Friday, 27 August 2010
Aimee – Bangka
Maaf teman-teman Baltyra semua, jika sekali lagi aku menulis tentang ini lagi dan lagi. Namun aku sungguh merasa kecewa terhadap diriku sendiri dan merasa sedih karena nya. Di hari ini tanggal 23 Agustus 2010, adalah tepat penanggalan Lunar bulan 7 tanggal 14.
Dan malam ini sampai dengan jam 12 malam, orang orang Tionghoa pasti merayakan festival sembahyang rebut, bersembahyang untuk pelimpahan jas kepada arwah keluarga yang telah meninggal. Dan teman teman, tau kah kalian penyesalan saya? Yah, saya lupa!
Saya lupa untuk bersembahyang kepada mendiang kedua orang tua saya. Awalnya dari pesan yang dikirimkan kakak saya sore hari jam 5.
“Dek, kamu udah selesai sembahyang?”
Sedikit termangu saya membaca pesan tersebut, sembahyang?? Sontak langsung saya terdiam dan langsung mengontak suami. Bahwa saya lupa menyembahyangi kedua orang tua saya karena lupa.
Suami bilang bolehkah dititip, sepengetahuan saya sembahyang rebut adalah sembahyang pelimpahan jasa dilakukan di rumah atau vihara atau kelenteng. Sembahyang ini bukanlah semacam ziarah ke makam. Makanya seharusnya bisa dilakukan sendiri di rumah, dan tidak menitipkan kepada keluarga lain. Beda hal nya dengan sembahyang kubur bulan Maret lalu, saya titip ke bibi saya. Karena saya masih dalam masa nifas saat melahirkan Rein.
Sebenarnya saya sudah menyiapkan menitipkan pelimpahan jasa ke vihara yang biasa adek ipar saya aktif di sana. Vihara itu juga adalah vihara tempat saya melakukan pemberkatan pernikahan. Namun adik ipar saya mengembalikan form pelimpahan jasa tersebut beserta dananya, alasannya : nanti saja pas dia mau pergi ke vihara baru kasih, karena dia orang nya pelupa. Namun sampai saat deadline nya adik ipar saya tidak pergi ke vihara, dia sibuk membantu ipar saya yang satu nya. Yang juga sedang dalam masa nifas.
Sigh….komplit sudah. Dan saya tidak bisa menyalahkan atau memaksa dia pergi ke vihara hanya untuk urusan saya saja.
Pelimpahan jasa di bulan 7 tanggal 14 ada sejarahnya, dipercaya adalah pelepasan arwah atau pintu gerbang neraka dibuka, dan nanti bulan 8 tanggal 14 malam jam 12 tepat menuju tanggal 15 pintu gerbang neraka ditutup. Makanya orang-orang Chinese kebanyakan tidak mau mengadakan pernikahan pada rentang waktu tersebut.
Saya kutip sebentar dari website WALUBI (Perwalian Umat Buddha Indonesia),
Ulambana dilakukan setahun sekali pada bulan tujuh penghitungan candra sangkala (lunar calendar), biasanya di vihara-vihara Buddha Mahayana selalu diadakan upacara perayaan Ulambana ini, yang kalo orang Hokkian menyebut nya sembahyang cioko (cautu=mandarin), kalo kami menyebutnya sembahyang rebut.
Sepanjang pengetahuan saya, sejarah paling terkenal dan banyak diakui tentang Ulambana adalah tentang Maha Bhiksu Maugalyayana yang membuka pintu pintu gerbang neraka untuk menolong arwah ibunda nya di alam neraka.
Pada suatu ketika pada bulan 7 tanggal Maugalyayana ini adalah salah satu dari 10 murid Hyang Buddha, yang terkenal kesaktiannya dalam bermeditasi. Tiba-tiba saja ia memikirkan tentang ibunda nya yang telah meninggal, dengan kesaktiannya, beliau dapet melihat di mana ibu nya berada. Sehingga tampak oleh nya keadaan ibu nya mengalami siksa neraka.
Terdorong akan rasa bakti kepada ibu, beliau memberikan makan dan minum kepada ibu nya, namun semua yang berusaha dia berikan menjadi api dan air raksa. Melihat keadaan ini, Maugalyayana menemui Raja Neraka untuk memohon belas kasihan.
Namun ibunya dan penghuni neraka lainnya ternyata hanya dapat tertolong oleh seorang Samyaksambuddha yang akan memberikan jalan. Akhirnya Maugalyayana kembali ke dunia dan menemui guru nya, Hyang Buddha.
Hyang Buddha berkata jika ingin menolong ibu nya, salah seorang keluarga harus timbul rasa bakti dan ingin menolong almarhum dengan cara meminta bantuan seorang sangha (bhiksu) untuk membacakan doa, di mana doa tersebut dilimpahkan kepada almarhum. Jaman sekarang kita memberikan dana kepada anggota sangha di sebuah vihara dengan cara mengisi form.
