Mudik, Budaya atau Kewajiban?

Anoew & Josh Chen


Dear Baltyrans,

Sebentar lagi puasa akan berakhir dan saat-saat yang ditunggu pun segera tiba, dimana umat muslim merayakan hari kemenangan Idul Fitri 1431H (Lebaran) setelah satu bulan penuh menahan lapar dan haus, mengekang hawa nafsu dan hawa-hawa lain terutama di siang hari.

Nah, dalam rangka merayakan Lebaran ini pada umumnya sebagian penduduk Jakarta akan berbondong-bondong meninggalkan kota untuk pulang ke kampung halamannya bersilaturahmi, sungkeman, memohon maaf dan ampun kepada orang tua atau bisa juga berziarah ke makam leluhur. Tertarik dengan fenomena ini yang memperlihatkan bahwa betapa kuat hubungan batin antara penduduk yang merantau di kota dengan keluarga / orang tua yang tinggal di kampung halamannya, saya mencoba melihat dari sisi budaya mudik yang rutin terjadi di negeri ini.

Mudik, kalau dilihat dari sisi ekonomi adalah akibat dari perginya orang-orang dari daerah masing-masing menuju ibu kota untuk mengadu nasib. Dengan berbekal keyakinan bahwa kehidupan di kota lebih baik daripada di desa, mereka berjudi dengan masa depannya dengan berbagai mimpi yang berbeda-beda. Syukur-syukur nasib yang bersangkutan itu beruntung sehingga sewaktu pulang kampung bisa memamerkan hasil jerih payahnya selama di perantauan, entah itu mobil / motor baru, penampilan baru dan segala sesuatu yang baru.

Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Mungkin mereka malah akan mengurungkan niatnya dan merencanakan untuk mudik lagi di tahun depan bila kondisi lebih memungkinkan. Entah memungkinkan dalam hal ongkos atau malah dalam hal pamer. Karena bagi kaum perantau, mudik adalah keharusan yang tidak boleh tidak dilakukan tanpa perduli apakah uang di dompet cukup untuk mudik dan kembali lagi ke kota atau tidak. Atau apakah transportasi (bagi pemudik yang memanfaatkan jasa trasnportasi umum) selama di perjalanan nyaman atau tidak, pokoknya mudik dulu supaya bisa  shalat Ied dan bersilaturahmi di kampung. Perkara nanti bisa balik lagi ke kota atau tidak ya urusan nanti.. bisa dipikirkan lagi.

Yang menarik di sini adalah, tidak sedikit dari pemudik yang berasal dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang “nekad” melakukan mudik bersama keluarganya dengan menggunakan sepeda motor tanpa memperdulikan keletihan, kemacetan dan bahaya maut yang mengintai selama di perjalanan. Apa ini artinya? Jawabannya adalah adanya keinginan yang kuat untuk bisa bersilaturahmi dengan orang tua dan keluarga di kampung sehingga mengalahkan segala keletihan dan
resiko maut yang mengintai di jalan raya. Pokoknya  mudik *fist*..! (ilustrasi 1)

Menurut saya, tradisi silaturahmi ini sebenarnya bisa saja dilakukan di hari selain hari raya Lebaran, misalnya di saat Natal dan Tahun Baru,  Imlek atau hari-hari besar lainnya. Kenapa? Karena selain tidak mengurangi arti dari silaturahmi itu sendiri, hal ini juga bisa mengurangi kemacetan/kepadatan lalu-lintas akibat lonjakan jumlah kendaraan yang akan mudik di saat yang bersamaan, seperti data yang dikutip dari Dinas Perhubungan kendaraan akan mengalami puncak kepadatannya di saat H-2 menjelang cuti bersama yang ditetapkan pada tanggal 9 dan 13 September 2010.

Jadi sebenarnya, ritual tahunan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kita ini apakah hanya sebatas semangat silaturahmi saja atau ada motivasi lain semacam kebutuhan rutin yang sudah membudaya? Kok saya juga jadi merasa seolah-olah  ada yang kurang kalau Lebaran tanpa mudik.. karena puasa – lebaran – mudik seakan-akan sudah menjadi semacam rangkaian yang tak terpisahkan.

