Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Ramadhan di Code

Monday, 6 September 2010

Viewed 999 times, 1 times today | 18 Comments |

Taufikul


Ramadhan yang terlalu cepat. aku bahkan belum sempat membuka Al Qur’an. Yang kubaca hanya koran dan harga perusahaan.

Ya, aku merindukan takjilan di Kalimosodo. Meski sederhana, semuanya dilakukan dalam sebuah acara seperti pesta. Meski harus menggiring anak-anak dan memerintah ini itu, tapi kami melakukan hal yang menyuburkan kebahagiaan. Meski harus membersihkan tumpahan air dan makanan tiap kali selesai berbuka, tapi tak ada yang mengeluh karena ditinggal pulang duluan.

Setelah anak-anak yang menyelesaikan selembar halaman Iqro dan beberapa ayat hapalan, mereka harus segera diusir ke luar agar tidak membuat kegaduhan. Meski mereka belum puas membuat keributan itu, kami akan suruh mereka ke masjid. Tempat TPA itu di aula, lantai dua. lantai terbawah, dekat sungai, tempatku tinggal. Lantai atas, masjid. Di sana kegaduhan akan dipindahkan. anak-anak membuat kita sedikit kejam. Kata-kata yang paling sering kukeluarkan adalah “diam!”, “duduk!” dan “ayo!” tak ada kata-kataku yang benar-benar mereka turuti. Semua anak sepertinya berlomba ingin melanggar perintah. Betapa menyenangkannya jika aku juga masih anak-anak, sayang sekali aku terlalu tua.

Shalat Maghrib jadi arena sikut kanan kiri. Sering aku dipaksa berdiri di depan, memimpin kegaduhan. Sampe sekarang tak habis pikir, orang-orang  tua selalu menyalahkan anak-anak atas semua keributan, dan bukannya menyalahkanku. padahal, aku kan pemimpinnya.

Terus terang, aku tak menyukai tarawih. Itu hanya formalitasku. Aku lebih menyukai tadarus, jika boleh memilih. Dan, tiga tahun tak banyak berubah. Aku, bu Margono, dan mb Dwi. Kadang dibantu pak Karsono jika dia kebetulan hadir. Atau, Nita, anak budhe Margono. Kalau ada Nita, ayat-ayat Quran jadi lebih jelas, lampu jadi lebih terang karena kulitnya memantulkan cahaya. ckckckckckck….

Pak Karsono adalah entitas tersendiri di Kalimosodo. Dia perintis. laki-laki ini hanyalah tukang tambal ban, lulusan SD  antah berantah. anggaplah dia seorang martir karena sering diancam dengan pedang hanya karena mengadakan Yasinan.

Sesudah tadarus, segerombolan anak muda sudah menungguku di bawah. Aku selalu jadi lebih muda bersama mereka. kami menyiapkan sebuah petromaks, dua panah, dan sebuah jaring ikan. Kami akan menyusuri Code, dari Code utara terus naik kira satu sampe dua kilo untuk mencari ikan. Kami menangkapnya dengan tangan atau memanah yang agak besar. Kadang, kami temukan ular, ikut masuk dalam keranjang. ini namanya nyuluh.  Berasal dari kata suluh atau penerangan. kami menggunakan petromaks untuk menerangi air sungai. Ketika air jernih, batu-batu di bawahpun terlihat cukup jelas. ikan-ikan lebih mudah ditangkap.

Kami akan bergerombol, berjalan pelan di sungai, menimbulkan suara beriak. Kadang kami bawa anggur penghangat. udara dingin, apalagi air sungai pada jam 12 malam. biasanya baru selesai sekitar jam 2 dini hari. Kami langsung menyiapkan kayu bakar untuk memasak nasi dan menggoreng ikan. Ikan-ikan kadang bercampur daging ular. daging ular tidak enak, terlalu kenyal dan menghasilkan minyak yang tidak sedap.

Jam 3 makanan sudah siap. Kami tuangkan nasi di atas daun pisang. Kami sebar-sebar ikan goreng. Ditambah saus. Lalu kami habisi semuanya sambil membuat lelucon dan tertawa. Entah mengapa, lelucon di Code tidak pernah habis sekalipun kamu ingin terjaga 24 jam. Terlalu banyak hal yang bisa kami jadikan bahan tertawaan. Tertawa, tawa laki-laki yang sering kasar dan busuk, adalah bagian dari keseharian orang-orang Code. Hampir semua hal dijadikan lelucon, musibah sekalipun. Ketika aku pernah ditantang berkelahi oleh raja mabuk, semua orang tampaknya serius. tapi, sehari kemudian, nasib sialku itu jadi bahan lelucon.

Ah….


Ilustrasi: panoramio

Share This Post

Posted by Monday, 6 September 2010 on 05:57.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

18 Responses to “Ramadhan di Code”

Pages: [2] 1 »

  1. 18
    taufikul Says:

    wah2…. saya malah jadi mikir2 klo mau mancing di jerman….
    di code, pemancing juga belajar mengenal ikan, cara memancingnya (krn memang masg2 ikan punya karakter sendiri2), apa umpannya, waktu yg tepat, mereka juga tahu di mana tempat yg banyak ikannya dan jenisnya, mereka juga tahu cara memegang, mematikan, bahkan mengolahnya jadi masakan, semuanya tanpa sekolah dan tanpa lisensi. sedari kecil mereka sudah tahu jenis joran, jenis kail, jenis timbel, jenis pelampung, cara memasangnya, gaya memasang kail, tipe senar dan cara mengetahui kualitas senar…. saya pun kalah dengan kemampuan mereka membedakan jenis2 ikan, bahkan ikan yg masih kecil dan bentuknya anehpun mereka tahu… mereka juga tahu pada musim apa ikan kawin dan beranak. semuanya tanpa sekolah lo DJ…
    mereka juga tau caranya mencuri ikan dari kolam orang… hehehehehe…

