Aku Bukan Azzam

Bisyri Ichwan


Malam minggu ini aku masih setia membaca “almutasyabbih fil qur’anil karim”, mata kuliah jurusan tafsir qur’an Universitas Al-Azhar tingkat 4 (semester 8). Di sekelilingku teman-teman sudah pada tidur semua, aku masih asyik membaca dan menikmati indahnya kota Cairo di malam hari dengan mengintip lewat jendela. Kawasan yang aku tempati sekarang ini memang termasuk kawasan elit yakni di Hidirtuni, Roba’ah adaweya, Nasr City. Hanya ada beberapa orang Indonesia yang tinggal disini karena sewa flat apartemen yang terus naik.

Besok hari minggu aku harus kerja kembali menjual tauge, tempe dan tahu ke rumah bapak-bapak diplomat KBRI Cairo, rencananya aku akan berangkat sore hari dan sampai di rumah mereka tepat setelah magrib saat beliau sedang istirahat pulang dari kantor.

Tidak terasa aku di Cairo ini sudah lima tahun, tapi studyku di Al-Azhar belum kelar juga, aku tidak tahu apakah ini karena kemalasanku ataukah memang selama ini aku kuliah sambil membanting tulang bekerja membuat tempe, tahu dan tauge.

Aku teringat masa-masa pertama kali dulu merintis usaha ini, saat itu para mahasiswa masih banyak yang tinggal di Rab’ah adawea dan rumah yang paling banyak disewa disekitar Wisma Nusantara sebagai satu-satunya gedung resmi pusat kegiatan mahasiswa waktu itu. AKu keliling door to door ke rumah mereka satu persatu, aku ketuk rumah mereka “tempe mas…tahu mbak…”, rasanya senang sekali ketika ada yang membeli, namun terkadang juga harus menanggung malu, ketika pintu dibuka ternyata ada kegiatan para mahasiswa yang sedang asyik diskusi, rasanya muka ini ingin ditutup saja, apalagi terkadang ada mahasiswa yang memandang remeh kami yang bekerja.

Itu semua telah menjadi kenangan, saat ini aku sudah memiliki pelanggan tetap. Tiap satu minggu aku bisa memasok tempe, tahu dan tauge di restoran-restoran milik teman-teman mahasiswa Indonesia, diantaranya Cairo Restaurant yang terletak di gami’, hayyul asyir, nasr city. Jika ramai aku bisa memasok 2 kali satu minggu, hasilnya lumayan.

Dengan berbekal motor butut made in china, aku juga menawarkan tempe, tahu dan taugeku ke rumah bapak-bapak diplomat KBRI, “permisi pak…mau nawarin tempe”, sambil menyunggingkan senyum kepada mereka. Ada beberapa ibu dan bapak diplomat yang selalu mengambil barang daganganku ini, mereka kadang memborong jika ada acara. Namun ada juga yang hingga saat ini selalu ada alasan untuk tidak membeli, mungkin memang malas.

Aku mempersiapkan mengantar barang dagangan sore hari, motor bututpun setia menemaniku melewati jalur-jalur ramai di Cairo. Untuk bisa menuju rumah para bapak diplomat yang hampir semuanya berada di kawasan El-Doqqi, Giza, aku kadang melewati jalur shalah salim street hingga nafaq Al-Azhar (jalan bawah tanah) dekat masyikah di darrosah yang panjangnya sekitar 3 km dengan hanya ruas jalan satu jalur. Nafaq azhar ini menghubungkan antara shalah salim street hingga ke down town (wastul balad) dan bisa langsung menuju tahrir, setelah itu menyeberangi Nil menuju Giza. Ketika jam-jam kerja jalan bawah tanah azhar akan terlihat agak lengang, jadi aku bisa sedikit santai untuk mengatur kopling dan gas motor butut ini.

Terkadang kalau jam-jam sibuk dan malas lewat nafaq azhar, aku melewati jalur atas Cairo, di mulai dari universitas Al-Azhar baru yakni di kawasan fakultas kedokteran dekat dengan Cairo stadiun melewati abbasea. Sebenarnya melewati jalur ini lumayan macet, karena banyaknya kendaraan pribadi dan taksi. Tapi agak mending dari pada lewat jalur bawah yang harus berdesak-desakan dengan kendaraan umum mulai dari bus, microbas, tramco, ada juga truk bahkan kontaier milik militer.