Tentang fenomena mudik ini Josh Chen juga berpendapat sama dengan saya dalam hal tradisi “pulang kampung” ini adalah budaya asli bangsa, terlepas dari suku atau golongan apapun, muslim atau non muslim. Karena di Indonesia adalah jamak di mana ada kebiasaan “*yang muda mengunjungi yang tua”,* dan hal ini sudah berlangsung sejak dulu tanpa memandang apakah yang bersangkutan itu merayakan Lebaran atau tidak sehingga tradisi tahunan ini tidak dapat dipisahkan dari komunitas masyarakat Indonesia. Bagaimana kalau di luar negeri, misalnya China,
apakah terdapat juga tradisi mudik seperti di Indonesia? Nah, untuk yang satu ini sepertinya Josh Chen lebih pas untuk menceritakannya.


Fenomena Mudik

Fenomena ini tidak hanya menjadi trade-mark golongan tertentu saja. Mudik di Indonesia terutama identik dengan kaum Muslim dan Lebaran/Idul Fitri. Padahal selain periode Lebaran, fenomena mudik juga terjadi di masa liburan akhir tahun yang bersamaan dengan liburan Natal, Imlek untuk sebagian kecil masyarakat Tionghoa dan Ceng Beng untuk sebagian lagi masyarakat Tionghoa.

Jelas bahwa makna dari mudik adalah keinginan untuk berkumpul bersama keluarga merayakan hari besar mereka. Kebersamaan yang sudah disebutkan Kang Anoew di atas adalah motivasi terbesar fenomena mudik ini. Di satu keluarga, setelah anak-anaknya besar, mereka akan keluar dari rumah orangtuanya, ada yang kuliah, ada yang kerja dan tentu saja berumah tangga membangun keluarga mereka sendiri.

Di hari-hari besar seperti Lebaran, Natal, Imlek, Ceng Beng, dsb itulah salah satu momentum untuk berkumpul kembali dan me’recharge perasaan kedekatan dan keakraban di keluarga itu.

Untuk mudik waktu Natal jelas tidaklah semeriah dan seheboh mudik Lebaran karena memang dari kuantitas kaum Nasrani lebih kecil daripada kaum Muslim. Sementara untuk fenomena mudik Imlek tidaklah sedahsyat mudik Natal. Justru di kota-kota di luar Jawa yang komunitas Tionghoa cukup dominan, fenomena mudik Ceng Beng malah menjadi satu ritual tahunan yang harus dijalankan.

Lihat saja, tiket-tiket maskapai apapun jika mendekati tanggal 5 April – Ceng Beng – setiap tahun, tiket ke Medan, Pontianak, Bangka pastilah penuh luar biasa dan tentu saja harganya sungguh “sedap di kantong”. Itupun tak menghalangi para pemudik untuk tetap pulang ke kampung halaman masing-masing. Dalam artikel ini tidaklah relevan jika dibahas makna Ceng Beng, tapi sudah pernah ada juga artikel tentang ini di: Ceng Beng di Tanjung Kait. Mudik Ceng Beng bukan hanya oleh para pemudik luar pulau, namun juga para pemudik luar negeri. Tujuan mudiknya bukan hanya di kota-kota besar seperti Medan, Pontianak atau Bangka, tapi juga ke kota-kota kecil di sekitar kota besar itu tadi (Singkawang, Binjai, Pematang Siantar, dsb).

Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara lain yang saya tahu di China juga mengalami fenomena mudik Imlek yang luar biasa, setara keruwetan dan kehebohannya dengan mudik Lebaran di Indonesia.

(sumber foto: indonesian.cri.cn)

Di Amerika juga ada fenomena mudik yang cukup heboh, yaitu di masa-masa Thanksgiving Day. Secara tradisional, keluarga-keluarga di Amerika masih menganut yang mereka sebut dengan “American value” atau “American culture” salah satunya adalah perayaan Thanksgiving Day. Thanksgiving Day dimaksudkan untuk mengucap syukur (sesuai namanya) atas panen yang baik di tahun itu. Thanksgiving biasa jatuh di bulan Oktober. Perayaan ini terutama di Amerika dan Kanada.

Ditandai dengan para pekerja yang mengambil cuti 2-3 hari dan kemudian mudik beramai ke kampung halaman mereka. Bedanya dengan fenomena mudik di Asia adalah jumlah penduduk dan keteraturan sistem transportasi mereka yang harus kita akui. Biasanya di saat-saat mudik Thanksgiving Day, tiket pesawat atau kereta juga akan susah dan mahal.

