Menyusuri Seruyan II (Antara Masyarakat dan Perubahan Iklim)

Handoko Widagdo


19-22 Agustus 2010

Di pagi hari saya berkesempatan untuk melihat pasar tiban. Sebuah kelotok sandar di samping rumah. Kelotok tersebut berasal dari Kuala Pembuang. Barang-barang dagangan seperti sayur, udang dan bumbu dapur diangkut dari dalam kelotok untuk digelar di depan rumah. Para pembeli segera saja datang berkerubut. Mereka memilih barang belanjaan dan bertransaksi dengan si penjual. Sejak sebulan banjir, pasokan sayur hanya ada jika kelotok semacam ini datang ke kampung. Biasanya hanya dua kali seminggu kelotok sayur datang.

Belum semua desa-desa di sepanjang Sungai Seruyan ini terhubungkan dengan jalan darat. Beberapa masih harus melalui transportasi air. Kami mengunjungi beberapa desa yang belum terjangkau jalan darat dengan menggunakan speedboat.

Kampung-kampung tersebut menghadap ke sungai. Arsitektur kampung belum banyak berubah dari tiga tahun yang lalu. Rumah-rumah berderet sepanjang tepian sungai yang terhubungkan dengan jembatan ulin. Masjid dan gedung Sekolah Dasar berada di tengah-tengah deretan rumah. Kampung-kampung tersebut kini telah memiliki dermaga dan gedung SD yang bagus (mungkin dana dari Kabupaten).

Di kampung-kampung ini sekarang banyak proyek-proyek dari berbagai pihak. Misalnya tilpon lokal antar rumah dan antar kampung, listrik tenaga surya, proyek air minum dan sebagainya. Namun sayangnya proyek-proyek tersebut kurang dipersiapkan dengan matang, sehingga banyak yang tak berfungsi bahkan sejak instalasinya dipasang. Akhirnya barang-barang tersebut hanya menjadi benda asing yang membuat wajah desa menjadi aneh.

Perubahan iklim yang terjadi saat ini menyebabkan musim yang seharusnya sudah kemarau, tetapi hujan masih saja datang. Bahkan karena hujan yang tiada kunjung reda, Sungai Seruyan banjir. Air sampai ke beranda rumah. Saat kami mau berkunjung ke komunitas yang tinggal di seberang sungai, kami harus melewati bawah pepohonan yang saat kering adalah pekarangan.

Banyak lelaki yang aku temui di desa. Hal ini berbeda dengan kunjunganku tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu, kalau kita ke kampung pada siang hari, tak akan bertemu dengan lelaki. Sebab mereka sibuk mencari ikan di danau-danau dan anak-anak sungai.

Namun karena banjir yang sudah lebih sebulan, mereka tak bisa mencari ikan, Ternyata perubahan iklim atau yang dibahas di dunia internasional dalam workshop-worshop di hotel-hotel besar dengan nama Climate Change, telah nyata hadir di kampung-kampung tepi Sungai Seruyan. Sementara para ahli sibuk membahas masalah perubahan iklim dengan berdebat, berseminar dari kota dunia ke kota dunia lain dan tidak kunjung selesai, masyarakat kampung, terutama para lelakinya menunggu saat untuk mereka bisa kembali mencari ikan.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.