Kuala Lumpur

Djoko Paisan – Mainz, Jerman


Hallo Baltyraer…

Salam jumpa dengan oret-oretan Dj. Semoga tidak bosan ya, karena Dj. hanya bisa cerita apa adanya saja. Seperti mas Iwan sudah pernah tulis, kalau Dj. sangat polos (telanjang), semua bisa melihat apa yang ada.

Benar memang, karena amanat Alm. Ibu dulu yang selalu bilang, jangan suka bohong. Kalau kamu berkata jujur, maka kapanpun kamu ditanya lagi, maka jawabannya akan sama. Tapi kalau kamu bohong, maka lain kesempatan kamu ditanya lagi, maka kamu tidak tau lagi jawaban yang sebenarnya dan kamu akan bohong lagi, maka jiwamu akan gelisah.

Baiklah, kali ini Dj. ingin cerita perjalanan kami dari Mainz, sampai di Kuala Lumpur.

Jujur, sebenarnya Dj. juga tidak suka cerita yang melankolis, sedih atau yang bersifat mengeluh. Karena bukan sifat Dj. melihat kembali hal yang jelek di masa lalu, lebih senang melihat hari-hari yang indah yang bisa dinikmati. Tapi maafkan Dj. karena ini juga hal yang sebenarnya.

Kami berangkat dari Mainz dengan suasana yang cukup gembira, walau beberapa hari sebelumnya, si Ragil kesleo kakinya dan harus ke dokter, baru keluar dari dokter, turun anak tangga, malah kesleo kaki yang lainnya. Kami sedikit kuatir, kalau dia tidak bisa ikut, karena kakaknya sekeluarga yang sebenarnya juga mau ikut, sudah membatalkan. Karena tidak dapat ijin libur, yang sama dengan hari libur kami, achirnya mereka memutuskan 2 minggu kemudian berlibur ke Spanyol.

Dari Mainz ke Frankfurt Airport, kami gunakan K.A. yang hanya makan waktu 30 menit dan di bawah ini bisa dilihat, kaki kiri si ragil yang masih dibungkus perband dan penyangga, agar tidak salah bergerak, jadi jalannya pun saat itu masih dengklang.

Saat Check In di Frankfurt, kelihatan seperti mau minggat, karena banyaknya Koffer yang kami bawa. Semuanya berjumlah 9  koffer….Hahahahahaha…!!!

Di sini Dj. perhatikan, ada perbedaan check in, karena di Frankfurt kami check in, masih di luar. Kalau di Indonesia, check in nya sudah di dalam, jadi yang antar tidak bisa ikut masuk.

Nah ya… ini makanan di pesawat, anda semua pasti mengenalnya. Kelihatannya sangat indah, hanya tidak demikian dengan rasanya, tapi Guave Juice nya lumayan.

Akhirnya, kami sampai juga di Kuala Lumpur. Di sini, kami masih kelihatan segar dan sedikit penasaran, maklum baru untuk pertamakali ke K.L.

Kamipun segera Chek In di Hotel dan di sini, mulailah pengalaman yang sedikit menyedihkan. Karena di Front office, kami sedikit dicuekin dan tidak dilayani dengan baik.

Malah kami dikatakan datang kepagian. Haaach….???!!! Bagaimana mungkin, lha wong pesawatnya landing jam 6 pagi dan transfer hotel sudah nunggu. Kami dianggap datang kepagian, tapi Dj. dengan ramah minta tolong, agar bisa dapat kamar, walau harus bayar extra yang setengah hari (dari jam 8:00 – jam 12:00).

Ditolak dan dibilang semua kamar penuh, tidak ada kemungkinan untuk dapat kamar di pagi itu. Dj. mulai muter otak , karena nunggu sampai jam 12:00 masih sangat lama.

Olehnya Dj. minta dikasi tunjuk di mana ruang breakfast, e…dia jawab di Mal.

Di Mal…??? dia jawab “ya”. Bagaimana dengan breakfast di hotel…??? Dia jawab, sudah full…!!! Lemes deh badan Dj. mendengar jawaban yang kurang bersahabat.

Okay, Dj. nanya, di mana Mal yang terdekat dia tunjukan, hanya 3 menit dari Novotel. Kami keluar hotel dan nanya lagi ke satpam yang ada di luar hotel, dan sang satpam bertanya, akan ke mana sepagi ini Mal belum buka.

Dj. jawab mau cari sarapan, e….malah si Satpam yang jawab, mengapa tidak di hotel saja…??? Dj. jawab, dibilang sudah full… si satpam geleng kepala…

Sambil jalan-jalan tanpa arah, karena tidak tau mau kemana, orang dibilang Mal masih tutup. Untung udara saat itu, cukup sejuk, walau lembab, rupanya habis hujan semalam, jalanan masih basah.

Kami melihat ujung bangunan ini. Ujung dari Twintower yang sedikit berkabut, membuat kami sedikit bersemangat lagi.

Sehingga kami berjalan ke arah Twin Tower, untung  hanya ±15 menit dari Novotel. Kami malah melihat Aquarium, yang mana kami pernah dikasi informasi dari saudara di Holland. Di depan Aquarium (semacam Sea Life atau Sea World).

Sampai di Twin Towerpun, Mal belum buka dan kami menunggu di depan Twin Tower, seperti anak hilang. Cape, lapar, tapi tidak ada yang mau tau….

