Menikmati Borobudur & Merapi

Agatha


Bangun jam 02:00 pagi? Aaach… Sungguh menyenangkan seandainya dapat tidur nyenyak beberapa jam lagi. Mataku serasa 5 watt saat melangkah ke kamar mandi.

Suasana di luar hotel redup, tidak terlihat kendaraan berlalu-lalang di jalan raya. Sekitar jam 03:00 kami siap berangkat dari Yogyakarta menuju Borobudur. Jalanan sungguh lenggang. Hanya terlihat beberapa wisatawan bersenda gurau dan bergaya di depan Tugu Yogyakarta. Apakah mereka bangun pagi untuk bergaya dan saling jepret? Atau justru mereka adalah para penikmat suasana malam Yogyakarta? Entahlah.

Sekitar jam 04:00 kami tiba di depan gerbang hotel pengelola Taman Borobudur. Setelah saling bertutur sapa, kami dipersilahkan melanjutan perjalanan menuju kantor penerimaan tamu. Pengurusan administrasi berjalan singkat dan masing-masing kami dibekali senter kecil. Tidak lama kemudian, berdatanganlah serombongan wisatawan asing. Dan bersama-sama dengan mereka, kamipun bersiap berjalan menuju candi.

Di sepanjang jalan setapak taman, kiri kanan terlihat bayangan pepohonan, dan hamparan rumput di tengah kegelapan subuh. Kudengar suara halus jangkrik bersahutan tanpa bisa kulihat wujud mereka. Bayangan-bayangan gelap kami bergerak dengan cepat dengan hanya ditemani sinar senter kecil. Sesaat kemudian, tibalah kami di gerbang Candi Borobudur. Setelah melewati pemeriksaan standar keamanan dan detektor logam, semua orang dalam rombongan kecil segera menaiki tangga batu candi. Suasana gelap dan sepi, sepertinya semua bergegas menyiapkan perlengkapan kamera masing-masing. Kusiapkan kamera saku kecilku, setting auto. Haha… hanya itu yang perlu kusiapkan, sambil melirik kagum pada perlengkapan dan kesibukan yang lain.

Hanya terdengar beberapa bisikan percakapan. Seolah-olah semua sepakat untuk tidak memecah keheningan pagi. Kududuk diam, bersandar dalam bayangan gelap stupa batu nan dingin.

Kurasakan hembusan angin dingin dan segar di wajahku. Bebatuan candi terasa lembab berlapis embun tipis. Kutatap sekeliling candi, kucoba menyesuaikan pandangan mata dengan kegelapan malam yang masih tersisa.

Hening, menanti datangnya sang fajar.

Sesaat kemudian, keheningan itu pecah. Menyaksikan secercah sinar di ufuk timur mulai menampakkan diri.

Segaris sinar pucat di batas cakrawala yang makin nyata menampakkan bayangan sempurna sang Merapi dan kegagahan Candi Borobudur. Tiada kata-kata yang dapat kutuliskan lagi. Takjub.

Terima kasih pada para sahabatku, yang telah mengajakku turut serta menyaksikan terbitnya sang fajar. Terima kasih sahabatku, atas ide penulisan gaya bertutur ini.

 

Borobudur Sunrise, 01-08-2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.