Catatan Pekerja

Bisyri Ichwan


Pekerjaan seperti ini harus dijalani untuk bisa tetap hidup dan belajar di Mesir yang butuh biaya (Foto : Mahmudi)

Diriku tergerak untuk menuliskan sedikit catatan tentang apa yang aku lakukan dalam satu hari ini saja ketika sedang puasa di bulan ramadhan, satu hari saja yang menggambarkan aktifitas yang aku lakoni demi eksis bisa hidup di negeri orang untuk menuntut ilmu di universitas tertua di dunia, Al-Azhar, Mesir.

Dhuhur membangunkanku dari istirahatku setelah semalaman begadang, ketiga temanku satu rumah telah menghilang, aku mencoba bertanya pada salah seorang yang masih tersisa, katanya mereka pergi untuk berburu kristal Mesir di Shubro, lumayan jauh dari Cairo untuk oleh-oleh lebaran keluarganya. Aku shalat dhuhur dan membaca berita di internet agar selalu update informasi yang terjadi di negeri tercinta, termasuk membaca catatan para sahabat di Kompasiana tentunya dan mengomentari setiap tulisan yang aku baca.

Sekitar jam 3 sore, sahabatku satu rumah orang Mesir datang dan meminta untuk dibungkuskan 30 kilo tauge yang akan disetorkan ke pasar induk Mesir di Ubur, perjalanannya sekitar satu jam dari Cairo, untuk stok hotel di Sarm Sheikh dan Dahab yang menjadi andalan pariwisata di Mesir. “Ana ma’ak”, aku menyapanya sambil menaruh 30 kilo tauge ke dalam mobil suzuki. “Aku ikut bersamamu”. Omar sudah biasa, aku sering ikut bekerja dengannya ketika kesepian di rumah seperti ini. Hari Rabo ini Cairo seperti biasanya, sebelum memasuki jalan lingkar Cairo (thoriq dairiy) selalu kemacetan yang menjadi pemandangan biasa. Ada juga yang sedang berurusan dengan polisi lalu lintas yang terkenal suka memeriksa.

Aku mengobrol dengan Omar di perjalanan, tentang apa saja, dia paling suka kalo aku bercerita tentang pulau Komodo yang ada di wilayah timur, aku saja belum pernah ke sana dan hanya melihatnya dari Youtube, Omar sangat ingin sekali ke sana, maklum saja, komodo di Mesir tidak ada, anggapannya, Komodo adalah satu hewan yang sangat mirip dinosaurus dan dia sangat menyukainya, suatu saat dia ingin sekali berkunjung ke rumahku dan mengajak untuk jalan-jalan ke pulau Komodo, katanya. Sambil menyetir mobil dan aku disampingnya, dia terus saja bercerita tentang apa saja terutama keunikan dan kelebihan keindahan alam Indonesia. Kanan kiri bahu jalan yang kami lewati hanya padang pasir.

Memasuki kawasan pasar Induk Mesir membayar 50 qisy kepada penjaga pintu. Dia juga memeriksa barang bawaan di dalam mobil. Karena sudah langganan, langsung dibiarkan saja. Aku menuju salah satu langganan di dalam pasar, salah satu pemiliknya bernama Mahmud, dia bukan orang Islam, melainkan kristen koptik dengan tato salib di lengannya sebagaimana orang-orang kristen Mesir. Aku mencarinya namun yang ada hanya pegawainya saja, aku tanyakan kepada Omar, katanya karena puasa makanya Mahmud libur, rumahnya juga lumayan jauh di Syarqiyyah, dua jam dari pasar Ubur ini. Di lapaknya Mahmud, kami menaruh 25 kilo tauge untuk hotel.

Tidak lama aku menyalami pegawainya dan langsung menuju langganan lain di ujung pasar. Namanya ‘amu weza, asal tahu saja, weza itu bahasa Mesir dan artinya bebek. Kata ‘amu weza, teman-temannya sudah dari dulu memanggilnya dengan sebutan weza dan beliau biasa-biasa saja. Nama aslinya aku pernah dikasih tau, tapi lupa. Orang Mesir para pegawainya memanggilnya dengan “ya ‘amil hag weza”, yang berarti paman haji sebagai bentuk penghormatan atas dirinya. Untungnya sebelum berangkat tadi aku sudah shalat ashar, sehingga di sini hanya Omar yang shalat di ruangan kecil sebelah tempat penimbunan barang dengan sajadah yang kami bawa di dalam mobil.