Tiap hari rabo aku juga sering (untuk tidak mengatakan selalu) menjual tempe, tahu dan tauge ke kantin KBRI Cairo. Pernah suatu hari aku markir motor ditempat yang biasanya dibuat parkir mobil-mobil para diplomat, tak tahunya motor bututku dibuang sama tukang parkir, mungkin dikira rongsokan, hingga aku dibuat bingung, ternyata dipindah sangat jauh dari areal parkir. Sungguh benar-benar keterlaluan, nasib orang kecil ternyata dimana-mana memang selalu terpinggirkan.

Tidak terasa juga sudah 5 tahun aku menghidupi diriku sendiri. Hidup di Cairo ini bagiku lumayan mahal, paling tidak dalam satu bulan biaya hidup tidak kurang dari 1 juta bahkan seringkali lebih. Mulai dari sewa flat apartemen, mencukupi kebutuhan dapur, membayar biaya listrik, beli gas, beli bensin buat si butut, membeli buku-buku mata kuliah dan buku-buku penunjang dan biaya-biaya lain yang sering tidak terduga. Rasanya jika aku berfikir secara logika aku tak sanggup membiayai semua itu dengan usaha kecilku ini. Harga tempe, tahu dan tauge sangat tidak seimbang dengan kebutuhan yang selalu tambah mahal setiap bulannya itu. Tapi memang benar, rezeki tidak bisa dihitung dengan angka, ia berbicara dengan caranya sendiri, tugasku adalah berusaha dan memenej pekerjaan dengan sempurna, tentu kesempurnaan itu dari penilaianku secara subjektif.

Aku juga tidak menyangka, ternyata selama ini aku bisa mensisihkan hasil kerjaku walaupun hanya sedikit, tak terasa tahun lalu aku bersyukur bisa melaksanakan ibadah umroh dari tempe ini. Hasil kerja kerasku selama hampir 5 tahun ini telah memberikan manfaat padaku menghadap rumah Allah. “alhamdulillah ya Rabb”, dengan tulus pujian syukur itu ku panjatkan. Memang benar, “al-istiqomatu khairun min alfi karomah”, “konsistensi itu lebih baik dari pada 1000 karamah (keistimewaan)”. Silahkan orang lain mencibirku karena aku hanya seorang penjual tempe, aku seorang penjual tahu, aku seorang penjual toge, tapi aku bangga dengan aku konsisten selama ini, aku bisa mencium hajar aswad.

Hampir lupa, selama ini aku mendzalimi si motor bututku. Sudah hampir 3 bulan ini tangki motorku bocor dan hanya ku tambal apa adanya, semua hasil kerjaku aku gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga aku tidak sempat membeli tangki motor baru. Beberapa hari lalu sebenarnya aku udah hunting tanya-tanya harga tangki motor di Tahrir, tapi sampai saat ini masih belum terealisasi untuk membeli.

Biasanya kalau lagi setor barang dikantin KBRI, ibu-ibu istri para diplomat itu pasti akan menyapa dengan sapaannya yang khas, “selamat pagi mas…pasti tempe, tahu dan toge yaa..”, sambil tersenyum penuh keramahan. Saking lamanya aku menjual barang dagangan di kantin KBRI ini, mereka sampai hafal denganku, ada beberapa teman mahasiswa juga yang setor dagangan di kantin KBRI, ada yang setor pentol bakso, ada yang empek-empek, biasanya kalo mbak-mbak TKW jual jajan-jajan ringan, sebagai santapan pembuka dan penutup setelah makan.

Kantin KBRI sendiri mulai buka jam 12 siang dan tutup jam 3 sore, waktu yang lumayan lama jika aku menunggu di ruang lobi piket KBRI. Untuk lari dari kebosanan, aku sering jalan-jalan di pinggir sungai nil yang letaknya hanya 50 meter dari KBRI depan hotel berbintang Grand Hayet. Pemandangan nil membuatku terpesona akan keindahannya, sebuah nuansa yang belum ku temukan di Jakarta, entah kapan aku akan menemukannya.

