seseorang dengan logat Bahasa Indonesia yang belum fasih saja dapat dengan mudah mendapatkan peran dalam sebuah film atau sinetron? Sedangkan warga pribuminya saja yang tentunya sudah lancar berbahasa Indonesia terkadang harus menerima penolakan berulang kali dalam mengikuti sebuah casting hanya demi mendapat sebuah peran hanya karena mereka tidak memiliki wajah dan fisik layaknya “bule”.
Sungguh kenyataan yang sangat ironis sekali bukan? Padahal dulu wajah-wajah pribumilah yang mendominasi dunia hiburan tanah air ini, tetapi seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh westernisasi ke Indonesia membuat semua hal ini terjadi. Terkadang saya merasa salut pada Negara-negara seperti Jepang, Cina, India, dan Korea yang begitu bangga akan wajah aslinya. Jarang kan kita lihat serial televisi maupun film dari Negara tersebut yang berwajah selain wajah pribumi? Kalaupun ada paling hanya sedikit sekali. Itu bukti bahwa mereka sangat menghargai budaya bangsa sendiri, sangat kontras dengan Negara kita yang cenderung mendewakan orang-orang selain warga pribumi sebagai warga “kelas satu”.
Mulai sekarang, sudah saatnya kita lebih menghargai bakat yang dimiliki oleh bangsa pribumi kita, berikanlah kesempatan pada wajah-wajah “asli Indonesia” yang memiliki kualitas yang baik untuk menggapai impian mereka. Bukan berarti saya anti terhadap “bule-bule” tersebut, pada kenyataanya banyak juga sebenarnya dari mereka yang berbakat dan berkualitas baik. Jangan sampai tercipta opini bahwa Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang kurang menghargai budayanya sendiri gara-gara hal tersebut. Mari kita tunjukkan identitas kita sebagai bangsa yang menghargai budayanya sendiri!
Ilustrasi: gadis.co.id
Note Redaksi:
Selamat datang dan selamat bergabung Muhammad Faris, semoga kerasan ya…make yourself at home dan semoga ada sharing yang lain lagi.
Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »
Pages: [12] 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 … 1 »
February 8th, 2011 at 19:10
Di pantai-pantai Jawa, bangsa-bangsa berdesak-desak.
Mereka berganti-ganti seperti awan-awan di langit.
Terus menerus mereka berdatangan dari seberang lautan
Hanya orang Indonesia yang tidak pernah menjadi tuan di rumah mereka sendiri~
October 24th, 2010 at 17:18
Sorry para pembaca baltyra , saya baru sekarang membaca posting diatas dan saya , meskipun terlambat sekali, toch ingin memberi sedikit komentar tentang hal ini. Saya sejak lama sudah memperhatikan gejala ini, kemudian jadi aktuel lagi bagi saya waktu Miss Indonesia thn 2007( 8 ) dikirim unuk mewakili indonesia entah kemana, lupa saya. Nah disini yang dikirim juga cewek blesteran (yang notabene bhs.inggrisnya kacau!) dimana saya sering bertanya apakah indonesia terkena komplex minder , koq selalu yang tampangnya “bule” atau “Indobelanda” lebih disenangi.Kan indonesia punya reservoir wanita indonesia (100% asia, bukan campuran!) besar sekali Saya tinggal dijerman hampir 50 tahun dan secara jujur saya berpendapat bahwa wanita asia asli, apa dari China, Thailand dsb.kèk, juga dari indonesia dengan berbagai suku tidak kalah cantik atau cakap dan kecantikannya last longer ketimbang kecantikan cewek bule yang cepet keliatan tua. Apakah gejala ini masih pembawaan zaman kolonial Belanda dimana secara tidak sadar merasa superior atau se-tidak²nya international kalo ada actris atau aktor yang tampangnya mirip “barat”? Juga dalam bidang technologie ada suatu tawaran kerja ditahun 70an dimana suatu perusahaan diIndonesia mencari seorang insinyur dari Eropa dengan syarat harus orang barat, lha mengapa harus orang barat, wong ada banyak orang indonesia yang lulus dari universitas Eropa , yang tidak kalah keahliannya , koq cari persè orang bule. Saya kadang² berkesan orang indonesia (bukan semua lho, jangan salah kaprah!) disatu pihak merasa sbg. bangsa merdeka tapi dipihak lain masih “terjajah” dengan perasaan minder seperti saya sebut diatas.
Tetapi bukan indonesia saja koq , liat aja misalnya di Brasil, kebanyakan yang success dalam karrier “dunia hiburan” adalah cewek² yang berambut pirang dan mata biru alias Bule. Maaf ya, semakin panjang tulisan saya semakin ambrul adul bahasa indonesiaku