Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Aku, Dia dan Mereka Part 3

Saturday, 4 September 2010

Viewed 1990 times, 1 times today | 44 Comments |

Pritha


The Hello-Goodbye’s Project

Aku melangkah gontai menuju kelas, menguap lebar-lebar. Pendalaman Materi Menuju UAN satu jam lebih pagi dari jam pelajaran pertama telah sukses mengacaukan siklus tidurku, dan kini aku mulai punya kantung mata. How great.

Tapi ini sepadan dengan hasil yang diharapkan; UAN sudah jadi momok menakutkan untuk sebagian besar murid kelas sembilan—juga dua belas—apalagi tahun ini akan diujikan pelajaran IPA di samping matematika, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Isu yang beredar mengatakan bahwa tahun depan mungkin akan ditambahkan pelajaran IPS. Aku sedikit penasaran, katakanlah mereka—Departemen Pendidikan Nasional—terus menambahkan mata pelajaran lain setiap tahunnya, lima tahun lagi mungkin bakal ada ujian seni & budaya (-___-).

Awal tahun ajaran baru yang lalu, aku kembali ke sekolah setelah libur kenaikan kelas yang panjang dan membosankan, dan menemukan, dalam daftar nama di depan sebuah ruang kelas, namaku, nama Ratna, Aldi, sahabat-sahabat lama di kelas satu, Gian, Vadin, dan…Ferre. Wow.

It’s strange to find how I’m not that surprised just as what I supposed to feel so.

Gue sedang berusaha menyibukkan diri dengan tugas bahasa Inggris—yang sejujurnya malas gue kerjakan—ketika Kinan datang. Gara-gara masuk ke kelas bilingual, pelajaran bahasa Inggris saja sampai punya dua guru: satu mengajar sesuai kurikulum, satu khusus mengajar tata bahasa. The grammar teacher, Ms. Dini, is pretty and totally cool, but the other one is rather…ah, pokoknya menyebalkan. Tugas ini salah satu buktinya.

“Peer?” tanya Kinan begitu duduk di sisiku. Aha.

“Iya nih…udah selesai belum lo?”

“Bisa dibilang udah sih.”

“Mana? Liat dong…”

“On my mind. Belum disalin. Hehehe.”

Kinan menarik sebuah buku tulis dari tasnya dan mulai menulis. Ugh, kapan sih gue bisa jadi sesimpel dia. Melirik soal sebentar, menyusun jawaban dalam kepala, mengerjakan hal lain sesempat mungkin dan beberapa saat sebelum deadline, tugasnya sudah siap. Gue tahu sih, itu tidak berlaku buat matematika, but—how could she??

“Mau liat yang mana?” Kinan menoleh, mengagetkan gue.

“Ini yang nomer lima…”

Tuk, tuk, tuk…

Suara ketukan asing itu terdengar melintas di koridor luar dan berhenti di depan pintu kelas tepat ketika pandangan gua bertemu dengan Kinan. Gua melambai-lambai dengan bersemangat ke arahnya dan ia tertawa.

-klek-

Seorang wanita muda berjilbab memasuki ruang kelas, menutup pintu, dan mengetuk papan tulis dengan buku jarinya sampai suasana hening.

“Perhatian, kelas 9 B,” ujarnya, “…sehubungan dengan agenda pembuatan buku tahunan, Ibu mau mengatur jadwal pengambilan foto buku tahunan kalian.”

Buku tahunan? Gua menghela napas pendek. Please don’t remind me how much time I’ve got before graduating. Hoi wake up! You still don’t know where to go, do you?

“Pertama-tama kalian tentukan dulu kelompok-kelompoknya, satu kelompok terdiri dari lima sampai enam orang…”

Mendengarnya berbicara membuat benak gua mengambil kesimpulan: di a gu ru ba ha sa. Instruksi-instruksi berikutnya diberikan, tapi gua tidak terlalu mendengarkan. Mata gua memandangi PS-Portable milik Yoga, Vadin yang bengong aneh menatap layar handphone Gian tanpa berkedip—bokep, apalagi—Denny yang mendengkur di kolong meja, Kinan yang terdiam menggigit bibir…

Entah berapa lama gua melamun sampai ketika gua menoleh ke depan, tiba-tiba sosok guru berjilbab tadi sudah digantikan oleh Ranti dan Kinan.

Kinan sedang menulis besar-besar di papan tulis: RENCANA FOTO BUKU TAHUNAN, dan di bawahnya, TEMA, TANGGAL, LOKASI, lalu DRESSCODE. Gua menelan ludah. Ini, pikir gua, alamat sebuah keribetan.

“Soo, Guys,” Ranti memulai diskusi, “…kita sekarang mau diskusi nih, gimana bagusnya foto buku tahunan kita. Ada ide?”

Hening.

“Mulai dari tema, mungkin?”

Ramai mendadak.

“Fifties!”

“Nggak, eighties!!”

“Go green!”

“Apa aja deh pokoknya nggak norak…”

“Gimana kalau ‘Cinta Kebersihan’??”

“…Guys….” Ranti mencoba menengahi. Masih ribut.

“WOI!!”

Sepi mendadak. Dan wajah-wajah itu tampak kaget mendengar suara itu muncul dari Kinan, yang langsung tersenyum, dan berkata,

“…satu-satu, kita tampung idenya, oke?”

Gua terbahak-bahak. Cukup dalam hati kali ini.

“Cewek lu tuh kadang psycho, tau nggak?” bisik Yoga. Gua meringis.