Aku berjalan menyusuri cornes nil melihat restoran-restoran apung yang berjajar dengan rapi. Sementara dari kejauhan terlihat Cairo Tower dengan gagah berdiri yang berada di kawasan elit Zamalek. Sebelah kanan terlihat para polisi sangat ketat berjaga-jaga, maklum itu adalah kantor kedutaan Amerika Serikat. Aku jadi heran, kenapa di mana-mana yang namanya kedutaan Amerika penjagaannya selalu seperti itu, anjing pelacak berkeliaran, jumlah polisi yang berjajar rapi, kawat berduri dan temboknya yang menjulang tinggi. Aku lihat kedutaan Amerika di Cairo menjadi satu-satunya kedutaan yang halamannya paling luas dibanding kedutaan lain.

“great…!!!”, aku memang selalu kagum dengan nil ini, tiap kali ku langkahkan kaki berjalan dipinggirnya, selalu saja ada nuansa baru yang ia berikan. Aku bangga, sejauh mata memandang, tidak ada muda mudi yang melakukan adegan kiss yang katanya sering ada di kota besar negara lain yang memiliki sungai. Mesir memang masih sangat menjunjung tinggi nilai keislaman, muda mudi itu memang sedang asyik bercengkrama menikmati irama cinta yang mengalir, namun kesopanan dalam berpakaian, tindak dan tanduk masih sangat mereka jaga, aku bangga dan salut.

Angin malam semakin ku rasakan bertambah dingin, Cairo hari-hari ini memang sedang memasuki puncaknya musim dingin. Lampu-lampu cafe di hidir tuni masih menyala dan masih ada beberapa orang sedang asyik ngobrol sambil nyedot shesya dan hangatnya teh. Dari tadi aku hanya melamun, mengingat kembali memory perjuanganku hidup lima tahun di Mesir ini. Bagiku pengalaman ini sungguh luar biasa.

Aku tersadar kembali siapa diriku, aku memang bukan Azzam yang ada dalam film “Ketika Cinta Bertasbih” itu, orang sering memanggilku dengan nama pak Cik, mungkin karena dulu aku pernah jadi TKI di Malaysia walaupun tidak terlalu lama, hanya sekitar 2 tahun, sampai akhirnya dengan modal nekat aku bisa study di universitas Al-Azhar, teman-temanku pertama kali menganggapku orang malaysia karena aku berangkat memang melalui jalur Malaysia, visa dan pasportku semua dari Malaysia. Inilah awal kenapa aku dipanggil pak cik.

Padahal namaku sebenarnya adalah Haris Addin yang memiliki arti penjaga/benteng agama. Jika aku boleh sedikit improvisasi tentang hikmah namaku, mungkin inilah hikmah jalan hidupku. Sejak kecil aku sudah membanting tulang membantu orang tua, aku sudah terbiasa mengangkat karung hasil sawah yang beratnya rata-rata 50 Kg, Aku juga sering kejar-kejaran dengan polisi malaysia karena tidak memiliki visa, aku termasuk golongan TKI ilegal yang bekerja untuk mempertahankan hidup, sampai akhirnya aku nekat masuk kandang singa yang bernama Mesir ini. Mungkin Allah memang sengaja menjadikan hidupku lumayan berat agar kelak aku benar-benar menjadi benteng, sebuah benteng yang benar-benar tahan oleh serangan badai kehidupan. Semoga semua pelajaran hidup yang aku lalui menjadikanku benteng agama, masyarakat dan benteng negaraku.

Ahh..aku terlalu banyak melamun, ku lihat jam sudah pukul 01.25 CLT (Cairo Local Time), aku harus istirahat, besok aku harus bekerja kembali, sore hari aku harus keliling ke rumah bapak-bapak diplomat KBRI. Kamis depan aku juga ada ujian semester Al-Azhar mata kuliah “almutasyabbih fil qur’anil karim”. Semoga tahun ini aku bisa lulus. Semoga.

##########

* Catatan ini terinspirasi dari sahabat saya ketika tadi sore dia shilaturrahim ke flat apartemen saya sambil membawa tauge dengan motor bututnya.

* Kegigihannya kuliah dan bekerja selama ini menginspirasi saya untuk tetap bisa tersenyum dan teguh melawan kerasnya hidup di Cairo.

Terimakasih Sahabat, saya yakin kelak engkau akan menjadi namamu; Haris Addin, benteng agama.

Salam

Bisyri Ichwan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.