Junanto Herdiawan
Orang Jepang terkenal doyan minum bir. Mereka memiliki tradisi minum alkohol yang kuat. Kalau sudah kumpul, mereka gemar minum-minum, bahkan hingga mabuk. Cobalah untuk memasuki warung-warung di Jepang. Bir menjadi semacam minuman wajib di sana.
Saya sendiri tidak minum bir, juga alkohol. Mulai dari alasan ajaran hingga kesehatan. Nah kalau sudah tiba saatnya kumpul dengan orang Jepang dan melakukan kampai atau bersulang, biasanya jadi aneh. Tapi ternyata, masalah itu bukan cuma dirasakan oleh saya. Banyak juga teman yang tidak minum alkohol karena alasan masing-masing, seperti hamil, sedang tugas, atau karena harus mengemudi.
Nah, untuk mereka tadi, kini ada solusinya. Di Jepang saat ini sedang muncul trend minuman bir namun tanpa mengandung alkohol (non alkohol). Memang ini bukan produk baru, tapi popularitasnya baru menanjak akhir-akhir ini. Produsen terbesar bir Jepang, Asahi dan Kirin, memang sengaja menyasar palung pasar (market niche) bukan peminum alkohol yang ingin atau “terpaksa” minum bir. Produk mereka, Kirin Free, dan Zero Alkohol, tahun ini mencetak sukses besar dan meledak di pasar Jepang.
Bir non alkohol ini bukan promosi bohongan, seperti misalnya saat dulu banyak yang mengatakan minuman zero alkohol, tapi ternyata masih mengandung sedikit alkohol (0,0089% misalnya). Promosi bohongan itu dulu pernah dilakukan oleh produsen minuman bir di Indonesia. Saat diperiksa, minumannya ternyata masih mengandung sedikit alkohol.
Tapi pihak Kirin, melalui siaran persnya, berani mengklaim bahwa produk mereka betul betul bebas alkohol. Kirin zero free hanyalah air soda beraroma bir. Zonder alkohol.
Buat para peminum bir, mungkin bir non alkohol ini “kurang nendang”, alias “gak banget”. Tapi bagi banyak orang, produk ini disambut hangat. Para ibu hamil, pekerja mesin berat, pengemudi, maupun anda yang tidak minum alkohol, kini bisa mencicipi bir tanpa khawatir mabuk atau mengalami dampak negatif lain dari alkohol.
Dari sisi bisnis, sejak Kirin mengeluarkan produk bir non alkoholnya, pangsa pasar bir biasa langsung anjlok 15%, dan terus tergerus. Laris manisnya bir non alkohol ini juga sempat membuat Kirin kewalahan. Beberapa waktu lalu, mereka memasang iklan permohonan maaf di media massa karena kehabisan stock bir sehubungan dengan meningkatnya permintaan. Musim panas yang menyengat di Jepang memang menjadikan permintaan bir non alkohol ini meningkat (sebagai catatan: Jepang bukan negara muslim, jadi bulan puasa tidak memberi pengaruh pada tingkat konsumsi bir).
Menurut catatan Japan Times, dalam delapan bulan terakhir, Kirin mampu memproduksi 4 juta kaleng bir non alkohol. Bandingkan dengan 2,9 juta kaleng di tahun 2008 dari seluruh merek bir non alkohol. Suntory kemudian mengikuti langkah ini, dan di bulan Agustus meluncurkan produk barunya, Asahi Double 0.
Hal lain di belakang maraknya bir non alkohol ini adalah soal harga. Dibandingkan bir biasa, bir non alkohol jauh lebih murah. Sekaleng Kirin Free dihargai sekitar 140 yen (14 ribu rupiah). Sementara bir alkohol bisa mencapai 240 yen (24 ribu rupiah). Bagi produsen bir, mengeluarkan produk non alkohol ini juga menguntungkan karena tidak dikenai pajak. Sementara, minuman beralkohol di Jepang, pajaknya cukup tinggi.
Orang Jepang sungguh dahaga akan bir, negara ini memiliki tradisi minum yang kuat. Namun kesadaran akan kesehatan juga mulai meningkat, sehingga pangsa pasar bir non alkohol terus membesar.
Dan kitapun bisa “mabuk-mabuk”-an minum bir bohongan. Persis saat dulu mencoba mabuk-mabukan dengan “bir pletok” Betawi. Minum Bir yuk … Anyone?
September 7th, 2010 at 05:38
Di keluargaku, minum bir atau tuak itu justru semacam tradisi. Setiap ada pernikahan, kumpul-kumpul, Natal dan Tahun Baru pasti ada bir. Entah disediakan tuan rumah, atau bantingan (patungan). Waktu remaja, aku susah mabuk karena bir. Tapi sekarang, kecipratan alkohol dikit aja aku langsung mabuk. Sayangnyaaaa…
September 6th, 2010 at 09:19
Salam teman-teman sekalian, maaf baru mampir. Kebanyakan minum bir non alkohol soalnya nih
.
Terima kasih atas infonya yang memperkaya khasanah per-bir-an saya. Juga info tentang wine, festival bir, malahan soal rokok itu tadi. Di sini, sekarang lagi trend rokok elektrik. Itu loh yang dihisap tanpa api dan asap. Tapi rasanya persis kayak ngerokok
……
September 6th, 2010 at 08:47
ayla : aku udah coba sendiri minum bir hitam, memang lebih kerasa buat tubuh. melancarkan peredaran darah. makanya sejak itu aku hanya mau minum bir hitam kalo lagi ada teman2 orang Eropa/USA datang.
kecuali kalo restonya ga sedia, ya apa boleh bulet daripada benjol, bir biasa juga jadi, deh. tapi lebih milih wine, dong.
September 6th, 2010 at 08:39
Ayla, tanyalah Dewi Aichi, dibilang aku ini anteng-alim-pendiem kok…
September 6th, 2010 at 08:24
Tumben JC komentarnya pendek amat.
Linda: Oh gitu, ya. baru denger kalo beer hitam bisa memperlancar datang bulan. (Yang laki2 ga usah baca ya)
September 6th, 2010 at 08:02
Lepas dari alkoholnya, minuman beer memang menyehatkan, hasil fermentasi multi grain ini memang baik untuk tubuh.
September 5th, 2010 at 05:47
ayla : aku juga minum kunyit asem. tapi ternyata lebih tokcer bir hitam. hehehehe
September 5th, 2010 at 02:23
Om ISK: kalau masalah rokok sih, kayaknya kalau di dalam mobil aku ga tahan banget, berhubung aku ini gampang mabuk naik mobil, antimo ga mempan, kalau nyium bau durian, minyak angin, minyak wangi, sama asap rokok, dijamin 20 menit isi perutku ludes ke kantong plastik, ga tau napa. Padahal aku doyan durian, ga masalah sama minyak angin, pakai minyak wangi, dan SMP pernah jd perokok berat sampai akhirnya kena bronchitis…. hiks.
September 5th, 2010 at 02:07
ISK: Janganlah bunuh diri sebelum sahur Om, lbh baik mati kekenyangan dibanding kelaparan, hehehe