  2. 17
    Dj. Says:

    taufikul Says:
    September 7th, 2010 at 08:33

    hahahahah terimakasih DJ. hmm alangkah angel-nya mancing di jerman…

    Mas Taufikul….
    Kalau mau mancing di Jerman, harus sekolah selama 3 bulan dan ujian negara.
    Sama dengan kalau mau cari Rebewes, malah Rebewes, lebih cepat.
    Karena ikan adalah machluk hidup, jadi harus diperlakukan yangan benar.
    Selain belajar secara teori, ga praktek dan dua-duanya harus lewat ujian.
    Harus mengenal macam-macan ikan yang ada di kali, Danau di Jerman.
    Harus mengnal alat pancing yang mana untuk ikan apa.
    Harus tau umpan apa untuk ikan apa…
    Klaua dapat kan, harus tau bagaimana memegang ikan melepas kail agar si ikan tidak tersiksa.
    Dan ikan harus segera dibunuh, nah disini, harus tau anatomi ikan, dimana letak janzung ikan.
    Setelah dipukul kepalanya, dia pinsan dan ditusuk jantungnya, agar dia mati, tanpa kesakitan.

    Wah..pokoknya macam-macam deh.
    Dan…kalau sedang mancing, lalu mau ke WC dan walesannya dipegang istri atau anak yang tidak punya lisensi, bisa kena denda juga dan yang bersangkutan tidak boleh ikut sekolah mancing lagi.

    Itu masih ringan. tapi kalau mau berburu binatang, sekolahnya 3 tahun, lebih ketat lagi.

    Nah..siapa tau, lain kesempatan, kalau kami mudik dan mas Taufikul masih suka mancing, akan Dj. bawakan walesan buat mancing.

    Okay…mancing memang angel….hahahahaha…!!!

  3. 16
    J C Says:

    Nah khan, sama khan si AB sama aku Code ya Romo Mangun, Romo Mangun ya Code…tapi memang beliau tokoh luar biasa! Kalo shaggydog aku gak ngerti wis…

  4. 15
    AB Says:

    Code itu identik dengan Romo Mangun, rumah warna-warni dan Shaggydog. kekekkekeke…. Angkat sekali lagi gelasmu, kawan.

  5. 14
    taufikul Says:

    hahahahah terimakasih DJ. hmm alangkah angel-nya mancing di jerman…

  6. 13
    Abhisam Says:

    Mas JC, betul sekali…ingat Kali Code pasti ingat Alm. Romo Mangunwijaya. Ah, langkanya orang-orang seperti beliau…

  7. 12
    Dj. Says:

    Mas Taufikul…..
    Ceritanya sangat lucu, bahkan Dj. yang tidak lihat bisa ikut mesam-mesem sendiri.
    Kemarin Dj. baca dari komentar Mea, kalau alkohol itu haram.
    Lha sampeyan, wong islam kok minum anggur untuk memanaskan tubuh….???
    Mungkin anggur yang sampeyan minum tidak haram ya, kan untuk cari ikan ditengah malam dan bukan untuk mabuk.

    Mas taufikul. kebetulan Dj. juga suka mancing di Mainz..
    Tapi di Jerman, soal mancing tidak semudah di Indonesia dan harus punya lisensi.
    Tanpa surat ijin tidak mungkin, bisa ditangkap polisi dan dendanya sangat mahal..
    Nah kebetulan di Jerman nama untuk mancing itu ” ANGEL ” ( bahasa Jerman mancing itu angel )
    Jadi pas ya, kalau mancing itu pancen angel…. ( sulit ).
    Nah sampeyan, cerita kalau cari ikan bawa petrmax.
    Ini Dj. kasi lelucon, karena ini Dj., juga dapat di Angel Club ( Clubnya orang yang suka mancing )
    Biasanya mereka ngumpul, sebelum dan sesudah macing di pondok disamping danau atau kolam.
    Mereka sambil minum bier ( bukan anggur ), saling cerita hal yang lucu-lucu, seperti sampeyan dan teman-2.
    Orang pertama cerita, minggu lalu mancing di sungai dapat belut yang panjangnya 3 meter.
    Orang kedua, bilang, itu sih tidak aneh, 3 hari yang lalu, dapat lele sebesar mobil, sampai 6 orang yang angkat kelöuar dari danau.
    Orang yang ke tiga, sambil sedikit mabuk dan dengar certa mereka, ikut nimbrung…
    Itu semua tidak ada yang aneh, hal biasa semuanya….
    Bayangkan , semalam saya mancing disungai Rhein, tau….??? Saya dapat apa….???
    Yang lain bengong, ingin tau apa yang orang ke 3 dapat dengan penuh penasaran, mereka nanya.
    Kamu dapat ikan apa dan sebesar apa….???
    Dia jawab dengan tenang….
    Ikan…???
    Saya dapat PETROMAX dan bahkan masih menyala….!!!!
    Hahahahahahahahahaha……!!!!

    Hebatkan…Petromax dari dalam air dan masih menyala….
    Olehnya lain kali bawa obor saja, kalau cari ikan….

    Salam damai dari Mainz….

  8. 11
    Hennie Triana Says:

    Warna-warni rumahnya..bagus sekali.

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)