Menyusuri Seruyan I (Antara Hutan dan Kebun Sawit)

Handoko Widagdo


19-22 Agustus 2010

Perjalanan dari Pangkalan Bun ke arah Sampit kini telah mulus. Jika tiga tahun lalu jarak dari Pangkalan Bun ke Pembuang Hulu ditempuh selama empat jam, kini bisa tembus dalam waktu dua jam saja. Dari Pembuang Hulu perjalanan kami lanjutkan dengan terus menyusuri jalan ke arah Sampit. Baru pada Simpang Bangkal kami berbelok ke kiri. Kami mengikuti jalan negara yang baru dibagung di antara sawit. Mulanya jalan ini mulus (bisa dilewati 4 jajar mobil). Namun setelah kira-kira 1 jam perjalanan, jalanan mulai berkubang-kubang. Beberapa kali mobil kami harus berhenti sejenak untuk mengkalkulasi jalan mana yang harus dilewati supaya tidak terperangkap lumpur. Bahkan saat pulang, saya harus dibonceng sepeda motor karena mobil kandas dan tak bisa menjemput ke kampung.

Sepanjang perjalanan hanya kebun sawit yang diselingi karet yang menemani kami. Ada sawit yang sudah produksi, ada yang baru ditanam. Saya yakin jika kelak semua sawit ini telah berproduksi, kita akan menggeser posisi Malaysia sebagai penghasil sawit terbesar di dunia. Sawit memang menjanjikan bagi perekonomian Indonesia dan bagi penyediaan lapangan kerja. Jika saja pengaturan penempatan kebun sawit baik, maka manfaat besar akan bisa diraih Indonesia. Namun sayangnya, sampai saat ini, pembukaan kebun sawit lebih banyak menggunakan kawasan hutan yang masih bagus.

Gubernur Kalteng menyampaikan bahwa ada 700 ribu ha kebun sawit yang telah beroperasi tapi masih berada di kawasan hutan. Kebun tersebut diusahakan oleh 158 ijin usaha dari 332 ijin usaha yang dikeluarkan (Borneo News, 23 Agustus 2010). Artinya hampir separoh usaha sawit di Kalteng berada di kawasan hutan. Beberapa kalangan mencurigai bahwa pemilihan hutan yang masih bagus memang disengaja karena mengincar kayunya. Seorang teman yang bekerja di perusahaan sawit pernah menjelaskan kepada saya bahwa dari kayu tersebut, perusahaan bisa mendanai 3-5 tahun pengembangan awal kebun sawitnya. Cerdas, cerdik atau licik?

Kampung Telaga Pulang adalah Kota Kecamatan. Kampung ini tepat berada di tepi Sungai Seruyan. Dulu, tiga tahun yang lalu, jalur utama transportasi di Telaga Pulang adalah Sungai Seruyan. Namun kini, setelah jalan sawit dibuka, jalur transportasi utama telah berpindah dari air ke darat. Jalan di dalam Kota Telaga Pulang sebagian sudah mulai beraspal. Tiga tahun yang lalu tak kutemui sepeda motor di kota ini, apalagi mobil. Hanya kelotok dan speedboat yang tertambat di dermaga atau pancang-pancang rumah yang menghadap ke sungai. Kini hampir setiap rumah telah memiliki sepeda motor. Beberapa memiliki mobil. Rumah-rumah pun kini telah menghadap jalan. Beberapa rumah mempunyai dua muka. Satu muka menghadap ke sungai, sementara muka satunya menghadap jalan. Jadi rumah-rumah tersebut tak memiliki bagian belakang.

Dalam suatu kesempatan saya berbincang dengan salah satu pemuda desa. Sambil menjaga anaknya yang berumur satu setengah tahun, dia menjelaskan bahwa dia baru saja keluar dari pekerjaan di kebun sawit. Ketika aku tanyakan penyebabnya, dia bilang karena kerja di kebun sawit tidak bisa sholat. Apakah sholat dilarang, saya bertanya. Sholat tidak dilarang, tapi waktu yang diberikan terlalu pendek. Untuk sholat dhzuhur waktunya bersamaan dengan istirahat makan siang, jadi terlalu terburu-buru.

Sementara untuk sholat Jumat, harus dilakukan setelah jam 12, karena waktu rehat kerja adalah mulai jam 12 siang. Biasanya dia sholat bersama dengan jamaah yang ada di kampung. Padahal lokasi kerja dengan kampung agak jauh. Di kebun tidak disediakan mushala atau masjid, jadinya dia sholat Jumat di barak. Menurut dia suasana ini sungguh tidak nyaman. Padahal manajernya juga muslim, tapi sang manajer tidak memperhatikan kebutuhan semacam ini. Saya terharu ternyata anak muda ini masih memperhatikan urusan sorga melebihi pekerjaan. Seandainya perusahaan bisa sensitif terhadap kebutuhan semacam ini…

Bersambung…

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.