Sudah lebih dari jam 5 sore, suasana Cairo sudah lumayan sepi. Biasanya thoriq Ismailiyya ini yang menjadi jalan utama menuju ke pasar induk Ubur selalu macet. Tetapi karena ini sedang bulan puasa, jam 5 sudah banyak para sopir yang lebih baik menunggu di kafe-kafe pinggir jalan sambil ngobrol bersama temannya menanti adzan maghrib tiba. Omar bisa leluasa menyetir mobilnya hingga kecepatan 80 hingga hampir 100 km/jam. Tidak lama, kami sudah sampai rumah dan tidak ada masakan apa-apa padahal sudah hampir maghrib, di sana pak bosku sedang menelpon ke Indonesia dan aku bertanya padanya untuk dicarikan menu berbuka puasa atau tidak.

“Sudah pesan di Latansa”, katanya. Alhamdulillah kalau begitu. Bosku sudah memesan makanan di warung Indonesia di bawwabah tiga, Nasr City. Latansa adalah nama warung Indonesia yang dimiliki oleh teman-teman alumni pesantren Gontor, jawa timur. Menu yang paling terkenal di sana adalah ayam bakarnya yang khas dan cita rasanya yang tidak bisa ditiru oleh resto-resto Indonesia yang jumlahnya memang banyak di Cairo. Ada rahasia bumbu di sana. Sekitar 15 menit sebelum adzan maghrib, kami bersama datang ke sana dan sudah disajikan di meja makanannya.

Samping-sampingku banyak mahasiswa juga, benar kata guruku dulu, banyak mahasiswa Cairo itu yang memiliki gandengan mahasiswi Cairo juga. Setidaknya fakta ini yang bisa aku lihat di warung tempat aku makan ini. Rata-rata yang duduk di sana adalah laki-laki yang di depannya adalah seorang perempuan. Aku hanya menduga siapa lagi dia kalau bukan pacarnya. Aku duduk bersanding dengan Omar dan membicarakan sesuatu tentang pekerjaan. Pekerjaanku malam ini yang harus diselesaikan, pengambilan barang-barang kontainer yang akan dikirim ke Indonesia.

Sedikit terdengar tawa mereka ketika aku bicara serius dengan Omar. Ya, mereka sepertinya memang sedang menikmati masa mudanya dengan pujaan tercinta. Aku tidak peduli, bagiku saat ini aku harus bekerja agar aku tetap bisa eksis belajar di universitas al-Azhar. Kuliahnya memang gratis, tetapi biaya hidup, buku-buku, transportasi, rumah dan segala yang untuk keperluan hidup di negeri para nabi ini tentu membutuhkan biaya dan itu harus aku fikirkan. Rasanya aku kok kurang sreg untuk main-main seperti ini sebelum tiba waktunya. Segala sesuatu pasti akan indah saat waktunya tiba, itulah keyakinanku.

Ba’dal maghrib pekerjaan sudah menantiku. Kali ini aku bekerja bersama mahmudi, partner sekaligus manajerku, mengambil karton kontainer di hayyu sabi’, Nasr city milik seorang cewek Indonesia. Kami bertemu dengannya di dekat toko Misr wa Sudan dan dia bersama kami menuju rumahnya yang agak ke dalam. Di depan rumah aku menunggu dan seekor anjing besar menggonggong atas kehadiran kami. Ya, rumah cewek yang barangnya akan kami ambil ini adalah villa dan hanya beberapa lantai, dia dan teman-temannya menempat di lantai dasar dan lantai atasnya milik tuan rumah termasuk anjing besar yang menggonggong itu.

Usai mengangkat tiga karton, aku dan manajerku langsung mengambil uang milik bapak KBRI yang bekerja di bagian Atase Pertahanan yang mengirimkan banyak sekali barangnya pada periode pengiriman lalu, kami terburu-buru dan tidak lama di sana. Dengan kecepatan mobil di tengah kemacetan, kami kembali ke rumah. Di rumah pekerjaan sudah menanti, ada barang berjumlah 80 karton dengan berat setiap kartonnya 45 kilo gram sedang menanti untuk kami angkat dan akan dikirim ke Indonesia lewat perusahaan tempatku bekerja.

Kuat tidak kuat, aku harus kuat untuk mengangkatnya. 80 karton sudah biasa, dulu awalnya aku klenger juga merasakannya ketika memaksa untuk mengangkat, namun karena ini merupakan tugas pekerjaan yang harus diselesaikan, akhirnya saat ini aku ternyat kuat. Pernah beberapa waktu lalu malah berjumlah 100 karton milik teman-teman mahasiswa dari Yaman yang dikirim ke Mesir dan hendak dikirim ke Indonesia karena di Yaman pengiriman barang langsung ke Indonesia sangatlah mahal.

Keringat mengucur deras di badanku. Bertepatan juga dengan musim panas, sehingga ketika mengangkat karton-karton itu rasanya aku telah mandi keringat. Ada tiga teman yang bagian di truk dan aku bagian mengangkat dan mengatur di gudang. Dengan sekuat tenaga, akhirnya selesai juga. Aku minum sebanyak-banyaknya setelah 80 karton tertata semuanya. Sekarang masih jam 11 ketika aku selesai bekerja mengangkat karton-karton itu, sementara tadi sudah ada janji untuk mengambil karton milik seseeorang di asrama mahasiswi Al-Azhar di Muqottom, satu wilayah yang ada di atas gunung di Cairo.

Aku bersama kedua temanku usai minum dan mencuci muka langsung menuju ke mobil dan menepati janji yang sudah kami buat tadi. Ketika mesin mobil menyala, tiba-tiba ada mobil matrix melaju tepat di samping kami dan dia sedang membawa barang penuh di mobilnya. Yah, apa boleh buat, aku dan temanku harus menyelesaikan dulu barang-barang kontainer yang datang ini sebelum menepati janji ke wilayah Muqottom. Barang yang dibawa lumayan banyak milik mbak-mbak tenaga kerja.

Aku mencoba menelpon mahasiswi yang ada di muqottom, “wah kak, saya sudah nunggu dari tadi nich”, katanya. Waduh, aku minta maaf kepadanya karena acara pengambilan barang hari ini kejar-kejaran dan kami terlambat hampir satu jam. Aku dan kedua temanku tiba di Muqottom jam 12 lebih sepuluh menit. Aku mencoba menelponnya lagi dan mengatakan kalau kami sudah di depan pintu gerbang asrama. Cewek itu meminta izin kepada orang Mesir yang ditugaskan menjaga asrama dan alhamdulillah izinnya diterima.

Tidak sampai di sini saja. Aku dan kedua temanku mengambil 3 karton dengan bobot 45 kilo yang ada di lantai empat dan memanggulnya di pundak dan tidak ada liftnya. Untungnya mbak mahasiswi yang mengirim orangnya ramah sekali, sehingga rasa capek setelah seharian tadi bekerja lumayan terobati dengan kelembutannya. Kata temanku, mahasiswi tadi orang Magelang yang ayah dan ibunya bekerja di Australia dan sering mengunjungi anaknya di Mesir. Enak juga bisa disambangi orang tua gitu ya, fikirku tadi setelah mendengar informasi dari temanku.

Pulang ke rumah hampir jam satu dan pekerjaan hari ini telah selesai, besok masih banyak barang yang harus diambil karena target pengiriman ke Indonesia kalau bisa sebelum hari raya tiba dan barang yang dikirim sebanyak cargo 40 feet, sekitar hampir 27 ton. Usai makan sahur dengan menu campuran Indonesia Mesir aku membuka Kompasiana ini dan mencatatkan pengalaman hidup yang aku jalani hari ini, semoga bisa memberi inspirasi. Bahwa hidup di luar negeri itu tidak seperti yang dibayangkan, ada perjuangan di sana. Ilmu memang gratis di sini, tapi untuk mendapatkannya itu perlu cucuran keringat dan air mata.


Ilustrasi: supersoccer.co.id

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.