Jakarta – Ciloto

Djoko Paisan – Mainz, Jerman


Hallo Sobat di dunia Baltyra…

Untuk melanjutkan cerita mudik 2010, maka ini Dj. beranikan kirim sambungannya. semoga belum bosan ya, karena hanya oret-oretan apa adanya saja yang bisa Dj. kirim.

Nah ya, setelah 5 hari di Kuala Lumpur, maka kamipun segera terbang ke Jakarta, walau saat itu keadaan Susi kurang sehat dan ya bahkan Daniel ikutan sakit perut.

Puji TUHAN….!!!

Dokter di Novotel Kuala Lumpur mengijinkan kami untuk terbang sekitar 2 jam, lebih tidak diperbolehkan. Susi memang sudah ingin secepatnya meninggalkan Kuala Lumpur, walau malam sebelumnya, kami masih sempat dijamu makan oleh kenalan yang menjabat sebagai atase di Kedutaan R.I. di Kuala Lumpur.

Seandainya Susi sehat, Dj. yakin dia akan senang berada di Kuala Lumpur, tapi apa boleh buat, namanya sakit di mana saja ya tidak senang. Dengan demikian dia sangat senang saat kami meninggalkan Kuala Lumpur.

Kembali kami harus berdiskusi, saat check in di air port Kuala Lumpur, karena mereka katakan kami kebanyakan barang. Dj. katakan, bahwa kami dapat 30 Kg. / Orang, tapi mereka jawab, mana mungkin, semua penumpang (Economy Class) hanya dapat 20 Kg. Dj. mohon agar dilihat di ticketnya, tapi dia masih ngotot, sehingga datang pimpinannya dan mengiyakan, apa yang ada

tertulis di ticket. Dj. hanya bisa geleng kepala dan sedikit berperasaan jelek, apa mereka tidak suka wajah Dj…hahahaha…!!!!

Sebelum ceck in di air port Kuala Lumpur.

Akhirnya kami Terbang dan Landing di Jakarta.

Dj. dengan penuh keyakinan, bahwa akan banyak yang menjemput kami, seperti KopDar GMDj. di tahun 2008. Karena memang tujuan kami mudik kali ini, sebagian besar untuk KopDar GMDj. sedunia 2010 dengan sobat GMDj.

Jelas, saat ngurus pasport, sedikit kurang sabar dan ingin secepatnya bisa keluar. Tapi apa daya, Susi dan anak-anak memegang pasport Jerman dan harus minta visa on arrival, seharga $ 25,- /

orang. Bukan soal yang $ 75,- untuk 3 orang, tapi saat lihat antrian yang begitu puanjaaang….!!! Dj. perkirakan bisa 2 jam an, karena ada banyak sekali loket, tapi hanya 2 yang buka, bagaimana mungkin…???

Jadilah Dj. jalan hilir-mudik dan melihat Susi dan anak-anak yang dengan sabar ikut antri. Karena Dj. lihat ada beberapa pegawai (sekitar 4 orang) yang juga hanya jalan kiri-kanan, maka dengan sopan Dj. sapa….siang pak, mengapa ya, kok loketnya hanya dibuka 2 saja, kan akan makan waktu yang sangat lama. Eh…dengan tenang si bapak menjawab :,, bapak  ingin cepat…??? Jelas Dj. jawab, lha iyalah, kalau begini kan bisa makan waktu lama sekali. Dia bisikin Dj., kalau mau cepat, 1 orang bayar Rp. 100.000,- mau…???

Karena kasihan sobat yang menunggu di luar, maka Dj. iyakan dan Dj. kasi Rp. 300.000,- untuk 3 pasport. Eh…bapak ini masih nanya lagi…:,, Nah yang untuk saya mana pak….??? Dj. bilang, itu kan yang Rp. 300.000,- , yang bapak minta…??? Dia bilang, ini kan untuk yang kerja di dalam, buat saya juga Rp. 100.000,-

EDAAAAN…..!!! (Pikir Dj.) Tapi karena ingin cepat keluar, ya apa boleh buat, takut sobat semua pulang dan Dj. tidak ada yang jemput, kan tidak tau mau kemana di Jakarta.??? Akhirnya, semua urusan pasport selesai dan kami bisa keluar, dengan wajah lega, kami berjalan menuju pintu keluar. SMS di HP Dj. berdering terus, selain sms dari dimas, ada juga yang mau jemput dan ada teman titip 1 koffer (23 Kg.) dan sopirnya mau ambil, tapi juga tidak ketemu.

