X-9

Faris – Bandung


A Fiction Story About X-9


Prolog:

Hai! Aku Faris! Aku adalah murid di sekolah tentara 2 Cimahi. Bakatku adalah keahlian bela diri pedang. Aku masuk sekolah ini karena aku merasa punya bakat akan menjadi prajurit yang hebat, kisahku bersama teman-teman sekelasku dimulai ketika ospek dimulai. Ketika ospek kami mendapat pelatihan yang sangat keras, sehingga beberapa di antara kami tidak bisa bertahan dan keluar dari sekolah ini. Hingga di angkatan kami tersisa 288 orang, dan di kelas kami, tersisa 32 orang. Cerita ini dimulai ketika hari Senin, di kelas X-9, pelatihan pertama dimulai!


Chapter 1: Butterfly Family!

Aku terlambat masuk sekolah, untung tidak terlalu terlambat, masuknya jam setengah 6 sih, jadi aku harus bangun jam 4-an. Sementara aku melihat ada yang sedang bersiap-siap mengangkat senjata. 5 menit lagi masuk. Aku hanya melihat 1 bangku kosong, di sebelahnya ada pria yang sedang menulis sesuatu. Aku inisiatif untuk bertanya.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku

“Oh, Silahkan” Jawabnya

“Namamu siapa?”

“Furqon Edy Muhammad dipanggil Furqon, kalau kamu?”

“Faris Muwaffaq Akmal, dipanggil Faris”

Kami pun berbincang-bincang tentang siapa kami hingga aku tahu, ternyata Furqon adalah seorang detektif.

“Telah memecahkan berapa kasus?” tanyaku

“Sekitar 897 kasus, ada kasus penculikan, pembunuhan, dll. Semuanya ada di arsip”

“Luar biasa”

“Eh, kalau kamu, kau menjadi prajurit apa?” Furqon balik bertanya

“Hanya Ahli Pedang biasa.” Jawabku malu.

“Bisa lihat pedangnya? Setiap Ahli pedang memiliki Pedang khusus masing-masing”

“Ini hanya pedang biasa yang diberi ayahku” Aku pun menyodori pedangku ini

Furqon dengan keahlian detektifnya, mengecek karat, berat dan entah apalagi.

“INI KAN PEDANG PELANGI!” teriak Furqon, seakan terkejut


*semua orang sekelas melihat Furqon, sehingga semua berkerumun di tempatku*


Kulihat ada orang yang tinggi, berpostur tentara, seakan tidak percaya bahwa yang di depannya adalah pedang pelangi dengan membolak-balikan pedangnya.

Aku pun tidak tahu, apa itu pedang pelangi? Apa yang membuatnya special? Hingga aku bertanya pada Furqon, Apa itu pedang pelangi.

“Masa kau tidak tahu? Pedang pelangi adalah pedang langka! Yang hanya dimiliki oleh keturunan ‘Kupu-kupu’!”

“Aku keturunan kupu-kupu?”

“Keluarga kupu-kupu!” Teriak Furqon dengan nada meyakinkanku

Batinku pun bertanya-tanya? Aku adalah turunan keluarga kupu-kupu?

“Bisa kau jelaskan? Apa itu keluarga kupu-kupu?”

“Tidak ada data yang spesifik” jawab Furqon “…Tapi menurut mitos Keluarga kupu-kupu telah punah, dibantai oleh keluarga ngengat”

“Tapi ayah dan ibuku masih hidup!” Jawabku menentang pernyatan itu

“Berarti hanya ada satu kemungkinan, Keluargamu adalah satu-satunya keluarga kupu-kupu yang masih bisa bertahan!”

Kelaspun hening, tapi hatiku tidak, Penuh dengan pertanyaan, siapa aku? Apa itu keluarga kupu-kupu?

“Kau akan menjadi legenda, Ris!” Teriak Furqon

“Ah, kau terlalu melebihkan.”

Aku pun beranjak dari kelas, ingin ke kantin, tapi sayangnya bel masuk telah berdentang. Sayang sekali, hingga akhirnya aku masuk ke kelas dan menerima pelajaran tentang ‘bertahan hidup’. Yang kudapatkan dari pelajaran itu mana jamur yang dapat dimakan dan mana yang bukan.

Istirahat dimulai, aku bukannya ke kantin, aku berinisiatif untuk berkenalan dengan orang lain. Aku melihat orang yang sedang memasukan buku catatan, kesempatan untuk berkenalan. Orang itu berpostur tinggi, tapi tidak cocok untuk menjadi tentara.

“Hai…,” sapaku “Boleh aku tahu siapa namamu?”

“Oh.. namaku Muhammad Ali Fakhri Alamsyah, biasa dipanggil Ali” Jawabnya “ Kau orang kupu-kupu itu ya?”

