Mata Sipit Serbu Negeri Piramid

Bisyri Ichwan


China selama ini memang terkenal dengan orang-orang yang kreatif dan tangguh dalam masalah kerja. Tidak hanya di negerinya sendiri tetapi juga menyebar di negara-negara lain di dunia termasuk diantaranya Mesir, negeri piramida. Fenomena ini saya simpulkan setelah memiliki beberapa sahabat yang berasal dari negeri tirai bambu itu.

(Dokumen Pribadi)

Mengenai orang sipit (baca : China dan para saudaranya) di Mesir, saya memiliki pengalaman sejak berkumpul dengan mereka di dua institut ketika belajar bersama mendalami bahasa Arab dan bahasa inggris. Sepertinya memang pengaruh China di Mesir sudah sangat menggurita dan mampu menguasai dari segala lini terutama dunia bisnis.

Guru saya bahasa inggris berasal dari China, dia seorang mahasiswi yang kuliah di universitas Cairo. Ketika saya menanyakan jurusan yang dia ambil, dia menjawab masuk di jurusan ekonomi. Awalnya saya heran karena ekonomi Mesir tidak semaju China, ternyata ketika saya kejar dengan pertanyaan-pertanyaan, bisa saya simpulkan kalau mereka para orang China yang belajar di Mesir ini memang memiliki obsesi untuk menguasai ekonominya.

Obsesi mereka sangat berasalan sekali. Hampir semua produk-produk elektronik yang beredar di Mesir adalah “product of China”, tidak hanya itu, produk pakaian mulai dari untuk anak kecil hingga dewasa dan aksesoris-aksesoris yang ada semua memiliki lebel sama, “made in China”. Inilah salah satu alasan kenapa mereka memilih belajar jurusan ekonomi tidak di negerinya sendiri.

Herannya lagi, banyak sekali teman saya dari China yang sangat terobesesi mendalami bahasa Arab yang saat ini mulai mendunia dan menjadi bahasa kedua setelah bahasa internasional, bahasa inggris. Tempat-tempat kursus bahasa di Mesir rata-rata di penuhi oleh mereka selain orang Rusia dan eropa.

Selidik punya selidik, teman-teman saya orang China itu juga memiliki inisiatif bisnis timur tengah jangka panjang. Banyak dari mereka yang bukan muslim, walaupun bahasa Arab identik dengan bahasa Islam. Anggapan seperti apa yang selama ini menjadi opini publik bisa dibenarkan yakni “uang itu tidak mengenal agama”, artinya bisnis adalah transaksi kerja yang saling menguntungkan entah agama apa saja yang mereka anut.

China semakin hari di Mesir semakin menyerbu. Mulai dari para bos yang memakai sedan merci jaguar hingga para pekerja keras yang menjual baju “made in Chin” yang keliling ke apartemen-apartemen di Cairo untuk menawarkan dagangannya. Saya mengakui ketangguhan mereka dalam bekerja.

Ketika berdiam diri menonton televisi di rumah, tiba-tiba ada seorang ibu mengetok pintu rumah yang saya tempati. Sewaktu saya bukakan pintu ternyata orang China yang dipunggungnya terdapat tas besar, saya bertanya kepadanya dengan menggunakan bahasa Arab “aiz eh ?”, “butuh apa?”. Dia malah menjawab pertanyaan saya dengan menggunakan bahasa China, tentu saja saya bingung dan tidak tahu artinya. Saya memohon maaf dan menutup pintu kembali.

Seteleh teman satu rumah datang, saya menanyakan kejadian yang baru saja menimpa. Teman saya menjawab kalau ibu China tadi itu adalah seorang pedagang yang menawarkan dagangannya keliling kota. Uniknya, ternyata memang banyak dari mereka yang tidak mengerti bahasa Arab sama sekali, juga tidak mengerti bahasa inggris, mereka hanya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. “Benar-benar nekat!!”, jerit batin saya.

Kawasan mewah seperti di Ma’adi tempat paling banyak para tenaga kerja dari negera asing, banyak sekali ditemukan restoran-restoran asia, mulai dari China, Jepang hingga Thailand, namun retoran China yang paling banyak mendominasi. Hampir di semua mall di Mesir juga menyediakan restoran China. Saya benar-benar heran. Teman saya Omar, orang Mesir hingga sering berkata “Shin yasta’mir Misr”, China benar-benar menjajah Mesir.

Setiap kali saya bekerja mengambil karton kontainer bersama mahmudi, orang Mesir yang melihat mobil kami juga sering menyapa dengan “nyi hao” yang berarti “apa kabar” dalam bahasa China, karena selama ini yang bekerja di Mesir kebanyakan memang orang China.

Penjajahan besar-besaran bahkan telah menyentuh sesuatu yang sangat khas Mesir seperti oleh-oleh untuk para turis yang banyak dijual di pasar tradisional seperti di Khan Khalili, Cairo. Hadiah seperti replika piramid, spinx, patung fir’aun dan Cleopatra, disetiap lebelnya selalu tertulis “made in China”. Kadang saya sampai berfikir, ini salah orang Mesir yang kurang kreatif atau memang mereka kurang peduli dengan hal-hal yang sepertinya sederha seperti benda-benda tadi.

Itulah sedikit fakta dari pengamatan saya tentang orang sipit yang telah menyerbu negeri piramid. Saya membayangkan, apakah nasib Indonesia nantinya juga sama, semoga saja perkiraan saya meleset. Dalam dunia yang sudah mulai terbuka saat ini, kemampuan skill untuk bersaing tidak hanya dibutuhkan tetapi memang benar-benar harus bisa diandalkan jika tidak ingin tergerus oleh yang lain termasuk negara China.

———————————

*Catatan ringan ketika rindu ngobrol dengan teman-teman China yang saya saluti kegigihannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.