Pernahkan anda dititipin 1 koffer (23 Kg.)….??? Dj. yakin, pasti belum pernah…hahahahaha…!!!

Puji TUHAN…!!!

Kami sangat gembira saat melihat dimas dan 2 jagoannya datang mendekati kami. Juga istri teman dan putrinya yang menjemput kami, rasanya sangat terharu sekali, masih ada yang mau menjemput kami. Sedang saudara Dj. istri capt. Pilot, malah tlisiban dan tidak ketemu, padahal dia nunggu cukup lama. Hanya sedikit kecewa, tidak seorangpun dari sobat GMDj. yang ikut menjemput kami seperti tahun 2008. Tapi Dj. dihibur dengan kata-kata Susi, mungkin mereka semua masih kerja dan sibuk. Akhirnya kami diantar dimas ke mobilnya (Bis) yang mana biisa masuk 9 koffer. HEBAT….!!!

Dengan mobil dimas Josh Chen, Dj. diantar ke Mandarin Oriental Hotel, sedang Susi dan anak-anak naik mobil teman Dj. yang sama-sama kuliah di Mainz. Hanya saja dia sudah jadi Prof. Univ. di Jakarta. Kebetulan, memang teman satu ini, sudah seperti saudara sendiri dan bahkan menyediakan 2 kamar di Mandarin Oriental Hotel untuk kami sekeluarga.

Dan dalam perjalanan ke Hotel, kami dikenalkan dengan kemacetan kota Jakarta, kasihan juga dimas yang mau menjemput kami dan mengantar kami ke hotel, bisa jadi sudah ditunggu istri tercinta di rumah. Puji TUHAN…!!! Akhirnya kami sampai juga di Hotel, bahkan teman Dj. sudah cukup lama menunggu, hampir ketiduran di Lobby. Setelah dia check in kan sekalian, maka kamipun menuju kekamar, yang cukup besar.

Kami sangat gembira, karena tidak beberapa lama, mas Iwan dan adiknya (mbak Iji), Aimee dan Rein, Elnino, mbak Esti dan sobat BalTyRa yang lain pada datang. Dj. sungguh minta maaf, karena Neverg. yang saat itu datang dengan seorang wanita, (kebetulan berpakaian sama-sama ada warna merahnya, maka Dj. pikir ini pasti suami istri, tapi siapa ya…????). Maklum, kami saat itu sedikit kacau, tapi sangat gembira dengan adanya sobat yang sudi datang ke hotel. Walau jujur Dj. tidak ingat siapa saja nama yang datang…..maaaaaff…!!! Tapi sangat senang boleh bertemu muka dengan mas Iwan, Neverg, Elnino Aimee dan mbak Esti…??? Dan yang lainnya…

Malam itu juga kami teruskan obrolan kami ke satu Mal, untuk makan malam bersama. Hanya sayang tidak semua yang datang di Hotel ikutan makan malam, karena satu dan lain hal. Tapi mas Iwan, masih mau menemani kami.

Keesokan harinya Susi harus ke rumah sakit Pertamina, maaf entah di mana itu, Dj. kurang paham. Ini karena nasehat teman Dj. yang melihat keadaan Susi saat itu yang tidak begitu fit.

Dan beberapa sobat GMDj. yang dari Australia, Holland, Hongkong dan Inggris, yang sudah berada di Ciloto, menyangka kami tidak akan hadir di Ciloto, karena sudah tgl. 16 dan kami belum ada di Ciloto. Mereka pulang ke Jakarta dan mereka berdatangan menengok kami di rumah sakit Pertamina. Ingin meyakinkan, apakah kami benar-benar ada di rumah sakit….???

Puji TUHAN….!!! Mereka mau mengerti keadaan Susi saat itu, yang tidak mungkin datang tepat pada waktunya.

Tgl. 17 Juli, setelah sarapan, maka mas Anoeng dan istrinya yang tercinta dan yang sangat cantik, datang ke hotel hanya untuk menemui kami. Jelas, kami sangat gembira karenanya, apalagi melihat keramahan dan bahasa yang mas Anoeng pakai. Sangat sopan, benar-benar priyayi Solo. Lain dengan tulisannya di BalTyRa… (mungkin karena ada sang istri….??? (Hahahahaha….). Hebatnya istri mas Anoeng, tidak hanya cantik, tapi juga pendiam. Hebat…!!! Pasangan yang sangat harmonis.

Di Lobby, bersama mas Anoeng, istri dan kedua putra-putri teman yang akan mengantar kami ke Ciloto. Sebenarnya teman Dj. mengharap, kami mau tinggal sedikit lebih lama, tapi sungkan juga, kami tau itu hotel tidak murah dan alasan yang lain, karena tgl. 16 – 18 Juli, pertemuan (KopDar) GMDj. sedunia di Ciloto. Dimas J.C. menyarankan agar kami tinggal saja di hotel, mengingat Susi masih sakit. Tapi Dj. harus konsekwen, karena mereka datang dari bermacam-macam negara, untuk bertemu dengan Dj. Jadi Susi mau mengerti dan mau jalan ke Ciloto yang mana diantar oleh putra-putri teman Dj.

Di Jalan ke Puncakpun, kami kena macet, untung kami datang pas dikasi jalan ke atas, hanya sempat menunggu sebentar saat macet tapi langsung diawe-awe oleh polisi dan harus segera jalan. Olehnya kami bisa maju lebih cepat dari perkiraan kami semula.

Perjalanan ke Ciloto, di daerah Puncak, mobil dari bawah boleh jalan dan yang dari atas mesti menunggu 30 menit dan setelah itu bergantian. Jadi kami pun, cukup beruntung, pas datang dan boleh jalan. Atau polisinya tau, kalau yang datang mobil yang Dj. tumpangi…??? Hahahahahahaha…!!! Pemandangan yang tidak ada di Jerman, kiri-kanan jalan banyak rumah untuk berdagang, di Jerman tidak mungkin.

Hanya di jalan ini, cukup sepi dan tidak ada pedagang..

Akhirnya kami sampai di Puncak dan istirahat sebentar untuk makan siang di R.M. Rindu Alam.

Setelah kenyang, maka tidak lama lagi, sampailah kami di tempat tujuan kami, yaitu Ciloto, tempat pertemuan. Kamipun mendapat satu Bunglow yang mana dari luar, kelihatan cukup indah.

Tetapi di dalamnya sangat ampek (lembab dan bau), seperti rumah yang tidak pernah dipakai, walau semua jendela sudah dibuka. Tetap saja, bau ampeknya tidak bisa hilang, benar  sangat kasihan Susi yang dalam keadaan sakit dan harus di dalam ruangan tersebut (sangat tersiksa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa).

Nah inilah sobat GMDj. yang masih bertahan sampai tgl. 18 setelah sarapan. Karena banyak yang sudah meninggalkan Ciloto, dipagi hari, karena takut macet di Puncak. Di sini, mungkin ada yang kenal, mas Prabu, Rajawali dan Rosda dari Qatar dan juga Dewi dari Kuching, juga Srikandi dan Sierli dan ada beberapa lagi….Sayang, acara tgl. 17-18 Susi tidak bisa ikuti, karena berbaring di tempat tidur.

Nah….setelah ini, baru masuk petualangan yang sebenarnya…..

Semua sobat GMDj., bahkan panitianya semua pulang ke Jakarta, tinggalah kami berempat berada di depan bungalow. Tak seorangpun yang menemani kami di alam yang asing dan tidak kami kenal, mana Susi sakit lagi. Karena kami menunggu jemputan saudara dari Bandung.

Tidak disangka, anak saudara yang akan menjemput kami, mendapat kecelakaan, sehingga kami harus lama menunggu.

