Menggagas Hujan Yang Tak Jadi Hujan

Octavero


Briefcase of arguments : menggagas “hujan” yang “tak jadi hujan”

Sore ini saya berada pada rutinitas yang seperti biasanya, sama pada sore sore sebelumnya yang diulang-ulang. Ya… diulang ulang…. Tapi ketika saya menatap ke arah langit dan mendapati bahwa mendung tebal tengah menutup sebagian besar wilayah kota kecil ini, membuat sore saya berbeda, dan tentu saja dengan “train of thought” yang sambung menyambung.

Mendung tebal menggelayuti kota ini di awal Agustus 2010, perlahan lahan titik titik air mulai merayapi ruang di antara awan mendung dan bumi, sepertinya titik titik air itu melaju dalam jalur kapiler yang menuju ke arah pasti. Sebelumnya, tanpa pikir panjang saya bergumam “ups, …. Mendung e kandel banget ig… wah … ndang gage bali wae kih..” (ups,… mendungnya tebal sekali… wah buruan pulang aja ah) dan saya berjalan santai menuju parkiran kantor.

Malam sebelumnya…

Ketika saya sedang menikmati sebatang rokok, duduk di kursi santai depan kamar kost, salah seorang rekan saya datang menghampiri “njuk udut’e” (minta rokoknya) begitu ia membuka pembicaraan, dan saya sodorkan sebungkus rokok yang saya kantongi di saku kiri celana saya, lengkap dengan korek gas yang saya beli di salah satu mini mart di kota ini. Kemudian lirih-lirih terdengar suara tumbukan rintik hujan di atap kamar, maklum atap terangkai dari lembaran seng sehingga membuat suara tumbukan memiliki level volume yang lebih besar dari suara yang diakibatkan oleh tumbukan antara rintik hujan dengan genteng dari tanah liat. “hmm…. Udan… sip!”,”ora yoo…. Paling iki mung tletik thok, kan ono dandangan… ra mungkin udan….”,”lho… lha knopo?”,”nek ono dandangan kan udan e di pawang”

(“hmm…hujan…sip!”,”ga mungkin…paling juga cuman gerimis tipis doang, kan ada dandangan… ga mungkin hujan…”, “lho.. lha kenapa?”, “kalo ada dandangan kan hujannya di pawang”)… merespon pembicaraan singkat tersebut, saya menjadi kecewa karena memang benar, gerimis hanya terjadi sebentar saja lalu tidak jadi hujan.

Beberapa hari ini adalah hari hari di mana kota Kudus mengadakan “dandangan” sebuah tradisi  yang diadakan menjelang bulan suci Ramadan. Wujudnya adalah berupa pasar malam yang diadakan di sekitar menara kota Kudus, dan kini meluas  ke lokasi lokasi di sekitarnya, berlangsung selama kira kira tujuh hingga sepuluh hari. Tradisi seperti ini diselenggarakan pula di daerah yang lain dengan nama yang berbeda, seperti padusan – Boyolali dan sekitarnya, Dugderan – semarang, Meugang – NAD, Megengan – surabaya. Tidak akan saya bahas lebih lanjut mengenai tradisi yang satu ini toh juga buat saya esensinya tetap sama saja.

Ketika masyarakat menghendaki cuaca yang cerah untuk perhelatan yang mereka adakan, maka sering kita dengar bahwa untuk menanggulangi cuaca buruk (dalam hal ini hujan) dipanggillah pawang hujan, dengan harapan agar perhelatan yang diadakan berlangsung lancar tanpa kendala termasuk dari sisi perputaran uang ketika perhelatan (dalam hal ini pasar malam) diadakan. Di negara ini, cuaca buruk masih menjadi salah satu penyebab menurunnya animo masyarakat pada suatu perhelatan, sehingga menjadikan solusi memanggil pawang hujan kebanyakan berada di posisi teratas dalam list dokumen analisis dan solusi.

From : http://www.tobaphotographerclub.com/data/media/13/ritualre.jpg


Teknologi

Pada dasarnya teknologi diciptakan untuk meringankan pekerjaan manusia serta pada prinsipnya selalu ingin menjadi jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi manusia. Nah… dari hal tersebut mari kita lihat hubungannya dengan paragraf awal. Payung, raincoat, tratag, mobil, becak, dokar, etc. adalah produk produk yang diciptakan sebagai alat maupun sarana mengatasi permasalahan hujan, meskipun seiring berjalannya waktu, produk dikembangkan sehingga mampu menjabat sabagai produk multi purpose.

Dan dari sekian macam produk tersebut semuanya kasat mata, semua orang mampu untuk meraihnya. Bila riset diadakan untuk menciptakan produk hasil teknologi, dan diharapkan mampu menjadi solusi terhadap permasalahan manusia, lalu letak keberadaan pawang hujan ada dimana? Apakah itu merupakan salah satu produk teknologi tak kasat mata yang pernah dihasilkan manusia? Pawang hujan dipanggil untuk menolak hujan pada suatu area ketika di area tersebut memiliki kemungkinan turun hujan di atas 50% (fiuh…kalimat yang aneh.. wkwkwk), apakah pernah diajarkan di sekolah?

Saya teringat ketika masih duduk di kelas lima sekolah dasar, menjawab salah satu pertanyaan dari guru saya “sebutkan produk teknologi yang diciptakan manusia untuk mengatasi hujan?” jawaban semua murid pada waktu itu benar semua kecuali pawang hujan, alasannya adalah pawang hujan bukan produk teknologi, tetapi manusianya yang menjadi pelaku dan tidak melalui riset. Entah itu benar atau tidak, berhubung dia guru ya mau tidak mau sebagai murid, saya terpaksa menurut.

Pawang hujan dipanggil untuk menolak atau memindahkan hujan, dari kata menolak saja sudah menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan manusia kontradiktif dengan apa yang dimaui oleh alam. Seringkali saya bertanya tanya, dari mana para pawang hujan tersebut memiliki kemampuan serta kuasa untuk menolak maupun memindahkan lokasi terjadinya hujan? Bisakah kita sebagai orang awam mempelajarinya? Bilapun iya, siapakah gurunya? Lulusan manakah dia? Wkwkwk. Mungkin mereka yang berkepentingan dengan hal ini akan menjawab bahwa tidak semua orang memiliki bakat dan kemampuan untuk melakukan itu, dan pertanyaan selanjutnya adalah, dari mana kita tau bahwa seseorang memiliki kemampuan itu? Dan rantai pertanyaan yang bisa membuat pusing kepala saya mengalir dengan deras.

Sebenarnya tidak hanya pawang hujan yang sering kali penjelasannya tidak dapat diterima secara logis. Anda semua pasti pernah mendengar ilmu hitam, seperti santet, praktek perdukunan, tumbal untuk penglarisan dsb. Itupun penjelasannya juga tidak dapat diterima secara logis. Memang di beberapa negara lain juga memiliki hal hal sejenis seperti vodoo, tapi untuk kasus kasus seperti ini saya rasa kok lebih banyak terjadi di negara kita, apa karena saya lebih sering menyempatkan waktu hidup di Indonesia sehingga bisa berpendapat begitu ya?

Bahkan pada masa penjajahan pun sudah ada jimat yang disandang oleh beberapa orang untuk maju bertempur. Dan tetap saja penjelasannya tidak logis. Pernah suatu ketika saya masih kecil melihat kakek saya menaruh sapu lidi dalam keadaan terbalik menghadap ke arah langit, ketika saya tanya mengapa ia melakukan itu jawabannya adalah untuk menolak hujan, dan pada waktu itu berhubung masih kecil dan mudah dibohongi ya akhirnya percaya percaya saja… wkwkwk, meskipun itu benar benar berfungsi untuk menolak hujan atau tidak siapa yang tau?.

From : http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/44011000/jpg/_44011042_rain_pa.jpg


Hujan adalah fenomena alam yang terjadi dengan sendirinya karena peristiwa alam, bilapun sering kita dengar ada istilah hujan buatan, itu dikarenakan para ahli telah melakukan riset yang panjang serta mengamati gejala alam untuk kemudian membuat suatu formula lengkap dengan kondisi bersyaratnya sehingga pada akhirnya manusia mampu menciptakan situasi untuk menurunkan hujan, dan itu tidak serta merta pada launching perdananya mulus, dibutuhkan beberapa kali percobaan untuk menghasilkan formula yang mendekati sempurna.

Dan semuanya mampu dijelaskan atas dasar pengetahuan. Sekarang adakah di antara anda yang mampu memberi penjelasan logis bagaimana sapu lidi yang diletakkan terbalik di atas tanah menghadap ke arah langit mampu menolak datangnya hujan? Ataupun bisa apa enggak sih sebenarnya proses penolakan atau penggeseran hujan oleh pawang hujan yang dalam penjelasannya tanpa harus melibatkan kemenyan, kajian klenik, maupun Nyai Roro Kidul?