Saat Mal buka, maka kami segera masuk dan menuju ke Foodcourt. Karena makanan di pesawat tidak mungkin bisa makan sampai habis, paling cuma nyicipin saja. Jelas, kami juga hati-hati dan makan makanan yang direbus matang, seperti mie bakso dan miehun goreng kesukaan Dj.

Setelah kenyang dan badan kuat, maka kami sedikit jalan-jalan di Mal menghabiskan waktu, menunggu sampai jam 12:00 dan kembali ke Novotel. Sesampai di Novotel, dibilang belum ada kamar, karena jam 12:00 tamu baru Check Out, jadi harus nunggu sampai 14:00 sampai kamar selesai dibersihkan. (Bisa dimengerti sih)

Kami hanya duduk di Loby dan menunggu jam 14:00 dan pas jam 14:00 Dj. ke reseption lagi dan menagih janji. Ternyata dia minta maaf, belum bisa kasi kamar, jam 15:00 juga belum, jam 16:00 juga dibilang belum. Maka Dj. jadi sewot juga, karena Susi dan anak-anak sudah pada ketiduran di Lobby.

Karena Dj. marah, maka Managernya keluar dan minta maaf, tapi dia kasi 1 kamar untuk sementara, agar bisa tiduran di kamar. Yaaaa…h… 1 kamar utuk tidur berempat…??? Dan dia mengundang kami untuk mendapatkan Welcoming Drink….??? Kami sama sekali tidak mengindahkannya.

Tapi Susi menyabarkan Dj. dan menerima kamar yang 1 ini dan baru kami mau tidur, ditelpon karena kamarnya sudah siap. Kami semua serentak teriak HALELUYA….!!!!   (Bukan halilintar lho mas Prabu…).

Akhirnya, kami bisa istirahat sebentar dan bikin bersih badan dan malamnya kami jalan keluar untuk melihat K.L. Kami dengan taxi ke KL Tower dan dari atas kami dapat melihat kota Kuala Lumpur dan coba mengambil photo, kami menunggu sampai matahari terbenam.

Keesokan harinya, Susi ambruk, muntah berak, dia tidak berani jauh dari WC. Dia pikir, dia cukup bawa obat-obatan dari Mainz dan hal ini masalah biasa (pikirnya). Karena dia tidak ingin kalau Dj. dan anak-anak hanya diam di Hotel nungguin dia.

Olehnya kami dia anjurkan agar ikut City Tour, jadi hanya Dj. , Eva dan Daniel ikut City Tour. Kami mengunjungi pembuatan batik yang cukup canggih dan sangat tangkas seseorang mepertunjukkan kemahirannya.

Eva dan Daniel di depan Sultan Palace.

Walau anak Dj. gemuk, taunya masih ada yang melirik juga, hahahahaha…!!!

Di depan Museum.

Malamnya Dj. dan anak-anak jalan ke Hard Rock Cafe. Makan BBQ dan Hamburger.

Anak-anak cukup Happy, karena bisa membeli kenang-kenangan dari Hard Rock Cafe.

Paginya, Susi merasa sehat dan sudah bisa ikutan jalan ke Aquarium.

Malamnya kami jalan-jalan ke China Town. Di sana kami banyak melihat dan menemukan barang-barang yang menurut kami agak aneh. Semua barang bermerk, dengan harga yang merakyat. Jelas Eva dan Daniel, sangat bahagia dan disana mereka mulai belajar menawar. Dj. sudah kasi tau, tawar separoh harga, tapi mereka masih takut dan kadang mereka tawar 75%, ya jelas langsung dikasih.

Tapi hari berikutnya, siang kami datang ke sana lagi, mereka sudah berani nawar hingga 60%. Nah ya, namanya anak-anak, mereka merasa sangat gembira, karena di Mainz, tidak mungkin boleh nawar.

Nah di bawah ini saat Twin Tower lampunya masih terang benderang.

Saat lampu dimatikan, maka kamipun cari taxi dan pulang ke hotel. Satu hal yang anak-anak lihat dengan heran, karena di depan Twin Tower, taxi tidak boleh berhenti, tapi mereka ingin cari penumpang dengan melambaikan tangan dan bunyikan klakson..teeet…teeet…tet…tet…!!!

Sedang Satpam melambaikan tangannya agar taxi tidak berhenti dan dengan peluitnya, selalu berbunya Priiit..!! Priiit..!!! Priit..!!! Jadilah bunyi Priiit…teeeet….priiit…teeet…prit..tet..prit..tet..prit..tet..prit tet prit tet….!!! Hahahahaha…!!!

Okay sobat semua, banyak sudah yang Dj. tulis dan mudah-mudahan tidak membosankan ya.

Karena lampu di Twin Tower sudah dipadamkan, maka perkenankan Dj. menutup cerita ini. Banyak memang photo yang Dj. dan Daniel ambil selama di Kuala Lumpur, yang jelas selama 5 hari, dari kamera Dj. lebih dari 700 photo, belum dari kamera si ragi Daniel. Dj. usahakan beberapa saja yang Dj. anggap lumayan, agar pengasuh BakTyRa tidak kewalahan dengan banyaknya Photo….

Terimakasih semua pengasuh BalTyRa, yang selalu bersabar dengan oret-oretan Dj. yang sangat sederhana ini. Terimakaksih juga kepada anda semua yang telah bersabar membaca cerita ini. Semoga Kasih dan Berkat TUHAN, selalu menaungi kita semua.

Teriring salam manis untuk anda semua dari kami di Mainz.

Dj. 813

About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *