Maling Teriak Maling

Alexa – Jakarta


Hai Baltyran, aku ingin memperkenalkan satu “asset” ku yang sangat besar jasanya. Ya, si notebook merah menger-menger ini , 12 inchi bermerek Axioo ini sudah lama ikut aku dan membantu melaksanakan tugas. Salah satu baju yang sering kupasangkan di body si merah ini berbahan batik – memang di kantor aku dikenal sebagai penggila batik….semua yang bisa dibatikin pasti dibatikin.

Kenapa aku pilih Axioo  yang notabene merek lokal. Ini masalah kebiasaan aja,  di BII tempat   kerjaku terdahulu  (yang suka dipanjangin sama karyawannya jadi Bank Irit-Irit)  demi pengiritan  semua computer pakai merek lokal Zyrex…bertahun-tahun memakainya  tidak pernah mengecewakan jadi aku gak pernah alergi dengan gadget lokal. Nah pas pindah kantor ke Commonwealth Bank, ada teman yang pintar IT pakai Axioo dan dia memaparkan serangkai keunggulan Axioo – jadi deh ikutan beli. Sebenarnya saat memilih notebook itu parameterku simple banget – pertama beratnya berapa kg (temanku sampe hoek-hoek dengarnya – emang lo pikir beli daging), harus ada DVD Writer, sistim koneksi komplit (selain Wifi, eksternal modem tertanam juga internal modem)…dan harga semurah-murahnya (dasar wanita hemat alumni Bank Irit-Irit).

Si Merah ini tadi seharian di kantor (perusahaan asset manajemen di Plangi) membuktikan kedigdayaannya saat sistim Wifi dikantor diblokir sementara oleh Manajemen (entah kenapa), semua akses notebook teman mampet tapi si Merah otomatis cari koneksi lain dan voila di Plangi ada sejibun akses Wifi lain. Tapi sumpe deh, notebook teman-teman yang harganya 10 kali lipat gak bisa akses ke kanal Wifi lain.

Nah akibat kemampuan si Merah ini berselancar sendiri, suatu hari aku pernah ketimpa masalah Office Politicking yang berat. Pagi itu begitu sampai di kantor dan mulai membuka notebook, si merah mencari akses yang paling PW (posisi wuenak) dan tiba-tiba sudah tersaji  isi kepala perusahaan di layar. Aku sampe mencelit dari tempat duduk dan segera menengok sekeliling, semua tampak menekuni notebook masing-masing (waktu itu aku mikir jangan-jangan mereka juga lagi baca data perusahaan).

Perlahan-lahan kubaca data-data perusahaan, we ow we alias WOW, luar biasa cara berpikir Mr. The (owner) – movenya terlihat jelas, lihai dan terproteksi karena semua dicover by law. Aku bisa melihat visi jangka panjangnya, break down per periode bahkan sedikit permainan kotornya juga terlihat. Tapi semua masih acceptable dan membuat kukagum dengannya, semua portfolio klien juga terpampang jelas. Aku pikir ini sekedar kebocoran sementara tapi ternyata keesokan harinya si Merah tetap membuka data yang sama.

Aku bertanya ke teman sebelah (sebut saja namanya Radit) apakah dia juga menemukan hal yang sama, dia terperangah melihat data yang terpampang. Dan waktu kubilang mau segera lapor ke Mr The, Radit melarang dengan bejibun alasan termasuk bahwa takutnya ntar aku yang malah disangka Hacker….”just keep it for ourselves,” yang dengan bodohnya kusetujui. Oh iya sebelum kejadian ini, aku pernah nemuin spy perusahaan lain di kantor via internet juga dan sempat kulaporkan ke Datuk K.

Sebulan kemudian Datuk K memanggilku dan bilang kalau ada informasi bahwa aku membobol data perusahaan, aku langsung kaget dan teringat Radit dan memang Radit-lah yang melaporkan. Dalih Radit adalah aku ini  double agent di perusahaan lain yang mau ambil data customer base. Saking pinternya Radit ngomong, jajaran manajemen sampai minta ke Datuk K supaya aku dikeluarin aja. Waktu itu beberapa temanku langsung fully backup dan balik menuduh Radit (memang sebelumnya aku menceritakan ke beberapa sahabat di kantor tanpa membuka file bersangkutan).

Cukup lama tarik menarik yang terjadi bahkan dalam Monday Meeting masalah ini dikemukakan juga tanpa menyebut nama. Aku yang biasanya memang selalu blak-blakan minta dikonfrontir dengan Radit di depan Datuk K, sayangnya Radit menolak hal itu. Akhirnya kukatakan ke Datuk K kalau aku tidak terima dengan tuduhan itu sembari mengingatkan bahwa aku-lah yang menemukan spy di perusahaan waktu itu sambil menunjukkan customer base bawaanku yang nilainya Trilyunan ( dari Bank Irit-Irit itu ) – sekedar sebagai statement kalau aku tidak butuh customer base dari kantor. Datuk K menjanjikan untuk segera klarifikasi masalah ini.

Seminggu kemudian aku dipanggil Datuk K dan dijelaskan bahwa masalah sudah dianggap clear tanpa penjelasan lebih lanjut, dia hanya ngomong supaya selanjutnya aku kerja seperti biasa aja. Habis itu aku lihat giliran Radit dipanggil bersama dengan si Duda yang juga merupakan atasan langsung Radit. Setelah itu selama seminggu aku tak pernah lihat Radit, hingga akhirnya ada kabar bahwa Radit masuk rumah sakit terkena serangan stroke. Semua heboh menjenguk kecuali aku dan para sahabat  hingga akhirnya Datuk K memanggilku ke ruangannya dimana sudah ada Pak Paul di dalamnya. Pak Paul langsung nanya,”Xa, kok kamu belum nengok Radit?”, Penting apa Pak nengok dia?, balasku bertanya.

Selanjutnya aku langsung minta klarifikasi masalah aku dan Radit itu ke Datuk K. Datuk K akhirnya menjelaskan bahwa dia sempat mengutus spy untuk membuntuti aku maupun Radit. Dimana akhirnya ketahuan kalau Radit selalu meeting bahkan mendatangi perusahaan sejenis. Datuk K sangat gusar menemukan fakta ini makanya waktu manggil Radit itu dia menjelaskan backgroundnya yang berasal dari belahan Sumatra sana yang cukup radikal budayanya. Datuk K menjelaskan bahwa dia pernah “menghilangkan” beberapa lawannya yang kebangetan dan selama ini dia tidak pernah bermasalah dalam rekam jejaknya itu, dia menjelaskan temuannya perihal kelakuan Radit itu. Dan dia nantangan ke Radit mau dibikin apa – dibikin perkedel atau ditendang keluar dengan terkaing-kaing. Konon Radit menangis-nangis minta ampun.

“Oh oh jadi judulnya maling teriak maling, Pak”, kataku.  Pak Paul menepuk-nepuk punggungku, ”Beneran kamu tak ingin menengok Radit?”. “Menurut saya, kedatangan saya ke sana belum tentu membawa kebaikan, bagaimana kalau tensi Radit malah naik?, tanyaku. Pak Paul dan Datuk K mengamini pendapatku.

Dua minggu kemudian aku dapet SMS kalau Radit meninggal dunia, waktu itu aku lagi liburan menyusuri jalur pantura bersama teman, kami bermobil santai sembari kadang-kadang berhenti dan menginap di kota tertentu tanpa planning apapun. Pas masuk kembali ke kantor, di toilet aku bertemu dengan Pipi-isteri Radit yang juga berkantor di tempat yang sama. Pandangan kami beradu di kaca toilet, wajahnya masih kuyu- dia hanya tersenyum lemah. “Kak, maafkan Radit ya,” katanya. Aku menatapnya nanar melalui kaca dan menyadari bahwa hingga Radit meninggalpun aku belum dapat memaafkan dia karena bagiku nama baik itu penting, 10 tahun kerjaku di perbankan kuisi dengan tinta emas dan setelah masa itu lewat siapa juga yang ingin mengotori track recordnya sendiri. Apalagi ini dikotori dengan fitnah nan keji oleh orang yang ternyata sekedar maling teriak maling.

Ternyata orang yang bisa bilang Forgive but Not Forgotten itu lebih baik daripada aku yang tak kuasa bilang Forgive  tapi aku yakin dengan bantuan waktu aku bisa melupakan. Apakah aku mendendam, rasanya sama sekali tidak….bukankah mendendam itu berarti mengambil langkah aktif membalas sakit hati? Berkaitan dengan Radit aku hanya merasa kekosongan yang dalam bak memasuki sumur tanpa dasar, sekedar melayang dan mengapung saja tanpa rasa apapun. Tak penting rasanya memaafkan ataupun tak memaafkan karena permintaan maaf tak pernah keluar dari bibirnya, aku akan sekedar membiarkan Hakim Maha Adil menjalankan Peradilan yang Agung.

Fitnah itu kejam dan dampaknya lebih menyakitkan dari pembunuhan dan sayangnya fitnah itu terlalu mudah dilakukan dibandingkan membunuh apalagi tak ada sangsinya so siapa saja merasa “berhak” memfitnah bahkan di dunia maya yang dikatakan,”matikan saja komputernya maka masalah akan selesai,” juga menjadi ajang fitnah pada diriku. Tapi ternyata dengan menjadikan sabar sebagai sahabat kehidupan maka kuasa Tuhan akhirnya menunjukkan juga kebenaran…saat ini kebenaran yang absolute itu telah bicara.

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *