Floweries on Macro (Part 2)

Linda Cheang – Bandung


Setelah sempat “terganggu” dengan beberapa jepretan foto yang terlalu terang di bagian pertama tempo hari, berikut saya kirimkan gambar-gambar indah kali ini bisa menembus sukma. Bikin seger mata yang udah sepet dan bikin adem cuaca di lokasi yang panas (haloo, apa kabarnya yang lagi di pojok itu, tuh?).

Saya berpikir apakah ketika hati sedang bersih (maksude hati sedang bersih itu hatinya enggak kepingin yang neko-neko. gitu, loh), karena saat itu saya sedang sedang melaksanakan doa puasa, maka melihat objek foto berupa bunga-bunga kali ini terlihat lebih menawan dan hasil jepretannya juga lebih bersih, terlihat jelas warna-warnanya. Selain tentunya jepretannya diambil pakai hati (jadi ingat ke seseorang yang masih di pojokan nun jauh di sana). Tak lupa, faktor intensitas cahaya pagi dan siang hari yang mendukung.

Serumpun bunga warna merah. Saya tak pernah tahu apa namanya, namun saya sering memetik bunga-bunga tsb, menarik putiknya dari batang bunga dan menghisap madu yang ada di dasar putik. Manis dan sedap rasanya! Pantas saja, di peternakan lebah suka banyak ditemukan bunga-bunga seperti ini. Apalagi kalau rumpun bunganya membentuk siluet hati, seperti pada gambar.

Kemudian bunga warna jingga dari tanaman merambat. Tadinya saya sudah sumringah mendapati indahnya warna jingga jernih dari bunga itu. Segera saya disadarkan oleh satu orang kritikus foto, yang memberitahu ternyata ada batang melintang di atas bunga itu yang mengganggu. Yah, batal, deh, hip, hip hurrah-nya. Mungkin karena gambar tersebut diambil dengan cara yang tidak biasa? Membungkukkan badan dalam-dalam sampai melewati pagar balkon, alias nungging. Untung saja pada saat saya ambil gambar, tidak ada teman-teman yang bersama saya membawa kamera untuk memotret kelakuan saya saat menjepret bunga itu. Soale amat tidak sedap dipandang. Jadi ingat gambar Mea difoto lagi menjepret anak yang pakai kaidangku. Hehehehe. Maap, Mea, kasusmu saya jadikan contoh di sini, hahahahaha.

Tak ketinggalan bunga kecubung. Itu si bunga adanya di atas kepala saya, maka saya mesti mendongakkan kepala sampai terasa pegal di leher, dan mencari sudut bidik yang tidak menantang cahaya, demi mendapatkan jepretan si kecubung yang luar biasa itu. Ada-ada saja. Usai si kecubung, ada bunga-bunga kecil berwarna pink yang jadi sasaran bidik. Tetap indah. Tapi saya tak tahu namanya.

Ada pula bunga bakung putih. Apa ini bunga Lily, yah? Dia tumbuh di dekat pagar gereja dan ketika saya ambil foto ini, cahaya mentari sedang terhalang awan sebagian.

Salah satu gambar jepretan sendiri yang saya suka, selain sekuntum Kemboja Kuning di Pojok Fiksi tempo hari, salah satunya ini, sebangsa bunga bakung kuning. Gambar ini terasa istimewa. Benar-benar anugrah! Bisa mendapatkan kesempatan membidik bunga bakung kuning tsb dengan arah cahaya mentari dari samping yang sebagian terhalang oleh tiang besar penyangga gereja, mungkin hanya 1 dari 10 ribu kesempatan. Beberapa hari saja saya lewati setelah hari menjepret bunga bakung kuning itu, ketika saya kembali lagi ke tempatnya, ternyata bunga indah itu sudah tidak ada lagi. Sudah lalu bersama angin.

Berfoto macro bukan tergantung pada apa jenis kamera yang dipakai, tetapi juga mengikuti prinsip kepemimpinan dalam manajemen, yaitu, the right man behind the right gun at the right place and at the right timing. Makanya saya bisa katakan jepretan bunga bakung kuning itu sebagai sepenuhnya anugrah, karena sebetulnya hanya memenuhi dua prinsip manajemen kepemimpinan tadi. Sedangkan kondisi ketika pengambilan gambar bunga bakung terjadi, hanya terjadi the right place at the right timing, yang dua prinsip lagi sama sekali tidak memenuhi syarat. The desafinado lady behind the silly Digital Saku Lan Ringkes camera!

Salam jepret desafinado!

Linda Cheang.

Agustus 2010

PS :

Setting kamera untuk semua foto di atas sbb :

Tipe : Brica Digiart Z808

Resolusi : 4 MP (mega pixel)

Kualitas : Super Fine

Metering : Multi

Ketajaman : Normal

W. Balance : Daylight

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.