“Sudahlah, jangan bicarakan itu, ngomong-ngomong kau menjadi apa di sini?”

“Oh.. Aku? Aku hanya Defender di sini” jawabnya

“Oh. Defender.”

Tiba-tiba…

“HEY! BOCAH KUPU-KUPU!” Teriak seorang wanita ke arahku

Aku kaget, tidak sopan sekali dia.

“APA KAU DENGAR BOCAH KUPU-KUPU?” Teriak seorang wanita lagi

Ternyata yang memanggilku dua orang wanita

Postur kedua wanita itu,

Satu: memakai kacamata, rambutnya ikal, lebih tinggi dari partnernya. Dua: tidak memakai kacamata, bergelombang, lebih lurus dari partnernya, lebih pendek sedikit dari partnernya.

“Siapa mereka li?” Tanyaku

“Mereka Gaina dan Erma, kuharap mereka tidak menantangmu.”

“Mana Gaina mana Erma?”

“Gaina yang tidak memakai kacamata, sementara Erma yang memakai kacamata”

“HEY BOCAH KUPU-KUPU! BUKTIKAN KALAU KAU BENAR KELUARGA KUPU-KUPU!” teriak Gaina

“Bagaimana caranya!!!” Balasku tidak kalah keras

“Dengan Duel di lapangan sana! 2 lawan 1” Balas Erma

“Baiklah!” terimaku

“Dua lawan satu itu tidak adil!” Teriak Furqon

“Hentikan Furqon, biar aku memberi mereka pelajaran berharga tentang harga diri.”

Ini adalah duel pertamaku dengan orang sekolah.


Chapter 2: My First Duel!

3… 2… 1… Duel!

Gaina maju menyerang duluan, aku bersiap untuk teknik bertahan.

*Trang**Trang**Trang**Trang**Trang*

Gaina menyerangku dengan Qatar bertubi-tubi. Aku terpukul mundur.

“Kenapa hanya menghindar saja, Bocah? Mana seranganmu?” Teriak Gaina.

“Baiklah! Kalau itu maumu!” Balasku

Aku pun balas menyerang secara bertubi-tubi ke Gaina, dia terpukul mundur. *ZLEB* tiba-tiba ada yang menusuk bahu kiriku dari belakang. Sakit sekali. Begitu kulihat di belakang, ternyata Gaina tiba-tiba berada di belakang.

“Cih, Jadi segini saja kemampuanmu?” Ejek Erma di belakang ku.

Aku pun tidak bisa tinggal diam diejek begini terus. Tapi, apa yang aku bisa lakukan!

“Sekarang Giliranku!” Teriak Erma “Tarian Burung Merak! 10 Ekor!”

Seketika itu juga, aku melihat ada 10 tali kawat yang menjulur dan menggeliat di atas, dan di ujungnya, Oh tidak, belati yang diikat! Belati-belati itu pun diluncurkan oleh Erma kearah ku. Dan *SWUUUNG* aku berhasil menghindari 9 belati yang meluncur, namun *ZLEB* 1 belati lagi menusuk bahu kanan ku.

“Akhhh…” rintihku

“Makan dan tidur lebih baik daripada bertarung denganmu!” Teriak Gaina

Lalu Gaina melompat ke atas, dan mengarahkan Qatar kearahku, Seperti ingin menusuk dari atas. Akankah aku berakhir di sini?

“Sekarang bolehkah giliranku menyerang?” kataku

“Kau tidak akan memiliki kesempatan apa-apa lagi” Teriak Gaina “kau akan berakhir di ruang ICU!”

*ZLEEEB* “AUUUUUUU” teriak seseorang, tapi itu bukan aku, itu suara perempuan

“Sakit! Gaina! Kenapa Kau menusukku!” Teriak Erma yang tertusuk lengan kanannya

“Kok bisa?” Tanya Gaina kebingungan “Apa yang kau Lakukan? Padahal tadi jelas-jelas kau ada di bawahku!”

“Ini adalah rahasia keluarga kupu-kupu” kataku yang berdiri di ring basket “Teknik rahasia! Pengkhianatan Semut Pekerja, adalah Teknik Pertukaran secara cepat dengan benda lain, hingga aku bisa selamat dari tusukan itu!”

*Jresh* Erma pun mencabut tusukan Qatarnya Gaina, lalu membisikan sesuatu ke Gaina.

“Lenganku memang terluka” Kata Erma dengan tatapan dingin ke aku “Tapi masih ada tangan kiri”

“Kau banyak bacot!” Kataku sambil mengarahkan pedang kearah mereka “Hentikan pertarungan bodoh ini! Atau ada yang terluka!”

“Kau sudah terluka, Bocah!” Teriak Gaina

“Kalau begitu kau akan kubuat terluka!” Balasku “Karena kau belum terluka!”

