Orang Indonesia, Orang Pelaut?

Anwari Doel Arnowo


Menurut catatan, Ibu Sud adalah istri pengusaha R. Bintang Sudibyo, mengarang dan menuliskan lagu ini yang berjudul PELAUT, dan berikut ini adalah kata-kata dalam lirik lagu tersebut:


nenek moyangku orang pelaut – gemar m’ngarung luas samudra

menerjang ombak tiada takut – menempuh badai sudah biasa


angin bertiup layar terkembang – ombak berdebur di tepi pantai

pemuda b’rani bangkit sekarang – ke laut kita beramai-ramai


Saat sekarang kata-kata yang tercantum di atas, sungguh tepat waktu bagi semua orang Indonesia untuk mencermati kembali dan mengikuti anjurannya: pemuda b’rani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai.

Tiga tahun yang lalu di Selat Malaka dan Singapura, sebuah upaya perompakan telah batal terjadi. Tanggal 6 April 2005 sebuah kapal tanker minyak berkapasitas angkut 150000 (seratus lima puluh ribu) Deadweight Ton milik Jepang yang mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia menuju negaranya, dalam cuaca hujan lebat dan horizon pandangan yang pendek, telah dijahili oleh tidak kurang dari tujuh buah kapal kecil yang datang mengepung.

Anak buah kapal-kapal ini berusaha untuk naik ke atas kapal tanker dan mereka bisa dihalangi maksudnya dengan cara cerdik, karena kapten kapal tanker telah menambah kecepatannya beberapa knots saja. Kalau kita menilik daerah di mana kejadian tersebut telah berlangsung, maka kemungkinan bahwa para perompak itu adalah dari asal ras Melayu, entah Indonesia atau Malaysia atau Melayu Singapura. Letaknya di daerah yang sebenar-benarnya “dikuasai” oleh ras Melayu atau Malay.

Baru-baru ini, sekitar sebulan lalu terjadi perompakan kapal yang ukurannya jauh lebih besar: SIRIUS STAR yang berbobot mati hampir 320000 (tiga ratus dua puluh ribu) Ton, milik Saudi Arabia yang sedang berlayar menuju Amerika Serikat. Perompakan terjadi di perairan sebuah negara Afrika Timur bernama Somalia.

Sirius Star adalah sebuah kapal tanker bermuatan minyak mentah, berbadan kembar (double-hulled oil tanker) dengan panjang seluruhnya (length overall –LOA) 332 meter (1,090 kaki), Lebar (breadth – B)  58 meter (190 kaki), Dalam (depth – D) 31 m. (100 ft), draft (draft – d) 22 meter (72 kaki). Kapal ini sanggup dimuati dua juta barrel minyak mentah (crude oil). Muatan kargonya mampu menampung 318,000  metric ton deadweight (DWT). Kapal seperti ini tergolong ke dalam klasifikasi very large crude carriers (VLCC).

Kapal ini dibangun oleh Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) di Okpo, Geoje, Korea Selatan. Upacara perletakan lunas (keel laying) dilakukan pada tanggal 29 Oktober, 2007. Kapal ini adalah kapal yang ke seratus sebagai kapal berklasifikasi VLCC yang dibangun oleh DAEWOO (DSME). Sirius Star diluncurkan oleh Huda M. Ghoson pada tanggal 28 Maret, 2008. Baru pertama kali inilah dapat dicatat bahwa seorang wanita Saudi melaksanakan upacara peluncuran sebuah kapal dan mewakili Vela, perusahaan yang menjadi pengelolanya.

Berita besar seperti ini bagi kebanyakan orang Indonesia, saya duga dengan kuat, hanya menarik karena masalah perompakannya dan bukan karena detailed description (gambaran mendetil) dan Principal Particulars mengenai Sirius Star seperti tertulis di atas. Panjangnya yang 300 meter lebih adalah bukan main-main. Berapa tingginya Monumen Nasional di Lapangan Merdeka Jakarta? 137 meter atau dua kali tinggi Monas masih kurang 68 meter (setengah tinggi Tugu Monas) lagi. Berapa panjang sebuah lapangan soccer (bola sepak)?? 91.444 meter (100 yard) dan lebarnya 54.854 meter (60 yard), apakah artinya?? Hampir dua setengah buah lapangan bola sepak bisa di”taruh” diatas kapal Sirius Star.

Lagi pula kapal ini berumur masih amat muda yakni hanya sekitar satu tahun.

Ukuran kapal yang seperti ini, menyebabkan Sirius Star bukan di sembarang tempat bisa berlabuh, untuk membongkar muatan atau memuat muatannya yang berupa minyak mentah sebanyak dua juta ton. Anda boleh membayangkan berapa besar sih dua juta ton minyak itu bisa ditampung, misalnya berapa buah tangki stationair yang biasa kita lihat di daratan Sungai Gerong, Sumatera Selatan? Nah sebanyak itulah minyak yang bisa dibawa-bawa oleh sebuah alat apung di tengah samudra yang gelombangnya tinggi-tinggi dan diombang-ambingkan ombak (yawing dan sagging) ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah.

Berapa banyak orang Indonesia yang bisa terpesona dengan benda seperti ini yang telah ikut melangsungkan kehidupan modernnya, dengan memasok minyak untuk kebutuhan hidup antara lain penerangan listrik dan transportasi. Benda-benda ini adalah hasil pemikiran karena kemajuan jaman modern. Kita membutuhkan distribusi pangan, bahan makanan, dan bahan baku penunjang perlengkapan makanan kita sehari-hari. Itu semua membutuhkan sarana transportasi berupa alat angkut di darat, di sungai, di danau dan di laut serta di udara.

Oleh karena negara kita terdiri dari pulau-pulau yang banyaknya mencapai ribuan, bukan lima ribu pulau, bahkan bukan pula sepuluh ribuan pulau tetapi lebih dari itu. Dengan perhitungan terakhir nanti terhitung setelah dua tahun sejak sekarang, mungkin akan mencapai angka hanya di bawah 14000 pulau. Meskipun demikian Indonesia, yang meliputi wilayah berdaulat NKRI, masih merupakan sebuah negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan gugusan pulau-pulaunya yang seperti digambarkan oleh para sastrawan. Seperti untaian ratna mutu manikam di sepanjang khatulistiwa, itulah kata-kata para pujangga yang memuja kepulauan Nusantara.

Semua perdagangan dan angkutan penumpang antar pulau sungguh amat membutuhkan kapal dari segala ukuran, meskipun untuk kepentingan domestik, tidak perlu menggunakan VLCC. Kapal kayu dan terutama sekali dianjurkan perlunya pemakaian sebanyak mungkin kapal besi baja, harusnya menjadi pendukung utama kegiatan angkutan laut. Angkutan darat dan udara pasti juga perlu, tetapi akan terlihat bahwa penghematan akan bisa dicapai, apabila sebanyak mungkin bisa dilakukan menggunakan angkutan laut.

Penghitungan masalah ini pernah dilakukan pembandingan dengan menggunakan parameter jarak tempuh, daya tenaga kuda (Horse Power) mesin, pemeliharaan jalan darat dengan biaya pemeliharaan sarana angkutan laut. Untuk jangka panjang telah terlihat dari angka-angka perhitungan yang didapat, bahwa angkutan air, sungai, danau maupun laut, kapal amat menonjol SEBAGAI SARANA YANG MURAH untuk mendukung semua pengangkutan lain, yakni darat dan udara.

Mungkin dapat kita pikirkan bahwa yang pernah dipelopori oleh PN PELNI yang mengoperasikan kapal-kapal penumpang pesanan dari Jerman, yang diberi nama-nama gunung seperti: Kambuna, Kerinci, Umsini dan lain-lain. Saya sungguh mengharapkan lebih banyak yang seperti ini tetapi yang juga mampu menampung mobil penumpang maupun truk-truk pengangkut barang di dalamnya, seperti kapal-kapal ferry jarak dekat, tetapi sanggup menempuh perairan wilayah dalam (inner seas) di dalam Nusantara.

Bahkan rute Jakarta Surabaya, kalau ada sarana pengangkutan kapal penumpang dan mobil pasti akan lebih disukai, daripada perjalanan darat yang menggunakan mobil sendiri. Berangkat dari Tanjung Periuk Jakarta dan sekitar dua belas jam kemudian bisa sampai di Tanjung Perak, Surabaya. Karena Laut Jawa itu termasuk laut yang tenang, sedikit gelombang di permukaannya, atau besar gelombangnya tidak akan mengganggu kenyamanan dan kelancaran perjalanan kapal-kapal yang disebutkan di atas tadi, maka jalan darat juga akan berkurang tekanannya dalam jumlah kendaraan yang berlalu-lintas melaluinya.

Sudah terlalu lama impian bepergian seperti ini, tidak terbayangkan dalam benak kita, kita selalu hanya bisa membayangkan perjalanan dengan kereta api dan bus yang ber air conditioning sebagai idaman. Meskipun menjadi idaman, kita mengabaikan bagaimana guncangan mobil dan gerbong kereta serta ketidak nyamanan lain dari perjalanan seperti yang selama ini kita kenal. Padahal di tengah-tengah laut itu adalah tempat bebas debu dan suara, karena yang akan terdengar hanyalah desir angin dan suara desah air yang diterjang oleh kapal. Para penumpang bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang seperti biasa dilakukannya kalau sedang berada di daratan. Olah raga, dan main band serta menyanyi bersama, bukan halangan.

Sungguh amat menyenangkan dan juga amat menenangkan pikiran. Keamanan berlalu-lintas? Di daratan, dalam hal musibah kecelakaan kereta api atau bis, serta di laut apabila ada kapal tenggelam pasti amat mengerikan melihat berapa jumlah korbannya. Yang disebut kecelakaan dan musibah kan sama saja. Akan tetapi jumlah korban kecelakaan karena kecelakaan kendaraan bermotor roda empat dan roda dua, tidak terperikan banyaknya. Kalau masalah kecelakaan seperti ini per penumpang dan per kilometer dibandingkan antara angkutan laut dan darat, maka mata kita bisa terbelalak, karena luarbiasa banyaknya jumlah kecelakaan yang telah terjadi di darat.

Sekarang mari kita tinjau kekuatan bahari di seluruh dunia.

Dengan Economic Downturn (kemerosotan tajam ekonomi) pada bulan-bulan akhir tahun 2008, maka akan ada perubahan terhadap kondisi ini. Kondisi Amerika Serikat yang merajai dunia Armada Militer di seluruh dunia, dengan sebutan dalam bahasa Latin: Primus inter pares, Yang Pertama di antara Yang Setingkat, atau Yang Pertama di antara Yang Sederajat, sebuah ungkapan yang tepat menggambarkan bahwa Amerika Serikat adalah yang paling senior di dalam masalah ini.

Perubahan yang diramalkan akan terjadi dalam beberapa puluh tahun yang akan datang adalah sebagai berikut.

Seperti kita ketaui, China dan India adalah dua negara yang sedang marak berkembang ekonominya yang luar biasa. Dua negara Raksasa ini, China dengan 1330 juta penduduk dan India dengan 1147 juta penduduk, adalah negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia nomor satu dan nomor dua. Data angka-angka tadi berdasarkan yang dimuat di CIA The World Factbook bulan Juli 2008. Amerika Serikat, sebagai penyandang nomor tiga dan Indonesia, sebagai penyandang nomor empat memiliki populasi sebanyak: 303 juta jiwa dan 237 juta jiwa.

Empat negara berpenduduk terpadat di dunia inilah yang akan kita amati dalam bidang armada kapalnya.

Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, armada yang terkenal dan berjumlah banyak sekali hanya dimiliki Amerika Serikat. Meskipun ada pemeo atau pepatah yang mengatakan bahwa Britain Rules The Waves, pada kenyataannya selama lebih dari enam puluh tahunan, Amerika Serikat tetap memegang rekor sebagai pemilik armada yang terkuat dan terbanyak dan yang beredar di seluruh dunia.

China dan India yang menduduki sebagian besar dari seluruh daratan benua Asia, belum pernah dianggap penting dalam besaran armada Angkatan Lautnya. Mengingat pendapatan per Capita di China dan India yang rendah dibanding dengan Amerika Serikat, maka kita memaklumi bahwa lemahnya kekuatan armadanya, tidak akan setanding. Menurut buku yang sama, pendapatan dengan angka perkiraan tahun 2007, pendapatan per kapita Amerika Serikat adalah 45 ribu USDollar, China: 5500 USDollar, India 2300USDollar dan Indonesia 3600USDollar.