From : http://www.photoreview.com.au/features/profiles/parke_summer-rain.jpg


Faktor resiko

Bila kita berbicara masalah teknologi, seperti hujan buatan, akan dapat dilakukan dengan kondisi alam yang normal, artinya untuk dapat membuat hujan diperlukan kondisi bersyarat. Dengan “Normal” dalam arti yang dispesifikasikan oleh para ahli. Sehingga bila hujan buatan dilakukan dalam kondisi alam yang “diluar normal” akan terjadi sesuatu yang dimungkinkan tidak kita harapkan, seperti hujan badai, petir yang berlebihan, dsb…, dari pemikiran ini pun saya mencoba mempenetrasikannya pada kasus pawang hujan.

Bila pawang hujan melakukan tugasnya, adakah efek samping yang ditimbulkan?, entah itu daerah tetangga memiliki curah hujan yang tiba tiba lebih dari yang seharusnya sehingga mengakibatkan banjir, atau terjadi angin kencang disertai halilintar dengan frekuensi yang rapat yang mana itu semua bukan hal yang kita harapkan untuk terjadi. Atau malah yang terjadi aman aman saja, tetapi si pawang hujan mengalami gangguan mental yang cukup serius yang secara dunia kedokteran disebut sebagai schizofrenia kan bisa juga dimungkinkan untuk terjadi. Who knows?

Banyak pemikiran pemikiran yang masih menggantung dan cukup sulit bagi saya untuk mempercayai, bahwa yang dilakukan pawang hujan adalah hal yang wajar dilakukan ketika suatu perhelatan diadakan. Mengingat bahwa sepertinya apa yang dilakukan oleh pawang hujan memiliki efek samping yang juga tidak bisa dipastikan, maka timbulah suatu argumentasi : Tidak adakah jalan keluar yang lebih baik selain menolak maupun menggeser hujan ketika suatu perhelatan diadakan?

Karena menurut saya, yang namanya menolak, merupakan suatu sikap yang sifatnya frontal dan biasanya diikuti dengan sebab akibat. Sama seperti sikap masyarakat terhadap suatu keputusan yang melibatkan banyak segi kehidupan, bila masyarakat menolak, selalu diikuti dengan demo, kadang terjadi bentrokan sehingga tak jarang melalui proses jalur kekerasan. Apa ya tidak ada jalan keluar yang lebih baik dari pada sekedar pertumpahan darah maupun melawan? Seperti “find a win-win solution” kek?

Pernah saya membaca suatu artikel mengenai maksimalisasi kreatifitas pada hal yang sepertinya mustahil untuk dilakukan. Terusan Suez, memang sebenarnya kurang berhubungan dengan konteks sih, tapi tak apalah bila saya sertakan sebagai salah satu contoh… hehehe. Apapun dilakukan oleh manusia sehingga manusia tak lagi mengalami kesulitan untuk melewati terusan suez tanpa harus menjebol barrier yang ada disana. Bahkan kini kapal berukuran besar pun mampu melalui terusan itu tanpa kesulitan. Bahkan beda ketinggian permukaan air pun tak lagi menjadi masalah. Kenapa kita tidak melakukan hal yang sama dalam menyikapi hujan??

From: http://www.thestylehouse.ca/wp-content/uploads/2009/11/weather-picture-photo-mist-rain-reddeath.jpg


Memang saya bukan orang yang munafik, kadang kala saya juga turut merasakan manfaat dari upaya pawang hujan dan saya termasuk salah satu yang berterima kasih atas usaha mereka ketika saya ada suatu perhelatan. Tapi dilain pihak, saya lebih suka semua berjalan seperti sebagaimana seharusnya, dan bilapun hujan datang ketika tidak kita harapkan, biarkanlah ia turun dan membasahi bumi. Buat saya pribadi, lebih memilih untuk mengatasi permasalahan dengan cara yang logis tanpa harus menentang kehendak langit… (cieee…. Bahasanya… wkwkwk). I luv rain (bukan Rain yang notabene artis lho)… tidak ada moment terindah saya lewatkan tanpa kehadiran hujan meskipun hanya gerimis maupun hujan badai sekalipun, karena di situlah manusia menunjukkan dirinya sebagai manusia.

From : http://www.chitambo.com/clouds/cloudsimages/other/rain_accra_oct03.jpg


Kudus, 24 Agustus 2010

Octavero

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.