Perhatikan! Masih Tentang Pernikahan Beda Negara

Dewi Aichi – Brazil


Bruno    : Wi..apa kabar? Bagaimana di Brasil? Sudah terbiasa?

Aku       : Hai Bru, kabarku baik, thank you! Kamu sendiri bagaimana?

Bruno    : Aku biasa saja, sekarang sendiri, aku sudah tidak tinggal bersama Y sejak Januari lalu!

Aku       : Lho kenapa? (Padahal aku sudah tau masalah mereka semenjak awal pernikahannya).


Aku memang tidak kaget mendengar kabar mereka, sejak awal aku melihat pasangan ini sangat rapuh. Selalu saja mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Mereka tau bahwa itulah masalah yang selalu terjadi dalam perkawinan antar negara. Kalau tidak saling menahan diri , dan hanya mengutamakan emosi ya tidak akan pernah bisa menyelesaikan setiap masalah.

Y juga pernah bilang bahwa selalu saja ada pertengkaran. Suami bilang ke aku bahwa Y selalu memanjakan anak, ditegur sedikit langsung dibela, Y pun demikian, bilang bahwa suami tidak pernah menghargai apa yang sudah dilakukan Y. Dalam  hal mendidik anakpun tidak pernah ada kata sepakat. Sampai-sampai si suami bertanya kepadaku tentang bagaimana seorang ibu Indonesia mendidik anaknya, apakah seperti ini atau seperti itu?

Akhirnya dengan situasi rumah tangga yang demikian, tanpa mencari solusi yang bijaksana, mereka memilih untuk berpisah. Sekarang Y yang pusing sendiri dengan segala macam dokumen khususnya untuk anak. Jauh sebelum mereka berpisah, aku sudah memperingatkan tentang dokumen penting yang harus disimpan, atau dijaga. Karena mulai dari dokumen anak dan dokumen pernikahan mereka, akulah yang menguruskan karena ketidakpedulian tentang hal itu bahkan cenderung cuek.

Kini, semua dokumen asli ada di tangan suami, maka Y mempunyai kesulitan untuk memperpanjang visa atau juga mengajak anaknya ke Indonesia. Mereka tinggal di Jepang. Dan suami ini sepertinya memang sengaja membuat sulit Y untuk mengurus dokumen anak mereka. Entah karena marah, kecewa, atau dendam, atau memang sifatnya yang tidak peduli bahwa anak tidak berdosa dalam hal ini.

Sebenarnya bisa saja aku menganjurkan Y untuk membuat pasport Indonesia untuk anaknya, karena memang anaknya sudah mendapatkan haknya sebagai WNI sesuai UU Kewarganegaraan yang baru tentang status anak hasil kawin campur. Tetapi untuk membuat pasport di KBRI Tokyo, dibutuhkan beberapa persyaratan yang harus dilampirkan, terutama surat bukti nikah dan akte kelahiran anak. Bagaimana mau membuatkan pasport anaknya, jika dokumen persyaratan, tak satupun ia pegang?

Kasus kedua yaitu masalah yang di alami temanku juga, yang menikah dengan WNA. Pernikahan mereka juga kandas, setelah 3 tahun mengarungi hidup bersama. Mereka mempunyai 2  anak. Suami yang WNA ini telah melarikan kedua anaknya ke negara asal suami, di saat temanku sedang bekerja. Akhirnya setelah hampir 4 tahun beRpisah dengan anak-anaknya, rasa ingin bertemu itu tidak tertahankan lagi.

Tapi memang hebat, temanku ini tetap kelihatan tegar dan kuat. Pernah cerita padaku bahwa, suatu hari temanku ini bertemu dengan mantan suaminya. Mantan suami ini memperlihatkan beberapa lembar foto kedua anaknya kepada temanku. Lalu temanku menginginkan foto anak-anaknya tersebut. Apa mau dikata, si mantan suami menyebut sekian dolar untuk mendapatkan foto anaknya. Temanku, jelas sedih, dan tidak mau membayar ke mantan suami.

Tapi apa boleh buat, temanku ini dalam usahanya mencari anak-anaknya, tidak pernah berhasil, karena tak satupun dokumen yang ia simpan. Semua dokumen berada di tangan suami, termasuk bukti-bukti pernikahan mereka di Indonesia.

Inilah yang akan aku tekankan di sini, bagi siapapun yang menikah, terutama bagi yang menikah dengan warga asing. Berhubung undang-undang di Indonesia yang belum beRpihak, maka sebaiknya para wanita sedikit meluangkan perhatiannya tentang hukum-hukum yang berlaku, dan dokumen-dokumen penting yang harus di simpan.

Mungkin informasi ini tidak penting bagi yang tidak membutuhkan, tapi informasi ini penting bagi yang membutuhkan, bagiku sendiri. Mengingat pengalamanku dulu yang sangat sulit dalam pengurusan dokumen sebelum dan sesudah menikah, dan ditambah lagi dengan dokumen pasca kelahiran anak.

Banyak hal kita tidak pernah duga sebelumnya, cerai, kematian suami, ataupun seperti kasus di atas. Bukan berarti untuk menguasai, sama sekali tidak, ini untuk kepentingan bersama. Suami istri dan masa depan anak. Tidak semua wanita mempunyai nasib baik , ada yang membayangkan indah-indahnya saja, tanpa mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dialami.

Baca  http://baltyra.com/2009/10/24/mixed-couple/ , di dalam artikel ini belum aku sebutkan beberapa langkah dan syarat dalam mendaftarkan anak sesuai UU Kewarganegaraan tahun 2006. Akan tetapi sudah aku tuliskan beberapa langkah untuk hal pernikahan sesuai UU terbaru.

Bagi yang menikah di luar negeri, sebaiknya mencatatkan juga pernikahannya di Indonesia. Ini akan lebih menguatkan dari segi hukum kedua belah pihak, karena alasan-alasan yang telah aku tulis di atas. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri  12 tahun 2010 yang berlaku sejak 26 Januari 2010. Ini jauh lebih baik daripada hanya terdaftar di satu negara.

Setelah penjelasan  bagaimana prosedur yang mengatur pendaftaran di Indonesia tentang perkawinan antar bangsa yang lakukan di luar negeri, maka untuk prosedur pernikahan yang dilakukan di Indonesia, bisa dibaca kembali pada artikelku yang telah tayang mengenai perkawinan dengan WNA. Syarat dan prosedurnya sudah lengkap dan juga cara pendaftarannya di Indonesia dengan instansi terkait.

Selanjutnya mengenai status anak hasil kawin campur, meskipun informasi sudah terbuka dan mudah didapat, tidak ada salahnya akan sedikit aku sertakan di sini, karena memang banyak pertanyaan yang masuk ke inbox , baik mengenai prosedur perkawinan maupun mengenai anak.

Untuk pendaftaran status anak, diatur dalam UU Kewarganegaraan no 12/2006. Pendaftaran bisa dilakukan di wilayah RI dan bagi yang berdomisili di luar negeri, bisa dilakukan di KBRI di wilayah masing-masing. Persyaratannya meliputi:

  1. Nama lengkap, alamat orang tua/wali.
  2. Nama lengkap, tempat tanggal lahir/akte kelahiran orang tua/wali.
  3. Nama lengkap, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, status perkawinan serta hubungan hukum kekeluargaan anak dengan orang tua/wali.
  4. Kewarganegaraan anak/fotokopi pasport anak.


Yang harus dilampirkan dalam pengajuan permohonan:

  1. fotokopi kutipan Akte kelahiran anak yang disahkan oleh pejabat yang berwenang atau Perwakilan Republik Indonesia;
  2. surat pernyataan dari orang tua atau wali bahwa anak belum kawin;
  3. fotokopi kartu tanda penduduk atau paspor orang tua anak yang masih berlaku yang disahkan oleh pejabat yang berwenang atau Perwakilan Republik Indonesia; dan
  4. pas foto anak terbaru berwarna ukuran 4X6 cm sebanyak 6 (enam) lembar.


Biaya pendaftaran Rp.500.000, pembuatan duplikat keputusan menteri Rp.250.000.

Bagi anak yang lahir setelah tanggal 9 Agustus 2006, otomatis menjadi WNI, sedang yang berdomisili di luar negeri, KBRI akan mengeluarkan pasport Indonesia tanpa mengikuti prosedur di atas.

Untuk diperhatikan, anak yang lahir dari perkawinan yang sah  melampirkan juga fotokopi akte nikah/buku nikah. Jika terjadi perceraian, atau salah satunya meninggal dunia, maka harus melampirkan kutipan akta perceraian, surat talak, atau kutipan akta kematian. Semua syarat tersebut disahkan oleh pejabat yang berwenang atau perwakilan RI. Setelah dinyatakan lengkap, akan diproses, dalam waktu 30 hari kerja, dihitung dari tanggal pendaftaran. Dan pengalamanku, kenyataannya selesai dalam waktu 3 bulan.

Satu hal lagi, bagi anak yang lahir sebelum UU Kewarganegaraan no 1 tahun 2006, waktu pendaftarannya sudah habis tanggal 31 Juli 2010. Lengkapilah dokumen anak-anak, karena ini akan mempermudah anak-anak kita kelak jika sudah saatnya membutuhkan.

Satu hal lagi yang akan aku tegaskan di penghujung tulisanku kali ini, bahwa masalah yang dihadapi pasangan kawin campur pada dasarnya sama saja dengan pasangan sebangsa, yang penting bagaimana menyikapi dan menyiasati perbedaan tersebut. Sehingga bukannya menciptakan konflik, akan tetapi menciptakan hubungan yang sinergi. Contoh kecil saja, apa yang merupakan budaya baik dari Indonesia, disatukan dengan apa yang positif dari negeri asing. Seperti itulah dua manusia yang berbeda bangsa dan budaya, yang akhirnya menyatu dalam ikatan perkawinan.


Catatan:

Peraturan Menteri Dalam Negeri no. 12 tahun 2010

https://docs.google.com/fileview?id=0B7vt5ieZ1JpRM2U3ZTBjNDAtM2ZmYy00YTRiLThjYTEtODdmNmM3N2U4MGU3&hl=en

UU Kewarganegaraan no 12 tahun 2006

http://id.wikipedia.org/wiki/Kewarganegaraan

http://jurnalhukum.blogspot.com

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

82 Comments to "Perhatikan! Masih Tentang Pernikahan Beda Negara"

  1. anonym  1 September, 2013 at 09:14

    thanks untuk tulisannya. Tapi sampai titik terakhir, saya ngga melihat paparan mengenai dokumen apa saja yang harus dipegang oleh pihak perempuan. Mohon pencerahannya.

  2. wiwie  3 April, 2013 at 16:41

    Jeng Phie: akhirnya ketemu juga setelah melototin komen di sini dari yang paling awal. Sepertinya dirimu salah orang deeh…hehehe…yg berilmu soal nikah campuran itu Mbak Dewi Aichi. Lha saia dapatnya orang lokal. Asli Jawa Timur. Hehehe..
    Masih perlu emailku?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)