Kapolri, Kurma dan Duren

Prabu – Jakarta


prabu_baltyra.com – Berita raibnya Kapolri telah memunculkan berbagai spekulasi di negeri ini. Menyusuli pada hari Jum’at (13/08), saat lima pati Polri yang sudah dandan rapi, gagal dilantik disebabkan Kapolri tidak hadir.

”Bapak Kapolri dan Wakapolri ada dinas di luar Mabes. Jadi, acara sementara ditunda,” kata Edward yang sedianya akan menyerahkan jabatannya pada Brigjen Iskandar Hasan itu. Wakadivhumas Mabes Polri Kombes Ketut Yoga menambahkan, acara Kapolri adalah acara bersama Presiden. ”Saya tidak tahu agendanya apa, tapi memang bersama bapak Presiden.”

Tapi, penjelasan Ketut dibantah oleh juru bicara presiden Julian Aldrin Pasha. ”Tidak benar berita yang mengatakan Kapolri dipanggil Presiden. Dari pagi, Bapak Presiden di kantor Presiden. Tidak ada pertemuan dengan Kapolri”.

Dengan munculnya pernyataan dan bantahan itu, maka media heboh dengan memberitakan Kapolri hilang.

Hingga berita ini ditulis, pencarian terhadap Kapolri masih berlanjut. Jadi di bulan puasa ini, sejatinya tak cuma kurma yang banyak di cari, tetapi juga Kapolri.

OK. Kita enggak penting membahas hilangnya Kapolri. Tetapi yang akan kutulis di sini soal kurma dan duren sebagai menu buka puasa.

Di bulan puasa ini sering kita dengar di tiap ceramah para ustadz, untuk menyegerakan berbuka ketika tanda waktu berbuka puasa telah tiba. Juga disunnahkan untuk berbuka dengan kurma seperti yang dilakukan Rasulullah.

Namun apa jadinya jika saat berbuka puasa tiba, sementara kurma tak tersedia di meja?

Rupanya hal demikian pernah aku alami. Pada hari ke tujuh ini, isteriku tak menyediakan kurma. Lalu aku bertanya, “Tumben kurmanya enggak ada?”

“Iya, udah habis sejak sahur tadi, Aa.”

“Yang, Aa kan enggak bisa langsung makan nasi saat berbuka. Kenapa enggak beli sebelum persediaan habis?” protesku.

Mendengar perkataanku yang demikian, yayangku hanya menunduk tiada berkata-kata. Gesturnya pun menunjukkan  kekeliruannya. Dengan melihat hal demikian, maka aku tak tega untuk melanjutkan protesku. Bulan puasa tak elok untuk protes. Lalu aku teruskan untuk berbuka dengan minum segelas susu dan sepotong agar-agar. Diiringi doa, asupan makanan ini cukuplah mengembalikan stamina tubuhku. Setelah membatalkan puasa aku mengambil air wudhlu dan diikuti yayangku untuk shalat Magrib.

Selesai shalat jiwaku terasa segar. Ketika hendak beranjak, tiba-tiba yayangku membisikanku, “Aa, maaf jika yayang tadi tidak bisa menghidangkan kurma. Tapi bagaimana jika diganti dengan duren?”

Tanpa berpikir lagi, kugendong yayangku memasuki kamar tidur kami. Dalam hatiku berseru, “Wow… berbuka puasa dengan duren. Ini baru ruarrr biasa!

*****

PS. : Dulu, aku pernah menuslis artikel “Belah Duren”. Dan sejak artikel itu di muat di sini, yayangku selalu mengatakan, “Aa, mau duren?’, jika ingin ‘nganu’. (hehehe… JC nganu itu opo?)


Ilustrasi: kringetdingin wp

About Prabu

Sosok misterius yang sejak kemunculannya tidak banyak orang yang mengenalnya. Walaupun misterius, sosok satu ini sekaligus ramah dan sangat terbuka pertemanannya. Sang Prabu dan Permaisuri sering blusukan menyapa kawula BALTYRA.com dan menggebrak dunia, kebanyakan dengan coretan karikaturnya sekaligus artikel-artikelnya yang bernas, tajam dan berani.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *