Tuesday, 31 August 2010
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
“Ibu mau ke mana?”, tanya supir bis antar kota kepada seorang ibu tua, yang duduk beberapa kursi dari saya.
“Saya mau ke Pak Yanto”, jawab si ibu dengan setengah mengantuk. Saat itu sudah pukul 12 malam lewat di kota kecil Pacitan, Jawa Timur.
“Pak Yanto yang guru apa yang polisi?”, tanya sang supir memastikan.
“Yang guru”, jawab si ibu singkat namun membuat saya jadi tidak mengantuk dan berpikir.
Tanpa dikomando dan diperintahkan, sang supir mengantarkan si ibu ke tempat tujuannya, tanpa diminta si ibu. Saya turun beberapa puluh meter kemudian, untuk melanjutkan mencari penginapan bersama sahabat saya. Malam itu sudah dini hari untuk ukuran kota Pacitan.
Selama hampir 4 jam saya menempuh perjalanan melalui bis malam dari Ponorogo ke Pacitan. Saya tak bisa melihat apa-apa termasuk pemandangan antara Ponorogo – Pacitan, yang konon menyeramkan dan terjal. Pada tahun berikutnya, waktu saya datang ke Pacitan lagi, saya memilih siang hari berangkat dari Ponorogo agar bisa menikmati keterjalan jalan Ponorogo-Pacitan. Wuaah…indahnya dan menerjalkan. Beberapa ruasnya, ujung pohon kelapa yang tinggi berada di bawah ban mobil bis yang saya tumpangi.
Saya akhirnya menemukan penginapan yang sesuai catatan saya genggam sejak saya mulai keliling Jawa seminggu lalu. Karena saya belum pernah menginjakan banyak kota di Jawa, saya membawa buku panduan wisata tulisan Bill Dalton, yang populer itu.
“Pacitan itu kota kecil, Mas”, kata ibu berwajah manis yang memiliki penginapan Sido Mulyo di Jalan Sudirman, Pacitan, sebuah jalan terbesar di kota itu. Saya banyak mengobrol dengan si ibu itu tentang kota yang saya tak tahu sama sekali. Pertama saya tahu kota itu, ketika mengetahui seorang tokoh Orde Baru yang dikenal sebagai “Bapak Kondom Indonesia”, seorang putra kelahiran Pacitan. Dia Haryono Suyono, tokoh kependudukan nasional yang berhasil meredam pertumbuhan penduduk Indonesia, dengan prestasi menakjubkan. Kebetulan anaknya menjadi kakak kelas saya waktu kuliah.
“Pacitan itu kayak batok kelapa”, kata si ibu pemilik losmen. Maksudnya, saking kecil kota Pacitan, dia berbentuk seperti tempurung kelapa dan bila ada berita miring, mudah menyeber seantero kota kecil itu. Perkataan itu sangat menjelaskan keheranan saya ketika menyaksikan seorang supir mengenal tujuan akhir penumpangnya dan mengantarkannya. Aneh dan sangat mustahil terjadi di Jakarta.
Ternyata kota Pacitan sangat menakjubkan dan bersih serta bebas dari tekanan hidup yang sering dialami oleh “badut-badut kota” di Jakarta dengan kaum urbannya. Banyak potensi wisata alamnya terpendam dan tidak dipromosikan dengan baik. Saya tercengang melihat pantainya, Teleng Ria, yang sangat indah. Namun sayang sepi dari wisata. Hanya ada sebuah keluarga Australia menikmati desiran ombak. Sedangkan orang lokal pantang berenang di pantai itu, kalau tidak mendesak.
Namun, satu hal yang saya herankan, Pacitan tidak memiliki hiburan yang layak untuk penduduk kotanya. Sepiii dan cocok buat orang pensiunan yang menikmati hari tua tanpa stress dengan kegiatan duniawi, tanpa hingar bingar klakson mobil, tanpa timbal, tanpa polusi, tanpa macet, tanpa tergesa-gesa dikejar setan.
