Dicari: Calon Kapolri Idaman

Sumonggo – Sleman


Selain kabar mengenai seleksi pimpinan KPK, maka akan adanya pergantian pimpinan kepolisian secara “alami” (karena pensiun) juga menjadi berita di media massa terutama calon-calon yang bakal terpilih. Saya tahu judul artikel di atas mungkin terlalu “provokatif”, dalam arti terlalu utopia. Justru sengaja, memang ingin mengetahui respon pembaca bila membaca judul tersebut. Bagaimana kira-kira yang terjadi pada pembaca atau tanggapan pembaca begitu melihat judul tersebut:

1. Sinis

2. “Hal yang mustahil… Hil yang mustahal…”

3. Melengos

4. Tersedak

5. Muntah-muntah

6. Mencret

7. Bisul pecah

8. “Amit-amit jabang bayi …”

9. “Hari gini …”

10. “Nanti, jaman onta gigit besi …”

11. “Sampai kiamat tujuh kali, juga tak bakalan ada ….”

12. “Tunggu sampai sinetron Tersandung sudah masuk jilid dua ribu duabelas”

13. ………………………….. (monggo, diisi sendiri)


Sebenarnya wong cilik sudah cenderung apatis, apa mungkin “stock” yang ada tidak menjanjikan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Seperti sebuah guyonan yang sudah umum:

“Di Indonesia jumlah polisi itu sedikit”

“Ah masa…?”

“Yang banyak …. oknumnya …..”


Pernah terpikir juga, bagaimana sebenarnya mereka ini dulu dididik. Imajinasi mata kuliah mawut yang sekedar angan berikut memang tidak pernah ada dalam kurikulum nyata, entah mengapa melihat realita carut-marut yang ada justru bisa “dipelajari” sendiri dengan lebih cepat:

-Metode rekayasa kriminalisasi

-Manajemen pelestarian makelar kasus

-Teknologi penyelamatan celengan gembrot

-Strategi pembungkaman whistle-blower


Kepolisian memang sedang menghadapi cobaan yang cukup berat. Bisa dikatakan kredibilitasnya berada pada titik terendah, diterpa bermacam kasus, mulai dari Kasus Cicak-Buaya, Kasus Gayus, dan terakhir adalah celengan gembrot para jendral. Dan semua kasus di atas sampai saat ini masih belum ada ending yang jelas. Tidak pernah ada penyelesaian yang pasti dan transparan, selain hanya sekedar mutasi di sana sini. Padahal yang diperlukan bukanlah mutasi tetapi “amputasi” bagaikan mengatasi kanker yang sudah stadium gawat. Masak orang sakit kanker cuma dikasih obat cacing, kapan sembuhnya?

Mencari calon Kapolri yang bersih bagaikan peribahasa, mencari jarum dalam tumpukan jerami ….. Jangan-jangan dalam tumpukan jerami itu bahkan ternyata jarumnya tidak ada …., dan selama ini para pemimpin kita berpura-pura masih ada kemungkinan menemukan jarum tersebut. Jadi mungkin penggambaran yang lebih tepat adalah, bagaikan orang buta mencari jarum dalam tumpukan jerami, yang tidak ada jarumnya.

Tidak seperti jabatan Jaksa Agung, maka jabatan Kapolri tidak bisa diisi oleh orang dari luar. Meski sepertinya kendala tersebut saat ini tidak terlalu penting lagi, toh komitmen Presiden juga masih belum jelas. Ingat ketika dulu masa Jaksa Agung Abdurrahman Saleh yang tiba-tiba dicopot, entah pressure dari mana yang mampu memaksa Presiden.

Sudah sering disebut di media pepatah berikut, sapu yang kotor tidak mungkin bisa untuk membersihkan. Sulit kiranya berharap tampilnya calon dari internal yang mampu membersihkan tubuh kepolisian. Seperti pemeo dari sebuah iklan yang cukup terkenal, “Masak jeruk makan jeruk?”, atau yang lebih parah lagi, “Masak jeruk busuk makan jeruk busuk?” Pernah terbaca di sebuah forum ide entah serius atau bercanda, untuk mengontrak saja dari luar negeri, bagaikan mengontrak pelatih sepakbola saja.

Kembali lagi kepada judul artikel di atas, bila dipikir sebenarnya tidak terlalu salah. Karena kata “idaman” di atas masih belum selesai menutup kalimat. Artinya, tetap masih ada harapan nanti bisa diperoleh calon Kapolri idaman. Tetapi idaman bagi siapa, nah itu perkara lain. Apakah idaman koruptor, idaman makelar kasus, idaman cukong yang kuat membayar untuk menjungkirbalikkan keadilan. Tapi masih sulit rasanya untuk berharap agar yang ada nanti adalah idaman rakyat.

Para pembaca Baltyra yang berbahagia, masih ingat guyonan dari Gus Dur, mengenai tiga polisi yang masih bisa dipercaya. Yang pertama adalah Hoegeng. Karena Pak Hoegeng sudah almarhum sehingga beliau tidak mungkin dipilih, tinggal tersisa dua kandidat. Tentu kita sudah sama-sama mengetahui kiranya dua kandidat Kapolri yang masih bisa dipercaya. Nuwun.



53 Comments to "Dicari: Calon Kapolri Idaman"

  1. blogtronyok  22 October, 2011 at 01:13

    huehehe.. polisi tidur..

  2. Abhisam  4 September, 2010 at 12:00

    kayaknya kapolri-nya makin gak ideal de mas…
    ntar abiz pensiun truz jadi duta besar. baru di jaman sby ini ada mantan kapolri jadi dubes. klo di jaman bung karno dubes itu banyak dari wartawan (ex: adam malik). klo itu kan urusannya jelas, corong indonesia di luar negeri. nah klo mantan kapolri jd dubes, mang polisi berurusan dengan corong-mencorong? lha wong habis ngurus keamanan dalam negeri koq suruh jadi diplomasi dengan negara luar, lah hubungane opo? hihihi…

    eniwei nice post mas sumonggo…

  3. Imeii  4 September, 2010 at 03:46

    nyariinnya dimana ya? dibawah meja ato dilobang semut?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)