Itulah awal mula upacara ulambana, bersedekah kepada anggota sangha atau kepada fakir miskin, biasanya disalurkan melalui vihara. Di mana pahala dari sedekah tersebut dilimpahkan kepada almarhum/mah.
Kembali lagi ke saya, saya berpikir apakah saya mengecewakan almarhumah, di hari seharusnya sebagai anak, saya bersembahyang buat pelimpahan jasa, namun karena Rein sedang sakit dan tidak tersedianya kalender lunar, maka saya melupakan ritual ini. Biasanya di Bangka saya tidak pernah melewatkan satupun tradisi sembahyang leluhur. Karena saya hidup di kampung bersama sanak sodara dan saya juga punya kalender lunar. Sehingga otomatis sebelum hari H datang, seluruh kampung akan sangat sibuk. Mana mungkin saya bisa lupa. Kalo lupa itu bener-bener saya kelewatan.
Namun kadang saya berpikir, almarhumah adalah Ibu saya. Saya memahami beliau karena sering nya komunikasi antar kami saat beliau hidup. Pernah satu kali adik lelaki saya, belum setahun umurnya waktu itu. Adik saya sakit, dan nenek dari pihak ibu sedang sekarat.
Ibu dihubungi saudaranya untuk segera pulang ke rumah nenek, rumah nenek terletak di Bangka selatan tepat nya Toboali, di ujung nya pulau Bangka. Jaman saya masih SD, perjalanan Sungailiat-Toboali memakan waktu 5 jam, dengan pemberhentian untuk panggilan alam (makan-pipis) di terminal Koba. Saat itu kendaraan satu-satu nya hanya pownis (mobil angkot seperti oplet nya mandra tapi lebih besar).
Ibu memilih tidak pulang, sehingga nenek meninggal tanpa sempat ibu melihat nya. Saudara-saudara ibu tentu saja merasa ibu tidak berbakti. Saya pun heran akan keputusan ibu, karena saya tau, ibu juga adalah seorang anak yang berbakti dan beliau dekat dengan nenek.
Namun jawaban ibu membuat saya tersentak, “anak saya masih kecil dan sakit, dia lebih berkesempatan untuk hidup dan dirawat sebaik-baiknya oleh saya sampai sembuh. Sedang ibu, jelas-jelas sedang sekarat, saya pulang hari ini atau esok, keadaan ibu tidak berubah menjadi sehat kembali. Mana yang harus saya utamakan? Ini bukan masalah berbakti atau tidak. Namun kepada prioritas. Kecuali saya sama sekali tidak pulang sampai nenek mu dimakamkan, itu baru tidak berbakti”
Saya pikir untuk perempuan kampung, pemikiran ibu cukup hebat. Benar juga sih, pulang sekarang atau esok. Malam itu nenek pasti lewat, good bye beibeh lah istilah nya…sedang malam itu adik sedang panas-panas nya dan rewel-rewel nya, belum ditambah dengan 3 anak yang masih kecil kecil berdempet dempet jarak nya.
Berpikir tentang hal ini saya merasa ibu mungkin akan memaafkan saya. Namun saya ingat lagu yang sering ibu saya nyanyikan kepada saya. Bukan Shi Shang Zi You Mama Hao (世上只有妈妈好), namun lagu terpopuler nya Teresa Teng. 你怎么说 (Ni Zen Me Shuo, lebih sering ditulis Ni Ce Mo Suo). Ibu adalah pendendang sepanjang masa, dan menularkannya kepada saya yang akan selalu berdendang kala mengerjakan apa saja mulut mringis mringis nyanyi walau nada nya lari ke sana kemari, fals puolll.
Mengapa saya terkenang lagu ini, saya teringat percakapan terdahulu saya dengan ibu tentang lagu ini, saya minta beliau menterjemahkannya kepada saya dalam bahasa indonesia.
Beliau menterjemahkannya, katanya…lagu ini bukan saja perlambang cinta seorang wanita kepada laki-laki, namun juga perlambang cinta seorang ibu kepada anak nya.
“bagaimana bisa” kata ku, lha wong jelas jelas lagu cinta jee…
“ya bisa, perhatikan saja liriknya” lanjut ibu.
Dulu saja tidak mengerti, namun setelah saya dewasa dan punya anak, saya sering mendendangkannya kepada Rein. Saya merasa mungkin saja lirik ini tepat untuk hubungan cinta ibu dan anak.
“Wo mei wang ji ni wang ji wo” (我没忘记你忘记我)berarti ku takkan lupa kepada mu, mungkin kau yang melupakan ku.
Terus ada bait, “san pai liu se wu ke je ce pu hau kuo” (三百六十五个日子不好过). Kurang lebih artinya setahun telah berlalu. (cmiww)
Kemudian ada bait “ni sin li ken pen mei yau wo” (你心里根本没有我), dalam hati mu tak ada aku lagi.