Dari  setelah sarapan sobat GMDj. meninggalkan kami, kami pikir masih ada waktu sampai jam 12 untuk check out. Jam 12:00 , jemputan tidak muncul juga, maka Dj. beranikan tanya, apa boleh Susi berbaring sampai jemputan datang. Mereka begitu baik dan memberi kami waktu sampai jam 14:00. Setelah jam 14:00 jemputan tidak datang juga, maka Dj. mulai gelisah dan telpon kiri-kanan, tapi tidak ada yang bisa tolong, karena untuk ke Puncak (Ciloto) semua sobat GMDj. takut kena macet.

Dj. ke Reception lagi dan bertanya, apa kami boleh menunggu di depan bungalow…??? Puji TUHAN…!!! Mereka mengijinkan kami, duduk didepan bungalow dan di situ kami menunggu dan menunggu. Kami tidak tau apa yang harus kami kerjakan. Mana Daniel ikutan sakit perutnya, tapi kami masih boleh gunakan WC di bungalow, oleh pekerja di situ.

Untuk menggunakan waktu yang ada, Daniel mencoba melupakan sakit perutnya dengan membaca buku dengan bersila di atas batu di depan bungalow dan di bawah teriknya matahari.

Dan Evapun mulai jalan kiri-kanan untuk mempergunakan waktu yang ada dengan mengambil photo apa saja yang dia lihat bagus di tempat yang jauh dari mana-mana dan tidak kelihatan seorangpun.

Dj. mulai ambil photo semut yang ada di lantai di depan bungalow yang sibuk sendiri dengan barang yang dia temukan. Dengan lensa macro 105 mm.

Susi yang dalam keadaan sangat lemah dan harus menunggu di depan bunglow, bergantian ditemani Dj. kadang Daniel dan kadang Eva. Kami benar-benar merasa terjebak dengan keinginan Dj. sendiri. Kembali untuk yang kedua kalinya kami merasa seperti anak yang hilang. Karena sebenarnya kami bisa menikmati liburan dengan enak, tapi kami memilih yang demikian.

Nah satu saat ada saudara Dj. yang berkata, setelah mendengar pengalaman kami yang kurang enak ini. Itulah, manusai merencanakan semua, tapi TUHAN yang menentukan. Dj. jawab…. SALAAAAAH….!!! TUHAN  tidak pernah menentukan apa yang jelek buat umatNya…!!!

Dj. saja yang maunya sendiri, TUHAN sudah merencanakan yang baik untuk kami, tapi Dj. nekat mau ke Ciloto. Jadi bukan salah TUHAN….!!!  Salah Dj. !!!

Eva mengamati Box makanan yang mungkin dia anggap aneh, entah apa anehnya….

Puji TUHAN….!!! Akhirnya jemputan kami datang juga, walau sudah sore. Dalam perjalanan ke Bandung Dj. melihat orang jualan jambu bol yang mana kesukaan Dj. saat kecil. Dan saat kami sampai di Bandung, langitpun menangis bersama kami.

Okay sobat BalTyRa semuanya, semoga cerita di atas tidak membosankan ya. Maafkan Dj. bila terlalu panjang ceritanya, tapi inilah pengalaman kami selama di Jakarta sampai Ciloto.

Terimakasih kepada pengasuh BalTyRa yang masih mau menerima oret-oretan Dj.

Dj. akan selalu berdoa, untuk anda semua, semoga BalTyRa selalu Jaya….!!! Terimakasih kepada anda semua yang mau dan bahkan setia membaca oret-oretan Dj. Maaf bila banyak kata-kata yang tidak pada tempatnya. Kalau masih mau, maka Dj. akan cerita pengalaman saat berada di Bandung. Tapi sedikit bersabar ya, karena Dj. bisa nulisnya, kalau sudah akhir pekan.

Sekali lagi….TERIMAKASIH ….!!! Untuk kesabaran anda semua. Kiranya Berkat dan Kasih TUHAN, senantiasa menaungi kehidupan kita semuanya.


Salam manis dari Mainz.

Dj.



About Djoko Paisan

Berasal dari Semarang. Sejak muda merantau ke mana-mana, Bandung dan Sulawesi dirambahnya. Benua Eropa adalah tempatnya berlabuh setelah bertemu dengan pendampingnya di Jerman. Dikaruniai 2 putra dan 1 putri, serta 3 cucu. Keluarga besar Paisan bergaung ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *