Karl May (1842-1912) – Part 2

Pandu Ganesha


BAGIAN 3/6

Pembagian Negeri Eksotis Karl May

Dunia di luar Eropa bagi Karl May bisa berarti seluruh pelosok dunia. Dia memang tidak mengenal batas-batas geografis! Sedemikian liarnya imajinasinya sehingga dalam satu seri tulisan, awal cerita di mulai di suatu negeri tertentu, dan bisa saja berakhir di belahan bumi yang lain. Ada adegan yang dimulai di Amerika dan berakhir di Timur, atau sebaliknya, dimulai di Timur dan berakhir di Amerika; atau ada pula yang bermula di Amerika, disambung ke Timur, dan kembali lagi ke Amerika.

Karl May sendiri akhirnya membagi dunianya dalam dua bagian besar yaitu Amerika , Timur, dan bagian Dunia Lainnya alias Negeri-negeri Jauh lainnya.

Seri Amerika:

Seri Amerika prinsipnya terjadi di Amerika Utara khususnya, tapi tidak selalu, bagian Barat Daya. Karena sudah paruh terakhir abad 19, atau seusai perang saudara Amerika, istilah yang dipakai bukan saja atau bukan lagi “Wild West” tapi juga “Far West”. Karena keliaran imajinasi, si tokoh bisa melanglang ke ujung utara macam Yellowstone di Montana atau Wyoming, atau Danau Perak di Utah, hingga ke ujung selatan, di Sonora, di bilangan Meksiko.

Di seri ini penduduk pertama Amerika yang umumnya dianggap sebagai primitif, liar, tak berbudaya, kini digambarkan sebagai “noble savage” (orang liar yang luhur), di mana mereka digambarkan berjiwa mulia berikut local wisdomnya, sedang orang kulit putih, khususnya para yankee alias warga Amerika, dijadikan tokoh antagonisnya, alias digambarkan sebagai tokoh-tokoh yang tidak baik. Ini tentu sajapenjungkirbalikan tatanan yang biasanya ada.

Karakterisasi seperti ini sebenarnya sudah pernah ditulis oleh penulis lain sebelumnya, baik yang Jerman maupun bukan, dan secara tegas bisa dikatakan bahwa Karl May dipengaruhi oleh karya-karya Fenimore Cooper (The Last Mohican, dari seri Leatherstock). Pengaruh Cooper itu bahkan disebut oleh May ketika seseorang meledek si narator yang dianggap anak bawang alias plonco atau greenhorn dengan mengatakan : “apakah Anda membaca Cooper?” (“Winnetou III, 1893)

Di Amerika, si hero narator bernama Charley (yang segera mengingatkan akan nama si penulis: Karl) yang kemudian digelari “Tangan Menghancurkan” alias Old Shatterhand, sedang si “noble savage” adalah Winnetou, kepala tertinggi suku Apache. Winnetou dan Old Shatterhand bersikap bersahabat dengan semua suku Indian baik yang buruk maupun jelek, tapi jelas memisahkan diri dengan orang kulit putih yang jahat, yang sekali lagi, hampir kesemuanya adalah Yankee, terkadang disebutkan beragama Mormon!

Romantisasi kehidupan Native America dan exploitasi keburukan orang Amerika pendatang yang resminya atau biasanya justru dianggap sebagai “pionir penemu Dunia Baru” ini, bisa saja dianggap sebagai salah satu hal yang membikin tulisannya tidak populer di Amerika, atau paling tidak menjadikan penerbit Amerika menerbitkan versi Inggris Amerika-nya, padahal karya-karya itu adalah tempat di mana sepertiga tulisannya berlatar belakang. Tetapi yang jelas, penerjemahan karya-karya itu ke dalam bahasa Inggris baru dilakukan pada awal abad-21, terlambat 110 tahun kemudian, itu pun dilakukan oleh para penggemar Karl May sendiri.