Semakin sering saya menyanyikannya, saya semakin merasa apakah saya telah mengecewakan ibu saya dengan melupakan hari ini, hari pelimpahan jasa kepada almarhumah?
Namun, benar-benar sampai kapanpun dalam hati ku takkan pernah menghilangkan beliau, takkan pernah melupakan beliau. Walau setahun telah berlalu, aku memang melupakan hari ini, namun aku tak melupakan mu. Sungguh ibu, aku tak melupakan mu.
Mungkin banyak yang heran kenapa saya concern hanya pada ibu, sedang ayah saya sendiri sudah almarhum. Hal ini karena saya merasa ibu lebih membutuhkan pelimpahan jasa, walau dua-duanya perlu, tapi ibu lebih perlu. Kenapa??
Karena semasa hidup ibu, ibu lebih tega dibanding ayah. Ayah saya bahkan tidak pernah menyembelih ayam, buat sembahyangan ataupun untuk makan. Ibu yang mengerjakan semua nya. Ibu yang menggorok leher ayam sampai menggelepar-gelepar. Ayah saya tidak pernah mau. Ibu lebih koboi dari ayah, naik pohon kelapa saja ibu jago, ayah saya tidak bisa atau mungkin tidak mau.
Suatu malam beberapa tahun setelah ibu meninggal, saya masih di Bangka dan kakak pertama saya menelpon dari Jakarta. Mulai sekarang sembahyang pake ciacai (vegetarian). Tentu saya heran, wong biasa nya ikut tradisi kok pake 3 daging binatang hidup yang mewakili darat, laut dan udara. Kenapa sekarang harus sembahyang ciacai?
Ternyata kakak bermimpi ibu datang menghampiri nya dengan muka sedih, muka pucat dan badan seperti tercabik cabik harimau, berdarah sekujur tubuh nya. Sungguh kasian. Ini bukan menceritakan aib keluarga, karena ini hanya mimpi. Bisa jadi bunga tidur, tapi bisa juga memang pesan dari almarhumah.
Dari sejak itu kami berkeputusan untuk sembahyang vegetarian, selain karena memang kami tak sanggup untuk menggorok leher ayam-ayam peliharaan kami, juga karena dengan maksud ingin membantu almarhum dan almarhumah, jangan lagi setelah meninggal. Kami menghentikan hidup makhluk lain hanya untuk menyembahyangi orang yang sudah meninggal.
Kami berpikir kami sembahyang karena tradisi, jadi daging atau tidak bagi kami sama saja. Yang dibutuhkan oleh almarhum dan almarhumah hanya kiriman doa dan pelimpahan jasa. Oleh karena itu lah banyak sekali orang Tionghoa bersedekah atau mencetak buku-buku dharma untuk pelimpahan jasa kepada keluarganya yang sudah almarhum.
Namun tahun ini….aku lupa. Aku lupa untuk sembahyang, namun aku tak pernah melupakan ibu dan ayah ku. Tak pernah sedetik pun.
Ibu dan ayah, jika aku dapat bertanya. Apakah aku telah mengecewakan mu? Maafkan aku. Sungguh sungguh meminta maaf mu.
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
May 11th, 2011 at 21:51
banyak cara untuk berbakti termasuk dgn sembahyang, namun menyimpan n mengenang jasa ortu juga sudah termasuk salah satu tanda bakti. thx
August 31st, 2010 at 02:08
Aimee,beneran nih ngak ada yang mau berteman dengan…..yang manis,yang cantik dan yang putih(Hallo Mas Iwan,percaya ngak tuuhhh),Laa,wong yang di LA saja sudah beli rumah baru saking seriusnya mau mantuan waktu itu.
August 30th, 2010 at 23:42
Om ODB, saya memang sudah bertemu dua kali dengan Aimee. Pendiam, manis, cantik dan putih. Kesan saya justru Aimee sangat nyaman untuk diajak bicara. Cuma kesempatan seperti itu sulit dilakukan karena kalau ketemuan rame-rame, rebutan ngomong dan rame raya-raya…
August 30th, 2010 at 23:28
Odb : oom, kami sudah pernah ketemu 2x lo. Di pondol dan di mandarin oriental.
Wah kalo kesan pak isk ke saya mgkin sama dgn oom odb. Namun kalo ngomong saya anteng-alim-pendiam sama Jc bisa bisa dia ngakak saking gak percaya nya.
Terus terang untuk teman2 di mana saja, saya jarang sekali untuk terbuka haha hihi ketemu, saya selalu fokus sebagai pendengar.
Jarang sekali saya sebagai pusat pembicara.
Sejak saya gabung di rumah lama maupun skrg, hanya 3 org yg bener2 saya dekat dan terbuka bercerita salah satunya JC.
1 lagi aktif juga menulis disini dan disana, satu lagi aktif di gmdj.
Mungkin krn pengaruh masa lalu membuat saya agak diam kalo ketemu byk org, krn jaman susah yatim piatu, tak ada org mau berteman dgn kami.