Duitku, oh!

Bagong Julianto – Sekayu, Sumsel


1. Negeri Para Jutawan

Satu saat bersama kolega negeri jiran beberapa waktu lalu, dia nyelutuk: “Indonesia ini adalah negeri para jutawan!”. Setiap pekerja di kebun adalah jutawan. Saya senyum kecut. Nyata, total penghasilan setiap pekerja berbilang jutaan rupiah……. Ah, rupiah memang satuan terkecil sebutan mata uang atau duit Indonesia. Si Malaysia itu satuannnya ringgit, yang artinya jadul adalah 2,5 rupiah. Seringgit jaman noroyono memang dua setengah rupiah! Sekarang, seringgit kita dan ringgit Malaysia jauh nian bedanya.

2. Jutawan Gak Selalu Sejahtera

Gaji jutaan tidak menjamin sejahteranya para pekerja. Tidak satu dua kali, jumpa jutawan yang mengeluh: perangai gali lubang tutup lubang adalah aktivitas yang tidak bisa dielakkan. Tentu tidak semua mengeluh. Tidakpun banyak penggali lubang, istilah jutawan mesti dikoreksi. Jutawan penggali lubang!

3. Jutawan yang Lusuh

Saat di Palembang hendak bayar parkir, tercabut dan terkoyaklah sehelai ribu rupiah itu. Duitku ternyata demikian lusuh dan renta. Sobekan miring sekitar 2 cm itupun saya simpan. Saya membatin, adakah jutaan jutawan lain di Indonesia ini juga akan mengisolasi atau menempel balik robekan duit dengan lem dan atau butiran nasi plus kertas minyak transparan?

4. Indonesia Lusuh pun Rusuh

Negeri lusuh, dihuni jutaan jutawan lusuh dan para pemimpin yang rusuh dengan dirinya sendiri. Siapa yang peduli dengan kerapian-kebersihan alat tukar kita? Lusuhnya rupiah adalah kusutnya alam pikir kebangsaan kita. Uang lusuh, menunjukkan betapa hebatnya perjalanan genggam uang ini. Itu ‘kan dulu! Jadul, uang lusuhpun tidak sulit dicari. Tapi tingkat kelusuhannya tidak sehebat uang sekarang. Satu lagi: uang lusuh sudah merambah ke uang dua puluh ribuan…..

5. Menghargai Rupiah

Hampir setiap hari, saya mendapat banyak uang lusuh. Ribuan, dua ribuan, lima ribuan, sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Lusuh dan banyak nian ragam cacatnya. Lubang ter atau disundut rokok, coretan patah hati, no hp dan sekedar menuliskan nama. Uang lusuhpun saya setorkan ke Bank. Dengan menyetorkan semisal Rp 3.333.333,-; 4.444.444 dan 8.888.888,- saya berharap dapat pengembalian rupiah hingga satuan terakhir. Gak pernah dapat. Gak pernah berhasil. Serupiah, dua rupiah, lima rupiah: di manakah kau kini?

Sampunnnnnnnn. Suwunnnnnnnnnn (bgj, 0810)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.