Theme, marines. Location, Ancol. Dresscode…, aku menggoyangkan spidol memaksa tinta hitamnya mengalir, …nautical. Aku berbalik dan duduk di sisi Ranti, mengamat-amati tulisanku barusan. Sebenarnya aku tidak begitu suka temanya, tapi kupikir pilihan ini cukup bijak, mengingat sebagian besar cowok di kelas ini bukan tipe pesolek dan cenderung malas diatur. Tema ini akan mempersempit kostum dalam tiga warna utama, biru, hitam, dan putih, jadi kecuali cowok-cowok itu ingin pakai summer dress, tidak ada alasan untuk jadi saltum.

“Jadi, sekarang kita udah sepakat, ya,” ujar Ranti, “…soal teknisnya juga udah dijelasin, atau kalau nanti mau tanya lagi silakan…tapi sekarang, karena ini udah clear, kita harus diskusiin satu hal lagi…”

Ratna menatap teman-teman satu persatu sebelum melanjutkan, “…nanti kan bakal ada acara wisuda, dan di acara wisuda itu setiap kelas harus bikin performance,” jelasnya, “…gue udah liat kelas-kelas lain, dan rata-rata mereka bikin paduan suara. Jadi, biar beda, dan berhubung Bu Ida merekomendasikan,” Ranti menyebut nama guru bahasa Indonesia kami, “…gimana kalau kita bikin drama pantomim musikal?”

Mata-mata yang menatap Ranti terbuka semakin lebar.

Aku menahan napas, menahan diri untuk tidak berseru senang.

‘Senang-senang Saja’

Gue suka drama. Gue rasa setiap orang dalam kelas ini suka drama. Sekali lagi Ranti sudah membuktikan kecemerlangannya merumuskan sesuatu yang orisinil, yang akan membuat kelas ini dikenang oleh setiap orang di tahun ajaran ini…tapi siapa yang akan jadi pemeran utamanya?

“Jadi, plot inti ceritanya…ada cewek, yang ketemu satu cowok di suatu hari sekolah. Mereka falling in love dan jadian, tapi ternyata this boy is a player,” Ranti membacakan sinopsis skenario mereka dengan bersemangat, “…dan dia selingkuh. Si cewek patah hati, tapi bisa bangkit lagi, dan ketemu cowok lain akhirnya. Standar sih. Tapi banyak peran yang harus diisi: selain pemeran-pemeran utama, ada pemeran pendukung buat tiap scene, dua grup dancer—cewek dan cowok, seksi dekorasi, dan MC. Mulai dari pemeran utama cewek, siapa yang mau?”

Suasana berubah sunyi karena semua orang berpikir. Setelah beberapa lama, Rara, si ketua kelas, angkat bicara.

“Gue rasa kalau ditawarin nggak bakal ada yang mau unjuk diri, deh. Gimana kalau kita buat daftar kriteria, trus kita vote bareng-bareng?”

“Kalau menurut gue, berdasarkan skenarionya,” Nadia menyambung, “…pemeran utamanya harus kalem.”

“Bisa akting ‘lepas’,” tambah Diana.

“Dan total.”

Ranti terdiam. “Jadi, antara,” matanya memandang sekeliling, “…antara Farah, dan…Kinan.”

“Hah?” dua suara berseru bersamaan. Farah dan Kinan saling pandang.

“Setuju!!”

“Boleh juga.”

“Ayo kita vote.”

**

Wow. So it has been me. Me?


-to be continued…


Ilustrasi: yearbook.net

Share This Post

Posted by Saturday, 4 September 2010 on 11:56.

Categories: Pojok Sastra. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

44 Responses to “Aku, Dia dan Mereka Part 3”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 44
    Lani Says:

    DA : wakakkaka……konangan to nek kowe sak-jane CINTA 1/2 MATI KARO AKU….buktine computermu wae ora gelem mati malah button nya LOJEG……kkkkkkk……

    yo wes nenek cantik, semok bin sexy……..yo Prith?

  2. 43
    Dewi Aichi Says:

    Lani, kamu ngapain to..wah jiann…arep matiin komputer, moco komenmu dadi ra sido klik off ..! Dasar Lani…sak karep e sik manggil to…nek ra trimo dipanggil nenek2, yo tak panggil kuntulanak aja…piye? mbak, ibu, tante di oke…giliran nenek2 ora gelem….ha ha..biarpun dipanggil nenek klo cantik mah cantik aja..

    aku mau mencoba nulis cerpen…judulnya…Lani Dan Lubang Buaya….

  3. 42
    Lani Says:

    PRITHA : saluuuuuuuuuuut, msh muda udah punya bakar nulis menulis…..teruskan, asah trs…..nanti bakal jd hebat! aku wae ora iso kok……isone ming moco thok……jd gak berhak utk kasih komentar nyinyir……bagiku gampang SUKA DIBACA, GAK SUKA SKIIIIIIIIIIIIIIIIP!………gitu aja kok refoooooooot hahahhaha……..jgn dimasukin ke ati ya Prith……mbak mu, ibu, tante opo waelah…….asal jgn dipanggil nenek2 lo……..iso tuing…tuing……..la koyok ngene kok nenek2 to??????? wah, ndonya njempalik…….yo rak DA??????

  4. 41
    Dewi Aichi Says:

    Wah baru tahu…Sakura…salut dengan sikap bijakmu di komentar no 11. kalau aku kebalikan, justru aku mengagumi talenta/bakat Pritha yang dengan usia belum 17 tahun, telah menghasilkan cerpen-cerpen yang bagus. Sedang aku sendiri merasa sangat kesulitan mencoba menulis cerpen.

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)