Inspirasi dari Ayah (Hari untuk Anakku)

Dinar Manaf


Dipegangnya handycam pemberian pakleknya itu. Mereka berdua memilih kamar tidur sebagai tempat berawalnya aksi acting mereka. Ditaruhnya handycam baru itu di atas meja belajar. Lalu ditekannya tombol rec di sisi kanan dan mereka bersiap untuk merekam.

” Hai… namaku Flora. Umurku 14th dan ini adikku yang paliiiiing kusayang ” Flora mencoba memulai aksi kamera mereka. 5 detik sudah, waktu mereka berlalu. Namun tak ada sautan juga dari mulut adiknya. Flora melongo melihat adiknya yang masih asyik ngupil di sampingnya itu dan tak kunjung juga menyadari kakaknya yang sudah lama memperhatikan tingkahnya. Lalu Flora menekan tombol stop !

” Adek ! yaelah, ngapaiiiin ? udah mulai nih “

” Hah ? udah mulai ya kak ??… sorry!!! Oke, kita ulangi lagi aja ya, kak !!! ” jawabnya menggoda. Flora sensi. Lalu kembali ditekannya tombol rec . Penuh keceriaan mereka mencoba beraksi.

” Hai… namaku Flora. Umurku 14th dan ini adikku yang paliiiiing lucu “

” Lhoh kak, kok diganti lucu sih ? Emangnya aku ngapain ? ” sahut adiknya protes

” Yaelah, adeeek, udah direkam nih. Berarti tadi kamu denger donk ? ” Flora balik protes. Ditekannya lagi tombol stop. Sementara itu adiknya cengengesan melihat kakaknya yang sensi. Bocah laki berambut ikal itu puas mengerjai kakaknya yang semakin cemberut ”Kali ini pokoknya harus berhasil, oke ?” gertaknya.

” Janji!!! Aku akan membantu kakak bikin video ini menjadi yang paliiiiing menarik dan tentunya sangat, berkualitas !” jawabnya kepedean. Flora tersenyum malu. Tombol rec ditekannya kembali dan handycam siap merekam aksi mereka

” .Hai… namaku Flora. Umurku 14th dan ini adikku yang paliiiiing gokil “

” Dan aku Rian umurku 9th, kakakku yang cantik ini adalah musuh terbaikku ! ” Flora manyun melihat aksi adiknya. Mata mereka saling bertatapan. Lalu gelak tawapun menghiasi mulut mereka !

*******

Jam dinding menunjukkan pukul 11 siang WIB. Mereka duduk-duduk di samping rumah, memberi makan burung-burung merpati sambil menunggu bunda dan ayahnya pulang. Bunyi mesin motor terdengar ditelinga mereka. Buru-buru mereka berlari menghampiri bundanya yang baru saja pulang mengajar SD di desa sebelah.

” Selamat siang sayaaang !!! pak’e mana, udah pulang belum ?” sapanya penuh keharmonisan sambil menciumi kedua buah hatinya itu. Flora dan Rian segera mencium punggung telapak tangan bundanya. “kayaknya sih bentar lagi bunda ” jawab Flora. Belum lama mereka membicarakan ayahnya, dari sudut pertigaan,  ayahnya tersenyum manis melihat mereka bertiga. Ayahnya baru saja pulang mengajar juga dari SD didesa mereka sendiri.

Hayooo…. tebak siapa yang tau ini kartu apa ?” pak Imam mencoba memberikan teka-tekinya kepada mereka.

” Kupon berhadiah ya Pak ?” jawab Rian

” Bukan, Yan. Itu karcis !!!” sahut Flora.

Hahahahah… iya. Ini kado untuk kalian…. tiket masuk Taman Kartini. Nanti sore kita ke sana oke ?”

” Asyiiiiiikkkk….” Flora dan Rian melompat-lompat kegirangan. Sementara itu bundanya tersenyum manis melihat kedua anaknya yang super aktif itu. Mereka sudah tak sabar lagi ingin bermain ombak, berenang di kolam putri duyung, memancing ikan, naik perahu dan bermain pasir pantai.