“Sombong sekali” kata Erma “Kau kira aku tidak punya teknik rahasia!”

“Keluarkanlah teknik rahasia itu.” Tantangku “Aku Tidak merasa takut sama sekali”

Lalu Erma dengan tangan kirinya mengeluarkan kawat yang sangat panjang, sekitar 2 Km. Kawat ada di tangannya.

“Setelah Erma mengeluarkan teknik ini, kau akan berakhir di UGD!” Teriak Gaina

“Oh? Ya?” Pancingku

*JRESH* Aku pun melesat ke arah Erma, Sehingga kedua tangannya Terluka parah dan tidak bisa digunakan. Erma merintih kesakitan, sementara Gaina melihat geram. Hingga akhirnya Erma ambruk

“Kauu!!!” kata Erma geram “Bagaimana caranya? Kedua tanganmu sudah terluka, kau masih bisa menggunakan kedua tanganmu!” setelah mengatakan Erma mengatakan itu, dia tidak berkata-kata lagi. Dia hanya pingsan, setelah itu dia tertimbun oleh kawatnya sendiri yang kira-kira panjangnya 2 km

“Kau mau tahu caranya bagaimana? Ingat-ingatlah ini! Lupakan rasa sakit” Kataku, sambil menginjakan kaki di kepalanya

“Kau! Tidak Sopan!” Teriak Gaina geram

“Yang duluan tidak sopan siapa?” Balasku “Kau Selanjutnya!” Kataku Sambil menodong pedang kearah Gaina

Gaina terlihat ketakutan tapi dia bukannya mundur, dia malah menghunuskan Qatarnya kearah aku

“Aku, akan membalaskan dendam temanku!” Kata Gaina yang telah bersiap untuk battle

“Ini tidak akan berlangsung lama” kataku.

*TRANG**TRANG**TRANG**TRANG**TRANG**TRANG*

Gaina terpukul mundur kearah perpustakaan, sementara aku berada di belakangnya, bersiap untuk menusuknya dari belakang. *JRESH**JRESH* kedua bahu Gaina kutusuk, ini berguna supaya tangan dia tidak bergerak lagi. Gaina berteriak kesakitan, setelah itu teriakannya hilang. Dia pingsan.

“Huh, beginilah akhir dari orang yang SOK!” Kataku sambil menginjak kepala Gaina

Dengan ini resmilah aku menjadi pemenenangnya. Tapi, entah kenapa. Pandangan seakan semakin pudar. Semakin kelabu, hitam, kelam, PEKAT! *BRUGH*

Mungkinkah aku mati? Kurasa tidak, karena rasa sakit memberitahuku kalau aku belum mati. Tapi, aku merasa ada yang lembut di bahuku, apa itu, sedingin air?  Sehangat Es?

“UWAAAA!!” Teriakku.

“Hey, Pelan-pelan sajalah, kau masih belum sembuh.” Kata seorang wanita itu

“Di mana aku?” aku melihat sekeliling, tampaknya di UKS, aku melihat Erma dan Gaina terbaring di sana juga.

“Tampaknya kau sudah tahu dimana ini kan?” Jawab wanita itu.

“Ya… ini di UKS, kan?” jawabku

“Kalau kau sudah merasa sembuh, silahkan balik ke kelasmu” Perintah wanita itu “Aku pun harus kembali ke kelas.”

“Ngomong-ngomong soal kelas, memang kamu kelas berapa?” tanyaku

“Lho, memang kamu tidak melihatku ketika masuk kelas? Aku ini sekelas denganmu, X-9.” Jawab wanita tersebut.

“Wew, kebiasaan buruk aku tidak memperhatikan lingkungan, hehe.”

Kami pun masuk ke kelas kami, disusul selanjutnya Erma dan Gaina, Mereka kemudain meminta maaf kepada ku karena telah mengajak duel denganku.

“Maaf ya, Ris. Aku ingin duel denganmu karena ingin melihat kekuatan pedang pelangi, itu saja” Kata Erma

“Betul, aku yakin sekali, yang tadi itu belum semuanya dikeluarkan, kan? Kalau semuanya dikeluarkan, kami belum tentu selamat!”

“Yah.. kalian sudah kumaafkan” Kataku

Lalu aku duduk di bangku bersama Furqon, dan bertanya apa acara selanjutnya.

“Acara selanjutnya adalah perkenalan, Job dan lain-lain” jawab Furqon


Next Chapter: Introduce!


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Faris. Matur nuwun Mbak SAW yang memperkenalkan Ananda ke sini, berbagi bersama, mengasah bersama kemampuan menulis dan mengapresiasi karya kita semua. Baltyra.com adalah rumah dari berbagai kalangan dan usia. Semoga tidak kapok dan ditunggu lanjutannya cerita apik nan seru ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.