Puasa Itu Indah

Wahyu Wibowo


Malam ini aku terlambat lagi tuk terpejam

Mengetuk pintu mimpi saat telah lewat jam dua malam

Entahlah apa yang menari nari di hatiku

Seraut wajah indah itu melantunkan lagu rindu

.

Tak terasa waktu merambat pergi

Mataku terbagun tatkala fajar menyapa keindahan pagi

Oughhh…..sebuah sahur pun terlewati lagi hari ini

Alarm di HP tak mampu membuka lelapnya sebuah mimpi

.

Kuniatkan untuk teruskan berpuasa

Berharap akan ada cahaya bersama keindahannya

Kuucap salam sebelum kaki ini melangkah

Meniti tangga tangga kehidupan mencari berkah

.

Terperangkap letih mataku di depan kesibukan komputer kerja

Sesekali kantuk membuat diri ini setengah tak terjaga

Deretan angka memanggil bintang berlari lari di sudut kepala

Terantuk keningku menyapa sisi sebuah meja

.

Schedule yang tak dapat terpenuhi target kerja memaksa langkahku bergegas turun

Meninggalkan sebuah kursi yang menggoda tuk berjuntai dan berayun

Dinginnya AC pun perlahan terganti panasnya ruangan produksi

Bersama dentuman bising mesin bernyanyi lantang di sana sini

.

Sebentar saja bau chemical yang tajam menyeruak pusingkan kepala

Di antara deru deru forklift  yang hilir mudik tanpa sebuah jeda

Kutemui wajah wajah keras tuk meminta sebuah konfirmasi

Menarik sedikit ular leher tuk mengimbangi riuh rendah angin compressor yang memekik tinggi

.

Sudah jam dua belas siang waktunya pergi menghadap TUHAN

Karena hari ini hari jum’at saatnya tunaikan sebuah kewajiban

Sementara hujan mendadak hadir begitu lebatnya

Rinainya membasahi tubuh yang tak terlindung apa apa

.

Basah kuyup bajuku saat tiba di depan pintu

Duduk disirami tausiyah tentang indahnya sebuah kalbu

Menggigil tubuhku diantara khusyuknya sujud dan ruku

Semua tak halangi niatku mengharapa ridha-MU

.

Kulanjutkan perjalananku pulang ke tempat kerja dengan metro mini

Duduk berdesakan seperti cendol terguling di sana sini

Susah payah untukku pamit permisi bangkit berdiri

Peluhpun mulai menetes jatuh membasahi bumi

.

Kulirik jam dinding masih jam setengah tiga

Sementara telepon begitu rajin berbunyi nyaring memekik di telinga

Sejenak kulayani permintaan tolong agar shipment tetap terlaksana

Meninggalkan setumpuk kertas kerja yang belum sempat lagi terjamah

.

Akhirnya terdengar juga bel tanda pulang jam lima

Waktunya kukemasi semua penat di ujung kepala

Langkahku menuntun ku pergi menuju keramaian sebuah pasar

Memilih makanan yang telah tersaji dan terhampar

.

Susah juga mencari celah diantara keramaian ibu ibu berbelanja

Perlu trik khusus agar dapat sampai ke tenda makanan yang kusuka

Berulang kali kaki terinjak dan terjepit dengan tidak sengaja

Biarlah… ini adalah sebuah bentuk perjuangan dalam berpuasa

.

Hari ini cukuplah roti canai sebagai teman untuk berbuka

Bersama segelas teh hangat melati yang wangi baunya

Bergegas aku pergi membersihkan diri dan mandi

Dan akhirnya suara adzan maghrib pun bergema memenuhi alam ini


” Allahummalaka shumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaarhamarrohimin “



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *