Ruh Obon di Tengah Romadhon

Junanto Herdiawan


Ceramah Ustadz Ki Seno saat tarawih di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), pekan lalu sungguh menarik. Ki Seno mengatakan bahwa agama Jepang memiliki unsur kesamaan dengan Islam, khususnya dalam menghargai arwah leluhur atau mereka yang mendahului kita. Sebuah kesamaan yang dulu dilestarikan oleh para Wali, saat menyebarkan Islam di pulau Jawa. Saat itu, agama diajarkan dan menyatu mencari kesamaan, bukan perbedaan.

Kata-kata Ki Seno itu tepat disampaikan, di saat warga Jepang juga sedang merayakan festival Obon, atau Bon. Ini adalah perayaan masyarakat Jepang untuk menghormati arwah leluhur mereka. Masyarakat Jepang meyakini bahwa pada hari-hari Obon (pertengahan Agustus), arwah para leluhur mendatangi mereka untuk berkumpul kembali.

Saat itulah, orang Jepang harus pulang ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, untuk menemui arwah leluhur, dan sesudah itu mengantarkan kembali ke alamnya. Inilah saat-saat reuni Ruh dengan alam ragawi. Perayaaan Obon sendiri, telah berlangsung ratusan tahun lamanya, sejak era Kaisar Meiji, dan dilestarikan sebagai kultur hingga kini.

Di gedung tempat kami berkantor, selama satu pekan lalu, banyak perusahaan yang libur karena para karyawannya mengambil cuti Obon. Meski bukan menjadi libur nasional, hari Obon dirayakan oleh masyarakat Jepang dengan mengambil cuti. Tak heran kalau jalan-jalan ke luar kota jadi macet di hari-hari perayaan Obon.

Festival Obon biasanya berlangsung selama tiga hari, yang waktunya berbeda-beda dan tergantung pada wilayah masing-masing. Saat perayaan Obon, orang Jepang membersihkan rumah-rumah mereka, mempersembahkan sesajian, dan memasang lentera atau lilin-lilin kecil di rumah, altar kuil, maupun dilepas di sungai-sungai.  Hal ini dilakukan untuk menyambut dan mengantarkan arwah leluhur mereka kembali ke alamnya.

Menghargai dan menghormati arwah leluhur adalah ajaran sentral dalam agama-agama di Jepang, baik Shintoisme ataupun Japan Buddhism. Leluhur tak pernah dianggap putus hubungan dengan mereka di alam ragawi. Sebuah nilai yang baik dan mirip dengan ajaran Islam, khususnya sebagai perenungan di bulan Ramadhan ini.

Di bulan suci ini, kitapun diingatkan bahwa Islam adalah juga agama yang sangat menjunjung tinggi keterkaitan antara arwah leluhur dengan dunia ragawi. Hadits nabi mengatakan, apabila anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,  dan anak yang sholeh. Ketiganya adalah linkage yang menghubungkan dunia arwah dengan dunia kasat mata.

Para anak-anak soleh juga memiliki privilege untuk mengirimkan doa langsung kepada orang tuanya. Bukan hanya orang tua, namun juga bagi orang-orang beriman yang mendahului. Kita lihat wisata makam selalu penuh. Budaya nyadran dan membersihkan kuburan juga masih hidup di negeri kita setiap menjelang puasa.

Saat kawan saya yang orang Jepang bercerita dan ingin cuti untuk merayakan Obon, saya menyampaikan selamat hari Obon kepadanya. Semoga arwah leluhurnya tenang di alam sana. Dan malam itu, bersama jamaah Ki Seno, kami diingatkan tentang ayat Qur’an, Al Hasyr 59, ayat 10: “Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.”  Kitapun bersama mendoakan leluhur kita.

Dalam kadar yang personal, hampir setiap saat kita juga mendoakan kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita. Linkage antara kita dengan leluhur selalu terkoneksi setiap saat melalui doa. Semoga mereka senantiasa diberikan Kasih oleh Illahi Robbi, sebagaimana mereka mengasihi kita selagi kecil.

Selamat berpuasa, dan Selamat Hari Obon.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.