Seri Timur:

Cerita Timur (Orient Cycle) ini adalah petualangan berlatar belakang kekhalifahan Turki, mulai dari Afrika Utara, jazirah Arab, Timur Tengah, Turki, dan Balkan. Petualangan ini merupakan gabungan dari cerita perjalanan yang memikat, dibumbui cerita detektif, roman, politik kolonial, yang dirangkai secara sambung-menyambung dalam model cerita 1001 malam, sepanjang 1800 halaman.

Komentar Albert Einstein tentang ini: “Masa remaja saya benar-benar di bawah pengaruh dia. Bahkan hingga hari ini, dia merupakan kesayangan saya pada saat-saat sedang putus asa.” Lanjut Einstein: “Cerita perjalanan biasanya membosankan saya, tapi tidak dengan tulisan Karl May.”

Penerbitan buku tentang Seri Timur ini diterbitkan justru lebih awal daripada seri Amerika. Sewaktu masih berbentuk cerita bersambung di majalah, diperlukan waktu tak kurang dari 1881-1888 untuk penulisan dan pemuatannya, walau tidak berarti terus-menerus ditulis dan diterbitkan.”

Si hero narator adalah orang yang sama (tentu saja), hanya saja kini bernama Kara Ben Nemsi atau “Karl si Anak Jerman” (lagi-lagi: Karl, nama si pengarang) yang selalu diiringi seorang pelayan yang kemudian menjadi teman dan sahabatnya, Haji Halef Omar, orang Arab asal Tunisia, yang kemudian pada akhir saga panjang ini akhirnya berhasil menjadi seorang kepala suku Arab Schammar Haddedihn di Irak(!). (Komentar 2010: siapa menduga, siapa mengira, Perdana Menteri Irak dan tokoh-tokoh penting lainnya pasca Saddan Hussain adalah berasal dari suku ini. Apa mereka ini keturunan dari Haji Halef yang pro Barat?).

Tokoh jahatnya bisa berasal dari berbagai macam suku karena ceritanya memang menjelajah negeri-negeri yang waktu itu berada dibawah Kekhalifahan Usmaniyah. Judul asli seri ini memang “Dalam Lindungan/Bayangan Padishah”. Sedang Padishah itu sendiri adalah sebutan penguasa Turki pada masa itu.

Dalam otobiografinya May mengatakan bahwa ada kesamaan utama dari dua seri itu bahwa si narator atau pelaku melakukan perjalanannya dari prairie atau padang pasir di mana ini melambangkan kekasaran jiwa manuia. Ketika dia telah mengalami berbagai pengalaman yang menempanya, menjadilah si tokoh menjadi seseorang yang menemui kesempurnaan jiwa. May menjelaskan lebih lanjut, bahwa cerita perjalanannya, baik di Amerika maupun di Timur adalah penceritaan tentang tahap usaha manusia untuk mencapai kearifan dan kesempurnaan.

Sayangnya atau untungnya, penjelasannya ini disampaikan Karl May pada saat-saat terakhir sebelum ajal menjemputnya. Sementara itu, jutaan penggemarnya terlanjur asyik dengan imajinasinya sendiri-sendiri tanpa pretensi apa pun jua, selain mengikuti petualangan yang seru serta rasa keingintahuan untuk mengenal dan menjelajah negeri jauh, dan bahkan percaya bahwa petualangan yang diceritakan itu benar-benar ada dan pernah terjadi.

Seri Negeri Jauh:

Pada masa-masa awal kepenulisannya, Karl May telah berimajinasi tentang negeri-negeri jauh di berbagai pelosok dunia. Terkadang si narator memakai nama Charley, terkadang malah anonim, tetapi tetap saja memakai istilah “si Aku”. Negeri-negeri tersebut bisa saja Afrika Selatan di mana si narator harus ikut membela kaum Boer yang bersekutu dengan suku Zulu melawan pasukan kolonial Inggris, atau bercerita tentang seluk-beluk budaya orang Laplandia di lingkaran Artik, dan bahkan bisa saja berlanjut hingga ke Siberia!

Berkunjung ke pelosok negeri Tiongkok adalah hal yang biasa saja baginya, seperti halnya ketika ia terjebak pasang surut di kepulauan Samoa, atau berburu gajah dan manusia di Srilanka, atau bertempur melawan kaum perompak yang bermarkas di Sumatra Barat. Pendek kata, ia menabalkan dirinya sebagai seorang pengeliling dunia yang utama pada zamannya.

Karena dia harus menjaga keotentikan cerita, tak pelak bermacam bahasa dan peristilahan pun muncul di karangan tentang dunia eksotis itu. Maka dalam proses penerjemahannya, ketika biasanya istilah “Sir” diterjemahkan menjadi “Tuan”, hal itu menjadi pamali dan tetap harus dipertahankan sesuai aslinya, karena dalam buku yang sama, bisa saja muncul istilah: Sihdi, Sahib, Toewan, Sennor (sic!), Mijnher (dan bukannya Meneer), dan banyak lainnya lagi, yang artinya sama: Tuan.

Cerita-cerita itu semula hanya berbentuk novella atau cerita pendek yang panjang, dan belakangan, ketika namanya sudah dikenal, cerita-cerita itu digabung dalam suatu buku kumpulan novella, yang jumlahnya bisa mencapai tiga judul, kelompok pasifik alias Lautan Teduh, gurun Sahara, dan negeri-negeri lainnya.


BAGIAN 4/6

Pandangan May terhadap Dunia Non Eropa

Lantas bagaimana pandangan atau kesan yang disampaikan oleh Karl May terhadap dunia eksotisnya tadi?

Penting untuk dicatat bahwa sewaktu tulisan-tulisan pada 1870-an hingga akhir abad-19 itu dibuat, masa kejayaan kolonialisme sedang di puncaknya. Sebagai penulis kiranya tidak salah kalau Karl May ikut berlomba menulis dengan tema Dunia Baru. Tema tentang merantau ke Dunia Baru itu tentunya tak berlebihan mengingat pada paroh kedua abad-19 tercatat 2 juta orang Jerman yang beremigrasi ke Amerika mengadu nasib dengan berbagai macam alasan termasuk ekonomi dan politik.

Meskipun pemerintah kaisar Willem II tidak terlalu getol untuk ikut berlomba mendapatkan koloni baru, tapi sikap bahwa “ours is better” atau “kami lebih baik”, tentunya tak lepas dari sikap orang yang pindah ke tempat baru yang dianggap kurang berbudaya, termasuk tentunya: Amerika dan Dunia Timur. Superioritas ras itu bagaimana pun tentu menonjol di tulisan Karl May dan atau penulis sezaman lainnya. Namun demikian, May menyatakan bahwa orang Jerman atau Eropah pun pada kejadian dan hal-hal tertentu haruslah tetap belajar dari kearifan dunia baru itu. Ini sejalan politik kolonial waktu itu yang sampai tahap tertentu masih memelihara tradisi atau menghargai budaya atau keahlian teknis penduduk setempat. Dari itu, si hero narator akhirnya harus banyak belajar dari tokoh si Indian, sebagai local genius, atau bersahabat dengan suku-suku Arab untuk mendalami adat-istiadatnya.

Seri Amerika:

Seri Amerika menceritakan seorang pemuda (Jerman tentu, meskipun Karl May sendiri menyebutkan tidak harus seorang Jerman!), yang merantau ke Amerika untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam perantauannya, si narator itu –dianggap sebagai alter ego, tetapi lebih tepatnya sebagai juru bicara May— mendapati kenyataan bahwa bangsa kulit putihlah sebenarnya yang merampas tanah milik Indian dengan cara kekerasan.

Bangsa kulit putihlah yang merusak lingkungan, yang antara lain berperan aktif memusnahkan ratusan ribu atau jutaan bison dan mustang hanya demi memenuhi kesenangan mereka untuk berburu semata, sedang binatang itu sebenarnya adalah bahan makanan para Indian itu, padahal, para Indian itu , hanya mengambil secukupnya saja. Ketika daging bison pun habis ditembaki kulitputih dengan cara membabi buta, maka kulitmerah menderita kelaparan.

Orang kulit putih juga membeli kuda orang kulitmerah dan membayarnya dengan “air-api” sehingga menyebabkan mereka kecanduan alkohol, yang akhirnya si kulitmerah ini mencuri kuda milik suku lainnya, demi motivasi air-api tadi. Dan yang paling fatal, bangsa kulitputih ini tidak memberikan kesempatan beradaptasi bagi kulitmerah untuk menyesuaikan diri dengan kebudayaan Barat sehingga ujung-ujungnya menyebabkan percepatan proses pemusnahan orang kulitmerah. Hal itu lebih dipercepat lagi dengan berbagai penyakit yang dibawa oleh orang kulitputih. (“Winnetou I”, 1893) .

Tema-tema seperti itu jelas tidak populer di mata orang Amerika. Namun, data di Encyclopedia Britannica menyebutkan belakangan, betapa ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh Washington (pemerintah pusat Amerika Serikat), misalnya: ketentuan tentang penggantian tanah, ternyata tidak dilakukan dengan baik oleh aparat bawahan di Wild West itu. Dengan satu kata: korupsi, rupanya telah memporakporandakan tatanan suatu masyarakat abad-19, dan itu dilakukan oleh orang-orang yang dirasa “unggul” karena mereka berasal dari Eropa, yang dianggap sebagai penyebar budaya utama pada masa itu.

Tak pelak lagi, novel tentang seri Amerika ini adalah merupakan pembelaan May atas genosida yang dilakukan oleh orang Amerika “pendatang” atas Amerika “penduduk asli”. Jika diruntut kebelakang, kematian atas ketua suku Indian ternama seperti Cochise (1874) memicu Karl May untuk melantunkan suatu pembelaan atas nasib ras merah. Muncullah cerpennya yang pertama dengan judul “Inn-nu-woh” (1875) yang menjadi cikal-bakalnya tokoh utama dalam seri Amerika, Winnetou.

Cochise (tokoh nyata), si Indian pencinta damai itu, tak pelak lagi oleh para pengamat direpresentasikan sebagai tokoh Winnetou (tokoh fiksi), suatu hal yang jelas terbalik, dan tak usah heran, kalau May kemudian menulis tahun kematian Winnetou yang sama dengan tahun kematian Cochise. Pada 1877 Crazy Horse terbunuh, dan Karl May yang sebelumnya menulis tentang negeri-negeri asing, kini mulai menulis tentang orang-orang yang tertindas yang berlatar belakang Amerika, dan terbitlah cerpen Winnetou (1878) yang penulisan ulang dari Inn-nu-woh. Pada 1886, ketika Geronimo –tokoh Indian lainnya— menyerah, cerita-cerita Karl May tentang para Indian pun tak terbendung lagi, dan ini dimulai dengan “Anak Pemburu Beruang” alias Rahasia Bidon Putih (1887) yang kemudian disusul oleh lain-lainnya.

Hal yang penting dicatat, di seri Amerika penokohan “noble savage” melalui figur Winnetou ini sedemikian rupa sehingga bahkan si Eropa pun harus belajar banyak dari si penduduk setempat ini. Di semua buku seri Amerika, selalu saja dijelaskan betapa si Indianlah yang “tahu cara yang lebih tepat” dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun juga. Si Eropa hanya mungkin mampu menguasai ilmu tentang kehidupan di Barat, kalau dia mau belajar dari si penduduk asli. Pesan ini sangat berlawanan sekali dengan kenyataan yang ada, atau sama sekali tak digubris oleh para pelaku sejarah, dan ujungnya berakhir pada hilangnya suatu peradaban.

Sedemikian rupa kesan yang ditimbulkan oleh Karl May terhadap penokohan atas “penduduk asli” Amerika dan para Yankee alias si kulitputih pendatang, sehingga banyak orang Amerika yang jelas tidak mengenal Karl May terheran-heran mengapa ada “perasaan” tersendiri yang cenderung negatif dari orang Jerman atas mereka, yang jika diruntut ke belakang ternyata disebabkan oleh cerita-cerita May atas keburukan Yankee ini. Para Yankee juga terheran-heran melihatnya banyaknya “club Indian di Jerman”. Lebih heran lagi, karena para cowboy itu sendiri menguasai sekali geografi Amerika Serikat bagian Barat Daya, seperti daerah Llano Estacado, meskipun ternyata penggambarannya keliru dan tidak sesuai dengan kenyataan, tapi sudah keburu dipercaya!

Dari dua hal di atas, baik versi fiktif maupun sejarah, menjadi tanya kita sekarang apakah tulisan May itu masih relevan? Dengan adanya kasus aborigin di Australia atau penyerobotan tanah di tanah air yang masih juga terjadi hingga hari, bukankah tema-tema seperti ini masih bermakna?

Bukan hanya di situ saja, Karl May juga mengatakan betapa dalam “perang orang kulitputih”, orang Indian pun ternyata diadu domba (“Winnetou II”, 1893) . Ini terjadi semasa perang Mexico , beberapa saat setelah Perang Saudara berakhir (1861–1865 ) ketika pasukan Benito Juarez membawa-bawa suku Apache, sedang Maximillian membawa-bawa suku Comanche. Tidak penting benar, apakah hal itu memang terjadi dalam sejarah , meskipun Juarez maupun Maximillian adalah tokoh sejarah, tapi tema adu domba ini juga tidak luput dari imaji May, dan tetap akan relevan dalam psikologi konflik dan adu domba, kapan saja dan di belahan mana pun dunia ini.

Tidak selamanya seri Amerika ini menyangkut nasib Indian. Sebagian besar sebenarnya adalah tentang manusia dan kemanusiaan, namun dibungkus dalam cerita petualangan. Mulai dari tema yang sederhana, seperti orang yang kecanduan narkoba hingga menghacurkan kehidupan saudaranya (“Winnetou II”, 1893), atau ketamakan manusia akan emas pada masa demam emas goldrush—yang disebut May sebagai “deadly dust “ alias debu maut)— yang banyak menjadi tema penulis cerita western (“Winnetou III”, 1893) , hingga tema atheisme karena keputus asaan dalam menghadapi cobaan hidup yang kemudian–tentu saja— tersadar (Seri “Old Surehand”, 3 jilid, 1894-1896), hingga dominannya napas keagamaan bahkan pada judulnya sendiri, meskipun tetap berlatang belakang kehidupan Barat Jauh (“Natal” atau Malam di Rocky Mountains, 1897).

Namun demikian, betapapun perkasanya si tokoh Indian dalam pandangan May, dia haruslah dimatikan. Meskipun dia adalah si hero. Ini tentu sangat kontroversi, dan mengingatkan akan “The Last Mohican” nya Cooper. Tetapi May menyatakan bahwa kematian ini perlu, untuk melambangkan bahwa pada akhirnya suku bangsa Indian itu akan punah. Untuk itulah si Winnetou harus “digugurkan” pada usia yang muda, yaitu 34 tahun. Tepatnya, lahir pada 1840 dan meninggal pada 2 September 1874 (!)


to be continued…

15 Comments to "Karl May (1842-1912) – Part 2"

  1. Yas Zendrato  7 January, 2012 at 23:28

    Seru banget…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.