Si Aok

Hennie Triana


Ranti, si gadis kecil itu mengayuh kencang sepedanya, ada rasa ketakutan tergambar di wajahnya. Sekuat tenaga ia berusaha sesegera mungkin mencapai rumah. Dia dalam perjalanan pulang sekembali dari les persiapan ujian akhir SD. Sosok laki-laki itu sering mengganggu gadis-gadis kecil, seperti dirinya. Melawan laki-laki seperti itu tentu Ranti tak punya nyali, lebih baik lari menghindar.

Si Aok*, julukan laki-laki itu, orang-orang memanggilnya seperti itu. Banyak yang tidak tahu siapa sebenarnya laki-laki yang telah melewati masa remajanya itu. Dia tidak bisa bicara, alias bisu, tapi apakah pendengarannya sempurna atau tidak, sepertinya juga tidak ada yang peduli. Sama tidak pedulinya orang-orang terhadap hidupnya, di mana dia tinggal, siapa orang tuanya. Dia dijuluki seperti itu karena dianggap bodoh.

Di sisi lain banyak juga orang yang memuji dan mengaguminya, terutama orang-orang tua, karena dia selalu hadir di mana ada keluarga yang sedang berduka cita, ikut membantu di sana tanpa ada yang meminta, hingga mengantar ke pemakaman. Sering orang berkomentar “Pasti pahala si Aok setinggi gunung”.

Tahun berlalu, Ranti telah menjadi gadis remaja. Dia masih sering melihat si Aok, dan si laki-laki ini tetap berusaha menakut-nakutinya, tetapi Ranti bukan gadis kecil lagi, dia sudah bisa balas menggertak. Dalam hatinya alangkah bodohnya dulu dia lari tunggang langgang hanya melihat sosok laki-laki tersebut. Padahal dia hanya seorang laki-laki biasa, sama seperti yang lain, penampilannya saja yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan.

Sampai suatu pagi Ranti mendengar orang-orang di lingkungannya berbisik-bisik. seseorang berkomentar perlahan..”nggak nyangka ya..ternyata…” sambil membawa selembar Surat Kabar.

Ranti akhirnya mengetahui berita di surat kabar tersebut, bahwa si Aok sekarang menjadi tahanan di kantor Polisi, karena tertangkap sedang membongkar salah satu makam yang masih baru. Ternyata si laki-laki ini rajin mengantar jenazah ke pemakaman untuk mengetahui di mana lokasinya. Dia akan kembali, menggali makam itu,  makam wanita, dan akan menyetubuhinya.

Ranti merenung kembali, perasaan takutnya dulu sewaktu dia masih sebagai gadis kecil mungkin juga normal. Ia bergidik ketakutan, karena ternyata si Aok memang menakutkan, sangat menakutkan.

catatan;
*Aok = dari kata paok/pauk (istilah yang sering dipakai di Medan) = “bodoh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.