Mahia Trip

Nevergiveupyo


Halo Sobat Baltyra di mana pun berada…

Kali ini saya akan mencoba mengekor jejak Uni Adhe sebagai reporter Baltyra. Tapi tidak jauh-jauh juga sih, liputan kali ini tentang secuil keelokan alam di Maluku, khususnya Pulau Ambon. Seperti pernah saya singgung dalam tulisan awal tentang Ambon Manise, Pulau Ambon ini memang kecil dengan jumlah penduduk yang masih relatif jarang. Umumnya perkampungan berada di tepi pantai (mengingat karakteristik penduduk Provinsi yang juga menyebut dirinya Provinsi Seribu Pulau ini adalah nelayan secara turun temurun), oleh karenanya masih banyak hutan topis ataupun daerah-daerah perawan di tengah Pulau. Kalau masuk hutan masih bisa ditemukan rusa, babi hutan dan berbagai fauna liar lainnya. Bahkan beberapa penduduk ada yang memelihara hewan-hewan tersebut (serius, saya tahu bedanya rusa dengan kambing koq ).

Perjalanan ini terjadi pada tanggal 24 Juli 2010 yang lalu. Saya diajak oleh beberapa teman hobiis fotografi, untuk hunting (ya kalau saya sih sebenarnya mau curi ilmu mereka, mulai dari nyontek settingan kamera sampai pemilihan angel dan gaya memotret mereka dan sekaligus asistensi fotografi gratis hehehehe). Siang itu cuaca sangat cerah (setelah seminggu Ambon berselimut awan dan hujan hampir sepanjang hari) kami pergi ber-empat saja. Kami berangkat sekitar jam 12 dari kota. Rute yang kami tempuh adalah Kota Ambon-Mangga Dua- Kusu-kusu- Mahia.

Kurang lebih 40 menit mobil yang kami tumpangi menyusuri medan yang luar biasa (berupa jalan sempit dengan variasi tanjakan terjal dan kelokan tajam). Seakan belum cukup, di beberapa tempat juga terdapat ruas jalan yang tinggal separuh, karena separuhnya lagi capek diinjak-injak kendaraan …eh maksud saya longsor hehehe. Kami berempat sama-sama belum pernah ada yang sampai Mahia. Jadi bisa dibilang kami ini menjadi Dora the Explorer…hehehehe.

Setelah memarkir kendaraan di akhir jalan (ya.. akhir jalan. Karena jalan aspalnya sudah tidak ada lagi setelahnya. tempat itu juga menjadi terminal tidak resmi angkot) kami turun dari mobil dan dengan gaya sangat percaya diri bertanya jalan menuju pantai. Salah seorang ibu-ibu sempat tertawa dan memberi tahu kami bahwa jalan menuju ke pantai sangat terjal dan butuh kira-kira satu jam. Ha?? Jalan selama satu jam? Seorang teman yang full-equipped (tas besar isi beberapa lensa serta tripod) langsung tersenyum kecut. Akhirnya diputuskan kami jalan semaksimal mungkin, dan tidak memaksakan diri sampai ke pantai. Yah, hitung-hitung sebagai biaya menyelamatkan muka-lah.

Ohya, kesan pertama dengan Mahia ini adalah daerahnya sejuk dan masih asri. Rimbunan berbagai pohon buah (duku, langsap, durian, rambutan, mangga) tampak menaungi barisan rumah yang memang cukup jarang. Terlihat juga beberapa buah yang masih muda, sehingga hanya bisa membuat kami meneguk air liur. Ah seandainya…. (foto : mengintip dari balik kerimbunan)

Di tengah jalan kami bertemu seorang pemuda, yang kemudian dengan senang hati mau mengantar kami menuju beberapa lokasi yang bagus. Jalan setapak yang cukup licin membuat kami harus hati-hati dalam melangkah.Beberapa saat berjalan, sampailah kami pada satu spot di belakang salah satu rumah penduduk. Terdapat batu besar yang kemudian secara bergantian dimanfaatkan untuk mengambil beberapa gambar. (foto : jalan licin Oom, 3 diva, batu besar pertama)

Kemudian kami menuju lokasi yang kata bung pemandu “sama tapi lebih bagus”. Okelah, kami langkahkan kaki mengikuti pemandu kami. Kali ini jalan yang harus kami lewati lebih licin dan terjal.. namun alangkah terperanjatnya kami ketika kami sampai di daerah yang sedikit terbuka. Kami hanya bisa menyebut Keagungan Tuhan. Luar biasa!!
Hamparan Laut Banda yang membiru.. langit yang bersih. Kemudian bukit yang menghijau.. jernih sekali Wah..nyaris basah kaus saya kalau saya tak segera ingat mengatupkan mulut… (foto : Laut banda)

Pada saat kami tiba, awalnya ada beberapa anak SMA sedang bersenda gurau dan duduk-duduk. Ternyata mereka tinggal di kampung bawah. Sekitar 15 menit berjalan (tentu saja jalan cara mereka. Kalau kami sih dijamin bisa lebih cepet lagi.. karena ngglundhung/menggelinding hohohoho)

Kemudian segeralah kami berempat beraksi. Dengan gaya dan keyakinan masing-masing. Tak lupa juga ber-narsis ria. Demi memproduksi profile picture di fesbuk…(foto : pohon mati, pohon mati in blue, teluk seri, batu pandang, guide kecil tapi berotot)

Sekitar satu jam kami menikmati keindahan lokasi tersebut dan kemudian kamipun beranjak pergi. Kami melanjutkan ke Tanjung Latuhalat dengan target mengejar Sunset… (bersambung)

Terimakasih untuk admin dan semua Baltyrans yang sudah mampir. Silakan berkomentar apa saja.. sengaja dipotong di sini supaya tidak diomeli Oom admin hohohoho (trauma ceritanya)



80 Comments to "Mahia Trip"

  1. karel  16 March, 2012 at 12:33

    wah….. ini tempat lazim banget di mata… secara keluarga besar ku ada di sana.. de fretes family… jadi kangen ma nieh tempat… mahia is the best

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.