Wajar saja banyak pemudanya meninggalkan kota itu dan merantau dengan hasil sukses. Bahkan si ibu pemilik losmen tempat saya menginap, mampu menyekolahkan anaknya di Amerika Serikat. Wajar juga, seorang pemuda bernama Susilo Bambang Yudhoyono, merantau dan akhirnya sukses dipromosikan Presiden Abdurrahman Wahid, dari seorang staf Kodam V Jaya melesat menjadi Menteri Pertambangan dan Energi.
Kerisauan saya melihat kurangnya hiburan di Pacitan, membuat saya tak terkejut ketika tahu seorang penghibur seronok bernama Julia Perez, dicalonkan menjadi wakil bupati Pacitan. Perez lebih sering ke Bali dan tak pernah ke Pacitan. Bahkan dia tak tahu apa itu Pacitan. Ketika dia gagal, koalisi politik lokal di kota itu, mencalonkan aktris yang sedang heboh dengan kasus berciuman di muka umum dengan kekasihnya, KD atau Kris Dayanti.
Bagaimana kalau KD gagal lagi? Masih ada stock artis yang siap menggantiknnya. Sebut saja Deasy Ratnasary, yang menurut saya lebih pantas jadi bupati di Sukabumi, tanah kelahirannya, dari pada di Pacitan.
Mengapa Pacitan ingin sekali dipimpin oleh seorang penghibur? Ooh..jawabannya saya temukan, ketika berjalan kaki di trotoar di Jalan Sudirman dan menemukan sebuah balai desa di kota itu. (*)
Pages: [15] 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 … 1 »
Pages: [15] 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 … 1 »
September 28th, 2010 at 23:42
JL, nggak malu-maluin lagi. Bagus ide Aichi. Memperdayakan profesi ketok magic menjadi pahlawan bangsa.
September 28th, 2010 at 23:42
Saya setuju dengan Aichi, ibukota dipindahkan ke Blitar. Negara RI bakal maju pessssssaaat… Kan banyak ketok magic di sana. Ya..semua infrastruktur akan cepat dibangun dan biaya murah. Setuju…. BLITAR IBUKOTA INDONESIA.
September 28th, 2010 at 20:53
Jon..lha ngopo kok aku malu2in…nek iki emang gawan bayi ha ha ha….
September 28th, 2010 at 20:49
DA sing bener kowe malu maluin hahaha
September 28th, 2010 at 20:38
dari status fb temennya Ayla: “Aku bertanya-tanya: “Ada apanya Blitar, Jatim?” 3 raja (Anusapati, R Wijaya, Ranggawuni) dicandikan di Blitar. Bung Karno, dimakamkan di Blitar. Kemudian Presiden SBY n Wapres Budiono juga Blitar. Sekarang menyusul Panglima TNI Agus Suhartono, juga dari Blitar. Bagaimana seandainya Ibu Kota RI dipindahkan ke Blitar saja?”
Sapa lagi yang dari Blitar nih…angkat kaki..! Ayla….kamu dari mana to?
September 22nd, 2010 at 02:45
Pak Iwan he he he he…boleh silahkan ambil, mau yang warna apa, yang bentuknya gimana….untuk pak Iwan boleh…sesuka hati…mau ambil yang banyak juga boleh…
September 22nd, 2010 at 02:28
Ya di Ancol lah…. yang deket, cepet, murah dan menyenangkan bagi kedua anakku. Masak di Copacabana….
Kalau boleh minta cintanya…. aku suka.
September 22nd, 2010 at 02:17
Pak Iwan..di pantai mana itu pak? Bagus..dengan panorama pantai plus warna baju-baju yang dipakai..klop deh…!
Ya..kadang-kadang saja aku ngga punya malu he he he he….tapi punya banyak cinta….ayo siapa mau cintaku dibagi-bagi nih…mumpung lagi baik hati..
September 22nd, 2010 at 01:47
Aichi memang tak kenal malu ya? Hahahaha…. Yu Lani emang kelewatan.
September 22nd, 2010 at 01:46
Iya Aichi, itu mamanya anak-anak…