*******

Ba’da asar mereka memasuki kawasan Taman Kartini kota Rembang. Mereka mencicipi semua fasilitas yang ada di taman itu. Rian adalah yang paling iseng menayai semua orang yang ditemuinya. Rasa keingintauannya itulah yang membawanya menjadi sosok anak yang kreatif dan sangatlah aktif. Selain bermain yang menjadi tujuan utamanya, dia juga belajar banyak tentang sejarah pahlawan yang satu ini. Ibu RA Kartini, begitulah mereka mengenalnya. Karena kedua orang tua mereka berprofesi sebagai Guru. cukup mudah baginya menjelaskan sejarah berdirinya Taman maupun benda-benda bersejarah di sana kepada kedua buah hatinya itu. Mereka sengaja membawa gadis cantik dan putra kecilnya itu ke Taman Kartini agar mereka juga mengenal budaya dan sejarah di daerahnya.

Cukup piawai Rian melancarkan serangan-serangan pertanyaannya itu kepada kedua orang tuanya. Flora yang dari tadi cuma mendengarkan dan memperhatikan kedua orang yang disayangnya itu saling bercerita, kini dia mencoba untuk beradu argumen dengan ayahnya.

” Pa,.. kenapa ya, generasi kita koq, kayaknya agak kurang tertarik dengan kehidupan sejarah ? Padahal kan itu sangatlah penting. Agar kita mengetahui asal-usul budaya bangsa ini ? “

” Banyak alasan yang bisa diberikan.  Setiap orangpun berbeda-beda. Yang paling penting, putri kecilku ini berusaha membiasakan diri untuk tidak memberikan judgement kepada mereka. Ataupun berkomentar yang tidak perlu. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah mempelajari apa yang ingin kamu ketahui. Galilah bakatmu dan carilah informasinya. Dengarkan, perhatikan, pahami dan lakukan apa yang ingin kamu lakukan dengan tidak mengesampingkan begitu saja pendapat orang lain. Dan tentunya yakinlah pada kemampuanmu. Kuncinya ada ditanganmu sendiri yaitu kemauan. Oke ? kelak dewasa nanti kamu akan mempunyai kualitas hidup yang bisa membuat cerita perjalanan hidupmu ini menjadi lebih menyenangkan dan penuh inspirasi bagi generasimu dan kelak bagi keluargamu ” Ayahnya mencoba menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan adalah kekurangan dirinya sendiri sebelum mencari-cari kekurangan orang lain.

Langit mulai gelap dan meraka memutuskan  pulang ke desa

*******

Jam dinding rumah mereka menunjukkan pukul 21:00 WIB. Seperti biasa sebelum tidur, mereka selalu mengadakan pengakuan dosa yang dilakukannya di sepanjang hari itu.

” Ya Tuhan,.. maafkanlah aku karena hari ini telat membawa tiket untuk keluargaku” pak Imam memulai pengakuannya sambil menengadahkan kepalanya

” Hari ini aku kurang sabar menunggu suamiku pulang hingga aku menjadi gugup. Ampunilah hambamu ini Tuhan ” suara yang jujur itu keluar dari mulut ibunda

” Ya Tuhan… maafkanlah aku karena hari ini aku marah-marah sama adikku ” lanjut Flora

“Tuhan. Hari ini aku jail lagi sama kakakku. Tapi kalo nggak gitu, kurang seru sih ! heheheheh… Maafkan aku ya Tuhan ? ” Mereka berempat kemudian saling berma’af-ma’afan.

Flora dan Rian menuju kamar mereka

” Selamat hari anak ya sayang ” pak imam dan ibunda saling mengucapkan kata itu secara bergatian untuk buah hati mereka. Flora dan Rian memeluk kedua orang tuanya sebelum mereka pergi tidur

*******

” Eh, dek bapak sama bunda nggak tau kan, kalau kita merekamnya hari ini ? ntar video ini, kita kirim ke kak Aji, anaknya paklek di Semarang, Ok !!!” tanya Flora cemas

” Beres kak.. cause everythings gonna be ok !” jawab Rian sambil menirukan gaya Bondan Prakoso

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.