Inti dari fenomena mudik ini adalah kebersamaan dan tentu saja masalah ekonomi yang berputar dan beralih dari kota besar ke kota kecil dan/atau pedesaan. Tapi secara keseluruhan masih banyak hal yang perlu dicermati. Sementara itu, ada juga tulisan tahun lalu tentang mudik ini di: Fenomena Mudik (Brompit) & Pendatang

GCN’ers,
Ada yang menarik di sini bila dicermati, yaitu dari tahun ke tahun jumlah arus balik dari pemudik ini malah meningkat berdasarkan pantauan dari pihak Jasa
Marga<http://www.tempointeraktif.com/hg/kabar_lebaran_10/2010/08/24/brk,20100824-273590,id.html>yang dilihat dari jumlah kendaraan masuk di beberapa gerbang tol. Gejala apakah ini? Sedikit analisa sederhana adalah, sang pemudik mengajak serta kerabatnya untuk ikut mengadu nasib ke kota besar. Apalagi dengan embel-embel cerita kesuksesan yang berhasil diraih dan mitos *lebih mudah mencari uang di kota* (yang di kemudian hari belum tentu terbukti kebenarannya), membuat calon perantau mengamini ajakan itu. Kemungkinan lainnya adalah penduduk di kampung merasa tidak memperoleh fasiltas pendidikan atau lapangan kerja sebaik di kota-kota besar.

Apa artinya ini? Mungkinkah pemda setempat gagal dalam menampung dan memenuhi kebutuhan warganya? Hal ini belum tentu benar, namanya juga analisa sederhana. Seandainya benar pun, berarti hal ini merupakan tanggung jawab pemerintah pusat dalam hal pemerataan pembangunan, di mana kok sepertinya strategi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi hanya berpusat di perkotaan saja yang mengakibatkan berbondong-bondongnya penduduk desa untuk pergi ke kota mengadu nasib dan rela berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun hanya untuk berjudi dengan masa depan hidup mereka. Namanya berjudi, kalau menang tentu hasilnya menyenangkan. Kalau sebaliknya? Waaaah… ini malah akan menimbulkan masalah baru.

Karena itulah, kebanyakan wajah para perantau yang berhasil berjudi di kota ini selalu dihiasi dengan kegembiraan  dan rasa syukur yang terkadang agak berlebihan sehingga malah mengaburkan makna substansial dari silaturahmi itu sendiri. Bagaimana tidak berlebihan jika Lebaran dimaknai sebatas sebagai ajang hura-hura dan foya-foya dengan menampilkan diri semewah mungkin dengan mobil / motor baru, gadget baru, pakaian baru dan yang lebih menggelikan lagi adalah, LOGAT BARU!

Mereka yang baru saja mudik tiba-tiba saja bisa “mendadak lupa” dengan logat daerahnya dan “secara tak sengaja” masih terbawa logat ibukota. Walaah..!

Begitulah, budaya mudik telah menjadi semacam rutinitas tahunan di negeri ini yang tentu saja, diwarnai dengan berbagai persolan di dalamnya. Mulai dari macetnya jalan bagi mereka yang mudik dengan kendaraan sendiri ataupun bahaya copet dan mahalnya tiket  bagi mereka yang memanfaatkan jasa angkutan umum yang berjubel. (ilustrasi 2).

Tapi karena dirasa betapa pentingnya makna mudik bagi kaum perantau, mudik Lebaran tetap menjadi suatu keharusan demi menjalin kembali hubungan emosionalitas yang sempat “terputus” dengan keluarga dan para tetangga di kampung halamannya. Namun demikian mudik ke kampung halaman tidak semestinya terlalu dikultuskan karena ini adalah salah satu bagian dari rutinitas Lebaran yang mana tujuannya adalah bersilaturahmi dengan sesama umat manusia. Sedangkan segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan biarlah itu menjadi urusan manusia dengan Tuhannya secara langsung, selain dari saling memaafkan secara ikhlas dari hati yang paling dalam.

Selamat merayakan hari kemenangan, selamat Idul Fitri 1431 H, mohon maaf lahir dan batin

Lampiran   :   Peta Mudik 2010
Jawa-Bali <http://cybermap.cbn.net.id/download/marketingkit/Marketing_Kit_Peta_Mudik2010.pdf>(www.cybermap.co.id)

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang “nganoew” dan “saroe”. Namun tidak semata yang “nganoew-nganoew” saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari.

Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *