Perang Ketupat

Aimee


Sesuai janji nih, kemaren kan saya nulis tentang Rebo Kasan. Sekarang pengen nulis tentang  Perang Ketupat yang ada di desa Tempilang, Bangka Barat.

Sejujurnya saya sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung pesta adat perang ketupat, selain lokasi yang cukup jauh dari Sungailiat, kami dahulu tidak mempunyai kendaraan mobil untuk berwisata ke tempat yang begitu jauh. Apalagi keluarga kami KB, keluarga besar. Hanya mempunyai sebuah motor  Yamaha merah yang stangnya macam ketapel itu. Sedang anggota keluarga kami totalnya ada 6. Bagaimana cara biar muat semua, mungkin harus disambung papan dan digeret lah anaknya 4 orang itu.

Jadilah semasa saya tinggal dan besar di pulau Bangka, tidak pernah sekalipun saya menikmati yang namanya pesta adat perang ketupat. Namun rasanya banyak juga teman teman saya yang lain yang tidak pernah menyaksikan pesta adat ini, dikarenakan pesta adat ini adalah pesta adat urang melayu, urang pri sebutan kami. Walaupun tidak ada perbedaan mencolok antara urang pri dan urang cin. Namun pesta adat perang ketupat ini hanya dilakukan di desa Tempilang saja, yang mayoritas penduduknya lebih banyak urang pri.

Artikel ini saya ambil intisarinya dari  www.dukonbesar.com

Pesta adat perang ketupat  tahun ini di selenggarakan pada tanggal 1 Agustus 2010, biasa dilakukan menjelang memasuki awal bulan Ramadhan. Lokasi di bibir Pantai Pasir Kuning desa Tempilang, kabupaten Bangka Barat.  Sebelum perang ketupat berlangsung, sehari sebelumnya diadakan Upacara Panimbongan.

Upacara Panimbongan dimulai dengan menyanyikan lagu Timang Burong (menimang burung) dengan diiringi tari Serimbang (tari penyambut tamu)  yang ditarikan oleh lima penari dengan baju dan selendang merah. Lagu Timang Burong dinyanyikan dengan diiringi suara gendang dari enam penabuh serta alunan dawai.  Tarian ini adalah tarian pembuka dari upacara adat perang ketupat, yang memperlambangkan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran burung malam.

Lagu pengiring tari Serimbang :

Gendang panjang, gendang Tempilang
Gendang disambit, kulet belulang

Tari kamei, tari Serimbang,

Tari keknyambut, tamu yang datang

Setelah acara tarian ini selesai, pertanda malam telah datang, maka upacara Panimbongan inti segera dimulai.  Tiga dukun dari kecamatan Tempilang terdiri dari dukun darat, dukun laut dan dukun senior memulai upacara Panimbongan. Secara bergantian ketiga dukun ini memanggil roh-roh gunung (inilah tamu tamu yang disambut dengan tari Serimbang) .

Yang mana roh-roh tersebut adalah roh baik yang menjaga masyarakat desa tempilang. Tujuan memanggil roh-roh gunung (darat) adalah untuk memberikan sesaji kepada mereka. Menurut cerita jika tidak diberi makan maka roh-roh tersebut akan kelaparan dan mengganggu ketentraman masyarakat desa Tempilang. Sesajian berupa makanan tersebut diletakkan diatas panimbong atau rumah rumahan dari kayu menagor. Makanya upacara ini disebut upacara Panimbongan.

Selain tari Serimbang juga ditarikan tari Campak, tari Kedidi, dan Tari Seramo.

Tari Campak ditarikan dengan diiringi pantun bersahut sahutan. Ciri khas budaya semenanjung, selalu ada terselip pantun. Tarian ini selain untuk acara pesta adat, juga ditarikan pada saat pesta pernikahan. Lain halnya dengan tari Kedidi, yang ditarikan seperti halnya pencak silat, yang menirukan gerakan gerakan dari burung Kedidi. Tari Seramo adalah tarian penutup, dimana perlambang kebenaran melawan kejahatan. Makanya tarian ini terasa lebih dinamis, energik, karena melambangkan pertempuran habis habisan.

Malam semakin larut, namun upacara belum selesai. Upacara panimbongan memang telah selesai. Naum upacara selanjutnya belumlah di mulai. Namanya upacara ngancak. Kalo Panimbongan memanggil roh-roh gunung (darat), maka upacara Ngancak memanggil roh-roh laut. Tujuan upacara sama, memberi sesaji makanan kepada roh-roh penunggu laut. Upacara Ngancak dilakukan menjelang tengah malam.

Dengan media empat batang lilin yang menerangi gelapnya malam di bibir pantai Pasir Kuning, dukun laut memulai mantra untuk memanggil penunggu laut. Diyakini oleh masyarakat kalau nama nama penunggu laut tidak boleh diberitahukan kepada masyarakat agar tidak disalah gunakan untuk kepentingan tertentu. Setelah memberi makan penunggu laut maka hari menjelang pagi dan masyarakat kembali ke rumah masing masing untuk keesokan harinya menyaksikan dan turut serta dalam perang ketupat.

Perang ketupat

Pada pagi hari, tari Serimbang kembali ditarikan. Dukun darat dan laut bersatu merapal mantra di depan wadah berisi 40 ketupat, memohon agar perayaan tersebut dilindungi dan jauh dari bencana. Di tengah rapalan mantram dukun darat akan trance dan terjatuh, dan kemudian akan ditolong oleh dukun laut (perlambang keharmonisan antara darat dan laut mungkin ya).

Menurut tradisi setempat, selama trance tersebut, dukun barat akan dapat berhubungan dengan arwah para leluhur. Para leluhur akan menyampaikan pantangan kepada warga desa untuk dipatuhi selama tiga hari. Biasanya seperti : melaut, bertengkar, menjuntai kaki dari sampan ke air laut, menjemur pakaian di pagar, dan mencuci kelambu serta cincin di sungai maupun di laut.

Setelah semua ritual trance dan penyampaian petuah, maka acara inti perang ketupat akan dimulai.  Kedua dukun tersebut mengambil masing masing 10 ketupat. Mereka menata ketupat di atas sehelai tikar pandan. 10 untuk dukun barat yang di tata di arah darat, dan 10 untuk dukun laut yang menatanya di dekat bibir pantai.

Kemudian tampil 10 pemuda dari masing masing pihak, perlambang darat dan laut. Biasanya yang mulai sebagai pertama ini adalah pemuda pemuda dari perguruan silat Mawar Putih. Sebelum mereka memulai perang ketupat, terlebih dahulu dukun darat memberikan contoh dengan melemparkan ketupat ke punggung dukun laut kemudian di balas. Syarat perang ketupat adalah ketupat tidak boleh dilemparkan kearah kepala.

Ketika aba aba dengan peluit dari dukun laut perang ketupat pun telah dimulai. 20 orang pemuda yang saling berlawanan mewakili unsur darat dan laut saling melemparkan ketupat. Semua bersemangat melemparkan ketupat ke arah lawan dan memperebutkan kembali ketupat yang jatuh untuk dilemparkan kembali. Perang akan selesai sampai dukun laut meniup peluit tanda usai perang dan meraka berjabat tangan. Tradisi perang ketupat pertanda kebaikan melawan kejahatan hanya secara simbolik dilakukan oleh manusia.

Setelah babak pertama oleh pemuda pemuda perguruan silat Mawar Putih selesai, maka peserta umum sekarang. Karena masih tersisa 20 ketupat lagi untuk babak kedua ini.

Rangkaian keseluruhan upacara ini akhirnya ditutup dengan upacara “Nganyot Perae” atau menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Upacara itu dimaksudkan mengantar para roh-roh halus pulang agar tidak mengganggu masyarakat desa Tempilang.

Mungkin banyak di antara teman teman jika mendengar cerita ini akan menganggap walahhh Bangka itu primitif banget, mainnya dukun-dukunan hahaha, wajar loh. Bahkan pernah saya bekerja di suatu kantor. Saya pernah mendapat pertanyaan “denger-denger di Bangka mesti hati hati ya, salah sikap bisa pergi gak bisa balik ya?”

Awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya, kemudian dia jelaskan kalau mereka itu taunya, kalo di Bangka itu mistiknya kencang sekali. Kalo untuk kampung-kampung saya akui memang masih kental mistiknya, memelihara siluman buaya itu bukan hal rahasia lagi. Namun kalo untuk kotanya, rasa rasanya tidak ada lagi lah. Kapan-kapan saya tuliskan ya tentang mistik mistik yang kerap beredar di masyarakat pulau Bangka.

Pengaruh dukun dan makhluk halus dalam upacara adat ini merupakan warisan prang dahulu kala di pulau Bangka yang dikenal dengan sebutan Urang Lom. Berdasarkan cerita rakyat yang turun dari mulut ke mulut diyakini praktik upacara adat yang mempercayai animisme seperti ini dimulai ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883.

Sejak masuknya Islam ke Pulau Bangka, tradisi upacara adat ini mengalami berbagai perubahan. Walaupun tetap menonton perang ketupat, warga yang beragama Islam telah mengubah ritual ini lebih bernuansa Islami Perayaan yang dulunya difokuskan bagi roh-roh halus, kini ditujukan untuk mengenang arwah leluhur. Demikian pula dengan sesaji, diubah menjadi kenduri untuk dimakan bersama.

Selain faktor agama mempengaruhi perubahan akan perang ketupat ini, faktor krisis ekonomi membuat pemerintah daerah sempat menganjurkan agar ketupat yang digunakan diganti. Tidak menggunakan isi nasi, namun pasir. Mengingat banyaknya saudara-saudara yang kekurangan makan di awal bulan Ramadhan, alangkah baiknya jika ketupat asli diberikan kepada mereka yang kekurangan. Daripada dijadikan terbuang untuk ritual perang ketupat. Namun semua berpulang kepada individu masing-masing yang menjalani tradisi ini.

Lestarikan terus budaya Bumi Sepintu Sedulang – Bangka. Tiada yang memperindah negri selain keselarasan berkehidupan. Sesungguhnya Indonesia kaya dari pulau pulau besar layaknya Papua, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Sumatra hingga pulau pulau kecil layaknya Bangka, Belitung, Natuna, dan entah pulau pulau mana lagi di belahan Nusantara ini. Adakah yang peduli selain kita?


Ilustrasi: gokiel-abiez blogspot,


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.