Dengan mengetaui data-data tersebut maka kita kalau masih hidup di dunia pada tahun 2050, kemungkinan kita akan menyaksikan bangunnya China dan India dalam bidang kelautan dengan membesarnya armada kedua negara ini.

Pada saat ini didapat data adanya kegiatan baru bahwa India sedang membangun dua buah Kapal Induk yang memuat pesawat-pesawat tempur yang tangguh, sebagai pratanda bahwa India akan memasuki era sebagai negara adidaya. Juga kapal-kapal penjelajah dan destroyers. Ada beberapa corvettes yang mempunyai senjata-senjata penghancur kapal selam. Dengan dibangunnya alat-alat apung yang maha perkasa ini, maka India memastikan dirinya berjalan mengarah untuk mejadi penguasa di Samudra India yang luas itu.

Pada saat yang sama China juga menyiapkan dirinya dengan membangun sebuah Kapal Induk yang perkasa disertai juga dengan sejumlah frigate dan destroyer yang akan membuat Angkatan Lautnya bisa berubah warna menjadi sebiru seperti samudra layaknya. Hal ini dikirakan akan menjadi kenyataan pada sekitar tahun 2020an.

Meskipun ada pernyataan dari seorang Admiral Amerika Serikat bernama Timothy Keating yang jabatannya adalah Commander of the US Pacific Command, bahwa dia amat yakin seyakin-yakinnya bahwa China tidak mungkin akan bisa mengalahkan Amerika Serikat dalam hal ini, itu hanya merupakan pandangan sepihak dari Amerika Serikat saja saat ini.

Dengan berjalannya waktu, semua hal atau semua sistem yang ada di dunia ini haruslah siap diri untuk berubah atau dirubah baik sukarela maupun dipaksa. Amerika yang sekarang sedang terengah-engah karena economic downturn, tidak boleh lengah dan pongah terlalu lama. Kejadian-kejadian yang berturut-turut telah membuktikan bahwa sistem yang dianutnya mulai porak poranda. Kecurangan perdagangan saham fiktif di Wall Street telah terbongkar, sesuai dengan pengakuan pelaku utamanya bernama Bernard L Madoff, 70 tahun. Sebuah usaha yang dipercayai sebagai sesuatu yang solid ternyata hanya sebuah penipuan selama sekian puluh tahun dan meliputi jumlah yang sampai mencapai 50 miliar USDollar.

Semua harus bisa memberikan toleransi untuk perubahan.

China dan India telah merangsek maju dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Dari kondisi minus sekarang mencapai kemajuan yang teramat sangat berkelanjutan. Bisa menghidupi jumlah rakyat kedua negara ini saja, yang jumlah jiwa penduduknya telah mencapai hampir sekitar 40% (empat puluh persen) jumlah jiwa manusia penduduk Planet Bumi. Upaya yang bisa mengarahkan sekian banyak manusia menuju kehidupan yang layak adalah usaha yang amat mulia.

Sekarang sampailah kita meninjau keadaan kekuatan bahari kita, di lautan. Panjang pantai seluruh kepulauan Nusantara yang ada sama dengan 54716 kilometer, sedang China hanya mempunyai 14500 kilometer, India mempunyai 7000 kilometer dan Amerika Serikat mempunyai 19924 kilometer.

Sebagai bandingan sebuah negara yang terlihat mempunyai pantai yang panjang sekali seperti Chile di Amerika Selatan bagian Barat, hanya mempunyai 6435 kilometer panjang garis pantai. Kanada, sebagai negara yang terluas daratannya nomor dua yang kira-kira mempunyai luas tanah sebesar lima kali luas tanah Indonesia, mempuyai panjang pantai: 202080 kilometer. Rusia, sebagai negara yang wilayahnya terluas di seluruh dunia, sekitar hampir dua kali Kanada, mempunyai panjang garis pantai: 37653 kilometer.

Jadi garis pantai yang dipunyai sebuah negara yang paling panjang adalah Kanada: 202080 kilometer dan nomor dua adalah Indonesia yang panjangnya 54716 kilo meter. Kanada adalah negara empat musim dan sebagian besar muka tanahnya ditutupi oleh salju dan es kekal abadi sepanjang tahun. Sebagian besar daerahnya hanya mengalami panas matahari seperti halnya di Indonesia hanya dalam dua bulan saja. Sedang Indonesia mempunyai cuaca panas sepanjang tahun dan pantainya sungguh bisa menampung segala kegiatan bahari seperti perdagangan, perindustrian hasil laut dan tentu saja pariwisata.

Uraian terakhir ini membukakan mata kita bahwa Indonesia berpotensi tinggi dalam kehidupan kelautan penduduknya kalau saja pemerintahannya mau mengubah mindset terhadap apresiasinya dalam memiliki wilayah seperti Nusantara, seperti negara kepulauan, Archipelago. Jangan biarkan terlalu lama Angkatan Laut kita hanya mempunyai anggota hanya sekitar 20000 (duapuluh ribu) orang dan Marinir hanya sekitar 11000 (sebelas ribu) anggota. Besarkanlah Angkatan laut kita menjadi lima kali jumlah anggota Angkatan Darat, yang seharusnya jumlahnya itu kecil saja.

Bukankah Marinir juga akan efektif bila ada peperangan di darat? Besarkanlah Marinir kita setara dengan Angkatan Laut. Sering kali menjadi pertanyaan di dalam batin saya, kalau misalnya Kepulauan Natuna diserbu dan diduduki oleh China, bahkan mungkin sekali oleh Malaysia sekalipun, seberapa bisakah kita mempertahankan wilayah kita yang kaya itu?? Natuna , dimanakah kau terletak, itu mungkin pertanyaan lumrah bagi generasi muda sekarang. Mereka banyak yang lebih mengetaui lebih jelas tentang Los Angeles atau Singapura daripada Natuna dan Teluk Buyat atau Pulau Kai dan Sorong. Lalu Natuna mau dipertahankan dengan apa? Jumlah Marinir kita kan lebih sedikit dari jumlah pulaunya. Untuk pengetauan saja: Kedutaan-kedutaan Amerika Serikat itu, di seluruh dunia, dijaga oleh Marinir, bukan Angkatan Darat!!

Departemen Kelautan sudah punya, tetapi “prestasinya” adalah: Menterinya pernah diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara. Karena apa? Karena menyuap team atau personil atau anggota Team Sukses Capres dan Cawapres selama pemilihan empat tahun yang lalu. Yang menjadi keinginan saya utama sekali adalah agar pengaturan Industri Perkapalan, baik bangunan baru maupun reparasi kapal seharusnya berada di bawah supervisi satu Departemen saja, misalnya Departemen Perindustrian, tidak ada lagi campuraduk dengan Departemen Perhubungan dan yang dikenal dengan BPPT. Hands Off !!

Yang tidak banyak diketaui orang adalah fakta: benar-benar suatu kenyataan bahwa panjang pantai-pantai di seluruh pulau-pulau Indonesia itu 54716 – (limapuluh empat ribu tujuh ratus enam belas kilometer) lebih panjang dari panjang khatulistiwa yang hanya: 40.075,035.535 – dibulatkan 40075 (empat puluhribu tujuhpuluh lima) kilometer.

Menteri beberapa Departemen sebaiknya adalah personil yang bisa memimpin dan menjabat dan senantiasa berpikiran dengan jiwa bahari dan kelautan. Yang hanya memikirkan daratan saja, sementara dipinggirkan dahulu untuk setengah abad. Dengan demikian maka anggaran menuju pembangunan wilayah kelautan dapat ditingkatkan dengan maksimum.

Saya ingin sekali menyanyikan lagu ciptaan Ibu Sud itu dengan percaya diri, kerena memang benar-benar nenek moyangku orang pelaut – gemar m’ngarung luas samudra – menerjang ombak tiada takut – menempuh badai sudah biasa ……

Tetapi yang lebih penting adalah generasi berikut setelah saya, adalah generasi yang berubah bentuk, benar-benar menjelma menjadi orang pelaut juga.

Dunia pariwisata Indonesia juga akan bisa dengan bangga menggunakan kata-kata .. untaian ratna mutu manikam di sepanjang ekuator atau khatulistiwa.

Sebagai akhir tulisan saya ingin menyerukan agar pada suatu saat nanti, ungkapan yang sering didengar oleh telinga kita yang berbunyi Britain Rules the Waves dapat digantikan menjadi yang baru: Indonesia Rules The Waves, bukannya Indonesia Waives the Rules seperti sekarang sering terjadi.


Anwari Doel Arnowo

seorang Naval Architect yang tidak berkesempatan berkarya untuk Indonesia dalam bidang dan ilmu yang dipelajarinya


Minggu, 14 Desember 2008 – 14:04:13


Ilustrasi: kompas.com

7 Comments to "Orang Indonesia, Orang Pelaut?"

  1. Dj.  2 September, 2010 at 01:41

    Matur Nuwun cak Doel untuk artikelnya yang sangat menarik.
    Walau ( jujur ) bacanya sedikit melelahkan….hahahahaha…!!!!
    Dj. sangat tertarik, karena ayah Dj. adalah seorang pelaut.
    Dan kaka Dj. juga seorang Mariner….
    Dj. sangat bangga, saat kanak-kanak melihat kaka dengan seragam putih dan pedang panjang di pinggangnya.

    Salam AHOI…..!!! Dari Mainz…!!!

  2. J C  30 August, 2010 at 15:48

    Pak Anwari, hormat dan salut saya untuk pembahasan Panjenengan yang ini. Tidak heran merupakan salah satu artikel favorit.

    Mas Sumonggo, iya, itu relief di Candi Borobudur…yang sekarang dibikin aslinya oleh para ahli kapal kuno dari Jepang kerjasama dengan para ahli kapal Indonesia. Dan kayaknya sudah jadi dan berlayar…beritanya kurang begitu meriah di sini…

  3. P@sP4mPr3s  30 August, 2010 at 11:45

    Waduh…. saya masih bangga indonesia itu negara hebat dalam melaut….

    contoh yang pasti adalah, dari para PEMBAJAK-nya… kan ada di DiscoveryChannel tuh, yang wawancara pirates of Asia… bertempat di RIAU dan BATAM….
    cuma bermodal bambu dan parang… trus mereka ditanya, gimana kalo dibandingkan dengan pirates di somalia… jawaban yang luar biasa dari mulut mereka “ahh, mereka itu (pirate somalia) goblok, pake senjata dan tembak2an, kita gak gitu, tidak membunuh”… (tapi kalo gak dikasih duit dibunuh jg)… *halah*

    apa gak bangga….

  4. Linda Cheang  30 August, 2010 at 09:08

    Bang Anwari : ada temennya. saya, seorang aeronautical engineer, enggak sempat berkarya di bidang yang dipelajarinya. akhirnya cuma jalan-jalan, makan-makan sama merusuh di Baltyra.

    tapi, sekali engineer, tetap engineer.

  5. Sumonggo  30 August, 2010 at 07:25

    Foto pertama itu ukiran di Candi Borobudur ya?

  6. nevergiveupyo  30 August, 2010 at 07:07

    salah satu langkah maju menurut saya adalah peraturan mengenai kapal angkut berbendera Indonesia yang boleh melayani rute di Indonesia (kalau ga salah disebut cabotage yah??)

    khusus untuk provinsi seperti maluku (juga maluku utara maupun riau kepulauan misalnya) angkutan laut merupakan tulang punggung utama perekonomian.. sayangnya jumlah kapal sedikit. sementara itu kapal penumpang makin jarang frekuensinya, karena makin banyaknya penerbangan perintis, sehingga tiket lebih murah. tapi apapun, angkutan laut sebagai moda utama angkutan komoditas ekonomi tak terbantahkan, baik dari skala ekonomis maupun volume…

    terimakasih pak Anwari…

  7. anoew  30 August, 2010 at 06:55

    Dulu mungkin iya, nenek moyang melaut sampai jauh. Kalau sekarang, apakah melaut mencari ikan demi kebutuhan perut itu juga pantas disebut pelaut…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)