Kritik Birokrat Pada Sinetron Para Pencari Tuhan

Sumonggo – Sleman


Apa yang ditunggu-tunggu banyak orang dari Sinetron Para Pencari Tuhan, yang bulan puasa ini menginjak jilid keempatnya? Bagi para pemirsa televisi sinetron ini menjadi salah satu favorit teman sahur dan berbuka, ketimbang sejumlah komedi yang terjerumus dalam mengumbar olok-olok berlebihan, atau kebanyakan sinetron lainnya yang hanya sekedar berbungkus Ramadhan, tetapi polanya masih tetap sama saja meski terpaksa dijejali simbol religi.

Mungkin ada yang greget dengan trio Barong-Juki-Chelsea dengan kelucuan yang mengalir alami tanpa slapstick berlebihan. Atau duo Udin dan Asrul yang kali ini nasibnya tidak nelangsa lagi. Gemas dengan lagak Pak Jalal dan Azam yang bergaya arogan. Tersentuh dengan rumah tangga pasangan Ustad Ferry dan Haifa, yang memiliki nuansa romantisme yang unik. Atau masih ada juga yang diam-diam menantikan Aya (sst… sudah ada yang punya sekarang, baik di sinetron maupun dunia nyata).

Bang Jack sendiri, seperti dalam jilid sebelumnya, masih juga “menanggung beban” terlalu banyak, alias kebagian tugas “menyampaikan pesan”, yang sayangnya kerap kali dosisnya agak mencolok, sehingga agak kelihatan mengguruinya. Mungkin peran sebagai orang bijak agak memberatkan Bang Jack yang sekaligus sebagai sang sutradara untuk menentukan momen yang tepat saat penyampaian pesan. Bila settingnya waktu jilid awal PPT ini masih terbatas dan kadang terasa agak monoton dan membosankan, di jilid 4 ini lebih variatif, dan tentunya juga banyak tokoh baru, atau tokoh lama dengan diberikan porsi peran yang lebih besar.

Sekilas tak ada sinetron lain dalam bulan puasa ini yang mampu mengimbangi PPT. Sinetron Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang diangkat dari film dan novel laris, sayangnya kala dijadikan sinetron malah terjebak dengan “pakem” sinetron yang sedang marak sekarang, yang kental dengan dominasi pelajaran membentak-melotot-bengong. Jadi hasilnya terasa mengecewakan. Kalau boleh dibilang, mohon maaf, terasa hanya sekedar menyajikan cowok ganteng berkopiah dan cewek cantik berjilbab. Jalan cerita dan aktingnya juga nampak kaku. Belum lagi adanya tokoh yang dikesankan “terlalu bijak”. Berbeda jauh dengan PPT dimana tidak nampak tokoh yang terlalu jaim, tetapi membumi, dan layaknya sehari-hari.

Kembali ke PPT, adakah tokoh yang belum tersebut di atas? Tukang sayur, Bonte, Baha (sudah “almarhum” di jilid tiga)? Tentu saja yang tidak ketinggalan di tiap episode adalah “trio kwek-kwek” yang setia kesana kemari berjalan bergandengan berkeliaran mencari “mangsa”. Siapa lagi kalau bukan Pak RW, Pak RT, dan Bendahara. Memang penggambaran ini kalau di dalam dunia nyata tidaklah nalar, kok Pak RW, Pak RT, dan Bendahara tidak ada kerjaan sehari-hari hanya ubyang-ubyung ke sana kemari?

Sebenarnya inilah bagian dari kritik kepada praktek birokrat kita baik tingkat elite maupun lokal. Wajah birokrasi kita seolah “ditonjok” oleh ulah trio tersebut yang bukannya membantu rakyat malah kerap kompak untuk mempersulit rakyat. Jalan kesana kemari bukan beritikad ingin menyelami kebutuhan warga, tetapi karena hasrat mencari peluang apalagi yang bisa dijadikan “obyekan”. Jika ada rakyat yang memiliki inisiatif untuk memberdayakan diri atau lingkungan, malah dilihat sebagai potensi untuk melakukan pemorotan. Ide-ide positif bukannya didukung, malah dibarikade dengan segudang keharusan menyetor upeti.

Bila muncul persoalan, reflek yang ada bukanlah didasari motivasi solusi tetapi motivasi proyek. Maka, kadang di sejumlah episode dimunculkan trio ini mengeluarkan peraturan penuh akal bulus yang menimbulkan antipati warga karena tidak mempertimbangkan kondisi dan kesulitan warga.

Jadi kalau kita mentertawakan tingkah polah Pak RW, Pak RT, dan Bendahara, yang jahil, metakil, tengil, sebenarnya semacam itulah “prestasi” birokrat kita. Perhatikan pula bagaimana sindiran yang dilancarkan dalam tiap “rapat kabinet” antara ketiganya, dimana segala macam akal-akalan yang aneh-aneh dan tipu daya di luar akal sehat dimunculkan. Kalau sudah ketanggor dan terbuka kedoknya barulah trio ini berlagak tulus membantu dan punya kepedulian pada warga, layaknya serigala berbulu marmut.

Intrik-intrik yang dimunculkan meski dibungkus dalam kemasan yang bernuansa komedi, bila diamati seksama sebenarnya cukup nylekit juga. Jadi sebenarnya yang menjadi sasaran tembak bukan kritik pada kepengurusan RT atau RW, tetapi pada patologi birokrasi. Karena pada kenyataannya di dunia nyata, menjadi RT/RW malah lebih sering tombok bila warga atau lingkungannya ada kesulitan, misal warga miskin yang kesusahan, sakit atau meninggal dunia.

Tapi mungkin “mereka-mereka” yang sebenarnya sedang ditertawakan lewat sinetron ini juga tidak nyadar, seperti halnya kelakuan Pak RW, Pak RT, dan Bendahara pada sinetron ini, yang tidak pernah kapok. Bagaimanapun, seperti halnya tokoh dari sinetron ini berarti mereka juga masih termasuk sebagai para pencari Tuhan, cuma mungkin nyarinya saja yang kejauhan ….. Nuwun.


Catatan: Mohon maaf untuk Pak RT/RW yang sungguhan, karena di dunia nyata malah RT/RW kadang lebih banyak pengabdian. Karena RT/RW benar-benar tinggal dan merasakan kondisi warga sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.